
Guys, baca dari Episode sebelumnya biar ga lupa... maafakan aku yang baru bisa up...jangan memaki aku akan episode ini ya.. kalau di bilang mirip sinetron ga papa, yang nulisnya senang dengan drama kebanggaan negara kita indonesia...
.
.
Menurutlah.
Kalimat itu seperti batu besar yang menghantam dirinya. mengantarkan pada sebuah kenyataan hidup yang sudah di gariskan sang pencipta untuknya.
Adel tidak bisa berkata lagi. hatinya terlalu sakit untuk kembali bertanya, panggilan 'Nyonya' yang harus dirinya sebut kepada sang ibu mertua membuatnya sadar, kalau hidup barunya akan di penuh dengan perjuangan.
Ya Allah kuatkan aku, kuatkan aku ya Allah.
Adel berdoa meminta kepada tuhannya dengan penuh harap. sedangkan Gavin yang duduk disampinya diam seribu bahasa begitupun dengan Tuan Paris dan Nyonya Tari. ketiganya seolah tidak memperdulikan dirinya.
Adel tidak bisa lagi bersuara. otaknya penuh dengan pertanyaan? menerka-nerka seperti apa hidupnya setelah menginjakan kaki di rumah barunya.
Perjalanan yang di selimuti dengan cucuran air hujan dan kesunyian itu kini berakhir. Mobil yang membawa mereka sampai di sebuah kawasan perumahan tempat di mana orang miskin tidak terlihat.
Adel membuka matanya ketika mobil yang membawa dirinya kedalam kesengsaraan berhenti.
Tuan Paris dan Nyonya Tari turun setelah pelayan membukakan pintu di susul Gavin, sedangkan dirinya di tinggal begitu saja.
Dari dalam mobil Adel menatap punggung ketiganya penuh kebencian. tangan mungil itu meremas kuat kebaya yang masih menutupi tubuh lemahnya, tanpa sadar air mata itu lolos membasahi pipinya yang terasa dingin. ingin rasanya meraung meneriaki si pria yang dulu pernah dirinya temui. menyanyakan kenapa hari itu bisa terjadi yang mana ada benih bersarang di rahimnya.
"Seandainya aku bisa memutar waktu."
Adel terisak didalam mobil mengabaikan pelayan yang masih senantiasan berdiri di ambang pintu mobil menunggu dirinya turun. sesaknya dada membuat Adel lemah, rasa kecewa seolah menggelayut menyiksa jiwanya. beberapa saat Adel diam disana sampai pelayan itu mendekatkan tubuhnya seperti membungkuk.
"Nyonya, Anda di minta untuk segera masuk." Pelayan pria itu bersuara pelan seolah menghargai Adel yang masih terisak, tanpa ingin tau kenapa istri tuan muda Abrisam menangis.
Adel menghapus air matanya dan mengangguk. lalu ia keluar menyeret tubuhnya kedalam penderitaan yang entah akan seperti apa rupanya.
Kakinya melangkah masuk kedalam hunian bak istana berteman rasa pedih yang teramat dalam. mengabaikan mewahnya rumah sang suami yang sekarang akan menjadi tempat tinggalnya.
Keluarga Abrisam yang tengah berkumpul di ruang tamu serentak berdiri ketika Adel menampakan batang hidungnya melewati pintu utama. tapi di sana tidak ada Gavin yang mana membuat Adel ketakutan, seengganya keberadaan gavin bisa mengurangi rasa itu.
Tidak ada sambutan hangat seperti dulu ketika menyabut kakak ipar Gavin. mereka hanya diam di tempat menatap istri si bungsu yang tengah berjalan dengan malu-malu
Tuan Paris dan Nyonya Tari memasang wajah datar ketika menantu baru mereka datang begitupun dengan anggota yang lain, semua memasang wajah tidak bersahabat. kehadiran Adel seperti benalu yang tidak seharusnya ada. tidak pantas menjadi anggota di keluarga, kecuali menjadi pelayan.
Gavin pasti sudah buta.
Batin Kakak perempuan Gavin yang lengket berdiri disamping adik iparnya.
Adik iparku tampan, mapan, kenapa dia bisa terjebak dengan wanita seperti dia. Batin Kakak ipar perempuan Gavin sambil menatap adik iparnya jengah.
Begitulah kira-kira isi hati mereka yang sudah memasang mendera perang kearah Adel.
Adel berjalan dengan gugup. langkahnya amat sangat pelan, kepalanya menunduk seakan sulit untuk di gerakan. dirinya seolah di giring ke tempat dimana ruang penghakiman berada.
