
Di sebuah ruangan Ruella membuka mata. Ia bisa melihat cahaya temaram dari tempatnya berada saat ini. Ia berada di sebuah kamar dengan lampu yang tidak dihidupkan sepenuhnya. Kepalanya terasa sakit dan tenaganya tidak tidak sehingga membuat dirinya hanya bisa membuka mata tanpa mampu menggerakan tubuhnya sedikitpun.
"Baguslah kau sudah bangun."
Suara seorang pria membuat Ruella menjadi takut. Ketakutannya semakin besar ketika sosok pria muncul di hadapannya dengan sebuah seringai serigala. Yang membuatnya takut pria yang sebagian tubuhnya dipenuhi oleh tato itu tidak mengenakan pakaian apapun.
"Sekarang waktunya kita bersenang-senang, Ruellaku sayang." Ucap Hugo seraya menjulurkan tangannya ke arah Ruella yang tak mampu bergeming sedikitpun.
Sontak Ruella yang tertidur membuka mata. Savero langsung berada di pandangannya saat ini. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi dan merasa bersyukur kalau ternyata baru saja dirinya bermimpi buruk. Akan tetapi itu bukanlah sebuah mimpi biasa karena dulu hal tersebut benar-benar dirinya alami. Kejadian ketika Hugo memp*erkosa dirinya.
Ruella menatap Savero yang tampak terkejut ketika melihatnya membuka mata. Baru saja pria itu mengatakan sesuatu namun Ruella tidak mendengar apa yang dikatakan Savero. Perkataan Savero seperti sebuah dengungan di telinganya tadi.
"Kau sudah bangun?" Tatap Savero merubah wajahnya dan berusaha terlihat seperti biasanya.
"Kenapa kau ada di sini? Di mana Emiliano?" Tanya Ruella mengusap wajahnya dengan kedua tangan untuk menghilangkan pengaruh mimpi buruk tadi dari dirinya.
"Dia pergi setelah aku datang." Jawab Savero. "Kau tidak perlu khawatir, tidak terjadi hal-hal buruk pada dirimu dan kandunganmu."
Ruella sudah tahu mengenai hal yang dikatakan Savero padanya sehingga ia tidak berniat menjawab apapun mengenai hal tersebut.
"Apa Don sudah diberi tahu? Kenapa dia belum datang?" Tanya Ruella sedikit mengalihkan pembicaraan.
"Kemungkinan satu atau dua jam lagi dia sampai." Jawab Savero. "Kenapa kau tidak langsung pulang tadi? Bukannya kau bilang kalau kau akan pulang sebelum keluar dari Pasticceria Martesana?"
Ucapan Savero membuat Ruella merasa tidak nyaman. Dari perkataan pria itu dirinya merasa kalau Savero sangat mengkhawatirkannya dan itu bukanlah hal yang bagus untuk Ruella.
__ADS_1
"Apa yang kau ucapkan padaku tadi?" Ruella memilih untuk mengalihkan pertanyaan Savero.
Savero terlihat memutar matanya seraya berpikir. Ia tidak mengira kalau Ruella akan menanyakan apa yang dirinya katakan ketika wanita itu membuka mata.
"Kenapa? Kenapa tidak langsung menjawab?" Tanya Ruella. "Sudahlah, aku rasa yang kau katakan pasti juga bukan sesuatu hal yang penting. Sekarang pergilah, kau tidak perlu berada di sini."
"Aku akan tetap berada di sini sampai papa datang." Ujar Savero. "Sebaiknya kau tidur, ini sudah tengah malam."
"Aku lapar." Jawab Ruella yang merasakan perut kosong. "Padahal aku sudah makan malam tadi, tapi entah kenapa aku lapar lagi."
Segera Savero mengambil bungkusan yang tertera tulisan Pasticceria Martesana, dan mengambil sebuah roti dari dalamnya.
"Makanlah, kau sedang mengandung dan hal yang wajar saat tengah malam merasa lapar." Ujar Savero memberikan roti yang dipegangnya pada Ruella.
"Kau datang ke sana tapi belum memakannya, kenapa kau tidak membawanya bersamamu saat akan pergi dari sana?" Tanya Savero memperhatikan Ruella yang sedang menikmati roti pane casareccio.
