
Savero memasuki Pasticceria Martesana setelah meninggalkan rumah sakit. Flavia langsung melihat kehadirannya dengan sebuah senyuman. Namun benak pria itu di penuhi dengan berbagai macam hal sehingga senyuman itu tidak dibalasnya. Dengan langkah yang biasa Savero hanya berjalan menuju sebuah meja dan duduk di salah satu kursinya.
Di rumah sakit tadi ketika Emiliano bertanya dengan sebuah kecurigaan, dirinya hanya bisa menyangkal hal itu dengan seadanya. Bahkan sekarang ia menjadi tidak yakin kalau jawabannya itu akan diterima oleh sahabat baik Ruella tersebut.
Kebenaran mengenai Donzello yang sudah tahu mengenai kehamilan Ruella juga bercampur di kepalanya. Semuanya menjadi runyam saat ayahnya ingin menemukan siapa ayah dari anak yang dikandung Ruella. Bahkan ayahnya juga berniat untuk membunuh orang itu.
Dengan pandangan yang terfokus pada satu arah, Savero menghela napas panjang. Terlihat dirinya sangat kelelahan dengan segala hal yang dipikirkannya.
"Sepotong cake chocolate akan membantu moodmu kembali bagus." Ujar Flavia berjalan meletakan sebuah piring berisi satu potong kue cokelat di hadapan Savero.
Savero menjadi melihat pada kehadirannya yang datang dengan sebuah senyuman.
"Dan cappuccino panas juga bagus untuk seseorang yang sedang merasa lelah." Lanjut Flavia, kali ini wanita itu meletakkan secangkir cappuccino panas dan langsung duduk.
"Terimakasih." Jawab Savero setelahnya menyeruput minumannya.
"Ada apa? Kau terlihat sangat lelah. Apa sesuatu terjadi? Bukankah wanita itu baik-baik saja? Kau bilang tidak ada hal buruk yang terjadi padanya." Ujar Flavia merasa heran pada kondisi Savero yang terlihat sangat lelah. "Apa ada hal lainnya yang mengganggumu?"
Savero menatap wajah Flavia, membuat dirinya menjadi teringat mengenai apa yang dikatakan Ruella mengenai kematian Matteo. Dirinya menjadi terpikirkan sesuatu mengenai hal lainnya, sesuatu yang membuatnya ingin mencari tahu suatu kebenaran.
"Ada apa?" Tanya Flavia semakin merasa heran karena Savero terdiam menatapnya.
"Fla, apa kau ingin ikut denganku ke Puglia?" Tanya Savero.
"Puglia? Kenapa kau ingin ke Puglia?" Flavia merasa aneh karena tiba-tiba saja Savero mengajaknya untuk pergi bersama dengannya ke Puglia.
"Aku ingin mencari tahu sesuatu. Mengenai Matteo." Jawab Savero.
Flavia menarik tatapannya pada Savero. Wanita itu merasa tidak senang mendengarnya. Savero yang ingin mencari tahu sesuatu mengenai Matteo, itu sama saja kalau pria itu mempercayai semua yang dikatakan Ruella kemarin.
"Aku merasa tidak ada salahnya kalau kita mencari tahu semuanya, kan?"
"Jangan bilang kau mempercayai perkataan wanita itu, Sav?" Tatap Flavia dengan pancaran mata yang terlihat tidak senang. "Kau meragukan Matteo?"
__ADS_1
"Bukan begitu, Fla. Aku hanya ingin mencari tahu saja. itu juga tidak akan buruk jika ternyata semua yang dikatakannya memang hanyalah sebuah kebohongan." Jawab Savero. "Aku percaya pada Matteo karena itu aku ingin membuktikannya kalau dia memang orang yang baik dan bukan seorang pembunuh bayaran."
Flavia memejamkan matanya sesaat, ia tidak ingin berpikiran buruk pada Matteo namun dirinya menjadi sedikit penasaran juga mengenai hal yang dikatakan Ruella kemarin.
"Apa kita akan ke panti asuhan itu?" Tanya Flavia menatap lekat pada Savero. "Wanita yang ada di foto itu, jika memang yang dikatakan Ruella benar maka kita harus mencari wanita itu."
"Ya, kau benar. Aku akan bertanya pada Rue mengenai siapa wanita itu. Kita harus menemuinya agar semuanya jelas." Seru Savero.
Hari gelap ketika Savero kembali ke rumahnya. Saat menaiki tangga untuk menemui Ruella, Donzello yang hendak ke ruang kerja baru saja keluar dari kamar.
