BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA

BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA
020. BAKU TEMBAK


__ADS_3

"Bagaimana, tuan?" Tanya si supir.


Donzello berdecak kesal, meski begitu tak ada raut wajah takut dari ekspresinya saat ini. Pria itu melepaskan pelukan Ruella karena berniat untuk keluar meladeni orang-orang yang menghadang perjalanan mereka.


Saat ini mereka berada di sebuah kawasan bangunan yang sepi di mana mereka melewati jajaran gedung perkantoran yang sudah lama direlokasi namun terhenti untuk beberapa saat.


"Ka—kau mau kemana, Don?" Tanya Ruella dengan cemas.


"Tunggu saja di dalam. Aku akan membereskan mereka. Jangan keluar!" Jawab Donzello setelahnya melepaskan tangan Ruella yang memegangi lengannya.


Ruella terlihat sangat panik melihat suaminya berjalan ke arah para penghadang yang sudah menodongkan pistolnya pada Donzello.


"Sav, lakukan sesuatu! Kenapa kau diam saja?" Tanya Ruella pada Savero yang tidak juga bergeming dari tempatnya. "Bagaimana kalau mereka menyakiti papamu?"


"Kau diam saja! Dia akan menyelesaikannya." Jawab Savero tampak malas menanggapi perkataan Ruella.


Walau begitu, Ruella terus memperhatikan keluar jendela dengan kepanikan yang besar. Ia melihat bagaimana si penodong pistol yang mendekati arah pintu mobilnya menodongkan pistol ke arah wajah Donzello.


Di luar, Donzello yang menghadapi salah seorang dari pria yang mengganggu perjalanan mereka tidak menunjukkan ketakutannya. Pria itu yakin bisa menangani para pria tersebut.


"Apa yang kalian inginkan?" Tanya Donzello dengan tatapan langsung ke mata pria penodong. "Kau ingin uang? Seberapa banyak? Katakan saja, tapi aku rasa kau pun tahu saat mendapatkan uang tersebut, kau akan kehilangan semua yang kau punya."


Si penodong pistol tampak terpancing pada ucapan Donzello sehingga ia semakin melangkah maju mendekatkan pistolnya ke wajah Donzello dengan geraman.


Melihat kemarahan si penodong, tanpa memikirkan apapun Ruella langsung bergegas keluar.


"Hentikan!!" Seru Ruella langsung memeluk Donzello.


Melihat orang yang dicarinya, si penodong terlihat tertawa senang. Pria itu langsung mengarahkan pistolnya pada Ruella.


Di dalam mobil, Savero menjadi kesal pada tindakan bodoh Ruella karena merasa itu hanya akan menambah keadaan semakin memburuk.


"Dasar bodoh!" Gumam Savero melihat pada Ruella yang sudah berada di luar.


"Apa kau masih mengingatku?" Tanya si penodong.

__ADS_1


Ruella menoleh pada pria itu. Ia terlihat bingung dengan perkataannya karena dirinya merasa tampak asing dengannya. Dan lagi ia juga merasa kalau dirinya tidak mungkin kenal dengan pria seperti si penodong.


Melihat raut wajah Ruella yang tampak mengisyaratkan kalau wanita itu tidak mengenali dirinya, langsung membuat si penodong naik pitam.


"Sialan!!" Geramnya sambil mengekang pistol yang ada di genggamannya seperti siap untuk menembak Ruella.


Dengan cepat Donzello mengambil sebuah pistol dari balik jas biru dongker yang dikenakannya dan langsung menarik pelatuknya mengarah ke pundak kanan pria yang berdiri di hadapannya.


Pria itu langsung terpental mundur dengan teman-temannya yang memeganginya. Melihat yang terjadi ketiga temannya langsung bereaksi dengan menghujani Donzello serta Ruella dengan tembakan.


Beruntung Savero langsung membuka pintu mobil untuk mereka berdua berlindung. Segera Donzello menyuruh Ruella untuk bergegas masuk ke dalam mobil.


"Don, cepat masuk!!" Seru Ruella semakin khawatir karena Donzello belum memiliki kesempatan untuk masuk ke dalam mobil.


Supir yang membawa mobil mereka tertembak dan langsung mati di tempat. Itu semakin membuat Ruella histeris ketakutan.


Segera Savero mengambil sebuah pistol yang memang berada di bawah jok mobil untuk berjaga-jaga jika kejadian hal seperti sekarang ini terjadi. Tanpa pikir panjang lagi, Savero bergegas keluar dari pintu satunya dan menembaki keempat pria itu yang berlindung di balik motor mereka.


Ruella mengambil inisiatif untuk maju ke depan dan mendorong tubuh supir yang sudah tidak bernyawa keluar dari sana. Wanita itu duduk di kursi setir untuk bersiap-siap melajukan mobil sambil terus berusaha menundukkan kepalanya.


Donzello yang sedikit terbebas dari brondongan peluru langsung masuk ke dalam mobil. Sedangkan keempat orang itu menjadi gantian menembaki Savero.


