
Kenapa keluargamu begitu membenciku Mas. Aku tahu aku salah dan aku pantas menerima semua kemarahan mereka karena aku sekarang kamu koma. Tapi bukankah kamu juga pantas aku salahkan. Karena kamu pun hidupku seperti ini.
Adel menitikan air mata kehancuran ketika dirinya seakan menjadi kutukan bagi hidup Gavin. mata berair itu menatap kosong Nyonya Tari yang mana melenggang masuk ke rumah utama meninggalkan dirinya bersama Bi Muji.
"Non. Yang sabar ya, Non." Kata Bi Muji menguatkan.
Adel mengangguk dan mengusap pipinya.
"Kita masuk, Bi." pinta Adel.
Keduanya berjalan masuk kedalam rumah.
Diam-diam Bi Muji melirik Adel yang masih nampak sedih setelah apa yang dikatakan Nyonya besarnya itu.
"Apa Non Adel akan menemui. Den Gavin?" Tanya Bi Muji. "Maksud Bibi setelah apa yang di katakan Nyonya besar!" sambungnya.
Adel menggelengkan kepala pelan yang mana membuat Bi Muji menyungsingkan senyum.
"Saya tidak akan menemui Mas Gavin. Saya akan membiarkan dia pergi Bi. Saya akan menunggu Mas Gavin sampai dia sadar."
"Itu keputusan yang bagus Non. Nyonya besar tidak berhak memaksa Non Adel dan Den Gavin berpisah."
.
.
Malam mulai datang dan Teo membuka mata menatap sekitar kamar yang mana hanya ada dirinya seorang.
Ia melamun sebentar menatap lampu tidur yang menjadi penerang di kamar besarnya. Menggela napas pelan lalu beranjak setelahnya.
"Dimana ponselku?" Teo meraba setiap sudut ranjang mencari benda pipih yang sedari tadi tidak terlihat.. Rasa lelah ia hasilkan dari pergulatan dengan Anandita! Bahkan dirinya tidak tau jam berapa gadis cantik itu meninggalkan apartemennya.
Di sudut bantal ponselnya menggumpat. Teo meraihnya dan menghidupkannya.
Terdapat beberapa panggilan dari Noah dan beberapa pesan lainnya. Dari Anandita ia lewatkan! Pesan dari noah menarik perhatiannya.
"Noah!" Teo membuka pesan dari adik iparnya itu.
Datanglah segera ke rumah sakit Permata. Gavin koma, Teo!
"Apa mereka sedang bergurau?" Gumamnya tidak percaya. dan membaca satu lagi pesan yang dikirim Noah. Tepatnya pada pukul 8 malam. satu jam yang lalu.
Teo, apa kamu mati! kalau kamu masih hidup segera kerumah sakit Permata. besok pagi buta Gavin akan dibawa ke luar Negri.
"Apa?" Teo masih diam dan mencerna pesan dari Noah. "Tidak...tidak..."
Tidak ingin tertipu Teo menghubungi Noah.
Tut....tut....tut....
"Teo dari mana saja kau!" Naoh langsung menyembur si kakak ipar dengan suara nyaring.
"Jangan membuat lelucon, Noah." Katanya tidak terima.
Noah tidak memberi jawaban. Ia malah memutuskan sambungan telepon yang mana membuat Teo mengendus kesal. "Dasar-
Tring..pesan dari Noah.
Sebuah poto penampakan Gavin yang tengah berbaring di ruang ICU nampak jelas di ponselnya. Disusul sebuah Artikel tentang komanya anak pengusaha dari perusahan Angkasa Jaya. Yang tidak lain milik keluarga Abrisam.
Teo beranjak berdiri lalu berlari keluar kamar persis ketika Noah mendapatkan berita buruk itu.
Singkatnya Teo memarkirkan mobil setelah sampai rumah sakit yang di katakan Naoh. berlari masuk kedalamnya. Bertanya kepada suster dimana Pasien bernama Gavin. Awalnya Teo tidak di beri izin karena jam besuk sudah habis. Tapi ia berhasil masuk setelah menghubungi Nathan.
Ruang ICU menjadi sasaran utama Teo. Ia mendapati pengawal tengah berjaga di depan pintu ruang ICU bersama Aji kakak ipar Gavin.
Aji melambaikan tangan ketika Teo datang. Teo mendekat dengan peluh memenuhi wajahnya.
"Apa itu benar?" Tanya Teo. dan Aji mengangguk pelan.
Ternyata anak itu berharga juga. semakin sulit untukku melenyapkan dirinya. lihatlah Papa mertuku yang kaya itu sampai membawa pengawal untuk menjaga Gavin. menyebalkan.
