BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA

BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA
040. KEBOHONGAN YANG DIPERCAYA


__ADS_3

Hari menjelang malam ketika Ruella keluar dari mobil dan berada di pusat kota Milan. Ia melangkahkan kakinya memasuki sebuah toko roti. Ya, wanita itu mengunjungi toko roti milik Flavia, Pasticceria Martesana.


Kehadirannya bersama dengan kedua penjaganya menarik perhatian siapapun, begitu juga dengan Flavia yang sedang sibuk meletakkan roti yang masih mengepulkan asap panas ke dalam etalase.


Ruella berjalan mendekat etalase untuk melihat roti-roti mana yang akan ia pilih.


"Kau datang sendiri ke sini?" Tanya Flavia pada Ruella. "Bagaimana keadaanmu? Sav bilang kalau kau sedang mengalami penurunan kondisi. Lalu kenapa kau datang ke sini?"


"Aku ingin memakan roti di sini. Fla, tolong pilihkan roti-roti terbaik di sini. Aku akan menikmatinya dengan orange juice juga." Ucap Ruella setelahnya berjalan menuju sebuah meja yang ada di sana untuk menikmati roti-roti.


Sejenak Flavia memperhatikan Ruella yang bejalan ke meja dan duduk di salah satu kursinya. Tidak tahu mengapa, melihat wanita itu dirinya merasa kalau Ruella datang bukan hanya sekedar untuk memakan roti, melainkan ada hal lain sebagai tujuannya.


Flavia membawakan tiga jenis roti bercampur cake dan orange juice ke meja Ruella. Ia tidak langsung pergi, melainkan dirinya duduk di kursi yang ada di hadapan Ruella.


"Terimakasih, bayiku akan senang saat memakan roti-roti ini." Ucap Ruella dengan tersenyum.


"Ada apa? Kau bisa memerintahkan seseorang untuk membeli roti-roti ini, dan kau tidak perlu untuk datang ke sini, kan? Padahal kondisimu jika aku perhatikan masih belum pulih benar. Apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan padaku?" Tanya Flavia dengan jujurnya.


Ruella menarik bibirnya untuk menunjukkan senyum simpul pada wanita yang duduk di hadapannya.


"Fla, jawablah dengan jujur, apa kau juga membenciku?" Tatap Ruella.


Pertanyaan Ruella membuat Flavia terdiam menatap wanita itu. Jika ditanya seperti itu secara langsung, dirinya akan bingung harus menjawab seperti apa, namun apa yang ditanyakan Ruella adalah kebenaran. Tentu saja Flavia membenci wanita yang sudah merenggut nyawa pria yang dicintainya.

__ADS_1


"Kenapa kau diam saja? Jawab saja dengan jujur. Sejujurnya, meski kau tidak mengatakannya, aku pun tahu hal itu." Ujar Ruella. "Ya, hampir semua orang di dunia ini membenciku. Itu wajar saja jika kau pun juga membenciku."


"Saat seseorang membenci orang lain, pasti karena adanya sebuah alasan, kan?" Jawab Flavia. "Aku pun memiliki alasan kenapa membencimu, dan aku rasa dengan alasanku mau siapapun orangnya pasti akan membencimu."


Ruella mengeluarkan sebuah foto dari dalam amplop cokelat yang sudah ia taruh di atas meja, dan menyodorkannya pada Flavia.


Flavia hanya menatap pada foto tersebut. Sebuah foto yang merupakan foto seorang wanita, namun dirinya tidak mengenali siapa dia. Ia juga tidak mengerti maksud dari Ruella memperlihatkan foto itu padanya.


"Sepertinya kau tidak mengenali siapa wanita itu. Benar begitu?" Tanya Ruella yang membaca ekspresi wajah Flavia yang tampak mengernyitkan dahinya.


"Siapa wanita ini? Dan kenapa kau memperlihatkannya padaku? Aku tidak mengenalinya." Jawab Flavia heran.


"Aku tidak akan meminta kau mempercayai ceritaku karena semua orang yang aku ceritakan tak ada satu pun yang mempercayainya. Bahkan kedua orang tuaku." Ujar Ruella yang berbicara sangat tenang.


Flavia bisa melihat raut wajah serius yang ditampakkan Ruella saat ini.


"Kenapa kau menceritakannya padaku? Apa hubungan hal itu padaku?" Tanya Flavia semakin heran mendengar cerita yang dijabarkan Ruella padanya.


