BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA

BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA
015. KETAHUAN


__ADS_3

"Sav, ka—kau kembali?" Ujar Marco dengan perasaan yang menjadi tidak enak. "Fla tadi, di—dia..."


"Sudahlah, Pa." Sahut Flavia yang tidak jauh berdiri dari posisi ayahnya yang ada di belakang etalase.


Flavia langsung menarik berjalan mendekat pada Savero yang masih mematung di dekat pintu dengan wajah yang terlihat memendam kemarahan sekaligus rasa sedihnya karena Flavia—wanita yang dicintainya dengan jelas menghindarinya.


Pria itu bahkan tidak memedulikan beberapa orang yang keluar masuk toko roti tersebut dengan pandangan aneh padanya karena posisinya berdiri agak menutupi pintu.


"Sav, ayo kita bicara." Ujar Flavia namun tidak digubris Savero. Dengan berdecak ia langsung menarik lengan pria itu agar mengikutinya keluar toko roti.


"Kenapa? Apa kau marah? Kenapa diam saja?" Tanya Flavia dengan nada suara kesal. "Sudah aku katakan agar berhenti menemui aku. Aku tidak ingin kau terus menerus datang."


"Jadi kau tidak memikirkannya?" Tanya Savero dengan nada suara yang terdengar kecewa.


"Memikirkan apa?" Flavia balik bertanya dengan wajah bingung.


Savero merasa sangat kecewa melihat reaksi Flavia. Bagaimana tidak, hanya dengan melihatnya saja ia menjadi tahu kalau sama sekali Flavia tidak menganggap ucapannya kemarin. Keinginannya untuk menikah dengannya.


"Baiklah. Maafkan aku." Ucap Savero dengan sangat kecewa sambil berbalik dan melangkahkan kaki mengarah ke mobilnya yang terparkir.


Perasaan pria itu menjadi sangat bercampur aduk. Rasa kecewa sangat besar ia rasakan karena Flavia sama sekali tidak menganggap dirinya selama ini. Meski begitu perasaan bodoh yang Savero rasakan lebihlah besar. Semua itu karena dirinya pun seharusnya tahu kalau wanita yang dicintainya itu sama sekali tidak bisa menerimanya karena Flavia masih sangat mencintai Matteo.


Dengan kesedihan yang melanda hati serta pikirannya, Savero masuk ke mobilnya dan menginjak gas sangat dalam hingga melesat dengan sangat cepat meninggalkan Flavia yang berdiri melihat kepergiannya.


Flavia hanya melihat kepergian Savero tanpa mencegahnya. Semua itu memang yang diinginkan olehnya. Ia sengaja melakukannya. Menghindar dan bahkan memperlihatkan ketidakpeduliannya pada perkataan Savero yang memintanya untuk memikirkannya mengenai ajakan menikah pria itu.


"Semoga saja dia berhenti menemuiku." Gumam Flavia sambil berbalik untuk masuk ke dalam toko roti.


Langkahnya terhenti saat ayahnya—Marco yang merupakan orang tua tunggal Flavia berdiri di depan pintu masuk menatap wanita itu.


"Seharusnya kau tidak memperlakukannya seperti itu, Fla. Dia benar-benar mencintaimu." Ucap Marco.


Flavia menatap kesal pada ayahnya. Wanita itu langsung melesat melewati Marco untuk masuk ke dalam toko mereka.


"Aku tahu maksudmu. Kau hanya ingin memiliki menantu kaya." Ujar Flavia saat melewati Marco.

__ADS_1


Meski yang diucapkan putrinya tidaklah salah, namun lebih dari itu, Marco hanya ingin Flavia bahagia hidup bersama dengan pria yang mencintainya. Dan pria yang sudah berusia 50 tahun itu tahu seberapa besar Savero mencintai anak semata wayangnya itu. Karena itu ia ingin agar Flavia menerima Savero yang sering datang menemuinya dengan membawa gulungan cinta yang besar untuk putrinya.


...***...


Setelah sarapan, Donzello berada di ruang kerjanya. Meski memutuskan untuk tidak pergi ke perusahaannya, pria itu masih harus mengurus beberapa pekerjaan yang mendesak. Karena itu sudah menjelang makan siang ia masih sibuk di meja kerjanya.


Ruella yang merasakan kebosanan memilih menghampiri suaminya. Walaupun sebelumnya dirinya tidak ingin menganggu Donzello dengan kesibukannya namun dirinya yang hanya berada di kamar dengan menonton televisi menjadi sangat bosan.


Segera wanita itu membuka pintu ruang kerja Donzello yang berada di lantai yang sama dengan kamar mereka. Suaminya sedang duduk di belakang meja kerja sambil menelepon seseorang dengan ponselnya.


Donzello hanya menyunggingkan senyumnya pada kehadiran Ruella yang langsung berjalan masuk dan melingkarkan lengan kanannya ke leher pria itu dari belakang. Istrinya itu bahkan mendekatkan kepalanya dengan menciumi wajah Donzello dari posisinya di belakang.


"Nanti aku akan menghubungimu lagi." Ucap Donzello mengakhiri percakapannya di telepon karena merasa terganggu dengan kehadiran dan perlakuan Ruella padanya.


