BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA

BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA
009. MERASA MENDERITA


__ADS_3

Setelah kesepakatan di antara Ruella dan Savero terjadi, kedua orang tersebut tampak saling menjaga jarak selama dua hari ini. Terlebih Savero yang jadi merasa tidak enak pada apa yang terjadi.


Pria itu merasa sudah melakukan sesuatu yang jahat pada ayahnya sendiri. Meski apa yang dirinya dan Ruella lakukan sewaktu di klub malam adalah hal yang di luar perkiraannya, namun rencananya untuk menyembunyikan fakta bahwa anak yang di kandung Ruella membuatnya tampak semakin buruk untuk ayahnya.


Hari ini dirinya berencana untuk keluar menemui seseorang. Ia ingin makan siang bersama seorang wanita yang sudah lama menarik hatinya.


Dengan langkah ringan, Savero keluar dari kamarnya untuk segera meninggalkan rumah. Namun tiba-tiba Paola—seorang pelayan di rumah itu langsung menghampirinya dengan raut kecemasan. Baru saja Paola keluar dari kamar ayahnya yang di mana Ruella berada di dalam.


"Tuan, tolong periksa nyonya. Ketika saya masuk ke kamarnya, nyonya ada di toilet dan seperti baru saja terjatuh." Seru Paola dengan nada suara yang tergesa-gesa karena kecemasannya pada kondisi Ruella.


"Ambilkan perlengkapan dokterku." Ujar Savero terkejut.


Dengan segera Savero bergegas masuk ke dalam kamar yang berada tidak jauh dari kamarnya. Pria itu menjadi tampak khawatir juga setelah mendengar kabar tersebut.


Di bukanya pintu kamar dan tatapannya langsung mengarah pada Ruella yang sudah berbaring di atas tempat tidur. Secepatnya Savero mendekati Ruella yang juga menatapnya dengan menahan rasa sakit di perutnya.


"Kau tidak apa-apa? Apa kau terjatuh?" Tanya Savero langsung menyingkap selimut yang menutupi Ruella.


Pria itu memegang perut Ruella untuk memeriksanya. Paola yang datang membawa kotak perlengkapan dokternya memberikan stetoskop pada Savero. Segera pria itu menggunakannya untuk merasakan denyut dari janin yang ada di perut Ruella. Namun karena usia kandungannya masihlah sangat muda sehingga dengan alat tersebut tidak bisa mendengar apapun.


"Apa yang terjadi? Apa terjadi pendarahan?" Tanya Savero merasa khawatir.


"Tidak, aku baik-baik saja." Jawab Ruella tampak heran pada kecemasan yang ditunjukkan Savero padanya. "Aku hanya merasa sakit perut biasa setelah merasa mual. Aku juga tidak terjatuh. Aku hanya merasa lelah saat muntah di toilet tadi makanya aku duduk di lantai."


Tatapan Savero langsung terlihat kesal mendengar jawaban Ruella barusan. Meski begitu rasa cemasnya menghilang seketika. Entah kenapa ia merasa lega ketika mendengar jika Ruella baik-baik saja.


"Jadi nyonya baik-baik saja? Saya kira anda terjatuh tadi." Sahut Paola terlihat sedikit malu. "Kalau begitu akan saya ambilkan makan siang untuk nyonya."


"Tidak usah. Aku akan makan di meja makan. Siapkan saja makanannya." Jawab Ruella.


"Baik nyonya."


Setelah berkata demikian Paola keluar dari kamar itu meninggalkan Savero yang masih berada di sana.

__ADS_1


Pria itu segera bangkit berdiri hendak keluar kamar dan berencana untuk segera pergi. Namun langkahnya berhenti sebelum sampai di pintu. Ia menoleh pada Ruella yang sedang mengarahkan tatapannya ke ponsel miliknya.


"Berhati-hatilah." Seru Savero.


Ruella mengangkat kepalanya dan melihat Savero dengan tatapan biasa.


"Jangan sampai kau terjatuh. Jika ada hal yang tidak baik, beritahu padaku." Lanjut Savero.


Sejenak Ruella tampak berpikir. Wanita itu memutar matanya karena untuknya perkataan Savero hanyalah sebuah basa-basi yang dikatakan dengan tidak serius.


"Ya, baiklah." Jawab Ruella hanya sekedarnya.


Savero melanjutkan langkahnya. Ruella yang masih melihat pada pria itu memperhatikan pakaiannya yang tampak rapi dan seperti akan pergi.


