
Siang itu Ruella berjalan masuk ke dalam sebuah gereja bernama Santa Maria delle Grazie yang berada di kota Milan. Gereja tersebut juga merupakan gereja yang pernah dimasuki Savero saat melakukan pengakuan dosa tempo hari.
Wanita tersebut bersimpuh di hadapan pemuka agama yang sudah berada di hadapannya. Dengan penuh penyesalan Ruella mengatakan apa saja yang sudah dirinya lakukan selama ini, termasuk mengenai kebohongan yang ia lakukan untuk menyembunyikan kebenaran mengenai anak yang di kandungnya.
Setelah mencurahkan segala isi hatinya dengan air mata yang tertumpah ruah, Ruella bangkit berdiri dengan sedikit sulit karena kondisinya yang sedang hamil. Wanita itu berjalan keluar dari gereja dengan perasaan sedikit lebih baik saat ini.
Meski begitu, rasa rindu yang ia rasakan pada Donzello masihlah sangat besar. Perasaan itu bercampur aduk dengan rasa bersalah yang dirinya rasakan karena telah membohongi pria yang sangat dicintainya itu.
"Rue, kau merasa lebih baik?" Tanya Emiliano yang menunggu di luar gereja dan langsung berjalan menghampiri sahabatnya tersebut. "Tenanglah sayang, semuanya akan menjadi lebih baik lagi sekarang." Dengan lembut Emiliano merangkul Ruella.
Ruella menahan air matanya agar tidak tercurah keluar. Dirinya terlintas sesuatu hal yang ingin ia lakukan saat ini.
"Em, aku akan meninggalkan rumah itu. Meskipun Don meminta Savero untuk menjagaku, aku tidak ingin dia melakukannya. Aku bukan barang yang bisa dititipkan pada siapapun." Ujar Ruella dengan kesungguhan hati. "Aku masih sangat mencintai Don. Aku rasa itu tidak akan adil untuknya jika aku terus berada di rumah itu."
"Ya, kau bisa meninggalkan rumah itu, Rue. Kembalilah ke Sisilia dan tinggal bersama dengan orang tuamu di sana." Jawab Emiliano yang selalu mengerti perasaan wanita yang merupakan sahabat baiknya tersebut.
"Aku akan pergi, tapi aku tidak akan kembali ke Sisilia."
"Lalu kau akan ke mana?" Tatap Emiliano penasaran.
"Aku akan pergi jauh. Aku ingin bersembunyi dari Savero. Aku mengenalnya dengan sangat baik. Dia sangat menyayangi Don, dia pasti akan mengikuti semua permintaan terakhirnya. Karena itu aku akan menghilang dengan pergi ke tempat yang siapapun tidak mengetahuinya." Seru Ruella. "Dan aku juga tidak akan memberitahumu, Em."
"Apa maksudmu?" Emiliano terlihat semakin tidak mengerti maksud dari ucapan Ruella. "Jangan seperti itu, Rue. Setidaknya katakan padaku ke mana kau akan pergi. Aku pasti akan merindukanmu nanti."
"Aku juga tahu bagaimana sifatmu. Kau pun akan memberitahu Sav jika kau mengetahui ke mana aku pergi." Jawab Ruella.
Ruella sudah berada di rumahnya dan ada di dalam kamar. Wanita itu kembali memikirkan apa yang dikatakannya pada Emiliano tadi.
Segera ia bangkit berdiri sambil mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang yang selalu ia hubungi saat membutuhkan bantuan.
"Tuan putriku, kau baik-baik saja?" Suara kakak sepupu Ruella yang bernama Vincenzo terdengar di ujung telepon.
"Vin, aku membutuhkan bantuanmu." Ucap Ruella.
__ADS_1
Setelah mengatakan apa yang diinginkannya pada sepupunya. Ruella langsung bergegas memasukkan pakaian ke dalam koper besar miliknya.
Tatapannya mengarah pada sebuah figura besar yang tergantung di kamarnya. Sebuah foto pernikahan dirinya bersama dengan Donzello. Meski sulit, wanita itu meraihnya untuk menurunkan benda itu.
Ditatapnya sejenak foto tersebut dengan sangat dalam. Wanita itu benar-benar sangat merindukan suaminya saat ini.
Ponselnya kembali berdering, dengan sangat cepat Ruella meraihnya dari atas bupet untuk menjawab telepon yang sudah dirinya tunggu. Telepon dari Vincenzo.
"Kau sudah siap? Sebentar lagi orangku akan tiba untuk menjemputmu dan akan membawamu ke tempat parkir pesawat." Ujar Vincenzo.