Apakah seperti ini rasanya menghadapi orang-orang berduit tebal? kenapa Gavin tidak terlihat? Mata sedikit sembab itu berkeliaran mengimbangi rasa penasaran di lubuk hatinya, tanpa Adel sadari keluarga suaminya menatap dirinya jengah.
Langkah Adel terhenti seketika. mendapati kakinya sudah mencapai ruangan besar itu. perlahan Adel mengangkat kepalanya, ragu-ragu menatap keluarga barunya memasang senyuman ramah. tapi yang Adel dapat adalah wajah ketidak sukaan.
Ruangan itu menjadi menegangkan. Tuan Paris selaku kepala keluarga mencoba mengambil alih terbukti, pria tua itu melangkah menghampiri sang menantu.
"Perkenalkan namamu." Kata Tuan Paris.
Adel mengangguk pasrah. rasa takut dan tatapan mengintimidasi dari keluarga Gavin membuat Adel patuh.
"Na-nama Saya, Adelia." Ujarnya terbata-bata. keringat dingin seolah sulit untuk berhenti, dalam situasi ini Adel berharap Gavin datang dimana pun dirinya berada. tapi sepertinya keinginan itu tidak akan terkabul.
Di mana Kamu? kenapa kamu meninggalkan aku sendiri**an.
.
.
Gavin berbaring di atas kasur empuknya sambil memejamkan kedua mata. kemeja yang tadi dirinya gunakan untuk ijab kabul sudah menghilang berganti dengan pakaian santai.
Wajah tampan itu nampak pucat, kedipan matanya begitu pelan Gavin terus menghela napas panjang tanpa ingin beranjak bangun.
Tolong jangan membenciku...
.
.
Waktu itu...
Gavin terdiam menunggu sang ayah bersuara. kalimat Syarat membuatnya lemas, dirinya tahu ayahnya pasti akan mempersulit keadaan, tapi diam adalah pilihan yang tepat untuk diambil.
__ADS_1
"Katakan Pah? apa syarat yang Papa, maksud?" Tanya Gavin, matanya tak lepas dari wajah Tuan Paris.
Sang Kakek yang ada disana menjadi penengah ikut menatap sang putra.
Ruang keluarga yang awalanya ramai kini berubah sunyi. anggota yang lain sibuk membawa Nyonya Tari kekamar untuk mendapatkan penanganan setelah terkapar pingsan meninggalkan ketiga pria berbeda usia bertital Abrisam itu.
Tuan Paris duduk kembali sambil berpikir. setelah cukup lama pria tiga anak itu menatap Gavin lalu bibir rapat itu terbuka.
"Setelah kamu menikahi gadis itu jangan ikut campur lagi dengan apa yang akan Papah dan Mama mu lakukan terhadapnya..!!"
Gavin dan Kakeknya mengerutkan kening merasa bingung dengan apa yang baru saja terlontar dari mulut Tuan Paris, yang mana Gavin bersuara.
"Maksudnya apa, Pah?"
Kakek Gavin mengangguk. "Ya Paris, apa maksud dari-
"Maksudnya adalah. kamu tidak berhak atas hidup istrimu! dan itu sudah menjadi harga mati untukmu Gavin." Tuan Paris menatap si bungsu murka.
Tuan Paris melanjutkan. " Jangan lagi terlibat dengannya, setelah kalian menikah serahkan dia kepada Papa dan Mama, dia bukan lagi istrimu camkan itu. kalau bukan karna martabat keluarga yang harus di jaga, papa tidak sudi kamu menikah dengannya. secantik dan sebaik gadis itu papa tidak perduli, dia bukan hanya miskin tapi dia juga berbeda dengan kita,... denganmu Gavin. jadi jangan salahkan Papa melakukan ini, berterimakasihlah karena papa mau memberi restu, dan ingat. jangan sampai pernikahan ini tercium media atau orang luar." Setelah mengatakan semua kalimat menyakitkan itu. Tuan Paris beranjak berdiri berniat pergi, tapi tiba-tiba kaki itu berhenti hanya tubuhnya saja tidak berbalik.
"Katakan itu kepada keluarga Noah dan Teo, kalau kamu tidak bisa biar Papa saja."
Di sana Gavin mematung menatap kepergian sang kepala keluarga. merasa bingung harus mengatakan apa, bukan hal yang mudah menaklukan pria tua itu. kalau dirinya berkuasa pria bernama lengkap Paris Abrisam itu lebih berkuasa di atas segalanya, Gavin lemah akan fakta itu.