Secepatnya Donzello mengambil lengan Ruella yang mendekapnya dari belakang untuk menariknya hingga duduk ke pangkuannya.


"Pasti kau bosan ya?" Ujar Donzello pada Ruella yang ada di atas pangkuannya dengan kedua lengan melingkari lehernya.


"Ya, aku sangat bosan. Aku kira saat kau bilang tidak akan bekerja itu berarti kau akan bersama denganku sepanjang hari. Padahal kau pun bilang kalau hari ini kita akan bercinta sepanjang hari." Jawab Ruella dengan nada manja. "Tapi kau malah sibuk di sini dan tidak memedulikan istrimu yang cantik ini."


Donzello tertawa mendengar keluhan Ruella dan langsung meraup bibir wanita itu. Mel*umatnya dengan penuh cinta.


Segera Donzello mengangkat tubuh Ruella dan di naikannya ke atas meja kerjanya. Pria itu memberikan senyumnya pada Ruella yang menunggu aksinya.


"Baiklah ratuku... Kita lakukan semua hal yang kau inginkan." Senyum Donzello.


Segera Donzello memulai aksinya dengan kembali mencium bibir Ruella dengan mel*umatnya bersemangat. Mereka berdua saling beradu lidah dan bertukar saliva dengan makin memanas.


Napas Ruella semakin memburu ketika Donzello mulai mencumbu bagian lehernya dengan tangan yang mulai menerobos masuk ke dalam pakaian tipis tanpa bra yang dikenakan Ruella. Dengan gerakan lembut dan teratur direm*as-remaskannya kedua gunung besar milik Ruella dengan bibir yang masih saling beradu.


Napas Ruella sangat terengah-engah bahkan mulai terdengar des*ahan dari bibirnya meski mereka masih berciuman.


"Kau ingin gaya seperti apa?" Bisik Donzello ke telinga Ruella untuk menggoda wanita itu, digigitnya perlahan cuping telinga kanan istrinya yang terlihat makin terangsang dengan perlakuannya.


"Apapun akan aku nikmati." Jawab Ruella dengan menggigit bibir bawahnya untuk menahan gejolak hasrat dirinya yang sudah tidak sabar ingin lebih.

__ADS_1


Dengan diiringi sebuah tawa, Donzello menurunkan Ruella dan membalikkannya dengan membuat tubuh wanita itu agak menunduk. Kedua tangan Ruella berada di atas meja ketika Donzello menyingkap rok mini berwarna cokelat tua yang dikenakan istrinya itu.


"Kau bahkan tidak memakai dalaman, Rue." Tawa Donzello yang langsung melihat pangkal kedua kaki Ruella yang tidak dilapisi apapun.


"Aku hanya membuatnya semakin mudah untukmu, Don." Jawab Ruella juga dengan tawa.


Tidak mau menunggu lama, Donzello langsung mengarahkan miliknya yang sudah ia keluarkan dari balik celana panjang yang dikenakannya. Sesuatu yang sudah membesar itu melesak masuk ke dalam tubuh Ruella hingga wanita tersebut mengerang keenakan.


"Kau tahu, Rue. Aku sangat beruntung menikah dengan wanita muda sepertimu." Ujar Donzello sambil menggerakan pinggulnya secara teratur. "Semuanya jadi terasa menyenangkan sekarang."


"Ya, kau harus merasa beruntung menikah dengan aku, Don." Jawab Ruella dengan diiringi des*ahan.


Mereka berdua menikmati waktu bercinta mereka hingga akhirnya Donzello memuntahkan lahar panas ke dalam tubuh Ruella.


Saat yang bersamaan pintu ruangan tersebut diketuk dari luar.


"Tuan, nyonya Renata datang ingin menemui tuan dan nyonya." Seru Paola dari luar ruangan.


Donzello dan Ruella langsung merapikan pakaian mereka. Segera Ruella melangkahkan kakinya masuk ke dalam toilet yang ada di ruangan tersebut.


"Untung saja sudah selesai." Donzello sambil merapikan segala sesuatunya sebelum mertuanya masuk.


Segera Donzello mendekati pintu masuk dan membuka pintunya. Renata—sang ibu dari Ruella melihat padanya dengan sebuah senyuman.


"Silakan nyonya." Donzello mempersilakan Renata masuk mengikutinya sedangkan Paola yang mengantar wanita itu langsung pergi.


"Di mana, Rue?" Tanya Renata yang tidak melihat keberadaan putrinya.


"Sedang di toilet." Jawab Donzello. "Silakan duduk nyonya. Ada apa nyonya datang ke sini?"


Ketika Renata duduk di sofa yang berada di ruang kerja tersebut bersama dengan Donzello. Ruella keluar dari toilet.


"Mama, kenapa ke sini? Kenapa tidak memberi kamar sebelum ke sini?" Tanya Ruella berjalan ke arah sofa.


"Rue, katakan sebenarnya. Ada apa? Kenapa beberapa hari lalu kau ke rumah sakit?" Tanya Renata dengan menoleh menatap pada Ruella.

__ADS_1


Langkah Ruella seketika terhenti mendengar pertanyaan ibunya.


...–NATZSIMO–...


__ADS_2