"Apa kau akan pergi?" Tanya Ruella sesaat sebelum Savero membuka pintu.


Savero tidak menjawab, ia hanya menoleh pada Ruella.


"Saat kembali, tolong belikan sesuatu yang manis. Apa saja juga boleh." Ujar Ruella.


"Aku ingin kau yang membelikannya untukku." Sambar Ruella. Ia sendiripun tidak mengerti kenapa rasanya dirinya menjadi ingin Savero membelikan sesuatu yang manis untuknya.


Savero berpikir dan langsung mengira kalau wanita yang sedang mengandung anaknya itu berada di dalam fase mengidam. Sehingga dirinya bisa memaklumi hal tersebut.


"Baiklah. Tapi jangan terlalu banyak makan makanan manis. Itu akan membuat berat badan bayi terlalu besar." Seru Savero.


"Terimakasih." Ucap Ruella memulas sebuah senyum, dengan tampak senang.


Savero segera bergegas keluar dari kamar tersebut setelah sempat melihat senyum Ruella yang entah kenapa membuatnya ikut merasa senang dengan wajah bahagia wanita itu.


Ponsel Ruella berbunyi saat sahabat baiknya Emiliano meneleponnya. Dengan perasaan yang senang wanita itu menjawab panggilan telepon dari pria yang selalu menjadi tempat curahan hatinya tersebut.


"Ruellaku sayang, apa kau baik-baik saja? Maaf sekali kalau beberapa hari ini aku tidak menghubungimu. Bagaimana pernikahanmu? Pasti kau sangat bahagia saat ini. Benar, kan?" Suara Emiliano yang terdengar sangat senang itu membuat perasaan Ruella ikut senang mendengarnya.

__ADS_1


"Aku sangat merindukanmu, Em. Datanglah menemuiku. Apa pemotretannya sudah selesai?" Tanya Ruella.


"Saat ini aku sudah kembali ke Milan. Ada apa? Aku tidak mungkin mengganggumu dengan suami yang sangat membuatmu tergila-gila itu, kan? Oh iya, apa kalian tidak berbulan madu?"


Pertanyaan Emiliano merubah suasana hati Ruella. Ia menjadi teringat mengenai apa yang terjadi saat ini. Pernikahan yang sudah lama ia tunggu menjadi terasa kacau baginya.


"Ada apa, Rue? Apa semua baik-baik saja?" Suara Emiliano berubah karena ia merasa sesuatu yang aneh pada sahabatnya itu.


"Em, semua berjalan tidak seperti yang aku inginkan." Jawab Ruella dengan nada suara terdengar lirik karena perasaan sedihnya. "Aku merasa menderita saat ini."


"Apa? Ada apa? Apa yang dilakukan suamimu?"


"Bukan Don. Dia sangat baik padaku."


"Lalu siapa? Savero? Ah, pasti dia, kan? Apa yang dilakukannya padamu?" Suara Emiliano semakin menjadi cemas pada Ruella.


...***...


Savero menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang ramai. Ia segera keluar dari mobil dan bergegas memasuki sebuah toko roti bernama Pasticceria Martesana.


Ketika pintu terbuka matanya tertuju pada seorang wanita yang berada di balik etalase toko. Wanita berambut hitam tersebut tampak membeku pada kehadiran Savero di tempatnya bekerja.


Wanita tersebut adalah Flavia Cagliero. Merupakan seorang Pâtissier di toko roti milik keluarganya. Ia merupakan wanita yang disukai oleh Savero selama dua tahun terakhir. Usianya 23 tahun.


Dengan langkah yang cepat, Savero mendekati etalase roti untuk mengatakan sesuatu pada Flavia.


"Fla, apa kau sibuk?" Tanya Savero.


"Sav, kau ada di Italia? Kapan kau kembali?" Ujar Flavia sambil sibuk meletakkan roti-roti yang baru di angkatnya dari oven ke etalase. Tatapannya tidak melihat pada Savero.


"Jika tidak sibuk, aku ingin makan siang denganmu." Ujar Savero.


Flavia menghentikan kegiatannya, tatapannya terlihat kesal melirik pada Savero, bahkan wanita itu mendengus pada pria yang menunggu jawabannya.

__ADS_1


"Sav, aku sedang bekerja. Jangan ganggu aku. Dan sudah aku katakan kau tidak perlu menemuiku lagi." Seru Flavia dengan tatapan dingin pada Savero.


...–NATZSIMO–...


__ADS_2