
Ruella masuk ke dalam rumahnya setelah sampai. Savero yang berada di sofa ruang tamu langsung menatapnya dengan pandangan curiga.
Dirinya juga baru saja sampai di rumah sehabis mengikuti Ruella tadi. Pria itu menjadi penasaran apa yang dilakukan wanita itu saat berada di gudang tadi.
"Kau sudah pulang? Kenapa cepat sekali?" Tanya Savero pada Ruella yang berjalan hendak menaiki tangga tanpa memedulikan keberadaannya.
"Ya, aku sudah lelah karena itu aku pulang." Jawab Ruella.
"Bukankah tadi kau bilang akan berbelanja? Lalu di mana belanjaanmu?" Tanya Savero berusaha memojokkan Ruella karena dirinya tidak melihat apapun dibawa wanita itu.
Saat yang bersamaan kedua penjaga Ruella masuk ke dalam rumah dengan membawa segala macam tas tangan dari merek-merek terkenal.
Ruella menyunggingkan senyumnya dengan tatapan kecut pada Savero.
"Sepertinya kau sudah sangat sehat. Bukankah kau akan pindah dan bekerja di rumah sakit keluarga mamaku? Lalu kenapa kau belum juga bekerja?" Tanya Ruella dengan tatapan malas.
"Banyak hal yang harus aku urus sebelum pindah. Itu cukup memakan waktu." Ucap Savero sambil bangkit berdiri. "Jangan lupa minum vitamin dan beristirahatlah. Jangan sampai terjadi apa-apa dengan kandunganmu." Savero berkata begitu sembari berjalan melewati Ruella dengan menaiki tangga menuju kamarnya.
"Astaga, padahal aku lebih berharap dia kembali ke Inggris dari pada tinggal bersama denganku di sini." Gumam Ruella lalu setelahnya melihat kedua penjaga yang menunggu dirinya. "Bawa semuanya masuk ke dalam kamarku." Ruella memberikan instruksi pada Fazio dan Paul.
Secara perlahan Ruella menapaki tangga sambil mengambil ponselnya untuk menghubungi sahabatnya.
"Nyonya, sebaiknya jangan mengalihkan fokus nyonya dari lainnya saat berjalan di atas tangga." Ujar Paola yang berada di bawah tangga memperingatkan Ruella.
"Paola, tolong buatkan aku orange juice dan antar ke kamar ya. Hari ini cuaca sangat panas. Kapan musim panas ini berakhir." Ujar Ruella dan setelahnya menaiki tangga dengan memfokuskan tatapannya ke langkah kakinya.
Ketika dirinya sampai di atas tangga, Ruella sedikit terkejut saat melihat Savero yang masih berdiri di depan pintu kamarnya dengan menoleh ke arah dirinya. Namun saat wanita itu melihat padanya, Savero langsung bergegas masuk ke dalam kamarnya.
"Sedang apa dia? Jangan bilang dia mengkhawatirkan aku?" Tanya Ruella dengan heran pada sikap Savero.
Saat berada di kamar, sambil menikmati orange juice yang dibawakan oleh Paola, Ruella menelepon sahabatnya itu.
"Em, terimakasih kau membantuku membelikan semua benda-benda itu." Ujar Ruella setelahnya menyeruput minumannya menggunakan pipet.
"Rue, aku mendengar kalau orang itu sudah keluar penjara hari ini. Apa kau baik-baik saja?" Tanya Emiliano di ujung telepon.
__ADS_1
Ruella tampak terdiam sesaat wajahnya memancarkan air muka sayu. Mendengar ucapan sahabatnya membuat Ruella menjadi teringat mengenai hal buruk yang terjadi padanya bertahun-tahun lalu.
"Kau baik-baik saja, sayang? Jangan memikirkan apapun lagi. Kau sedang mengandung jadi tidak perlu memikirkan hal yang tidak penting. Aku yakin orang itupun tidak akan berani mendekatimu." Seru Emiliano dengan nada suara menenangkan. "Istirahatlah, Rue. Jangan terlalu lelah. Besok aku akan datang ke pesta itu. Aku sangat menyayangimu sayang."
Ruella meletakkan ponselnya ke meja samping tempat tidur dan bersandar di ranjangnya. Sebuah helaan napas terhembus sangat dalam dari wanita itu.
Sebuah ingatan masa lalu mulai muncul kembali dalam benaknya, namun segera ia menghalau semua itu. Dirinya tidak ingin kembali mengingat kenangan buruk lima tahun lalu.
"Nyonya, mama nyonya datang." Terdengar suara Paola dengan mengetuk pintu dari luar kamar.
"Mama?" Tanya Ruella dengan heran karena ibunda tercintanya datang tanpa memberikannya kabar terlebih dahulu. "Antar dia ke sini, Paola."
Savero keluar dari kamarnya karena hendak pergi, namun saat dirinya ingin menuruni tangga, Renata menaiki tangga tersebut.
