BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA

BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA
017. TINDAKAN BODOH


__ADS_3

Savero memasuki rumahnya setelah memutuskan untuk pulang. Padahal hari ini dirinya berencana menginap di hotel namun entah karena apa ia memutuskan untuk kembali ketika hari menjelang malam.


Tepat yang bersamaan adalah waktu makan malam. Ia segera berjalan masuk ke dalam ruang makan di mana Donzello bersama Ruella sedang menikmati makan malam mereka. Kedua orang tersebut langsung melihat kehadiran pria tersebut.


"Kau pulang? Bukannya kau bilang akan pulang besok?" Tanya Donzello pada Savero yang bergegas duduk ke kursi meja makan di mana dirinya biasa duduk.


Savero meletakkan tas tangan dari sebuah toko roti ke arah Ruella. Namun toko roti tersebut bukanlah Pasticceria Martesana, tempat yang merupakan milik keluarga Flavia.


"Kalian tidak jadi ke toko roti, kan? Karena itu aku pulang untuk membelikan itu." Ujar Savero setelahnya memegang sendok dan hendak makan.


Ruella menatap heran pada Savero. Bukan karena kebaikan hati pria itu yang membelikannya roti namun fokusnya berbeda.


"Kenapa bukan dari toko roti Pasticceria Martesana?" Tatap Ruella, pandangannya heran dan terlihat tampak tidak senang.


Donzello hanya diam saja sambil memperhatikan interaksi istrinya bersama dengan anaknya.


"Hari ini toko itu tutup, untung saja kalian tidak ke sana. Karena itu juga aku membeli dari toko roti yang berbeda." Jawab Savero berbohong sambil memakan makanannya.


"Apa ini enak? Apa roti ini sama enaknya dengan roti dari Pasticceria Martesana?" Ruella masih terlihat enggan dan merasa kecewa pada roti pemberian Savero.


"Coba saja. Harganya sama, dan aku rasa tidak akan jauh berbeda." Ujar Savero terlihat sangat santai dengan melontarkan jawaban seadanya.


Sesaat Ruella melihat ke dalam isi tas di mana roti-roti tersebut berada untuk mencari tahu apakah roti-roti itu sana enaknya dengan roti-roti dari Pasticceria Martesana atau berbeda.


"Ya, semoga saja rasanya tidak mengecewakan." Gumam Ruella seraya meletakkan kantong roti di atas meja makan yang agak menyingkir lalu kembali menyantap makanannya.


"Sav, kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau membawa Rue je rumah sakit dan melakukan pemeriksaan USG?" Tanya Donzello.


Savero sudah tahu kalau ayahnya pasti akan menanyakan hal tersebut padanya. Sejujurnya dirinya pun melupakan hal tersebut. Tidak ada niatan pria itu untuk menyembunyikan kalau tempo hari ia membawa Ruella periksa ke rumah sakit.


Ruella jadi ikut tegang mendengar pertanyaan Donzello pada ayah dari anak yang ada di kandungannya.


"Apa aku belum mengatakannya padamu?" Savero balik bertanya. "Sepertinya aku lupa mengatakannya karena aku pikir Rue sudah mengatakannya padamu." Savero melihat pada Ruella untuk melempar hal tersebut padanya. "Apa kau tidak memberitahu suamimu?"


Ruella menjadi bingung karena Savero seperti menyalahkan dirinya mengenai hal tersebut. Wanita itu tidak menjawab apapun dan hanya diam saja dengan wajah tampak panik.

__ADS_1


"Sudahlah, itu sudah tidak penting." Seru Donzello saat mengetahui rasa bingung Ruella. "Yang penting tidak ada hal yang buruk padanya. Bukan begitu, Sav?"


"Ya, dia baik-baik saja." Jawab Savero dengan tatapan mengarah pada daging steak yang sedang di potongnya.


"Sudah aku bilang kalau aku baik-baik saja Don. Kau tidak perlu terlalu khawatir padaku." Ruella memegang lengan Donzello dengan sebuah senyum terlukis di bibirnya.


Savero melirik pada wanita itu dengan tajam. Rasanya dirinya sangat ingin mengatakan bagaimana wanita yang terlihat tampak sangat mencintai ayahnya itu pada kenyataannya menyembunyikan betapa buruknya ia. Namun tidak mungkin Savero mengatakan hal itu karena dirinya pun sama buruknya.


Tanpa sadar Savero menghela napas setelah meneguk air putih. Kedua orang lainnya di meja makan menatapnya seketika. Menyadari hal itu Savero mencoba terlihat biasa saja dengan kembali memotong daging makanannya.


"Jam berapa besok berangkat ke Paris?" Tanya Savero sambil mengiris steak.


"Kami akan pergi setelah sarapan, Sav." Jawab Ruella dengan antusias.


"Ya, setelah sarapan kita akan langsung berangkat. Apa ada hal yang ingin kau lakukan dulu besok?" Tatap Donzello pada putranya.


"Tidak ada. Baiklah, aku akan bersiap-siap sehabis ini." Ucap Savero setelah itu memasukan potongan daging ke mulutnya.