Saat yang bersamaan terdengar suara helikopter yang sangat dekat. Ruella tahu kalau itu adalah orang-orang sepupunya tersebut yang ingin menjemputnya.
"Ke mana kau akan mengirimku?" Tanya Ruella penasaran.
"Kau akan tahu saat kau tiba di sana, tuan putri." Jawab Vincenzo.
Setelah menutup telepon, Ruella berjalan keluar sambil membawa koper dan figura foto pernikahannya dengan Donzello.
Ruella tidak menjawabnya, wanita itu terus berjalan menuruni tangga dan berjalan keluar pintu rumah tersebut.
Orang yang diminta Vincenzo menjemputnya menghampiri Ruella untuk mengambil koper dan figura tersebut.
"Nyonya, kau jangan pergi. Tuan Savero akan mencarimu nanti. Apa kau ingin ke rumah orang tuamu?" Paola memegang lengan Ruella untuk menghentikan langkah wanita itu.
Ruella berhenti berjalan dan menoleh pada Paola. Ia melihat raut wajah khawatir dari kepala pelayan di rumah tersebut.
"Setidaknya beritahu ke mana nyonya akan pergi." Pinta Paola terlihat memohon.
Tak ada yang keluar dari mulut wanita itu. Ruella kembali berjalan tanpa menghiraukan permintaan Paola. Segera dirinya menaiki helikopter yang sudah siap terbang.
Dengan perasaan bercampur aduk Ruella melihat ke arah rumah pria yang dicintainya tersebut. Ia menahan rasa sedih saat meninggalkan rumah itu. Meski tidak banyak kenangan yang dirinya dapatkan bersama dengan Donzello, ia tetap merasa sangat bersedih saat memutuskan pergi dari sana.
...***...
__ADS_1
Tiga tahun kemudian
Savero masuk ke sebuah rumah megah yang berada di Venesia. Pria itu masuk ke dalam suatu ruangan bersama dengan dua orang penjaga mengiringi langkahnya.
Seorang Pria duduk di balik meja besar yang berada di ruangan tersebut, melihat pada kehadirannya.
Mata Savero menatap pria yang memiliki tatapan tajam tersebut. Mereka berdua saling bertatapan sesaat.
"Emiliano bilang kalau satu-satunya orang yang tahu di mana Ruella berada adalah kau. Apa benar seperti itu?" Tanya Savero dengan dingin. "Selama tiga tahun ini aku sudah mencarinya ke seluruh dunia tapi tetap tidak menemukannya. Beritahu aku di mana dia berada, Vincenzo?"
Kakak sepupu Ruella yang bernama Vincenzo tertawa mendengar ucapan Savero. Pria itu langsung beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Savero.
Tanpa siapapun duga, Vincenzo memeluk Savero dengan sangat akrab. Begitupun dengan Savero.
"Sudah lama kita tidak bertemu, Sav." Ujar Vincenzo yang ternyata merupakan teman lama Savero. "Setelah lulus dari kedokteran kita tidak pernah bertemu lagi."
"Ya, kau tidak pernah menampakkan dirimu, bahkan kau tidak datang di acara pernikahan adik sepupu tersayangmu, Vin." Jawab Savero. "Ya, aku tidak heran, kau mengambil jurusan kedokteran hanya karena papamu seorang dokter, dan pada akhirnya kau meneruskan mamamu."
"Aku rasa itu yang terbaik. Darah La Nostra lebih kental dari pada darah Sanzio." Jawab Vincenzo.
Savero melihat pada Vincenzo dengan kembali serius. Pria itu mengharapkan kalau temannya itu memberikan jawaban atas pertanyaannya tadi mengenai keberadaan Ruella.
"Beritahu aku, di mana dia berada?" Tanya Savero.
Sejenak Vincenzo tampak berpikir. Ditatapnya Savero dengan sangat lekat karena ada yang ingin dirinya ketahui saat ini.
"Aku akan memberitahumu kalau kau memberitahuku mengenai alasan kenapa kau sangat ingin menemukannya?" Vincenzo balik bertanya dengan tatapan penuh selidik. "Ini terasa aneh... Kenapa Rue harus menghindarimu? Dan kenapa kau mencarinya selalu? Apa karena dia mengandung anak papamu?"
"Tidak, sebaiknya kau memberitahuku di mana dia berada, karena anak yang dikandungnya adalah anakku." Jawab Savero.
Sontak Vincenzo tampak terkejut mendengarnya.
...–NATZSIMO–...
__ADS_1