Sang kakek yang ada di dekat Gavin menatap cucunya tanpa bisa bersuara. apapun yang di katakan putranya adalah harga mati yang tidak bisa di lawan, bukan dirinya tidak ingin membantu Gavin tapi melawan Tuan Paris dirinya terlalu takut dan itu pun belum tentu bisa dilakukan.
" Maafkan Kakek Gavin, Kakek tidak bisa membantumu." Serunya dari arah samping.
Gavin menoleh. "Bagaimana bisa Gavin menikahi dia, tapi dia bukan istri Gavin." terlihat jelas wajah tampan itu menderita. "Papa tidak punya hati."
Kakeknya menepuk pundak sang cucu. "Mungkin untuk sekarang kamu harus mendengar apa yang di katakan Papamu, dan pastikan anak yang di kandungnya laki-laki! itu pesan papamu"
Kalimat itu Gavin sampai lupa yang mana Gavin menatap sang Kakek. "Apa yang akan terjadi kalau dia melahirkan anak perempuan?" Tanya Gavin sambil menahan tubuhnya yang lemas.
Sebelum bersuara Sang Kakek menggela napas dalam. "Itu tidak akan baik untuk ibu dan anaknya, Gavin."
Kepala Gavin menggeleng sambil tertawa hambar. "Papa bukan tuhan yang bisa melakukan itu."
"Tapi dengan kuasa dia bisa melakukan itu."
"Ini ga adil." Seru Gavin putus asaa. wajah Adel seolah menghantuinya.
" Kamu benar, dunia ini memang tidak adil." tangannya mengusap pundak Gavin seolah memberi kekuatan. sang Kakek menyambung kalimatnya sebelum dirinya pergi untuk melihat keadaan menantunya.
Potongan berdebatan itu berakhir.
Gavin mengacak-acak rambutnya merasa frustasi. syarat yang di berikan sang ayah membuatnya lemah dan tidak berdaya.
"Mungkin benar aku ini pengecut..kenapa aku melakukan perbuatan itu kenapa...kalau itu tidak terjadi, dia tidak harus menderita di rumah ini.." Gavin berbicara cukup keras mengutuk perbuatan bejatnya.
Kamar mewah yang sudah lama dirinya tinggalkan kini di penuhi raungan dan umpatan. berbarengan dengan beberapa barang yang melayang tak terarah.
"Maafkan aku, aku harus membencimu di saat aku mengharapkan cintamu, Adelia."
Itulah alasan Gavin pergi meningglkan Adel seorang diri bersama keluarganya yang mungkin tengah melakukan sesuatu kepada istrinya, kuasa sang ayah bukan tandingannya.
.
.
Setelah memperkenalkan diri. Tuan Paris meminta Adel untuk menyalami semua anggota keluarga, dengan malas semuanya menerima tangan Adel. hanya Kakek dan Nenek Gavin yang bisa sedikit ramah padanya, ada rasa kasihan melihat bagaimana istri dari cucunya di perlakukan tidak baik.
Nyonya Tari duduk setelah Adel mencium tangannya di ikuti keluarga yang lain. dan Adel melihat bagaimana ketiga wanita itu membersihkan tangan mereka setelah bersalaman dengannya, hanya para lelaki dan kakak nenek Gavin yang bersikap biasa saja, walupun wajah mereka masih tidak bersahabat.
"Duduklah, Adelia." Pinta Kakak laki-laki Gavin Nathan namanya.
"Ya, duduklah." tambah laki-laki lainnya yang tidak lain adalah kakak ipar Gavin, suami dari kakak perempuannya.
Nathan adalah kakak pertama Gavin. nama Istrinya Mega.
Angel nama kakak perempuan Gavin suaminya bernama Aji.
Adel kembali mengangguk patuh. duduklah ia di bangku tunggal dekat Nenek Dayanti dan Kakek Damar.
Tapi baru saja pinggulnya mendatar di sofa empuk itu Tuan Paris bersuara.
"Naiklah ke lantai atas dan temui Gavin. setelah itu lekaslah turun ada yang ingin saya sampaikan." katanya dingin.
Untuk kesekian kalinya Adel mengangguk patuh dirinya beranjak berdiri. "Kamar-
"Pelayan....pelayan..." Suara teriakan Nyonya Tari menggema, Adel seketika diam.
Pelayan wanita datang. "Saya, Nyonya."
__ADS_1
"Antar dia kekamar Gavin." perintahnya dengan lirikan mata kearah Adel.