"Orang yang menghadang mobilku adalah seorang pria dan saat di klub malam sebelumnya aku melihatnya sedang bercumbu dengan wanita yang mengejarku. Mereka berdua ternyata adalah sepasang kekasih, meski wanita itu lima tahun lebih tua dari si pria. Mereka berdua adalah pembunuh bayaran yang dibayar oleh pria yang aku masukan ke dalam penjara dua tahun sebelumnya."


"Rue, katakan saja intinya. Kenapa kau menceritakan hal yang tidak ada kaitannya padaku?" Tatapan Flavia terlihat tidak tertarik dengan cerita Ruella.


"Aku menabrak pria itu dan pergi dari sana." Jawab Ruella.

__ADS_1


"Maksudmu—"


"Pria itu adalah Matteo Florenzi." Potong Ruella.


Seketika Flavia tampak membatu saat mendengar nama kekasihnya yang meninggal tiga tahun lalu. Terlihat rasa sedih bercampur kemarahan dari mata wanita itu karena cerita yang dikatakan mengenai kekasihnya itu oleh Ruella.


"Aku tahu kau tidak akan percaya apa yang aku katakan. Apa yang aku katakan dulu mengenai pasangan itu pun tak ada yang mempercayainya. Bahkan ayahku juga tidak mempercayainya karena tidak ada bukti apapun. CCTV di tempat itu sudah mati satu hari sebelumnya. Wanita yang bersama dengan kekasihmu juga menghilang." Ucap Ruella dengan perasaan yang dapat mengira kalau apa yang dikatakannya akan sia-sia.


"Karena kau memang berbohong. Wanita sepertimu selalu berbohong tentang banyak hal." Seru Flavia dengan mata yang berkaca-kaca. "Jangan mengatakan sebuah kebohongan kalau kau tahu tidak akan ada yang mempercayaimu!"


"Wanita itu adalah wanita yang mengejarku, meski banyak perubahan darinya tapi aku tahu wanita yang di foto itu adalah wanita yang sama dengan kekasih pria yang bernama Matteo." Ujar Ruella tidak memedulikan apakah perkataannya akan dipercaya atau tidak. "Kekasihmu dan wanita itu berasal dari panti asuhan yang sama. Sudah sejak lama mereka berhubungan dan sejak remaja mereka menerima bayaran untuk membunuh orang."


"Tidak! Jangan mengatakan kebohongan apapun lagi! Kau hanya mengarang semuanya. Untuk apa kau mengatakan kebohongan ini padaku? Kau pun juga tidak menerima hukuman atas apa yang kau lakukan pada Matteo! Kau pasti mabuk dan menabraknya, lalu ayahmu menyabotase rekaman CCTV di lokasi kejadian agar melimpahkan kesalahan yang kau buat pada orang bayaran ayahmu yang sekarang mendekam di penjara." Flavia terlihat penuh emosi ketika mengatakannya hingga beberapa tamu di tempat itu memperhatikan mereka, begitupun dengan ayahnya yang berada di balik etalase.


"Papaku memang membayar orang itu untuk menggantikan aku masuk penjara tapi dia tidak berbuat lebih dari itu." Jawab Ruella.


Flavia tertawa muak mendengar perkataan Ruella. Wanita itu sama sekali terlihat tidak mempercayai semua perkataan Ruella.


"Lalu apa tujuanmu mengatakan itu semua sekarang? Bukankah itu tidak penting untukmu? Kau bebas dan tidak mendapatkan hukuman apapun." Seru Flavia.


"Aku hanya ingin kau tahu kalau sejak awal kekasihmu menipu semua orang, termasuk dirimu dan Savero." Jawab Ruella. "Tapi aku tidak memaksamu mempercayainya."


Setelah mengatakan hal demikian, Ruella mengambil foto yang diperlihatkannya pada Flavia dan memasukannya lagi ke amplop. Lalu setelahnya bangkit berdiri dari sana dan langsung berjalan keluar dari toko roti yang menjadi hening.

__ADS_1


Namun langkahnya tertahan ketika melihat seseorang berdiri di dekat pintu keluar. Tidak ia mengira kalau Savero berada di sana dan sepertinya ia mendengarkan semua yang dikatakan Ruella pada Flavia tadi.


...–NATZSIMO–...


__ADS_2