
Sam berlari sambil celingukan melihat kanan kiri, mencari nomor kamar yg disebutkan oleh Jessica beberapa waktu lalu. Dan setelah beberapa menit berkeliling akhirnya Sam menemukannya. Ruangan itu benar di lantai paling atas, dan letaknya berada di paling ujung.
Tokk.. tokk.. tokk..
"Jessica apa kau didalam?". Panggil Sam sambil mengetuk pintu.
Tokk..tokk..tokk..
"Jessica, ini aku Sam. Apa kau didalam?". Panggil Sam sekali lagi sambil berteriak.
Tokk..tokk..tokk..
"Jessica, kau dengar aku?".
Sudah lebih dari lima kali Sam melakukan hal yg sama, namun tetap saja tidak ada jawaban. Kamar itu seakan kosong, nampak sepi tak berpenghuni.
Tak lama kemudian ponsel Sam berdering, menandakan ada pesan masuk dari seseorang. Dan ketika ia membaca pesan itu, Sam mengernyit heran, ia merasa ada yg aneh dan janggal disini.
Apa coba ku telpon saja ya. Gumam Sam bingung. Mondar mandir depan kamar itu sambil menggenggam ponselnya.
Setelah mempertimbangkan beberapa hal, akhirnya Sam menelpon orang itu. Mencobanya terus hingga hampir 10 kali namun tidak tersambung. Dan sepertinya orang itu memang sengaja mematikan ponselnya.
__ADS_1
Hah.. Sudahlah, mungkin dia sudah baik baik saja sekarang. Pikir Sam lalu bergegas pergi meninggalkan tempat itu.
Disisi lain, Nadine masih berjalan sambil sesekali mengusap air matanya. Tadinya ia memang berangkat di antar oleh supir keluarga Sam, namun Nadine dengan sengaja pulang dengan berjalan kaki, tanpa pamit atau bilang pada siapapun. Karena saat ini yg ia butuhkan adalah ketenangan. Ia ingin sendiri untuk beberapa saat. Setidaknya nanti ketika ia pulang, amarah didadanya sudah sedikit mereda, dan tidak diketahui oleh orang orang di rumah Sam.
Nadine, kamu harus kuat. Harus bertahan, setidaknya disana masih ada mama, papa, dan Zee yg menyayangimu. Mereka baik padamu. Anggap saja semua ini tidak pernah terjadi. Ya.. Anggap saja begitu.
Batin Nadine.
Ia berjalan tak tentu arah, tatapannya kedepan namun kosong. Ia merasa seperti tak memiliki semangat lagi.
Nadine hanya bisa pasrah, bagaimanapun juga perasaan tidak akan pernah bisa ia paksakan. Ia berniat akan memberi Sam pilihan, jika memang Sam lebih memilih wanita itu, maka Nadine harus ikhlas, harus siap di tinggalkan dan pergi dari keluarga yg sangat ia sayangi itu.
"Nona.." Panggil seseorang, yg tanpa sengaja mengetahui ponsel Nadine terjatuh.
"Nona.. Halo.." Karena tak mendapatkan respon, orang itu langsung berdiri di depan Nadine sambil melambaikan satu tangannya.
"Ah.. Ya ada apa ya?". Jawab Nadine sedikit terkejut.
"Ini ponselmu, kau sudah menjatuhkannya disana." Ucap orang itu sambil mengembalikan ponsel Nadine.
"Em.. Ya terima.."
__ADS_1
Belum sempat melanjutkan ucapannya, Nadine kembali terkejut. Ia baru sadar ternyata pria di depannya itu adalah Zayn. Pria yg beberapa waktu lalu telah mengacaukan pertunangannya, bahkan membuatnya hampir mati.
"Nona.. Kau tidak apa apa?". Tanya pria itu, merasa aneh dengan cara Nadine menatapnya, yg seperti mengenal juga membencinya.
"Trik apa lagi sekarang? Jangan pura pura tak mengenaliku?". Ucap Nadine sarkas kembali menatap pria itu dengan tajam.
"Maaf nona, apa anda mengenal saya? Sebenarnya saya telah kehilangan ingatan karena kecelakaan beberapa waktu lalu. Jadi tolong maafkan saya jika saya belum bisa mengenali anda." Jelas pria itu.
"Apa kau bercanda?".
"Tidak nona. Saya serius. Kalau boleh tau anda ini siapa saya? Karena sepertinya anda sangat tidak suka bertemu dengan saya." Ujar pria itu semakin penasaran.
"Sudahlah, lebih baik tidak mengenaliku sama sekali. Terima kasih sudah mengambilkan ponselku, aku pergi dulu." Ucap Nadine lalu segera pergi melanjutkan perjalanannya.
Kenapa seperti mengenalnya ya? Ah sudahlah..
TBC.
Hayo.. Ada yg tau nggak si Jessica kenapa??.
__ADS_1
Hehe.. Jangan lupa like, komen, n votenya ya man teman.
Terimakasih 😘😘😘