
Ruella baru saja keluar dari ruang makan untuk kembali ke kamarnya. Paul dan Fazio hadir menghentikan langkahnya saat akan menaiki tangga. Ada sesuatu yang ingin di sampaikan mereka pada nyonya mereka.
"Ada apa?" Tanya Ruella menghentikan langkahnya saat melihat kedua penjaganya berjalan masuk mengarah padanya.
"Nyonya, Ada kabar buruk. Hugo keluar dari rumah sakit diam-diam dan langsung pergi entah kemana." Jawab Fazio memberikan informasi.
"Tampaknya pria itu melarikan diri karena takut dengan ancaman anda, nyonya." Timpal Paul. "Sekarang apa yang akan anda lakukan?"
Mendengar kabar tersebut tentu saja membuat darah Ruella serasa naik ke kepala. Dirinya yang langsung merasa kesal sekaligus bodoh. Seharusnya ia tidak memberikan orang seperti Hugo kesempatan dan langsung membongkarnya saja pada ayahnya dan Sacra Unita.
"Apa kalian sudah mencarinya?" Tatap Ruella pada kedua penjaganya.
"Kami sudah menyuruh orang melacak keberadaannya. Tapi belum ada hasilnya, nyonya." Jawab Fazio.
"Kalau begitu, cepat jemput Carla Retegui sekarang. Kita harus segera ke Sisilia. Aku harus memberitahu papaku secepatnya." Seru Ruella. "Ingat, jangan sampai suamiku atau pun siapapun tahu. Aku hanya akan bilang kalau ingin menemui ayahku karena merindukannya."
Setelah memberikan instruksi pada kedua penjaganya, Ruella bergegas menaiki tangga untuk mempersiapkan dirinya meninggalkan Milan.
"Nyonya, anda ingin ke mana?" Tanya Paola yang masuk ke kamar mengantar orange juice.
Setelah makan siang tadi, Ruella meminta kepala pelayanannya itu membuatkan minuman itu.
Paola memperhatikan Ruella yang memakai pakaian rapi seperti akan pergi.
"Sebaiknya anda tidak kemana-mana dulu, nyonya. Tetaplah berada di rumah." Ujar Paola setelah meletakkan orange juice di meja samping meja rias yang sedang Ruella pakai.
"Aku akan ke Sisilia untuk menemui ayahku. Aku sangat merindukannya." Jawab Ruella setelahnya memakai lipstik. "Apa aku juga tidak boleh ke sana?"
"Sebaiknya tidak sendirian nyonya." Sahut Paola masih berdiri memperhatikan Ruella yang sedang duduk di depan meja rias sedang mengatur kembali rambutnya.
"Kau tenang saja, aku pergi bersama kedua penjagaku. Aku juga akan memberitahu Don dulu." Jawab Ruella sambil beranjak berdiri.
Paola memperhatikan nyonyanya yang sedang menghabiskan orange juice yang dibawanya menggunakan sedotan. Entah mengapa wanita itu memiliki sebuah firasat buruk. Ia takut sesuatu akan terjadi.
__ADS_1
Ruella segera berjalan keluar kamar sambil mengeluarkan ponselnya untuk digunakannya menghubungi Donzello. Dirinya ingin mengatakan mengenai keinginannya pergi ke Sisilia.
"Halo, Sayang... Tiba-tiba saja aku sangat merindukan papa. Jadi aku memutuskan untuk berlibur ke Sisilia sementara waktu." Ujar Ruella berkata di telepon sambil menuruni tangga.
"Tunggulah aku, aku akan menemanimu ke sama." Seru Donzello di ujung telepon.
"Aku tahu kalau pekerjaanmu sedang sangat padat. Lebih baik kau menyelesaikan semuanya dulu, Don. Kau bisa menjemputku si Sisilia nanti." Ujar Ruella menolak Donzello menemani dirinya. "Kau tenang saja, aku akan menghubungimu selalu."
Setelah mengakhiri teleponnya, Ruella berjalan keluar kamar saat Paola yang mengikuti wanita itu sejak tadi membukakan pintu untuk Ruella.
Saat yang bersamaan Savero berdiri di depan pintu, hendak masuk setelah pria itu kembali dari rumah sakit.
Ruella tidak memedulikannya dan berjalan melewati Savero yang tampak menatapnya. Ia tidak ingin mengatakan apapun pada pria itu dan merasa dirinya tidak harus melakukannya.
Mobil yang di dalamnya sudah ada kedua penjaga Ruella melaju ke depan dan berhenti tepat di hadapan wanita itu. Segera Ia masuk ke dalam pintu tersebut setelah Fazio membukakan pintu untuknya.
