
Nadine hanya bisa duduk diam di kamar orang lain, merenungi nasib yg entah akan bagaimana kedepannya. Ia sedih, rindu pada orang orang terdekatnya. Maksud hati ingin memberi kabar, namun rasanya sangat sulit. Si tuan rumah selalu saja memberi alasan dan berusaha membuat Nadine tidak bisa menghubungi siapapun.
Selama beberapa hari ini yg ia lakukan hanya makan, tidur, dan bermain dengan si kecil Zee. Sedangkan tuan rumah, setiap hari mengunjunginya, namun hanya beberapa menit saja. Andai saja kakinya sudah benar benar kuat, Nadine pasti sudah pergi dari rumah itu. Meski hadirnya si kecil mampu membuatnya terhibur, tapi tetap saja, ia merasa sedih karena jauh dari orang orang yg di sayanginya.
Hingga sore itu tiba, Nadine yg tengah asik bermain dengan si kecil Zee tanpa sengaja mendengar suara keributan dari luar. Entah apa yg sudah terjadi. Telinganya sayup sayup mendengar perdebatan, dan diantara suara itu, Nadine seperti mendengar suara seseorang yg pernah ia kenal, namun ia lupa.
"Zee sayang, bisakah kamu bantu mommy duduk di kursi itu? Mommy mau melihat apa yg terjadi di luar." Ucap Nadine lembut sambil membelai puncak kepala Zee.
"Tentu mommy, ayo."
__ADS_1
Meski agak sulit, namun Zee berhasil membantu Nadine untuk duduk di kursi rodanya. Ia pun bergegas keluar untuk melihat apa gerangan yg terjadi disana.
"Kau salah orang, dia bukan Nadine, dia Irene istriku. Kau lihat saja di sekelilingmu, banyak foto foto pernikahan kami. Apa perlu ku tunjukkan buku nikah kami juga?". Ucap si tuan rumah pada pria asing yg telah memaksa masuk ke rumahnya.
Pria itu pun langsung mengedarkan pandangannya, menatap sekeliling yg ternyata memang benar, banyak foto pernikahan antara si tuan rumah dengan gadis cantik yg mirip Nadine kekasihnya.
"Sudah percaya sekarang? Karena sudah tidak ada apa apa lagi, pergilah! Jangan pernah mencoba hal yg sama lagi, atau kau akan pulang tinggal nama." Ujar si tuan rumah sambil menatap sengit pria asing itu.
Setelah mengucapkan beberapa kalimat ancaman, pria asing itu langsung pergi. Tak menoleh lagi, juga tak berkata apapun lagi.
__ADS_1
"Tuan Mike, ada apa?". Tegur Nadine yg entah sejak kapan sudah berada di belakangnya.
"Tidak apa apa, hanya masalah kecil. Dan ya, bagaimana kau bisa turun?"
"Naik liftmu, apa kau lupa?".
"Ah iya, baiklah kalau gitu aku pergi dulu, ada pekerjaan yg belum ku selesaikan."
Nadine merasa sedikit aneh dengan tuan rumah itu, ia nampak gugup, tak seperti biasanya yg selalu bicara dengan lugas dan tegas. Dan lagi, siapa tadi yg sedang berdebat dengannya? Suara itu nampak familiar, seperti pernah mendengar entah dimana. namun sayangnya, sebelum sempat melihat, pria itu sudah tidak ada. Mau bertanya pun percuma, si tuan rumah selalu menutup diri, bahkan jarang bisa diajak bicara.
__ADS_1
Sampai kapan aku harus berada disini? Aku rindu dia, rindu pekerjaanku, teman temanku. Bantu aku Tuhan!!
Untuk saat ini Nadine hanya bisa pasrah, selalu berdoa dan berharap agar kakinya segera sembuh dan pergi dari sini. Sebenarnya hidup di tempat ini bukanlah hal yg buruk, namun ia lebih menyukai kehidupannya yg dulu, juga sudah sangat merindukan pria itu.