
"Permisi pak, ini sudah waktunya pulang, jika tidak ada pekerjaan lagi saya mohon pamit undur diri." Pamit Nadine yg sedari tadi sudah tidak tahan ingin cepat pulang. Persetan dengan aturan perusahaan, kalau ia harus menunggu Sam lagi seperti biasa, kemungkinan besar ia akan ikut lembur dan pulang larut malam.
"Eh Nad, tunggu.." Sahut Sam.
Pria itu menghampiri Nadine, mendekat padanya dan hampir saja memeluknya jika tangan Nadine tadi tak sigap menahan.
"Apa kamu marah? Kenapa aku tidak boleh memeluk calon istriku?". Tanya Sam heran.
"Tidak, hanya saja kurang sopan. Apa anda lupa disini masih ada orang lain selain kita?". Jawab Nadine sinis, sambil melirik ke arah Jessica yg masih duduk manis tak jauh dari mereka.
"Apa setelah aku mengusirnya kamu akan memberikan pelukan untukku?". Goda Sam, mengerti arti tatapan Nadine.
"Tidak perlu, kalian bersenang senang saja disini. Saya pulang dulu, permisi."
Dengan langkah gontai akhirnya Nadine pergi meninggalkan ruangan Sam. Bahkan ia enggan menoleh sedikitpun meski Sam memanggilnya. Nadine tidak peduli, yg jelas ia ingin segera sampai rumah, membersihkan dirinya, kemudian tidur di ranjang kecil kesayangannya.
"Aku penasaran, siapa gadis itu?". Tanya Jessica pada Sam setelah melihat drama kecil diantara mereka.
__ADS_1
"Calon istriku." Jawab Sam tersenyum bangga.
"Really? Are you serious?."
"Of course. She is mine."
"Tapi yg aku lihat dia tidak menyukaimu, bahkan terus bersikap formal padamu." Ucap Jessica masih tak percaya.
"Bukan tidak, tapi belum. Nanti dia pasti juga akan menyukaiku." Jawab Sam percaya diri.
"Ya, kurang lebih begitu."
"Tega sekali sih, yg ada nanti dia nggak bahagia. Akan lebih baik jika kamu mencari seseorang yg juga mencintaimu." Tutur Jessica.
"Maunya begitu, tapi yg aku cintai cuma dia. Ingin sekali rasanya bisa segera menikahinya."
"Seandainya aku juga mencintaimu, apa kamu mau mempertimbangkan aku?". Tanya Jessi tiba tiba tanpa mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Hahah.. Mana mungkin? Kita teman, dan selamanya akan tetap begitu."
"Sudah hampir malam, ayo ku antar pulang."
Aku memang mencintaimu Sam, mendengarmu mengatakan cinta untuk gadis lain sungguh membuatku sakit. Kapan kamu bisa melihatku? Jika dia tidak mencintaimu, bolehkah aku merebutmu? Apa boleh?
Sam memang selalu menganggap Jessica sebagai teman, rasa perhatian dan kepeduliannya pun hanya sebatas itu, tidak pernah ada perasaan lebih. Namun justru karena itu lah yg membuat Jessica jatuh cinta. Paras dan wajah cantiknya saja tidak mampu memikat Sam, berbeda dengan pria lainnya yg dalam sekali lihat sudah berani menyatakan cinta padanya.
*****
Sore itu sebelum pulang ke rumah, Nadine menyempatkan diri untuk pergi ke bank terdekat. Dia ingin mengambil sejumlah uang, mengambil lebih dari separuh tabungannya yg sudah lima tahun ini mati matian ia kumpulkan.
Syukurlah, tabunganku sudah sebanyak ini. Besok aku akan langsung memberikannya pada kak Sam. Aku tak ingin hutang ini berlarut larut, dan semakin mengikatku bersamanya.
Ya, Nadine memang berencana untuk segera membayar semua hutangnya pada Sam, lalu setelah itu ia akan mengundurkan diri dan pergi sejauh mungkin.
Awalnya ia ingin tetap disini dan mencoba menerima Sam, namun ketika wanita itu datang. Hati Nadine pun goyah, merasa rendah diri dan berniat meninggalkan Sam lebih cepat.
__ADS_1