Berhenti Di Kamu

Berhenti Di Kamu
Ep.66


__ADS_3

Klek..


Begitu rumah besar itu terbuka, muncullah dua orang paruh baya, mereka nampak bingung melihat kedatangan Michele yg tiba tiba. Namun saat mata mereka menangkap sosok lain di belakang Michele, tubuh mereka nampak menegang, bergetar dan berkeringat dingin seperti melihat hantu yg baru saja bangkit dari kematian.


"Hai nek, hai kek." Sapa Zee menyadarkan keterkejutan mereka.


"Ka.. Kamu? Irene apa benar ini kamu?". Ucap ibu paruh baya itu sambil mendekat ke arah Nadine.


"A aku apa aku berhalusinasi lagi?". Sahut suaminya.


Pasangan suami istri itu sama sama mendekati Nadine, menangkup kedua pipinya sambil menahan air mata yg siap menetes. Sedangkan Nadine, ia hanya diam menatap kedua orang itu bingung. Tak mengerti dengan situasi aneh saat ini.


"Apa ini benar kamu sayang? Hikss.. mama sangat merindukanmu." Ucap si ibu lagi lalu mendekap erat tubuh Nadine.


"Mike, sebenarnya apa yg terjadi? Apa dia benar benar putriku? Lalu yg waktu itu.."


"Sudah.. Lebih baik kita bicarakan di dalam."

__ADS_1


Mereka pun masuk bersamaan. Duduk bersama di ruang tamu masih dengan situasi yg mengharukan.


"Zee sayang, kamu main dulu ya di kamar nenek, nanti daddy susul." Pinta Michele berusaha menjauhkan putrinya dari percakapan ini.


"Hmm baiklah daddy, jangan lama lama ya." Jawab Zee lalu bergegas pergi sesuai perintah ayahnya.


"Mike, katakan apa yg terjadi?".


"Awalnya aku juga berpikir sama dengan kalian. Aku kira dia istriku, wanita yg selalu ku rindukan selama lebih dari 4 tahun ini. Namun jika ku ingat lagi, rasanya tidak mungkin. Karena hari itu aku sendirilah yg menguburkan jenazahnya, mencium keningnya yg dingin sesaat sebelum di masukkan ke liang lahat." Jelas Michele.


Michele menceritakan semuanya, awal pertemuannya dengan Nadine di hari itu. Juga asal usul Nadine yg ia dapatkan dari informannya.


"Maaf, ini sebenarnya ada apa ya? Mengapa kalian memanggilku Irene? Apa karena wajahku sangat mirip dengannya?". Sahut Nadine mencoba memahami situasi.


"Baiklah, mungkin ini memang sudah saatnya. Sebenarnya Irene bukanlah putri kandungku. Aku dan suamiku tidak bisa memiliki anak, jadi kami mengadopsinya." Ucap si ibu.


"Kami dulu memang menetap di Indonesia, setelah lebih dari 10 tahun menikah, kami tak kunjung di beri momongan. Hingga suatu hari salah satu pelayan di rumah kami melahirkan bayi kembar, kami memohon padanya untuk mengadopsi salah satu diantara mereka. Meski awalnya dia menolak, kami terus memohon, dan berjanji akan menjaga anaknya dengan sangat baik. Menyayanginya, dan memberinya kehidupan yg jauh lebih layak. Karena merasa iba, akhirnya dia pun mengiyakan. Menyerahkan salah satu putrinya pada kami untuk diadopsi."

__ADS_1


"Maaf, boleh tau siapa nama pelayan itu?". Tukas Nadine.


"Adinda Prameswari. Dulu dia adalah seorang wanita pekerja keras dan sangat cantik, ia rela jadi pelayan untuk membantu keuangan suaminya. Namun setelah pindah kemari, aku tidak tau lagi bagaimana kabarnya, aku hanya berharap semoga dia tetap sehat dan baik baik saja."


"Benarkah yg anda katakan? Apa ini sebuah kebetulan? Kenapa namanya sama dengan nama ibuku?".


Nadine merasa sesak seketika, jika memang wanita itu adalah ibunya, itu artinya dia memiliki saudara kembar, tapi mengapa orang tuanya tidak pernah menyinggung masalah ini? Mengapa mereka tidak menceritakannya? Mengapa harus di sembunyikan?.


"Sepertinya memang benar, melihat dirimu yg sama persis dengan Irene. Aku yakin ibu kalian sama, Adinda Prameswari." Tutur si ibu.


"Lalu bagaimana dengan kabar orang tuamu? Mereka sehat sehat saja kan?". Sahut si bapak.


Mendengar pertanyaan itu membuat Nadine terdiam, bagaimana mungkin mereka baik baik saja? Mereka sudah pergi bertahun tahun yg lalu, meninggalkan dirinya seorang diri tanpa sepatah kata pun. Bahkan masih menyembunyikan fakta bahwa dia memiliki saudara kembar.


Kediaman Nadine menarik perhatian semua orang disana, terutama Michele yg juga sama terkejutnya karena kenyataan yg baru saja ia dengar. Dan juga ia sangat mengerti dengan apa yg Nadine rasakan saat ini, setelah kehilangan orang tuanya. Kini gadis itu harus menerima kenyataan pahit. Ia belum sempat menemui dan mengenal saudara kembarnya yg kini sudah tenang bersama kedua orang tuanya di surga.


"Hiks.. Hikkss.. Kenapa kalian menyembunyikan ini? Dan mengapa ayah ibu juga tidak bercerita padaku? Aku punya saudara, aku berhak tau. Dan sekarang, saat aku sudah tau semuanya, aku justru tidak bisa bertemu dengan saudaraku. Kenapa kalian setega ini? Kenapa mereka semua meninggalkanku sendirian? Kenapa?".

__ADS_1


Air mata Nadine tumpah seketika, luka lama yg ia kubur dalam dalam kini terbuka lagi, bahkan di tambah dengan luka baru yg lebih menyayat hati. Andai ia tau lebih awal, mungkin masih ada kesempatan untuknya bertemu dengan saudaranya itu, bisa mengenalnya, tertawa bersamanya, dan berbagi suka duka seperti pasangan saudara kebanyakan.


"Maaf nak, maafkan kami, kami tidak pernah tau akhirnya akan seperti ini. Dan untuk orang tuamu kami turut berduka, maaf kami tidak bisa hadir di acara pemakaman mereka." Tutur si ibu lalu mendekati Nadine dan memeluknya. Ia mengerti gadis itu pasti sangat terpukul dengan kenyataan ini. Namun bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur, penyesalan hanya ada di akhir. Karena mungkin semuanya sudah di gariskan oleh yang maha kuasa. Hanya sabar dan ikhlaslah yg seharusnya dilakukan mulai sekarang.


__ADS_2