"Kau sudah pulang?" Tanya Donzello pada Savero. "Kapan kau akan mulai bekerja di rumah sakit itu?"
"Entahlah, mereka memberiku kebebasan kapan aku siap. Tapi sepertinya untuk beberapa hari ke depan aku tidak akan memulainya."
"Ada apa?" Tanya Donzello.
"Besok aku akan ke Puglia bersama dengan Flavia." Jawab Savero. "Setelahnya akan aku pikirkan lagi kapan akan mulai bekerja."
Savero mengangguk menjawabnya. Tidak mungkin ia mengatakan hal yang sebenarnya pada ayahnya itu kalau tujuan mereka ke Puglia sebenarnya untuk mencari tahu suatu kebenaran mengenai Matteo.
"Itu bagus. Berarti hubunganmu dengan wanita itu mengalami kemajuan. Bukan begitu?"
"Aku harap seperti itu." Ucap Savero.
Savero berpikir sesuatu mengenai ayahnya. Ia menjadi ingin tahu apakah ayahnya itu megetahui tentang siapa yang menabrak Matteo atau tidak.
"Papa, apa kau tahu mengenai kematian Matteo? Maksudku, siapa orang yang sudah menabrak Matteo." Savero merasa penasaran dengan jawaban ayahnya.
"Bukankah orang itu sudah di penjara?" Tanya Donzello. "Ada apa? Apa sesuatu terjadi?"
Mendengarnya Savero tidak heran, karena media memang merahasiakan mengenai hal tersebut pada semua orang. Dirinya dan Flavia mengetahui kalau orang yang menabrak Matteo karena sebelum meninggal pria itu menyebutkan nama Ruella Arthur La Nostra.
"Tidak ada apa-apa." Jawab Savero.
__ADS_1
"Beristirahatlah."
"Kau masih mau bekerja semalam ini?" Seru Savero ketika Donzello hendak meninggalkannya.
"Ya, banyak hal yang harus aku urus." Jawab Donzello menahan langkahnya dan kembali melihat pada putra semata wayangnya. "Penjualan mengalami peningkatan yang pesat di seluruh dunia. Karena itu membuatku menjadi sangat sibuk karena harus memantau segalanya seorang diri. Tidak ada siapapun orang yang aku percaya. Kau tahu sendiri, di dunia ini hanya kau yang aku percaya, Sav."
Jawaban ayahnya itu seperti sebuah hantaman untuk Savero. Bagaimana tidak, baru saja ayahnya mengatakan kalau hanya dirinya yang dipercaya, namun pada kenyataannya pria itu menyembunyikan hal yang sangat besar.
"Kau tenang saja, aku tidak akan memaksamu lagi untuk membantuku menjalankan perusahan. Kau bisa menjadi seorang dokter seperti cita-citamu. Aku rasa aku masih bisa hidup sampai anak itu lahir dan tumbuh besar. Dialah yang akan melanjutkan perusahaan." Seru Donzello.
"Ya, kau benar." Ucap Savero tanpa menatap Donzello dan melihat ke bawah karena rasa bersalahnya.
"Baiklah, aku harus segera menelepon seseorang di Indonesia." Ujar Donzello.
"Bagaimana keadaan, Rue sekarang? Dia sudah lebih baik?" Tanya Savero.
"Kau bisa melihatnya langsung karena kau seorang dokter, Sav." Senyum Donzello setelah itu berjalan meninggalkan Savero dan masuk ke dalam ruang kerjanya.
Savero menghela napas sebelum berbalik menghadap pintu kamar di mana Ruella berada. Memang niatnya untuk menemui Ruella saat ini. Ia harus menanyakan sesuatu mengenai wanita yang diduga sebagai kekasih Matteo yang sebenarnya.
Tanpa mengetuknya lebih dulu Savero membuka pintu kamar ayahnya dan tidak melihat Ruella berada di atas tempat tidur.
"Kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu? Kenapa cepat sekali? Ya, itu bagus."
Terdengar suara Ruella dari arah toilet. Segera Savero berjalan masuk dan menutup pintu kamar.
"Kau tahu kan dokter melarangku untuk bercinta sekarang ini karena pendarahan ringan yang aku alami. Tapi tenang saja, aku akan memuaskanmu dengan cara lain—" Perkataan Ruella terhenti ketika ia berjalan kelaur dari toilet.
Wanita itu terkejut saat melihat Savero yang masuk ke dalam kamar dan bukan Donzello.
"Ke—kenapa kau masuk tanpa mengetuk pintu?" Ruella terlihat tidak senang manatap Savero.
...–NATZSIMO–...
__ADS_1