BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA

BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA
045. KECURIGAAN YANG MENDASAR


__ADS_3

Donzello melihat kehadiran putranya yang mengatakan sesuatu dengan wajah memancarkan sebuah keseriusan.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Donzello masih tetap mengkhawatirkan kondisi Ruella. "Apa dia baik-baik saja? Apa tidak ada hal yang serius padanya? Apa kandungannya juga tidak ada masalah?"


Savero hanya mengangguk kecil menjawab semua pertanyaan ayahnya.


"Kau tau Sav, tadinya aku sangat senang karena Rue mengandung anakku karena aku pikir anak itu akan meneruskan perusahaanku nantinya, tapi ternyata anak itu bukanlah anakku." Ujar Donzello. "Bisa saja aku menganggapnya seolah-olah anak kandungku, tetapi pada kenyataannya dia bukan anak kandungku. Hal itu yang akan membuatnya suatu hari pasti akan pergi meninggalkan aku. Dan mungkin saja suatu hari nanti ayah dari anak itu akan datang dengan mengacaukan segalanya."


Savero menjadi terpaku setelah mendengar perkataan ayahnya.


"Tapi aku juga tidak mungkin untuk berpisah darinya, karena pasti ayahnya tidak akan tinggal diam. Ini menjadi sangat buruk sekarang." Lanjut Donzello. "Aku sudah memikirkan semuanya dan akan melakukan sesuatu agar semuanya berjalan sesuai dengan kendaliku."


"Apa maksudnya?" Savero menjadi bingung pada perkataan ayahnya. "Apa yang akan kau lakukan?"


"Aku akan mencari tahu siapa ayah anak itu dan aku akan menghabisinya." Jawab Donzello. "Aku tidak akan membiarkan pria itu datang suatu hari nanti dan mengambil anak itu."


Perkataan Donzello membuat Savero menjadi terdiam dengan kebingungan. Ancaman yang dikatakan ayahnya sendiri membuat pria itu menjadi takut untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Ia tidak tahu apa reaksi Donzello jika dirinya mengatakan hal yang sebenarnya.


Hal tersebut membuat Savero menjadi merasa ragu untuk mengatakan kebenarannya. Pria itu mengambil keputusan untuk memikirkan semuanya sekali lagi sebelum mengatakan segalanya pada Donzello.


"Apa kau tahu sesuatu mengenai siapa ayah anak itu, Sav?" Tanya Donzello


"Tidak." Jawab Savero singkat dengan sebuah kebohongan. "Lalu apa kau akan memberitahu Rue mengenaimu yang sudah tahu tentang anak yang dia kandung?"


"Aku akan bersikap seolah-olah tidak tahu mengenai hal itu. Dan kau pun juga harus menutupinya. Apa kau bisa melakukannya, Sav?" Tatap Donzello. "Aku juga ingin kau membantuku untuk menemukan siapa ayah anak itu."


Sekarang Savero merasakan posisi yang serba salah. Dirinya yang merupakan ayah dari anak yang dikandung istri ayahnya harus membantu ayahnya untuk mencari siapa ayah kandung dari anak yang dikandung itu.

__ADS_1


"Ada apa? Bukannya kau merahasiakan mengenai hal itu karena kau tidak ingin aku menjadi serba salah karena tidak tahu harus berbuat apa?" Tanya Donzello dengan lekat. "Itulah satu-satunya jalan yang terbaik agar semuanya berjalan dengan semestinya. Aku akan membesarkan anak itu seperti darah dagingku tapi aku juga ingin memastikan agar tidak ada yang menggangguku."


Savero merasa itu adalah hal yang bagus namun bukan itu masalahnya. Dirinya menjadi takut kalau suatu hari nanti ayahnya akan tahu kalau dirinya merupakan ayah dari anak itu. Jika itu terjadi semuanya akan menjadi semakin kacau.


"Jangan sampai Rue tahu kalau aku sudah tahu mengenai hal itu. Aku tidak ingin dia menjadi merasa terganggu dengan kebenaran itu. Aku ingin membuatnya bahagia. Itu bagus untukku dan juga untuk La Nostra." Seru Donzello menjelaskan mengenai ketakutannya saat menyinggung mengenai keluarga Ruella.


"Baiklah, aku tidak akan mengatakan apapun padanya." Jawab Savero yang pada akhirnya tidak tahu harus berbuat apa.


...***...


Menjelang tengah hari, Ruella yang sudah dibolehkan pulang oleh dokter tetap menunggu kehadiran Donzello. Wanita itu beberapa kali menghubunginya namun tak satupun panggilan teleponnya dijawab, bahkan pesan yang ia kirimkan tidak ada yang dijawab. Dirinya hanya ingin pulang jika suaminya datang.


