
"Gimana kak? Udah ketemu?". Tanya Levin yg melihat Sam berdiri mematung di depan ruang VVIP.
"Kita terlambat.. Kita terlambat Vin.." Jawab Sam kesal, berusaha menahan amarahnya yg siap meledak.
"Maksudmu?".
"Ruangannya kosong, dia nggak ada, dia dibawa pergi lagi Vin, dia udah nggak ada arghhhh....".
Sam hanya bisa mengerang frustasi, melampiaskan kekesalannya dengan memukul tembok tembok rumah sakit yg sudah pasti sangat keras. Buku buku jarinya terluka, peluh dan air mata pun bercampur berjatuhan tanpa ia sadari.
Lagi lagi ia harus kehilangan Nadine. Entah dimana dan bagaimana kondisinya sekarang. Ia sangat merindukan wanita itu, ia cemas, khawatir, takut pria itu akan melakukan hal hal buruk, atau bahkan lebih buruk dari apa yg bisa ia bayangkan.
"Kak, kakak yg tenang. Jangan seperti ini, kita hanya harus terus berusaha. Aku yakin jika kalian berjodoh Tuhan pasti akan mempertemukan kalian." Bujuk Levin berusaha menenangkan.
"Baiklah, ayo kita kembali dulu. Sepertinya perusahaan sedang membutuhkanmu sekarang. Kasihan Qila mengurusnya sendirian."
"Iya baiklah."
__ADS_1
Sam dan keluarganya sampai saat ini masih di rundung kesedihan dan rasa gelisah karena kehilangan calon menantunya tepat di hari pertunangan. Mereka berjuang sekuat tenaga, kesana kemari, dan terus melakukan pencarian, bahkan secara khusus meminta bantuan kepada berbagai media asing untuk menayangkan wajah Nadine, agar siapapun yg menemukannya bisa segera melapor dan membawanya pulang.
Namun di tengah kemalangan itu, justru ada seseorang yg tersenyum senang. Ia merasa satu satunya penghalang antara dirinya dan Sam sudah tiada, ia merasa sudah mendapatkan hasil yg sangat memuaskan, bahkan tanpa ia sendiri harus ikut campur tangan.
Dan setelah ini yg harus ia lakukan adalah mencari perhatian keluarga Sam, mendapatkan kepercayaan mereka semua. dan membuat mereka melupakan Nadine, hingga akhirnya dirinyalah yg akan menjadi istri Sam, dan menantu keluarga itu.
*****
Seoul, Korea Selatan.
Maniknya menelusuri setiap inci ruang besar itu. Ruangan yg nampak asing, namun terlihat sangat cantik dan elegan. Apa mungkin di negaranya ini ada ruang rumah sakit yg sangat mewah seperti ini? Bahkan ini jauh lebih mewah daripada kamar hotel bintang lima yg pernah ia datangi.
"Akhirnya kau sadar juga." Suara serak khas pria tiba tiba terdengar, bersamaan dengan langkah kaki yg kian mendekat ke arahnya.
"Hai nona, bagaimana kabarmu?". Ucap pria itu lagi begitu pandangan mereka bertemu.
"Kau.. Kau siapa? Dan ini dimana?". Nadine menatap bingung pria itu, pria tampan bermata sipit yg mengenakan stelan formal, yg terlihat sangat asing baginya.
__ADS_1
"Kau bisa memanggilku Mike, dan saat ini kau berada di mansionku." Jawab pria itu datar, tanpa eskpresi, juga senyuman.
"Kenapa aku bisa disini? Apa kau yg menyelamatkanku?".
"Satu jam lagi aku ada pekerjaan penting, jadi biar ku jelaskan padamu nanti setelah aku pulang. Dan jika butuh sesuatu, tekan tombol biru di sampingmu, seseorang akan datang dan membantumu." Ucap pria itu lalu melangkah keluar tanpa menjawab pertanyaan Nadine.
Nadine hanya bisa pasrah, tidak ingin memperlambat urusan pria itu. Dan terpaksa harus menyimpan rasa penasarannya sampai nanti pria itu kembali.
**TBC.
Jangan lupa like, komen, votenya juga ya.
Terima kasih**
Michele Lee & Zevana Lee
__ADS_1