Saat Donzello masuk ke dalam mobil, tanpa memedulikan apapun lagi, Ruella menancap gas mobil dengan keras mengarah ke dua motor yang menjadi tameng para penghadang. Bahkan ia tidak memedulikan Savero yang masih berada di luar hingga pria itu menjadi bingung.


Ruella menabrak kedua motor para penghadang dan langsung memundurkan mobilnya untuk pergi dari sana. Meski begitu keempat pria itu berhasil menghindar dan selamat.


"Rue, Sav masih berada di sana." Seru Donzello yang menjadi bingung melihat bagaimana putranya ditinggalkan sendirian bersama keempat pria yang masih menembakinya.


"Diamlah, Don!!" Ruella tampak tidak ingin mendengarkan perkataan Donzello, untuknya saat ini asalkan dirinya beserta pria yang dicintainya baik-baik saja, itu sudah cukup. "Kita harus menyelamatkan diri kita."


Melihat dirinya di tinggal sendirian, Savero yang sudah kehabisan peluru memilih segera berlari memasuki sebuah bangunan yang belum jadi ketika ketiga orang yang belum terkena tembakan sedikitpun menyadari keberadaannya yang ditinggalkan begitu saja.


"Sialan wanita itu!!" Kesal Savero sambil berlari mencari tempat aman karena ketiga pria mengejarnya dan masih menembakinya terus.


Savero hanya bersembunyi di balik tiang beton yang ukurannya cukup besar hingga bisa menyembunyikan dirinya. Berharap para pria itu berhenti mengejarnya dan memilih untuk pergi.

__ADS_1


Namun sepertinya hal itu tidak terjadi. Terdengar suara langkah kaki ketiga pria yang memasuki gedung yang ukurannya cukup luas itu. Hal tersebut membuat Savero menghela napas pasrah. Tidak tahu lagi apa yang harus dirinya lakukan. Mereka bertiga pasti akan langsung menembaknya saat menemukan persembunyiannya.


Rasa kesal pada Ruella semakin bertambah. Sejak kesalahan yang dilakukannya dengan Ruella, Savero menganggap hidupnya menjadi kacau. Sekarang dirinya harus pasrah jika saja hari ini adalah hari terakhir dirinya hidup di dunia ini.


"Seharusnya waktu itu aku tidak berpikir untuk membuatnya menderita. Yang terjadi, akulah yang menderita sekarang." Gumam Savero menghela napas pasrah pada nasib buruk yang menimpa hidupnya setelah ini.


Terdengar brondongan peluru yang mengarah ke tiang beton di mana Savero bersembunyi. Pria itu diam saja, ia tidak berniat kemanapun karena tampaknya akan percuma karena dirinya pasti akan mati pada akhirnya karena tembakan-tembakan itu.


"Keluarlah!!" Seru salah seorang dari mereka.


Seorang pria berjalan mendekat ke arah persembunyiannya dengan langkah yang cukup terdengar karena menggema. Teman-temannya pun tidak lagi menembaki tempat Savero bersembunyi.


"Sav?!"


Terdengar suara Donzello dari arah pintu masuk. Hal itu membuat ketiga pria yang sedang mengintai Savero teralihkan fokusnya.


Savero mengintip dengan mencondongkan tubuhnya ke arah pintu dan melihat Donzello muncul dari sana, namun kedua orang yang tidak jauh dari arah pintu langsung menembaki kehadiran Donzello. Beruntung Donzello sempat bersembunyi.


Melihat adanya kesempatan, Savero langsung menyerang pria yang ada di dekatnya ketika pria itu sedang lengah. Berhasil Savero melumpuhkannya dengan memukul dan membantingnya ke bawah. Direbutnya pistol milik pria itu untuk membantu ayahnya yang masih tembak menembak dengan pria lainnya. Sebelumnya ia menembak pria itu hingga mati.


"Sav, keluarlah dari sini!!" Teriak Donzello di sela baku tembak menembak yang ia lakukan.


Donzello berhasil menembak salah satu dari mereka hingga mati di tempat. Savero mencoba bergegas menuju pintu untuk keluar dari sana ketika melihat ada kesempatan. Namun tiba-tiba Ruella muncul dari luar.


Tepat yang bersamaan pria yang masih bersembunyi langsung mengarahkan tembakannya pada Ruella. Savero yang melihat hal itu secara spontan menghalangi tubuhnya Ruella dari tembakan tersebut hingga dirinya yang terkena peluru yang mengarah pada perutnya. Seketika Savero langsung tumbang.


Ruella yang berdiri di dekat Savero memegangi tubuh pria itu dengan keterkejutan dirinya.


Melihat yang terjadi pada Savero, Donzello langsung menembak pria yang baru saja meluncurkan peluru menembus putranya.


Savero yang merasakan panas yang teramat sangat di perutnya hanya bisa melihat wajah Ruella yang memegangi tubuhnya.


Mungkin ini akhir yang aku inginkan.


Savero menghela napas seraya menutup matanya, menghilangkan wajah wanita yang sangat dibencinya itu dari pandangannya.

__ADS_1


...–NATZSIMO–...


__ADS_2