Berhenti Di Kamu

Berhenti Di Kamu
Ep.26


__ADS_3

"Aku pulang dulu ya Qi.. Dan sekali lagi selamat buat kamu Al, juga Rena. Ku doakan semoga kalian lekas diberi keturunan." Pamit Nadine begitu acara itu selesai. Rasanya ingin sekali ia bisa lekas sampai dirumah, menggulung tubuhnya dalam selimut sekaligus menutup wajahnya yg sampai saat ini masih memerah karena perlakuan aneh dari Sam.


"Dah semua, aku pulang du.."


"Eh..."


"Sudah malam akan lebih aman jika aku yg mengantarmu." Tutur Sam yg tiba tiba menarik Nadine mengikutinya.


"Aku bisa naik taksi kak." Tolak Nadine berusaha melepas genggaman itu. Bagaimana pun juga akan canggung rasanya jika mereka hanya berdua saja didalam mobil setelah apa yg terjadi tadi.


Bukannya menjawab, Sam justru semakin mengeratkan gengamannya sampai mereka sampai di parkiran. Pria itu membukakan pintu depan untuk Nadine, lalu mendorongnya masuk.


Sedangkan Nadine, ia hanya bisa pasrah. Ia akan berpura pura tidur saat nanti ia sudah tak bisa lagi menahan kegugupannya.


"Bagaimana kabarmu lima tahun ini? Sudah punya kekasih?". Ucap Sam berusaha membuat Nadine santai sambil terus berkonsentrasi dengan kemudinya.


"Emm tidak, eh iya.. Iya aku sudah punya." Jawab Nadine berbohong.

__ADS_1


"Serius? Tapi yg ku dengar kamu masih sendiri." Ujar Sam tak percaya.


"Emm.. Kakak kapan balik kesininya?".


Nadine berusaha mengalihkan arah pembicaraan Sam. Ia terpaksa berbohong dan menghindari topik itu, bukan tanpa sebab. Hanya saja Nadine sudah trauma menjalin hubungan dengan keluarga kaya, ia takut kejadian di tahun itu akan kembali ia alami. Jadi sebelum dirinya dan Sam memiliki perasaan lebih, lebih baik untuk mengakhirinya dengan segera.


"Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan Nad, jawab dengan benar, apa kamu sudah punya kekasih?". Tanya Sam sekali lagi. Meskipun Nadine menjawab iya, Sam akan tetap mencari tahu sendiri, menggali informasi sebanyak mungkin tentang Nadine terutama selama lima tahun ini.


"Ya aku sudah punya, mungkin kami juga akan segera bertunangan." Jawab Nadine, berusaha meyakinkan Sam.


"Aku harap kamu berbohong."



Disisi lain,


"Sialan.. Apa kau yakin? Sudah kau pastikan?".

__ADS_1


"I iya tuan, saya sudah mengikutinya seperti perintah anda. Dan malam ini memang benar nona diantar oleh seorang pria muda."


"Hah.. Baiklah. Terus ikuti dan awasi, laporkan setiap pergerakannya. Dan satu lagi, selidiki identitas pria itu."


"Siap tuan, kalau begitu saya permisi dulu."


Entah sudah keberapa kali Zayn mengamuk dan membabi buta, tak hanya barang barang saja yg ia lemparkan, tapi juga Selly. Gadis yg sama sekali tidak mengerti duduk perkaranya harus menerima perlakuan kasar Zayn, menjadi pelampiasan amarah pria itu.


"Sudah ku katakan berapa kali, jangan pernah muncul dihadapan ku kecuali aku memanggil, apa kau sudah mulai tuli sekarang? Apa kau sudah benar benar pikun?". Maki Zayn sambil menarik kuat rambut Selly ke belakang.


"Arghh.. Ma maafkan Zayn, a aku hanya ingin memanggilmu untuk makan, kau belum makan apapun seharian ini." Ringis Selly berusaha melepaskan diri.


"Aku sama sekali tak butuh perhatianmu. Pergu kau!!". Balas Zayn lalu menyeret Selly keluar dari kamarnya.


Sikap kasar pria itu semakin lama semakin parah. Ia berharap dengan memperlakukan Selly seperti itu, gadis itu bisa segera menggugat cerai dirinya, dan meninggalkannya terlebih dulu. Karena bagaimana pun ibunya tidak akan menerima jika Zayn yg menceraikannya.


Heh.. Jangan salahkan aku menyakitimu. Salahkan saja wanita jahat itu yg membawamu masuk ke dalam hidupku.

__ADS_1



__ADS_2