
Nadine mengerjapkan matanya pelan, berusaha menetralisir rasa pening di kepalanya yg teramat sangat. Matanya menelusuri tiap sudut ruangan serba putih itu. Ruangan asing dengan desain interior mewah yg mungkin berharga puluhan juta.
Derap langkah terdengar kian mendekat menuju arah Nadine, membuat gadis itu terpaku pada satu sudut yakni pintu. Tak lama kemudian daun pintunya bergerak, muncul seseorang tinggi tegap berstelan jas hitam rapi dengan sepatu mahal megkilap.
Deg..Deg..Deg..
Jantung Nadine berpacu lebih cepat, tatapannya beradu dengan mata elang pria itu. Bibir Nadine tercekat, lidahnya kelu tak mampu mengeluarkan barang sepatah kata. Pria itu mendekat, terus melangkah ke arahnya.
Grep..
Sebuah pelukan mendekap erat tubuh mungil Nadine, semakin lama semakin erat, jika dibiarkan lebih lama kemungkinan besar akan membuatnya sesak nafas.
"Aku merindukanmu sayang, sangat merindukanmu." Gumam pria itu yg enggan melepas rengkuhannya.
__ADS_1
"Kamu juga merindukanku kan? Masih mencintaiku kan?". Sambungnya lagi.
Nadine masih diam kaku dalam posisinya, ia merasa sedang bermimpi. Mana mungkin pria di masa lalunya itu datang lagi, dia sudah pergi, bahkan menikahi wanita lain.
"Sayang, kenapa diam? Apa ada yg sakit?". Tanya pria itu cemas. Melepas pelukannya sejenak lalu menangkup kedua pipi Nadine.
"Ka..Kau! Aku pasti bermimpi." Ujar Nadine berusaha menolak kenyataan.
Ia mencubit lengannya beberapa kali, mencoba bangun dari mimpi yg sebenarnya adalah hal yg nyata. Zayn telah kembali, pria itu kini berada tepat didepan matanya.
Setelah menyadari bahwa ini nyata. Nadine segera mendorong tubuh Zayn, berusaha menjauh dari jangkauan pria tampan itu.
"Kenapa Nad? Ada apa?". Tanya Zayn tak mengerti.
__ADS_1
"Jangan seperti ini, kau sudah menikah Zayn. Lagipula aku sudah memutuskan untuk melepas dan melupakanmu. Perasaanku sudah hilang semenjak kau pergi dan menikah dengan perempuan lain." Jelas Nadine.
"Aku melakukannya karena paksaan, saat itu aku belum mampu melawan mereka. Tapi sekarang, jangan khawatir, aku akan segera menceraikan dia dan menikahimu, kita bisa sama sama lagi Nad." Ujar Zayn lembut, berusaha meyakinkan dan merebut hati Nadine kembali.
"Apapun alasannya, kita sudah tidak bisa bersama lagi. Jalan kita sudah berbeda Zayn, berbahagialah dengan dia. Karena aku sudah melepaskan cinta pertamaku, dan mengikhlaskan kepergianmu."
Nadine mencurahkan segala beban di hatinya. Ya, selama lima tahun ini ia telah berjuang keras untuk melupakan dan mengubur dalam dalam masa lalunya bersama Zayn. Baginya, Zayn adalah cinta pertama dan yg terindah, meskipun kini mereka berpisah jalan. Nadine tetap bahagia, setidaknya ia pernah dicintai dan menjadi bagian dari hidup pria itu.
"Jangan!! Aku tak mengijinkanmu melakukannya Nad, meskipun kamu melepasku, tapi sampai kapanpun juga aku tidak akan pernah melepasmu. Aku sangat mencintaimu, entah itu dimasa lalu, masa kini, ataupun masa depan, aku hanya akan mencintai dirimu." Ujar Zayn tetap dengan pendiriannya.
"Cukup Zayn!! Ku mohon. Jangan egois! Lima tahun ini aku berusaha keras melupakanmu, aku selalu meyakinkan diriku untuk tidak berharap lagi, setelah semua perjuangan itu akhirnya aku bisa menjadi diriku yg sekarang. Hidup sendiri dan bahagia. Jadi ku mohon lupakan juga aku, istrimu pasti akan sangat sedih jika tau kamu masih saja mengharapkanku."
Tak pernah terpikirkan oleh Nadine jika pria ini akan datang dan mengiba padanya seperti sekarang. Nadine tak mampu lagi menahan air matanya, suka duka, manis pahit, setiap kepingan kenangan itu kembali berputar di kepalanya.
__ADS_1
Hatinya kembali merasa sakit, ia harus konsisten dengan pilihannya. Pendiriannya tidak boleh goyah hanya karena ucapan manis Zayn. Karena meskipun mereka kembali bersama, keluarga Zayn pun akan tetap menentang keras hubungan itu. Dan Nadine lah yg akan dirugikan, besar kemungkinan penindasan lima tahun lalu akan kembali ia rasakan, bahkan mungkin lebih parah.