
Ruella melenggang masuk ke gedung perusahaan milik Donzello—d'Este Group. Perusahaan tersebut merupakan perusahaan yang memproduksi Jam tangan yang mereknya sangat terkenal di dunia. Ayahnya—Arthur memiliki saham di perusahaan tersebut yang diberikan Donzello secara cuma-cuma sebagai bentuk kerja sama di antara mereka berdua.
Melihat kehadiran Ruella bersama dengan kedua penjaganya, siapapun tahu mengenai siapa dirinya. Tak ada satu pun orang yang berani menghentikan langkah wanita itu dan bahkan tak ada yang mendekat walau hanya untuk sekedar menyapanya.
Semua mata melihat pada Ruella tanpa mengatakan apapun karena tidak berani saat wanita itu membuka pintu ruangan di mana suaminya berada di dalam.
Tatapan Ruella langsung tertuju pada sosok suaminya yang berdiri berhadapan dalam jarak sekitar satu meter dengan seorang wanita. Wanita tersebut adalah Sofia Gollini yang merupakan sekertaris Donzello yang berusia 29 tahun.
Donzello langsung menoleh pada kehadiran Ruella yang sempat terdiam di ambang pintu memperhatikan dirinya bersama dengan Sofia.
"Rue, kau sudah datang?" Ujar Donzello dengan sebuah senyum.
Sofia yang baru saja memberikan sebuah berkas pekerjaan langsung berjalan menjauh dari Donzello saat tahu siapa yang datang tanpa mengetuk pintu ruangan itu.
"Permisi, tuan." Pamit Sofia langsung bergegas keluar dari ruangan tersebut.
Ruella melihat pada Sofia dengan wajah dingin ketika wanita tersebut melewati dirinya untuk pergi dari ruangan itu. Melihat posisi Donzello bersama dengan Sofia tadi langsung membuat rasa cemburu yang dirasakan Ruella menyeruak.
"Masuklah, Sayang." Seru Donzello masih dengan senyum lebar pada Ruella.
Segera wanita yang saat ini memakai pakaian berwarna putih gading dengan sepatu berhak tinggi yang juga berwarna sama itu masuk ke dalam ruangan dengan menutup pintu. Kedua penjaganya berdiri di luar pintu dengan setia.
"Ada apa? Kenapa wajahmu tampak tidak senang?" Tanya Donzello setelah meletakkan berkas yang ada di tangannya.
Pria yang memakai setelan jas berwarna abu-abu tua itu langsung mendekati Ruella dengan menempelkan tubuh mereka—lekat. Ditatapnya wanita muda yang adalah istrinya.
"Kenapa diam saja?"
"Ruella melihat pada Donzello dan langsung sedikit berjinjit untuk mencium pria itu.
Tentu saja ciuman tersebut mendapat sambutan yang baik dari Donzello yang langsung membalasnya dengan me****** bibir Ruella.
Rasa cemburu yang semula dirasakan wanita yang tidak pernah tidak mendapatkan apa pun yang ia inginkan itu, luntur seketika ketika pria yang sangat dicintainya memberikan sentuhan cinta yang membuatnya terbuai.
__ADS_1
"Sekarang kau benar-benar membuat aku mencintaimu, Rue." Ujar Donzello sesaat melepas bibir mereka yang bertautan.
"Aku yang lebih mencintaimu, Don." Jawab Ruella dengan sedikit mengatupkan bibirnya memperlihatkan sikap manjanya. "Aku tidak ingin kehilanganmu." Ruella memeluk Donzello dan menyandarkan kepalanya ke pundak kiri yang bidang pria itu.
Mendengarnya, Donzello tertawa kecil dan mendekap tubuh Ruella, dengan tatapannya yang mengarah pada wanita yang menopang diri padanya.
"Jadi apa kita pergi untuk makan malam atau menikmati semuanya terlebih dulu? Ya, kalau kau mau kita bisa bercinta dulu di sini." Bisik Donzello dengan tawa kecil.
Ruella menyunggingkan senyumnya pada perkataan Donzello, namun saat ini wanita itu seperti sedang tidak memiliki tenaga apapun sehingga rasanya tidak begitu semangat untuk memenuhi keinginan suaminya itu.
"Don, aku sudah sangat lapar. Kita bisa bercinta setelah makan di restoran nanti." Jawab Ruella dengan ucapan yang pastinya tidak benar-benar serius.
Donzello menjadi tertawa menanggapinya. Pria itu kembali mengecup Ruella yang terus mendekapnya erat.
"Baiklah, ayo kita pergi makan." Jawab Donzello.
Ruella bersama Donzello berjalan keluar ruangan dengan wanita itu terus saja merangkul tubuh suaminya. Semua mata menatap pada mereka.