"Tu—tunggu dulu!" Seru Ruella dengan perasaan aneh yang ia rasakan saat mendengar percakapan antara ayah dan anak itu. "Ada apa ini? Kita? Kenapa dia juga bersiap-siap?"


"Rue, Sav juga akan ikut kita ke Paris." Terang Donzello. "Sepertinya aku lupa memberitahumu."


"Kenapa dia harus ikut, Don? Ini bulan madu kita." Protes Ruella dengan gamblangnya. "Kau ini ada-ada saja."


"Aku akan lebih tenang Savero ikut bersama kita, Rue. Kau masih terlihat pucat meski sudah baik-baik saja. Dia bisa memeriksamu saat kau merasa tidak enak badan." Ujar Donzello.


Ruella berdecak dengan kesal sambil menoleh pada Savero yang menatapnya. Wanita itu merasa enggan kalau pria lain ikut dalam perjalanan bulan madu dirinya dan Donzello.


"Aku juga tidak ingin ikut kalau tidak dipaksa." Seru Savero pada Ruella.


...***...


Savero memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam koper. Koper tersebut akan di bawanya besok. Perasaan pria itu masih tidak bagus. Ia masih merasakan kekecewaannya pada Flavia.


Sepertinya dengan ikut pergi ke Paris besok mungkin saja bisa membuat dirinya merasa lebih baik. Setelah dari Paris, ia pun berniat untuk langsung kembali ke London.

__ADS_1


Setelah selesai memasukkan semua yang ingin dibawanya ke dalam koper. Savero menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur. Ia kembali teringat bagaimana tadi Flavia terlihat sangat jelas menolaknya.


Saat ini yang ada di benak Savero apakah ia memang harus berhenti saja mengejar-ngejar wanita itu, atau dirinya tetap akan terus berusaha mendekati Flavia hingga ia benar-benar setuju menerima dirinya.


Tiba-tiba kenop pintu kamar terlihat seperti seseorang mencoba membukanya dari luar. Pintu yang terkunci membuat orang di luar tidak langsung bisa membuka pintunya.


Savero merasa heran siapa orang yang mencoba masuk ke dalam kamarnya. Segera dirinya bergegas menuju pintu.


"Sav, buka pintunya!!" Suara berbisik Ruella dari balik pintu terdengar.


Wajah Savero semakin heran pada wanita itu. Kenapa Ruella menemui dirinya? Mau tidak mau, Savero membuka pintu dengan malas.


Tanpa dipersilakan, Ruella langsung masuk ke kamar Savero dan menutup kamar tersebut. Savero hanya menatap semakin malas pada tindakan wanita itu.


"Kenapa kau malah melempar kesalahanmu padaku tadi?" Ruella langsung menghardik Savero. "Kau yang membawaku periksa ke rumah sakit, seharusnya kau memberitahu Don."


Savero tidak menanggapi perkataan Ruella. Dirinya terlalu malas meladeni rasa kesal Ruella karena merasa seharusnya hal tersebut tidak lagi menjadi masalah.


"Kenapa diam saja? Bagaimana kalau Don tahu yang sebenarnya? Kau membuatku bingung tadi, aku tidak tahu apa yang harus aku jawab saat kau menyalahkan hal itu padaku."


"Kau tidak perlu mengatakan apapun. Aku tahu kalau papa akan berhenti membahasnya saat melihatmu dengan wajah bodohmu itu." Ujar Savero dengan dingin. "Kau juga tidak perlu mengkhawatirkan Darla. Aku sangat mempercayainya seperti kau mempercayai sahabatmu. Selama kau tidak bertindak bodoh apa yang kau sembunyikan akan aman."


"Be—benarkah?" Tatapan Ruella memancarkan rasa leganya. "Syukurlah kalau begitu. Kau tidak tahu kan kalau aku sangat takut Don tahu."


"Sekarang keluarlah!" Usir Savero.


"Satu lagi, Seharusnya kau tidak perlu ikut besok! Untuk apa kau ikut bersama kami di bulan maduku dan Don?" Seru Ruella kembali terlihat kesal.


"Kau tenang saja, aku tidak akan mengganggu kalian berdua. Lakukan semua hal yang kau inginkan tapi kau harus meminum vitamin yang aku berikan. Jangan sampai terjadi sesuatu pada kandunganmu kalau kau ingin semuanya berjalan seperti yang kau inginkan." Ujar Savero yang berdiri di jarak dua meter dari Ruella. "Sekarang keluarlah. Jangan sampai suamimu tahu kau berada di dalam kamar anak tirimu."


"Ya, tentu saja aku akan keluar seka—"


Perkataan Ruella terhenti ketika terdengar suara ketukan pintu dari luar. Wanita yang membelakangi pintu itu langsung menoleh dengan rasa terkejut.


"Sav, kau di dalam?" Suara Donzello terdengar dari arah luar pintu.

__ADS_1


Dengan penuh kepanikan Ruella menatap pada Savero yang sama terkejutnya karena kehadiran Donzello di balik pintu kamar.


...–NATZSIMO–...


__ADS_2