BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA

BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA
019. KEBIMBANGAN


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Savero berada di sebuah gereja di Milan bernama Santa Maria delle Grazie. Pria itu sedang bersimpuh di depan seorang pemuka agama yang siap mendengarkan segala macam pengakuan dosa yang keluar dari mulut pria itu.


"Aku tidak tahu apakah Tuhan akan mengampuni dosaku atau tidak. Semuanya aku lakukan dengan sadar, Romo." Aku Savero setelah menceritakan segala hal yang dirinya alami pada seorang pastor di gereja tersebut.


"Tuhan akan mengampuni semua umatnya jika mereka mengakui kesalahan dan memperbaiki hidupnya menjadi jauh lebih baik. Segera kau perbaiki segalanya dalam hidupmu, maka hati dan pikiranmu akan menjadi lebih baik sehingga kau bisa menjalani hidupmu tanpa penyesalan." Jawab sang Pastor yang ada di balik sekat yang memisahkan antara dirinya dan Savero.


Savero merasa lebih baik ketika berjalan keluar dari gereja. Napasnya terasa ringan saat ini dan tidak terasa sesak lagi seperti sebelumnya. Rahasia yang dirinya simpan mengenai anaknya yang dikandung Ruella membuat pria itu sangat terbebani.


Sekarang keinginannya untuk mengatakan segalanya pada ayahnya sudah bulat. Ia tidak ingin menyimpan rahasia besar seperti itu. Apapun konsekuensinya dirinya sudah siap untuk menanggungnya.


Sekitar pukul tujuh pagi Savero pulang. Ia tahu jika saat ini ayahnya dan Ruella pasti sedang berada di ruang makan dengan menikmati sarapan mereka.


Kehadiran Savero mengalihkan kedua orang yang tampak mesra sedang menikmati sarapan mereka. Melihat kemesraan mereka yang saling berpegangan tangan meski sedang makan, entah kenapa membuat Savero merasa bingung dengan keinginannya tadi.


"Kau dari mana saja, Sav?" Tanya Donzello menoleh pada kehadiran Savero. "Kemana sepagi ini kau pergi?"


"Gereja." Jawab Savero singkat seraya duduk di kursi biasanya, di hadapan Ruella.


"Gereja? Kau ke gereja? Apa aku tidak salah dengar?" Wajah Ruella tampak sangat terkejut pada jawaban Savero. "Aku tidak menyangka kalau kau ke tempat itu, Sav. Aku pikir orang sepertimu sama saja denganku yang hanya ke gereja saat menikah atau pun nanti ketika mati." Ruella berkata dengan sebuah iringan tawa.


"Ya, tadinya aku pun mengira akan seperti itu." Ucap Savero menatap Ruella mencoba untuk terlihat yakin. "Aku baru saja mengaku dosa."


"Mengaku dosa?" Tanya Donzello heran pada putranya. "Kenapa kau mengaku dosa, memang apa yang kau perbuat Sav?"


Savero mengarahkan pandangannya pada Donzello. Seketika Ruella melihat Savero seperti ingin mengatakan sesuatu hal yang serius. Wanita itu langsung berpikir kalau pria itu akan memberitahukan mengenai kehamilannya pada Donzello.


"Papa, sebenarnya ada hal yang ingin—"


"Ya ampun, ini sudah siang." Sela Ruella setelah itu meneguk minumannya dan menyeka bibirnya dengan serbet makan untuk menghilangkan noda makanan di bibirnya. "Sebaiknya kita lekas berangkat sekarang, Don. Aku sangat tidak sabar lagi menunggu kita ke Paris." Ruella memegang tangan kanan Donzello yang diletakkannya di atas meja.


Savero tahu kalau Ruella seperti sengaja menghentikannya berbicara. Dengan sengaja wanita itu pasti ingin dirinya tetap menutup mulut mengenai kehamilannya.

__ADS_1


"Ya, itu benar. Sebaiknya kita segera bergegas pergi." Jawab Donzello, tangan kirinya menggenggam tangan Ruella yang memegang telapak tangan kanannya.


Mereka berdua bangkit berdiri untuk mengakhiri makan pagi dan kembali ke kamar untuk bersiap-siap.


"Sav, habiskan sarapan. Kau juga harus segera bersiap." Seru Ruella yang merangkul Donzello sebelum mereka berdua meninggalkan meja makan dengan saling berpelukan.


Savero hanya bisa mendengus dengan yang terjadi. Rasa kesal yang pada awalnya sedikit reda setelah mengakui dosa di gereja tadi, kembali menyeruak. Melihat tingkah Ruella yang dengan sengaja menyela apa yang ingin diakuinya, seperti melempar batu ke dalam sungai yang membuat air menjadi keruh. Begitulah yang dirasakan Savero saat ini. Kekesalannya pada Ruella langsung menyeruak keluar.


Tidak berapa lama, sesudah Savero menghabiskan sarapannya, pria itu bersiap-siap dengan membersihkan dirinya di kamar mandi.