Savero merasa ada yang aneh karena dirinya melihat seseorang lainnya berasa di dalam mobil yang dinaiki Ruella. Ia bisa tahu siapa wanita yang hendak pergi dengan istri ayahnya tersebut.
"Sofia?" Tanya Savero heran karena melihat Sofia—sekertaris ayahnya berada di dalam mobil Ruella dan mereka berdua pergi bersama.
"Mau ke mana dia?" Tanya Savero penasaran.
"Nyonya bilang, dia akan pergi menemui ayahnya. Dia bilang kalau dirinya merindukan ayahnya sehingga nyonya memutuskan pergi ke Sisilia." Jawab Paola.
Mendengar jawaban Paola dan melihat keberadaan Keberadaan Sofia membuat Savero memikirkan sesuatu hal. Dirinya sangat yakin kalau tujuan Ruella ke Sisilia untuk mengatakan apa yang terjadi tiga tahun lalu dengan Sofia sebagai saksinya.
"Permisi tuan, saya masuk dulu." Pamit Paola.
"Apa papa tahu?" Tanya Savero lagi pada Paola sehingga menghentikan langkah wanita itu dan berbalik kembali melihat padanya.
"Ya, tadi nyonya menelepon tuan besar dan memberitahunya tentang kepergiannya. Tapi saya sedikit aneh karena tampaknya nyonya sangat terburu-buru pergi." Jawab Paola.
Savero kembali teringat mengenai Hugo yang hari ini tanpa sepengetahuan siapapun pergi meninggalkan rumah sakit, padahal pria itu belum diijin pulang. Hal itu membuatnya semakin yakin kalau Ruella pergi ke Sisilia karena Hugo yang menghilang.
__ADS_1
Segera Savero mengambil ponselnya untuk menghubungi ayahnya.
"Papa, Rue memberitahumu kalau dirinya pergi ke Sisilia?" Tanya Savero langsung menanyakan apa yang ingin ia ketahui.
"Ya, baru saja dia meneleponku. Ada apa?" Tanya Donzello yang saat menelepon baru saja keluar dari elevator sehabis makan siang di luar.
"Apa kau tahu kalau dia pergi dengan Sofia?" Tanya Savero lagi.
"Sofia?" Tanya Donzello heran, dirinya yang bejalan hendak menuju ruangannya, langsung melihat meja Sofia yang kosong.
"Baru saja aku melihat Rue masuk ke dalam mobil di mana Sofia sudah berada di dalam mobil tersebut." Ujar Savero mengatakan apa yang di lihatnya tadi. "Sepertinya tujuan Rue ke Sisilia untuk memberitahu mengenai percobaan pembunuhan yang dilakukan Hugo padanya tiga tahun lalu. Dia pasti ingin ayahnya dan Sacra Unita segera tahu agar bisa membalas perbuatan Hugo dulu."
"Apa katamu?" Tanya Donzello.
"Hari ini pria itu kabur dari rumah sakit, dia pergi diam-diam tanpa persetujuan rumah sakit. Tampaknya itu semua karena ancaman Rue tempo hari." Jawab Savero. "Papa, pria itu bisa saja sedang mengintai Rue dan berniat untuk menghentikan usahanya yang ingin membalaskan perbuatan pria itu. Tampaknya dia sengaja kabur untuk memancing Ruella keluar dari rumah dan berniat buruk padanya."
Mendengar perkataan Savero, Donzello langsung mematikan sambungan telepon dengan putranya tersebut karena kecemasannya pada Ruella. Segera ia menghubungi istrinya tersebut dan berharap agar Ruella menerima panggilan teleponnya.
"Ada apa, Don?" Tanya Ruella menjawab teleponnya.
Donzello bernapas lega mendengar Ruella menerima telepon darinya. Ia ingin agar Ruella segera kembali ke rumah dan tidak pergi ke mana pun saat ini.
"Sayang, sebaiknya kau kembali ke rumah. Aku akan menemanimu ke Sisilia saat pulang nanti. Sekarang aku akan pulang." Seru Donzello sambil berjalan mengarah elevator kembali.
"Don, sudah aku bilang sebaiknya kau menyelesaikan pekerjaanmu. Aku akan ke sana sendiri. Kau tidak perlu khawatir, aku akan baik—"
BRUKK!!
Tiba-tiba Donzello mendengar suara hantaman keras dari dalam telepon yang membuat perkataan Ruella terhenti. Suara ban berdecit keras mengakhiri panggilan telepon yang langsung terputus.
"Rue? Rue? RUE?!!" Seru Donzello dengan sangat khawatir hingga langkahnya terhenti.
Pria itu tahu kalau sesuatu yang buruk sudah terjadi pada istrinya saat ini.
__ADS_1
...–NATZSIMO–...