"Apa pekerjaannya jauh lebih penting dari istrinya?" Tanya Ruella pada Emiliano yang berada di sana. "Kenapa dia tidak menghubungiku, bahkan menjawab panggilanku pun tidak."


"Apa dia sudah mengetahui tentang rahasiamu, Rue?" Tanya Emiliano yang duduk di sisi ranjang tempat di mana Ruella duduk di atasnya saat ini. "Apa karena itu dia marah dan menjadi tidak peduli dengan dirimu?"


"Bisa saja. Karena ini sangat aneh. Dia lebih mementingkan pekerjaannya dari pada istri yang sedang mengandung anaknya." Jawab Emiliano.


Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka. Sosok yang baru saja hadir langsung membuat Ruella menjadi merasa lega dan bahagia. Orang yang sudah ia tunggu-tunggu sejak lama akhirnya datang.


Donzello datang bersama dengan sebuket bunga mawar merah yang dibawanya. Pria itu memperlihatkan sebuah senyuman dengan langsung bergegas masuk mendekati Ruella.


Emiliano langsung beranjak turun dari ranjang dan menjauh untuk memberikan ruang pada Donzello dan setelahnya keluar dari ruangan itu.


"Don, kenapa kau baru datang?" Ruella berkata dengan wajah yang tertekuk, memperlihatkan dirinya yang merajuk. "Bahkan kau tidak menjawab satupun teleponku."


"Maafkan aku, sayang. Ada pekerjaan yang mendesak. Aku ingin segera menyelesaikannya agar bisa datang menemuimu karena itu aku tidak sempat menjawab telepon." Jawab Donzello. "Bagaimana kabarmu? Sav bilang semua baik-baik saja. Apa itu benar? Kau baik-baik saja kan? Tidak ada hal buruk yang terjadi kan? Bagaimana dengan anakku?"

__ADS_1


"Ya, kau tidak perlu khawatir, semua baik-baik saja. Dokter juga sudah membolehkan aku pulang. Aku menunggu kedatanganmu agar aku pulang bersama denganmu." Ujar Ruella.


"Baguslah, kita bisa pulang sekarang. Sebagai permintaan maafku padamu, terimalah bunga mawar ini." Seru Donzello memberikan buket bunga mawar yang dibawanya pada Ruella.


Dengan penuh kebahagiaan Ruella menerimanya dan seketika dirinya yang merajuk karena Donzello menjadi senang kembali.


"Sekarang kita akan pulang?" Tatap Donzello mendekati tubuh Ruella dengan wajah yang saling menatap sangat lekat. "Aku sangat merindukanmu, sayang."


Ruella tersenyum mendengar ungkapan rasa rindu dari suaminya. Donzello pun memberikan ciumannya pada wanita itu.


Emiliano yang keluar dari ruangan setelah kehadiran Donzello, melihat Savero berdiri di luar ruangan. Dirinya menjadi sedikit curiga pada sesuatu. Entah kenapa apa yang dikatakannya lada Ruella tadi mengenai Donzello, bisa jadi adalah benar. Ia mengira kalau pria itu sesungguhnya sudah mengetahui mengenai anak yang dikandung Ruella.


Segera pria yang sangat menyayangi Ruella sebagai sahabat itu berjalan mendekati Savero untuk menanyakan hal yang dipikirkannya.


"Apa itu benar?" Tanya Emiliano pada Savero.


Savero tidak mengerti mengenai pertanyaan Emiliano. Wajahnya terlihat bingung karena pria yang ada dihadapannya bertanya dengan tidak jelas.


"Maksudku, apa ayahmu sibuk karena pekerjaan hingga tidak langsung menemui istrinya yang sedang mengandung anaknya?" Tanya Emiliano lagi dengan lebih jelas.


Seperti biasa, Savero tidak langsung menjawab apapaun semua hal yang ditanyakan padanya. Dirinya hanya menunggu Emiliano melanjutkan perkataannya untuk mengetahui apa yang dipikirkan pria itu.


"Itu sangat aneh, dia lebih mementingkan pekerjaannya dari pada keluarganya. Bukan begitu?" Tatap Emiliano penuh dengan tatapan menyelidiki. "Tapi itu tidak aneh jika dia tidak mencemaskan anak dan calon bayinya. Ah, dan satu lagi. Dia juga tidak akan mencemaskannya kalau dirinya tahu kalau anak itu bukanlah anaknya."


Savero masih membeku dan tidak menjawab. Ia tahu kalau Emiliano hanya memprovokasinya agar dirinya menjawab semua kecurigaannya.


"Katakan, apa sebenarnya Donzello sudah tahu kalau anak yang dikandung Ruella bukanlah anaknya?" Kali ini Emiliano bertanya dengan gamblang pada Savero.

__ADS_1


...–NATZSIMO–...


__ADS_2