"Nyonya di sini?" Sapa Savero saat Renata berada di lantai dua.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan Rue." Jawab Renata.
Wanita itu hendak melangkah menuju kamar Ruella berada, namun terlintas sesuatu dibenaknya dan membuatnya kembali menoleh pada Savero yang masih menunggunya berjalan.
"Sav, ada yang ingin aku tanyakan padamu." Ujar Renata.
"Aku dengar kalau kau waktu itu yang membawa Rue ke rumah sakit dan menemaninya USG."
Perkataan Renata langsung membuat Savero sedikit bingung. Bisa ia tebak apa selanjutnya yang akan di tanyakan wanita yang masih terlihat sangat cantik itu meski sudah berusia tua.
"Apa kau tahu hasil USG-nya?" Tanya Renata dengan tatapan penuh selidik.
Savero menarik tatapannya pada Renata karena menjadi bingung harus menjawab apa. Ia tahu kalau wanita itu pasti mengetahui mengenai usia kandungan Ruella yang sebenarnya setelah USG kemarin.
"Ya, aku tahu mengenai hal itu, nyonya." Jawab Savero yang mau tidak mau mengakui tentang apa yang ia ketahui.
"Mama..." Panggil Ruella yang membuka pintu kamarnya dan melihat pada Renata dan Savero. "Kenapa lama sekali? Aku sudah menunggu mama dari tadi. Ternyata mama mengobrol di sini?"
Renata langsung berjalan ke arah kamar Ruella di mana wanita itu berdiri di ambang pintunya. Dan segera masuk ke dalam kamar tersebut.
__ADS_1
Sedangkan Savero merasa sedikit tenang karena dirinya tidak harus mengatakan apa yang sesungguhnya mengenai kebenaran anak siapa yang dikandung Ruella.
Matanya langsung menatap pada arah pintu kamar Ruella di mana Renata berada di dalamnya juga. Saat ini pasti ibu wanita itu sedang menanyakan hal tersebut pada putrinya langsung. Begitu yang dipikirkan oleh Savero saat ini.
"Ada apa mama ke sini?" Tanya Renata berdiri berhadapan dengan mamanya itu. "Kenapa mama tidak pernah memberi kabar saat ingin datang menemuiku?"
"Mama hanya lupa melakukannya." Jawab Renata. "Bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja?"
"Ya, aku rasa semuanya baik-baik saja. Don juga sedang sibuk mengurus pesta besok. Papa akan datang kan? Bagaimana dengan Alessio?"
"Tentu saja mereka berdua akan datang. Bahkan Bibi Vivian dan Paman Vernon akan datang juga. Kedua sepupumu mama rasa juga akan datang." Seru Renata.
"Benarkah? Mereka akan datang?" Tatap Ruella dengan senyum kegembiraan. "Aku merindukan paman dan bibi."
"Rue, ada sesuatu yang ingin mama tahu." Ucap Renata dengan raut wajah serius menatap pada Ruella.
"Ada apa? Apa yang mau mama tanya?"
"Mengenai usia kandunganmu. Katakan pada mama, apa yang terjadi. Saat melihatnya kemarin, mama tahu ada sesuatu. Apa kau hamil sebelum menikah?" Tanya Renata.
Ruella sama sekali tidak mengira kalau mamanya akan tahu mengenai hal tersebut. Sebelumnya ia tidak berpikir kalau ibunya itu pasti juga akan mengetahui mengenai usia kandungannya saat USG kemarin.
"Katakan pada Mama, siapa ayah anak itu?" Tanya Renata.
Wajah Ruella tampak menegang karena bingung harus menjawab apa. Akan tetapi dengan cepat Ruella tersenyum untuk menunjukkan kalau itu bukanlah sesuatu yang harus di khawatirkan oleh mamanya.
"Sebelum kami menikah, aku dan Don melakukannya, Ma. Ini adalah anak suamiku." Jawab Ruella berbohong. "Sepertinya Savero pun juga sudah memberitahu Don mengenai usia kandunganku."
Sejenak Renata menatap wajah putrinya, mencoba untuk menyelidiki apakah perkataannya jujur atau tidak.
"Mama jangan berpikir hal yang tidak-tidak. Bagaimanapun ini adalah cucu Mama, kan?" Ruella langsung mendekati Renata dan merangkulnya dengan menidurkan kepalanya ke pundak Renata. "Aku sangat menyayangi Mama."
Renata tidak berkata apapun lagi mengenai pembahasan tersebut. Ia merangkul putrinya dengan penuh kasih sayang.
Di luar, Savero yang mencuri dengar tampak menghela napas sambil mengusap wajahnya karena dirinya menjadi tegang karena takut Renata akan mengetahui siapa ayah anak yang dikandung Ruella.
__ADS_1
"Dia benar-benar sangat pintar berbohong." Gumam Savero sambil berjalan menjauh. "Entah bagaimana akhirnya nanti semua ini."
...–NATZSIMO–...