
Setelah beberapa jam yg mengharukan itu, Nadine sudah merasa lebih tenang. Ia mencoba ikhlas dan menerima kenyataan pahit yg menimpa dirinya. Bagaimana pun juga ia masih memiliki orang orang yg di sayangi, dan mulai sekarang ia akan berusaha untuk tetap hidup dan baik baik saja demi mereka semua.
"Nak, bisakah kamu tinggal disini saja mulai sekarang? Kami sangat kesepian, dulu Irene lah yg bisa meramaikan suasana, namun semenjak ia pergi, rumah ini terasa sangat sunyi, tidak ada candaan dan kebahagiaan lagi tanpanya." Ucap Lusi mengiba, berusaha menahan Nadine agar bersedia tetap tinggal.
"Maaf tante, aku mengerti perasaan kalian. Namun di sana aku juga memiliki orang orang yg ku sayangi, mereka telah menjagaku semenjak orang tuaku pergi. Aku yakin mereka pasti tengah kebingungan mencariku sekarang." Tolak Nadine lembut berusaha tak menyinggung perasaan wanita baya itu.
"Tapi Zee sangat menyukaimu Nad, dia sudah menganggapmu sebagai ibunya. Tidak bisakah kau tetap tinggal? Lagi pula dia keponakanmu." Sahut Michele ikut membujuk.
"Hmm.. Sebelumnya aku sangat berterima kasih padamu Mike. Karenamu aku bisa selamat di hari itu. Karenamu juga aku bisa duduk dan baik baik saja seperti sekarang. Tapi maaf, aku tidak bisa tinggal. Aku sudah memiliki keluarga baru disana, mereka sangat sayang padaku, mereka juga pasti akan sedih jika aku tidak segera kembali. Dan untuk Zee, aku janji akan sering sering datang kemari, kau pun juga bisa sering mengunjungiku. Meski untuk sekarang ia akan sedih, aku yakin nanti dia pasti akan mengerti."
Meski berat, Michele dan orang tua angkat Irene berusaha ikhlas melepas Nadine. Mereka tidak boleh egois meski ingin, Nadine juga memiliki kehidupannya sendiri, memiliki kebahagiaan dan cintanya sendiri di luar sana.
Karena hari sudah sore Michele memutuskan untuk mengajak Nadine dan putrinya pulang. Hari ini sangat melelahkan untuk mereka semua terutama Nadine. Jadi Michele pikir akan lebih baik jika mereka segera sampai di rumah dan beristirahat, sebelum menghadapi hari esok yg entah akan ada kejutan apalagi.
Namun tiba tiba saat mereka akan membantu Nadine masuk ke dalam mobil, ada seseorang yg berteriak dengan keras dari luar pagar, yg saat ini tengah di hadang oleh dua orang penjaga.
__ADS_1
"Nadine..." Teriak pria itu sambil terus melakukan perlawanan.
Karena jaraknya cukup jauh, Nadine memicingkan matanya berusaha mengenali sosok itu.
"Nadine, jawab aku jika benar itu kamu.." Teriaknya sekali lagi.
"Ss Sam.." Gumam Nadine beberapa saat kemudian setelah mengenali suara dan postur tubuh pria itu.
"Kamu kenal dia nak?". Sahut Lusi.
"Tolong biarkan dia masuk, dia calon suamiku." Pinta Nadine dengan mata yg sudah berkaca kaca.
"Akhirnya aku menemukanmu sayang, aku sangat merindukanmu." Ucap pria itu yg langsung memeluk erat Nadine, mengusap lembut kepalanya, sambil menangis terisak melampiaskan rasa rindu dan khawatirnya.
"Hikss.. Aku juga merindukanmu kak, terima kasih sudah menemukanku". Jawab Nadine membalas pelukan itu.
__ADS_1
Tangis Nadine pun pecah, pria yg beberapa hari ini ia rindukan akhirnya datang menemuinya, bahkan menangis dalam dekapannya.
"Kamu baik baik saja kan? Apa masih ada yg sakit? Maaf aku gagal menjagamu, maaf." Ucap pria itu lagi, melepas pelukannya sejenak lalu memeriksa beberapa bagian tubuh Nadine yg masih terbungkus perban.
"Tenanglah, aku baik baik saja. Maafkan aku juga ya kak karena sudah membuatmu khawatir."
"Jangan minta maaf, tidak ada yg perlu di maafkan. Setelah ini aku akan berusaha untuk bisa lebih membahagiakanmu, menjagamu, dan melindungimu dengan segenap hatiku."
"Aku mencintaimu Nad, aku sangat mencintaimu."
Tbc.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen n votenya ya man teman.
See you 😘😘😘