Si pelayan mengangguk. "Mari Non ikut-
"Jangan panggil dia Nona, dia bukan majikanmu. panggil namanya saja." Kata Nyonya Tari ketus sambil melirik Adel tajam.
Angel dan mega hanya tersenyum puas melihat Adel di perlakukan demikan.
Sedangkan Adel hanya diam tanpa bisa bersuara. masabodo dengan apa yang di katakan nyonya Tari. karena bagi Adel itu tidak penting, dirinya hanya ingin cepat-cepat kemar Gavin.
Si pelayan mengangguk takut lalu keduanya berjalan menaiki tangga..
"Tari, jangan emosi." ucap Nenek Dayanti.
Nyonya Tari hanya diam dan memilih mengacuhkan perintah sang ibu mertua.
"Oh Tuhan kuatkan aku." Gumam Nyonya Tari sambil bersandar.
.
.
"Ini Kamar Tuan Gavin, Non." Kata si pelayan yang dengan sadar mengabaikan perintah sang majikan, dirinya tahu Adel adalah istri tuan mudanya. jadi tidak sopan menyebutkan nama, terlepas dirinya lebih tua dari si Nona muda.
Adel menatap pintu berlapis cat berwarna putih bersih itu lekat, ingin segera mengetuk pintu kamar.
"Terimakasih Bi, Saya mohon tinggalkan saya." pinta Adel tanpa menatap si pelayan.
Pelayan itu mengangguk patuh.."Saya permisi, Non."
Di rasa si pelayan sudah pergi. Adel mengangat tangannya mendarat dipintu kamar Gavin mengetuknya beberapa kali.
Tok...tok...tok..
Menunggu..
Adel menunggu si pemilik membukkan pintu..tanpa sadar, kelopak mata itu sudah di genangi dengan air asin yang siap membanjiri pipinya. banyak yang ingin dirinya tanyakan kepada Gavin suami pengecutnya.
Akhirnya pintu terbuka...
Ceklek...Gavin mematung melihat siapa yang tengah berdiri di depan pintu kamarnya.
Gavin menelan ludah sebelum bertanya seraya merubah ekspresi wajahnya menjadi mode sangar. "Ada apa kamu ke kamarku? apa kamu ingin tidur-
Plak.....
Gavin merasakan panas mulai menyerang pipinya, dan di sana tangan Adel masih terangkat di udara.
"Pertama, anakku harus laki-laki. kedua, aku harus memanggil ibumu dengan sebutan Nyonya, dan yang ketiga, kamu meninggalkan aku sendirian di saat semua keluargamu ingin mencekikku dengan prilaku mereka. hiks...hiks....kenapa kamu membuat hidupku seperti ini hiks...hiks...kenapa..."
Mendengar ucapan itu Gavin mengepalkan kedua tangannya. ingin rasa menarik tubuh bergetar itu tapi..
Aku tidak berdaya Adelia...
Dan baru saja Adel menumpahkan rasa sakit di hatinya. dari arah tangga seorang wanita cantik datang bersuara. " Gavin, suruh dia turun. Mama ingin dia melihat tempat tinggal barunya."
Adel berhenti menangis setelah Kakak perempuan Gavin yang tidak lain Angel menyelesaikan kalimatnya. lalu ia menatap Gavin. "Tempat tingal baru?" Tanyanya bingung.
Sebelum Gavin menjawab Angel terlebih dahulu memberi jawaban. "Ya, kamu pikir kamu akan tinggal bersama kami? tidak begitu Adelia, kamu akan tinggal terpisah dengan kami. "Ucap Angel dengan tatapan meremehkan.
Anggel melanjutkan. " Di rumah ini tidak ada tempat untukmu, tempat yang pantas untukmu ada di bagian belakang rumah ini. disanalah kamu tinggal hidup menjadi Nyonya Abisam."
"Kakak, pergilah." Gavin menatap Angel marah.
Angel mengangat kedua bahunya lalu pergi membawa perasaan senang.
Gavin kembali menatap Adel. ada perasaan senang walupuan Adel tinggal di tempat yang di maksud sang kakak. tempat itu tidak terlalu buruk untuk di tinggali, tepatnya berdekatan dengan kamar para pelayan.
Syukurlah disana tidak terlalu buruk.
"Adel, kamu-
Plak...
Adel kembali mendaratkan satu tamparan ke atas permukaan pipi Gavin yang masih merasakan panas.
"Jangan sebut namaku, aku membencimu."
.
.
Yang mau up rutin komen ya guys...
__ADS_1