Ketika keluar dari kamar mandi dengan masih memakai handuk. Dirinya di kejutkan dengan kehadiran Ruella yang langsung masuk ke dalam kamarnya. Semua itu karena dirinya lupa mengunci pintu kamar.


"Kenapa kau di sini, bodoh?" Seru Savero tidak habis pikir dengan tindakan Ruella yang berani masuk ke dalam kamarnya.


Wajah Ruella terlihat kesal saat berjalan mendekati Savero. Wanita itu datang hanya untuk memperingati Savero yang seperti ingin memberitahukan rahasia mereka pada Donzello tadi.


"Dengarlah Sav, jangan coba-coba mengatakan sesuatu mengenai kehamilanku pada Don!" Seru Ruella dengan wajah penuh kemarahan. "Kau tahu saat dia mengetahuinya, itu sangatlah tidak bagus untuk kita berdua. Apa kau lupa kalau ini anakmu juga?"


Savero tidak langsung menjawab dan hanya diam saja.


Melihat pria itu hanya diam saja, kekesalan Ruella semakin menjadi.


"Kau mengerti, kan?" Ruella mencoba mendorong Savero namun sebelum sempat wanita itu melakukannya, Savero lebih dulu memegang kedua tangannya. "Lepaskan tanganku!!"


"Sebaiknya kau keluar dari kamarku. Suamimu pasti akan mencarimu." Ujar Savero menahan amarahnya dan langsung melepaskan tangan Ruella.


"Berjanjilah dulu kalau kau akan tetap merahasiakannya." Kemarahan Ruella menghilang saat melihat wajah dingin Savero. "Kau pun tahu kalau itu tidak akan bagus untuk kita berdua saat Donzello tahu aku hamil anakmu."


"Keluarlah, kau tidak perlu khawatir." Jawab Savero dengan nada dingin.


Akhirnya Ruella bergegas keluar kamarnya. Dengan menggeram kesal Savero meluapkan emosinya. Pria itu sangat ingin mengatakan hal yang sebenarnya pada ayahnya namun apa yang dikatakan Ruella benar juga. Jika Donzello tahu, itu tidak bagus untuk Ruella dan dirinya.

__ADS_1


...***...


Sebuah mobil limousine berjalan meninggalkan sebuah rumah mewah. Mobil tersebut menuju tempat di mana jet pribadi milik Donzello diparkirkan.


Di dalamnya, Ruella bersama dengan sang suami duduk saling mendekap. Mereka berbicara dengan intim dengan tampak kebahagiaan yang terpancar dari wajah mereka. Banyak hal yang dikatakan Ruella pada suaminya, menunjukkan ketidaksabarannya untuk segera menikmati waktu mereka di Paris.


Sedangkan Savero yang duduk di hadapan mereka hanya mencoba untuk tidak memperhatikan pasangan tersebut dengan membaca sebuah buku. Meski hal yang sebenarnya yang ada dibenaknya saat ini adalah kebimbangan masih ia rasakan.


"Kapan kita akan kembali dari sana, Don?" Tanya Ruella menengadah melihat wajah suami yang dipeluknya. "Kita harus lama berada di sana. Banyak tempat yang ingin aku datangi bersama denganmu."


"Ya, kita bisa kembali saat kau sudah merasa puas berada di sana." Jawab Donzello setelahnya mengecup bibir Ruella.


Tiba-tiba mobil tersebut mengerem mendadak hingga terdengar suara decitan ban mobil yang sangat keras. Beruntung mereka bertiga tidak sampai terdorong dari kursi yang mereka duduki.


"Ada apa?" Tanya Donzello pada supir yang berada di kursi depan.


"Maaf tuan, ada orang-orang yang menghadang mobil kita." Jawab si supir menoleh ke belakang.


"Menghadang?" Tanya Donzello.


Savero yang duduk membelakangi arah depan menoleh dan agak mencondongkan tubuhnya untuk melihat ke luar jendela mobil depan.


Dua motor yang dikendarai empat orang yang sudah turun berjalan ke arah mobil mereka dengan membawa pistol. Wajah mereka ditutupi helm.


Salah seorang berjalan ke arah pintu mobil dengan menodongkan senjatanya agar pintu mobil segera di buka. Orang itu mengetuk-ngetukkan pistolnya ke kaca jendela di arah pintu Ruella duduk.


"Don, mau apa mereka?" Tanya Ruella dengan panik.


"Cepat keluar!!" Seru si penodong dengan berteriak keras. "Atau kami akan menembaki kalian?!"


Savero memperhatikan wajah pria di balik helm yang bagian matanya terlihat. Walau hanya setengah wajahnya yang tampak, ia bisa mengenali siapa pria itu.

__ADS_1


Dengan dugaan yang ada dibenaknya, Savero menoleh pada Ruella yang terlihat ketakutan. Tujuannya adalah Ruella yang pasti sudah membuatnya sakit hati waktu itu. Pria itu adalah pelayan klub malam yang pernah mendapatkan perlakuan buruk dari Ruella di malam saat dirinya bercinta dengan wanita itu.


...–NATZSIMO–...


__ADS_2