"Kau sudah reservasi restoran yang aku minta?" Tanya Donzello pada Sofia yang langsung berdiri di balik meja kerja.
Ruella menoleh pada Sofia dengan tatapan tajam ketika dirinya berjalan bersama Donzello menuju elevator. Rasa cemburunya muncul kembali karena ia bisa merasakan kalau wanita itu memiliki rasa pada suaminya.
Restoran Perancis yang didatangi sepasang suami istri tersebut tidak dikunjungi oleh pelanggan lainnya. Semua itu karena dengan sengaja Donzello mereservasi satu restoran khusus untuk menikmati makan malam bersama istri tercintanya.
Mereka menikmati makan malam dengan tampak bahagia hingga selesai. Lalu melanjutkan dengan meminum red wine sambil menikmati waktu kebersamaan mereka.
Namun Ruella menolak untuk meminumnya, dan itu membuat Donzello menjadi tampak bingung.
"Kenapa kau tidak ingin minum wine, Rue?" Tanya Donzello ketika Ruella menolak untuk meminun minuman beralkohol tersebut.
Ruella mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia berpikir untuk menjawab bagaimana pertanyaan suaminya tersebut. Dirinya yang sedang hamil tidak mungkin meminum wine saat ini tapi tidak mungkin juga dirinya mengatakan hal itu.
"Aku hanya tidak ingin meminumnya." Jawab Ruella hanya dengan jawaban sekedarnya karena tidak menemukan jawaban lainnya.
__ADS_1
"Apa kau baik-baik saja?" Tatap Donzello dengan pancaran mata kekhawatiran.
"Aku baik-baik saja, Don. Aku hanya sedang tidak ingin meminumnya." Jawab Ruella meyakinkan.
"Baiklah, kalau begitu. Kau ingin minum yang lainnya?" Donzello memegang punggung tangan Ruella yang diletakkan di atas meja.
"Orange juice." Ruella tersenyum menjawabnya.
Tidak berapa lama orange juice yang dipesan sampai. Mereka berdua minum bersama sambil mengobrol ringan mengenai pekerjaan Donzello.
"Don, siapa nama sekertarismu?" Tanya Ruella.
"Sofia?" Donzello mengernyitkan matanya merasa aneh karena Ruella ingin tahu mengenai sekertarisnya. "Namanya Sofia Gollini. Ada apa?"
"Sudah berapa lama kau bekerja dengannya?" Tanya Ruella lagi.
"Aku lupa tepatnya, tapi kemungkinan sekitar tiga tahun ini." Donzello tampak berpikir sesaat. "Ada apa?"
"Tidak, aku hanya ingin tahu saja. Dia masih sangat muda dan cantik. Kau pasti sangat senang bekerja dengannya."
"Hei, kau berkata apa, Sayang? Jangan bilang kalau kau cemburu?" Donzello langsung berpindah tempat duduk dan menggeser kursi ke dekat Ruella. Tatapan Donzello ingin tahu pada maksud perkataan Ruella.
"Apa dia tidak pernah menggodamu?" Tanya Ruella ingin tahu.
"Rue, selama ini dia hanya bekerja sewajarnya saja, aku tidak pernah melihat atau pun merasa dia menggodaku. Dan walaupun dia menggodaku, itu tidak akan berhasil karena aku sudah memiliki wanita muda yang sangat cantik dan menggairahkan sepertimu, Sayang." Jawab Donzello yang mendekatkan tubuhnya menatap lekat Ruella yang juga berbalik menatapnya. "Jangan cemburu pada siapapun. Tidak ada wanita yang sebanding denganmu. Kau mengerti?"
Ruella menatap bola mata Donzello dengan dalam. Ia ingin membaca siratan mata suaminya yang berkata dengan manisnya pada dirinya.
"Aku akan ke toilet sebentar." Jawab Ruella dengan sebuah senyuman.
Segera ia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju toilet yang berada di dalam restoran mewah tersebut. Di ambilnya ponsel yang ada di tasnya untuk menghubungi Fazio—salah satu penjaganya. Ruella sudah tidak bisa menahan rasa cemburunya lagi pada sesuatu sehingga tidak ingin menahan dirinya untuk meminta para penjaga mencari tahu mengenai seseorang.
"Ada apa nyonya?" Tanya Fazio yang berada di luar restoran menunggu bersama Paul.
__ADS_1
"Aku ingin kalian berdua mencari tahu mengenai wanita bernama Sofia Gollini." Jawab Ruella yang berdiri di depan cermin di dalam toilet. "Cari tahu mengenai semua hal tentang dirinya."
...–NATZSIMO–...