Aji menyamarkan kemarahnya dengan ekspresi wajah sendu agar Teo tidak mencurigainya.
__ADS_1
"Masuklah. Didalam ada Mamah dan Papa." Titah Aji sambil menepuk pundak Teo memberi kekuatan. Aji tau kalau Teo dan Noah adalah sahabat Gavin yang tidak bisa di pisahkan. Itu yang dirinya dengar dari Anggel.
Teo masuk seorang diri dengan jubah hijau yang di khususkan untuk pengunjung yang ingin melihat pasien diruang ICU.
Tuan Paris dan Nyonya Tari menoleh disaat keduanya tengah membersihkan sebagian tubuh Gavin.
"Teo, kau datang?" Tuan Paris bersuara pelan.
Teo tidak memberi repon apapun ia hanya diam sambil menatap kosong sang sahabat.
"Apa yang terjadi dengan, Gavin?" Tanya Teo lirih menahan air mata yang siap menyapa. Walupun Gavin sudah merebut Adel darinya tapi hatinya terluka melihat sang sahabat terbaring tak berdaya.
Penjelasan dari Nyonya Tari dan Tuan Paris memenuhi otak Teo. Tanpa sadar tangannya mengepal ketika Nyonya Tari seolah mengutuk Adel tentang komanya Gavin.
Jelas Teo tidak terima dengan semua tuduhan menyakitkan yang dilayangkan kepada Adel wanita pujaannya itu. Perasaan ingin memiliki sang dara kembali muncul! melupakan Anandita yang tadi pagi datang ke apartemennya dengan segala cinta hingga merelakan pernikahannya batal dengan Lee hanya demi dirinya. Teo melupakan itu.
Apa mungkin benar yang di katakan Noah! kalau rasa cintanya kepada Anandita hanya perasaan tidak berarti.
Gavin, aku pernah mengatakan kepadamu. kalau sampai Adel menangis dan tidak bahagia aku akan mengambilnya darimu. Sekarang aku tau kalau dia tidak bahagia bersamamu. Jadi jangan salahkan aku dia pergi darimu Gavin.
"Gavin?" Teo memanggil Gavin sambil menepuk tangannya.
Nyonya Tari dan Tuan Rizal saling tatap melihat itu.
"Teo, apa yang kamu lakukan?" Tanya Tuan Paris.
Bukannya menjawab Teo kembali menepuk tangan lemah Gavin cukup kasar dan mengabaikan ocehan Nyonya Tari. "Gavin, apa kamu tidak ingin bangun! Bangunlah. Tapi kalau kamu masih seperti ini aku akan membuatmu menyesal."
"Teo jangan membuat tante marah." Nyonya Tari memencingkan tatapan mengintimidasi.
Lagi-lagi Teo acuh. Ia malah membungkukkan tubuh untuk mendekati wajah Gavin.
"Maafkan aku Gavin. Sekarang aku akan kembali merebut dia yang dulu kamu renggut dariku." bisik Teo.
Soktak saja tubuh Gavin bergerak seperti orang terkena aliran listrik. Nyonya Tari dan Tuan Paris terkejut melihatnya.
"Dokter!..suster!" Tuan Paris replek berteriak karena kaget pun Nyonya Tari. Sedangkan Teo mematung disana dengan senyuman hambar.
Aku benar-benar harus merelakan Adel rupanya.
Dokter Bagas memeriksa tubuh Gavin setelah Tuan Paris berteriak. Ketiganya memperhatikan Dokter Bagas bekerja dengan wajah serius.
"Ayo bangun sayang." Doa Nyonya Tari yang ada dalam dekapan sang suami.
"Bagaimana. Dok?" Tanya Teo mendahului kedua orang tua Gavin.
Dokter Bagas mengalungkan Stetoskop kelehernya lalu menatap Teo. "Dia baik-baik saja. Gavin sudah melewati masa kritisnya sebentar lagi dia akan sadar."
Semua menghela napas yang sedari tadi di tahan. Teo tersenyum bahagia sedangkan Nyonya Tari menangis haru begitu juga Tuan Paris.
"Biarkan dia istirahat. Kami akan memindahkan Gavin keruang perawatan.." Kata dokter Bagas.
Semua mengangguk dan keluar bersama meninggalkan Gavin yang tengah di periksa suster.
Aji yang ada disana bersama Nathan berjalan menghampiri kedua orang tua mereka.
Nathan sendiri di telepon Aji atas permintaan Tuan Paris.
"Bagaimana Pah? apa yang terjadi?" Tanya Nathan dengan wajah khwatir. Takut terjadi sesuatu yang tidak baik kepada sang adik.
