Berhenti Di Kamu

Berhenti Di Kamu
Ep.86


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian,


"Pa.."


"Iya maa.."


"Itu kenapa Bryan nangis?".


"Nggak tau, haus mungkin."


"Haisshh.. Yaudah bentar, ini udah mau selesai."


Rutinitas baru yg cukup menguras tenaga untuk orang tua muda ini. Mereka bekerjasama, juga bergantian dalam mengurus buah hati mereka yg baru berusia 5 bulan.


Meski lelah dan letih kerap mereka rasakan. Semua itu hilang begitu saja kala melihat tingkah lucu bayi tampan itu.


"Anak mama haus ya? Bentar ya sayang mama pakai baju dulu."


"Oekk..Oekk..Oekk.."


"Cup sayang, ututuh.. Ciluk ba.. Cilukkk ba.. Bentar ya sama papa dulu, kasian mama nanti masuk angin kalau nggak pakai baju."


Karena terlalu buru buru mama si bayi hanya mengenakan baju daster tanpa dalaman. Ia sudah tidak bisa terlalu memperhatikan dirinya sendiri, bahkan sudah jarang memperhatikan penampilannya lagi. Karena sekarang yg jauh lebih penting adalah mengurus si bayi. Ia akan merawat si kecil itu dengan tangannya, tanpa harus menyewa babysitter atau meminta bantuan orang lain.


"Sini sayang, gantengnya mama udah haus ya.. Maaf ya mama mandi tadi."


Setelah mendapat asupannya, si bayi langsung diam. Sambil sesekali menatap mama papanya bergantian.


"Sayang, kamu nggak capek ngurus Bryan sendirian? Aku sewain babysitter aja ya?".


"Nggak perlu pa, lagipula aku senang bisa merawat putraku sendiri. Aku ingin dia tumbuh dan berkembang dalam pengawasanku, aku harus tau setiap perkembangannya. Kapan ia bisa bicara, merangkak, hingga berlari. Aku ingin dia melewati ini semua bersamaku."


"Lagi pula, kan ada bibi pelayan. Dia juga sering bantu aku kok. Jadi jangan khawatir oke?".


"Hmm.. Aku merasa sangat beruntung memilikimu. Kamu istri dan ibu terbaik, aku mencintaimu Nad".


"Aku lebih mencintaimu."


__ADS_1


*****


Di waktu yg sama, keluarga kecil nampak menikmati akhir pekan mereka dengan bahagia. Mereka mengisi hari libur ini dengan berjalan jalan di taman. Menghirup udara pagi yg segar sambil berolahraga ringan bersama sama.


"Alice.. Jangan lari lari sayang."


"Mama.. Papa.. Ayo kejal Alice, hahaha.."


"Jangan lari nak, nanti jatuh."


Tiba tiba,


Brugh...


Gadis kecil itu terjatuh, terduduk di tanah karena bertabrakan dengan anak lelaki kecil yg seumuran dengannya.


"Huwa.. Mama.. Papa.." Teriak gadis kecil itu sambil menangis kencang, memegang lututnya yg sedikit lecet.


"Ah.. Maaf, maafin Vano, Vano nggak sengaja."


"Ayo Vano bantu beldili." Ucap anak lelaki kecil itu mengulurkan tangannya.


"Mama.. Papa.. Huwa.."


"Aduh.. Sayang kamu kenapa?". Tanya mama gadis kecil itu sambil berlari menghampirnya, memeluknya singkat kemudian memeriksa tubuh putrinya dengan teliti.


"Alice kan tadi papa sudah bilang jangan lari larian, jatuh kan." Sahut sang papa lalu segera menenangkan putrinya dan menggendongnya.


"Maaf om, gala gala Vano. Vano nggak sengaja nablak putli om. Maaf ya om."


"Iya sayang nggak apa apa, tante juga minta maaf ya tadi Alicenya lari larian, jadi nggk liat kamu deh."


"Iya tante nggak papa. Kalau gitu Vano pelgi dulu ya, takut dicariin bunda. Dah om, dan tante, dadah juga Alice. Sekali lagi maafin Vano ya."


"Iya sayang hati hati."


Setelah berpamitan dan meminta maaf anak laki laki itu segera kembali ke tempat orang tuanya.


"Alice sayang, lain kali jangan lari lari kayak tadi ya, nanti kalau jatuh gimana?".

__ADS_1


"Hiks.. Iya mama, Alice salah. Janji nggak ulangin lagi."


"Pinter, yaudah yuk kita main lagi."


"Hehe.. Ayo let's go".



Maaf aku sudah banyak membuatmu menderita, aku sudah sangat jahat bahkan sangat berdosa padamu. Tapi kamu, kamu selalu saja baik padaku, mau menerimaku, mencintaiku, juga menungguku dengan sabar. Kamu adalah malaikat yg dikirim Tuhan untuk merubahku, terimakasih Selly, aku mencintaimu.


*****


Dibagian bumi yg lain,


Setelah di kurung dan disiksa hampir setiap hari, kini wanita itu sedikit merasa lega. Kehamilan yg tak pernah ia inginkan ternyata bisa menyelamatkan nyawanya. Ia sudah tak pernah di pukuli lagi, juga sudah jarang di paksa berhubungan intim lagi.


Kabar kehamilannya membuat ia di pindahkan ke kamar yg lebih layak. Di beri makan dan minum dengan layak pula. Namun tetap saja. Ia tidak diijinkan pergi satu langkah pun dari kamar barunya. Hanya boleh tidur, makan, minum, dan menghabiskan semua waktunya di ruangan itu.


"Ka.. Kamu apa yg ka.. kamu inginkan?". Tanya wanita itu gugup saat melihat pria yg menyiksanya datang tiba tiba.


"..."


"To..tolong jangan." Lanjut gadis itu sambil terus melangkah mundur.


Wajahnya pucat pasi, tubunya bergetar takut, tak berani menatap sepasang mata yg sudah berada tepat di depannya.



"Jaga dia baik baik. Jika kau gagal, jangan harap bisa menghirup udara lagi."


Setelah mengatakan itu, pria itu langsung pergi. Meninggalkan wanitanya yg masih diam mematung mencerna apa yg baru terjadi.


Tuhan.. Jika memang dia jodohku, tolong bukakan pintu hatinya. Sadarkan dia. Buat dia sedikit memiliki belas kasih. Jujur aku takut, sangat sangat takut, aku takut dia akan kembali menyiksaku. Ku mohon Tuhan, bantu aku.


******


The End.


__ADS_1




__ADS_2