
Wajah cantik, gaun yg indah, di tambah sedikit polesan make up yg natural. Nadine nampak sangat manis malam ini, ia pergi sendirian dengan taksi menuju tempat pesta pernikahan adik Aqila.
Tak butuh waktu lama, hanya dalam 30 menit ia sampai ditujuan. Taksi yg mengantarnya berhenti di lobby hotel bintang lima terfavorit di kota itu.
Sebelum pergi ke area pesta, Nadine memeriksa kembali penampilannya, merasa sudah cukup pas dan cantik, ia pun segera turun dari taksi, menghela nafasnya sebentar, kemudian masuk ke dalam ballroom hotel tersebut.
Nadine merasa sangat gugup dan canggung, ada banyak pasang mata yg nampaknya sesekali melirik ke arah dirinya. Bagaimana tidak? Orang orang itu pasti heran, mengapa dirinya yg sudah dandan dengan begitu cantik, malah datang sendirian ke pesta pernikahan seperti ini.
"Nadine, sebelah sini." Panggil Qila begitu melihat Nadine dari kejauhan.
"Ok." Jawab Nadine lalu segera menghampiri temannya itu.
"Wahh.. Temanku ini cantik sekali. Mau ku kenalkan pada seseorang?". Puji Qila sekaligus mengejek dan menertawai ke jombloan Nadine.
"Tak perlu, aku bisa cari sendiri.. Oh ya ponakan cantikku mana?". Tanya Nadine mengalihkan pembicaraan.
"Lagi sama Levin kayaknya, eh aku tinggal ke toilet bentar ya, nggak papa kan sendirian?".
"Hmm ya pergilah."
__ADS_1
Baru saja mendapatkan teman bicara, Nadine sudah ditinggal dan terpaksa sendirian lagi.
Kini matanya menelusuri setiap sudut ruangan pesta itu, ruangan yg disulap menjadi sangat indah dengan beribu bunga sebagai hiasannya.
Alangkah bahagianya jika dirinya juga bisa mengadakan pesta pernikahan seperti ini. Jika Tuhan berkehendak, Nadine sangat ingin segera dipertemukan dengan jodohnya, bisa menikah, dan memiliki putri yg lucu seperti Felicia.
Ketika Nadine tengah sibuk memanjakan penglihatannya, tanpa sengaja matanya menangkap sosok pria tampan yg sudah lima tahun ini tak pernah ia temui. Pria yg juga telah mengubah nasibnya menjadi seperti sekarang, andai malam itu mereka tidak bertemu. Mungkin sampai saat ini Nadine masih terperangkap di tempat terkutuk itu. Bahkan bisa lebih parah.
"Kakak.." Sapa Nadine setelah memastikan siapa pria itu.
"Eh kamu Nad? Apa kabar?". Jawab orang itu sambil tersenyum kikuk pada Nadine.
"Ehemm.. Apa dia calon kakak iparku?". Sahut si pengantin pria yg datang entah dari mana.
"Wah kak Sam gercep banget." Sambung Aqila.
"Bukannya dia teman kantorku kak?". Sahut pengantin wanita.
Nadine dibuat tambah gugup dengan candaan keluarga besar itu. Ia hanya bisa diam, tersenyum canggung dengan wajah yg mulai memerah karena malu.
__ADS_1
"Ya ya ya.. Dia calon kakak ipar kalian semua. Puas?". Ujar Sam yg justru sengaja merangkul pundak Nadine.
Beberapa detik kemudian pria itu sudah menarik Nadine menjauhi ruang pesta. Menariknya melewati lorong lorong hotel, lalu berhenti di salah satu tempat terbuka yg nampak seperti taman.
Nad.." Panggil pria itu berusaha mengalihkan perhatian Nadine
"Iya, ada apa?". Tanya Nadine yg kemudian menatapnya.
Entah apa yg ingin Sam lakukan, dia menggenggam erat tangan Nadine, menatap kedua matanya dalam, dan tiba tiba..
Cup..
Satu kecupan lembut mendarat tepat di kening Nadine.
"A apa yg kau lakukan kak?". Ucap Nadine terbata bata sambil menjauhkan tubuhnya dari Sam.
"Ijinkan aku mengejarmu ya." Jawab Sam spontan lalu menarik Nadine lagi hingga berada dalam dekapannya.
"Eh i itu, aku tidak tau. Sudah ya kak aku mau kembali dulu ke dalam." Sergah Nadine yg langsung berlari ke dalam hotel karena malu.
__ADS_1