
Cuaca cerah tanpa awan dipagi hari, namun sayang tak secerah suasana hati Nadine. Pagi ini ia mendapat teguran dari Nando karena proposal yg Nadine kirimkan tempo hari tiba tiba ditolak dan dikembalikan.
Nadine tentu sangat kesal, juga bingung apa yg salah dengan berkas berkas itu. Ia sudah berkali kali mengecek, meneliti, juga membacanya berulang kali. Sangat tidak mungkin jika ada sesuatu yg salah disana.
Setelah cukup lama berpikir, akhirnya ia mengingat suatu hal. NZ grup, waktu itu Nadine bertemu dengan Zayn disana. Jadi ada kemungkinan semua ini adalah ulah pria itu, ya mau tidak mau Nadine harus bertemu dan menanyakan hal ini dengan benar.
Karena terdesak waktu dan beberapa pekerjaan lain, siang itu juga Nadine meminta ijin pada Nando untuk datang kembali ke NZ grup. Masalah ini harus segera selesai, jika terus berlanjut maka intensitas pertemuan Nadine dan Zayn juga akan semakin banyak.
"Selamat siang, bisakah saya bertemu dengan tuan Vano?". Tanya Nadine to the point pada resepsionis yg tengah melakukan pekerjaannya.
"Sebentar ya nona, saya hubungi dulu beliau. Anda bisa duduk dan menunggu beberapa menit disana." Jawab resepsionis itu sambil menunjuk ke arah sofa dibelakang Nadine.
"Baiklah."
Beberapa menit kemudian,
"Nona, tuan Vano ada diruangannya. Silahkan naik lima lantai, ruangannya tepat di sebelah kanan lift." Tutur si resepsionis.
"Iya terimakasih."
Dengan langkah lebar lebar Nadine segera bergegas pergi ke ruangan itu. Karena kemarin dia sudah sempat kesana, jadi tidak sulit bagi Nadine untuk menemukan ruangan itu dengan cepat.
"Selamat siang tuan Vano, saya rasa anda tau tujuan saya datang kemari." Tukas Nadine tanpa basa basi.
"Sebelumnya saya mohon maaf, saya juga merasa proposal yg anda buat memang bagus. Tapi semua itu tidak mampu mempengaruhi pandangan ceo kami. Jadi akan lebih baik jika anda bertanya langsung padanya." Tutur Vano merasa bersalah. Pria itu juga sama bingungnya dengan Nadine, ia pun tak mengerti dengan jalan pikiran ceonya , karena ini adalah kali pertama dia menolak proposal bagus seperti milik Nadine.
"Bisakah saya menemuinya?". Tanya Nadine kemudian.
__ADS_1
"Tentu, kebetulan hari ini dia ada diruangannya. Mari saya antar."
Nadine pun mengikuti Vano, berjalan dibelakangnya melewati beberapa lantai hingga tiba di lantai paling atas gedung itu.
"Masuklah dia didalam." Perintah Vano begitu mereka sampai.
"Iya, terima kasih."
Nadine berusaha bersikap setenang mungkin, menghembuskan nafasnya dalam berulang kali, lalu segera mengetuk pintu besar didepannya.
"Masuk.." Teriak seseorang diseberang sana.
Begitu masuk ke dalam Nadine merasakan atmosfir yg berbeda. Jantungnya berdegub cepat, tangannya dingin berkeringat.
Ya Tuhan.. Lindungi aku. Semoga semua lancar seperti yg ku harapkan.
"Siang pak, maaf saya sedikit mengganggu kesibukan anda." Ucap Nadine tanpa menatap pria itu.
"Sa saya hanya ingin membahas tentang proposal tempo hari. Bisakah anda memberi penjelasan mengapa proposal saya ini ditolak?". Lanjut Nadine mencoba menekan rasa gugupnya.
"Jangan terlalu formal, bisakah memanggilku dengan sebutan sayang lagi seperti waktu itu?". Tutur pria itu semakin mendekat dan menutup jarak diantara mereka berdua.
"Ma maf pak, bi bisakah anda lebih profesional?". Jawab Nadine yg mulai merasa takut.
Grep..
Dengan satu tarikan tubuh Nadine sudah mendarat dalam dekapan hangat pria itu.
__ADS_1
"Tolong.. Katakan sekali saja. Aku sangat merindukan panggilan itu darimu." Ujarnya sambil mengelus punggung Nadine.
"Maaf pak, tolong lepaskan saya. Ini dikantor, lagi pula bapak juga sudah beristri, akan sangat memalukan jika khalayak umum tau orang penting seperti anda bermain belakang dengan wanita lain." Tegur Nadine mencoba lepas dari lengan kekar itu.
"Malu?? Aku tak memilikinya. Selama bisa bersamamu, aku akan menanggung semuanya, termasuk rasa malu seperti yg kamu katakan."
Semakin lama pelukan itu semakin erat, tenaga Nadine tentu jauh berbeda dengan pria itu. Berontak pun sudah percuma.
"Kembalilah padaku, aku janji akan memberimu semua yg kamu mau. Termasuk proposal itu." Lanjut si pria tanpa melepas pelukannya.
Merasa tidak ada jalan lagi, Nadine memberanikan diri menggigit pundak pria itu. Berharap ia akan kesakitan dan segera melepaskan dirinya.
"Argg.. Sakit sayang. Bisakah kamu melakukannya lagi disini?". Ucap pria itu sembari menunjuk ke arah bibir tipis miliknya.
"Sudah cukup!! Saya kemari hanya ingin membahas proposal ini, jika anda tidak berkenan maka saya akan pergi. Masih banyak pekerjaan yg belum saya selesaikan. Terima kasih."
Dengan perasaan marah, kesal, juga geram. Nadine segera beranjak dari posisinya, menutup pintu ruang itu kasar, lalu bergegas meninggalkan gedung NZ grup.
Kamu semakin menarik Nad, jadi jangan salahkan aku yg sudah tergila gila denganmu lebih dari lima tahun ini.
Tbc.
Haish.. Author jadi pengen di rebutin sama cogan 😵😵.
Jangan lupa like, komen, n votenya yah.
__ADS_1
Author usahain up lebih banyak lagi.
Makasih 😘😘😘