"Gavin baik-baik saja. Dia sudah tidak koma lagi." Nyonya Tari memeluk Nathan dan menangis haru disana..
Nathan mengucap syukur pun dengan Aji!
Sial...usahaku sia-sia rupanya!
Kabar bahagia itu sampai kesemua keluarga Abrisam dan juga keluarga Noah yang langsung di beritahu Teo.
Malam itu juga Gavin langsung di pindahkan ke ruang perawatan. Dan lagi pentilator yang satu minggu lebih itu menghiasi wajahnya kini sirna sudah. itu membuat Nyonya Tari lega.
Teo memilih pulang karena di rumah sakit keluarga inti Gavin siap siaga menemani. Aji pun melakukan hal yang sama karena Anggel tidak bisa di tinggal mengingat Anggel tengah sakit. Sang istri kelelahan menemani Nyonya Tari dirumah sakit.
Dengan tubuh lemas tanpa sebab Teo melangkah masuk kedalam apartemen dan mungkin akan kembali ke rumah sakit besok hari.
__ADS_1
Satu kenyataan yang pasti Gavin tidak akan meninggalkan Indonesia. setidaknya Adel akan senang mendengar kabar yang sampai saat ini belum dirinya dengar.
.
.
Pukul 12 malam Gavin menggerakan satu tangannya disusul membukanya kelopak mata yang satu minggu itu terpejam rapat.
Gavin tidak sendiri di dalam ruang inap kelas satu itu. Kedua orang tuanya dan Nathan terjaga disana menemani. Tapi mereka tidak sadar kalau Gavin sudah membuka mata.
"Haus...H-haus.." Pinta Gavin yang sebenarnya tidak dapat didengar keluarga.
Kepalaku sakit sekali.
Gavin membatin merasakan nyeri di kepala bagian kiri yang mana tangannya bergerak. sontak Nathan yang tengah memainkan ponsel melirik dan berteriak karena terkejut.
"Gavin sudah sadar! Mah! Pah! Gavin sudah sadar."
Semua terperanjat disaat rasa kantuk datang.
Gaduh. Mereka semua gaduh karena senang. Nathan bergegas memanggil dokter Bagas melupakan alat yang ada di dekat ranjang perawatan.
"Sayang, kamu sudah membuat kami semua khawatir." kata Nyonya Tari yang masih menangis haru.
Gavin sendiri hanya acuh karena tengah di periksa.
"Syukurlah ini di luar prediksi saya. ini keajaiban." Kata Dokter Bagas. "Bagaimana Gavin, apa rasa sakitnya masih ada?" Tanya Dokter Bagas.
Gavin menggelengkan kepala pelan.
"Baiklah Nyonya, Tuan saya permisi." Dokter Bagas pun pamit setelah selesai memeriksa kondisi Gavin.
Gavin menatap satu persatu keluarga.
"Kenapa Gavin? apa kamu hilang ingatan?" Tanya Nathan yang mana membuat wajah Nyonya Tari tegang.
"Liat Gavin, ini siapa?" Nyonya Tari meminta Gavin melihat sang ayah.
Gavin patuh ia menatap tuan Paris dengan mata menyempit. Calon ayah itu terdiam sebentar untuk mengatur pantulan cahaya yang terasa menyiaukan.
"Papa." ucap Gavin pelan.
Nyonya Tari menghela napas lega.
"Kalau ini siapa?" Gantian Tuan Paris meminta Gavin menebak istri dan juga anak pertamanya.
"Ayolah Pah. itu Mamah dan Kak Nathan." Gavin menjawab dengan suara kesal. Tapi keluarga malah tersenyum sambil mengucap syukur.
"Gavin masih waras! tidak mungkin lupa dengan keluarga sendiri" katanya.
Nathan bersuara. "Kami senang kamu sudah sadar. Padahal Mamah mau bawa kamu ke luar negeri."
Gavin mengangguk pelan. "Mana yang lain" Tanya Gavin yang sebenarnya masih meraskan lemas dan juga pusing.
Nathan menjawab. "Besok kamu akan menemui mereka."
Gavin kembali mengangguk karena dirinya masih belum kuat berinteraksi dengan baik.
Hingga Nathan melemparkan satu pertanyaan.
"Haruskah istrimu kami bawa kesini?"
"Nathan!" protes Nyonya Tari.
Nathan diam ia hanya menatap Gavin yang sepertinya tengah berpikir.
"Istri! Istri siapa yang Kakak Maksud?"
Deg....deg...deg....
.
Mohon maaf masih menebar benih bawang..
__ADS_1