Ruella tidak ingin menjawab. Ia hanya fokus makan karena merasa dirinya tidak ingin bersikap baik pada Savero. Ia tidak ingin hubungannya dengan pria itu menjadi lebih dekat karena tidak ingin Savero mengganggu hubungannya dengan Donzello. Apa lagi sampai pria itu menganggap anak yang dikandung Ruella adalah anaknya.
Karena Ruella beberapa kali tidak menjawab perkataan-perkataannya, Savero merasa kalau wanita itu masih marah pada perkataan kasarnya tadi pagi. Perasaan menyesal yang dirasakan Savero tadi juga membuatnya menjadi tidak nyaman dengan itu.
"Tadi aku mengatakan kalau aku meminta maaf karena mengatakan hal-hal buruk padamu." Ujar Savero dan seketika Ruella yang hendak menggigit roti menjadi diam tanpa menoleh pada Savero. "Aku menyesal mengatakan semua hal itu. Aku tidak bermaksud untuk menyakiti perasaanmu."
Ruella berdecak dengan raut wajah kesal saat menoleh pada Savero. Ia menjadi kesal pada ucapan permintaan maaf Savero.
"Lalu apa? Apa yang terjadi kalau kau menyesal? Aku tidak peduli semua yang kau katakan sebelumnya. Itu tidak penting untukku. Aku juga tidak masalah kalau kau benar-benar mengatakan semua itu dengan sungguh-sungguh. Pergilah, biarkan aku sendirian. Aku tidak ingin kau menemaniku." Seru Ruella, pandangannya sangat tajam pada Savero.
__ADS_1
Meski perkataan Ruella terdengar kasar, namun bisa Savero lihat kalau ada kesedihan dari pancaran matanya. Karena tidak ingin membuat suasana hati seorang wanita yang sedang mengandung menjadi buruk, Savero langsung berjalan keluar dari ruangan itu.
Dengan sebuah helaan napas, Ruella meletakkan sisa roti yang belum habis dimakannya ke dalam bungkusannya lagi. Lalu membaringkan tubuhnya dengan mata yang tampak berkaca-kaca.
Untuknya apa yang dilakukan Hugo pada dirinya dulu adalah sebuah luka yang amat besar sehingga ketika seseorang mengatakan hal-hal buruk mengenai dirinya tentang masalah itu, sebuah kesedihan begitu besar ia rasakan.
Ruella menitihkan air mata karena rasa sedih itu. Ia sangat membenci dirinya waktu semua itu terjadi. Seharusnya ia tidak menjadi wanita lemah yang hanya diam saja dulu. Semestinya sejak dulu ia bersikap seperti dirinya yang sekarang agar pria seperti Hugo tidak berani menyentuhnya.
Di ambilnya ponsel miliknya. Ia melihat saat ini waktu sudah lewat tengah malam. Rasa rindunya pada Donzello begitu besar. Segera wanita itu mencoba menghubungi suaminya, namun panggilan teleponnya tidak mendapatkan jawaban.
"Dia sudah turun dari pesawat. Apa Don tidak mendengar ponselnya berdering?" Ruella tampak berpikir. "Sebentar lagi pasti akan datang."
Ruella menutup ponselnya dan berencana untuk memejamkan matanya sambil menunggu Donzello sampai.
Pagi menjelang, suara pintu terbuka membuat Ruella terbangun dari tidur nyenyaknya. Sudah sejak lama dirinya menunggu seseorang masuk dan berharap kalau orang yang masuk adalah suaminya—Donzello.
Dengan rasa senang dan senyum yang terlukis di wajah cantiknya, ia menoleh ke pintu. Namun sayangnya yang muncul bukanlah seseorang yang wanita itu harapkan. Wajahnya langsung berubah menjadi kecewa dan bahkan langsung tertekuk saat orang itu masuk mendekatinya.
"Kenapa kau ke sini lagi?" Kesal Ruella kembali membaringkan tubuhnya terlihat malas dengan kehadiran orang itu. "Pergilah, kau tidak perlu datang ke sini lagi. Aku tidak ingin melihatmu lagi di sini!"
Tak ada jawaban dari orang yang baru saja masuk. Merasa sesuatu aneh, membuat Ruella menoleh padanya.
"Ada apa?" Tanya Ruella pada Savero yang diam menatapnya. "Di mana Don? Kenapa dia belum juga datang?"
...–NATZSIMO–...
__ADS_1