BIARKAN KAMI BAHAGIA

BIARKAN KAMI BAHAGIA
Wajah Murung Ini Membuatku Cemburu


__ADS_3

Sang surya menyingsing datang memancarkan kilauan kekuningan di pagi itu meminta bulan untuk menyingkir dan beristirahat. kini adalah tugasnya membangunkan mahluk sang pencipta untuk segera membuka mata.


Tumpukan selimut berwarna abu itu bergerak ketika tubuh tinggi Gavin menjadi pelakunya. ia meregangkan tubuh menggeliat bebas dan mengerjabkan kedua mata yang terasa enggan terbuka.


Yang pertama di lihatnya adalah sisi lain ranjang tempat sang istri seharusnya berada. akan tetapi tidak ada sosok tersebut, Gavin mendesah kesal mengucek mata lalu menyibakkan selimut. duduk seperdetik sebelum ia berjalan kearah kamar mandi tanpa bersuara.


Butuh waktu setengah jam untuk Gavin berdiam di dalamnya. ia keluar tanpa lilitan handuk! Ya, Gavin sudah memaki setelan jas kerjanya dengan wajah berbunga.


Gavin bercermin kembali menyisir rambut basahnya lalu tersenyum lebar. ia terus mengingat pakaian kerjanya yang sudah tersimpan di ruang ganti. itu pasti ulah sang istri yang sekarang menghilang di pelupuk mata. "Ternyata, seperti ini rasanya menikah!"


Ia bergumam senang di depan cermin. cukup lama sampai Gavin keluar kamar sedikit berlari ingin segera melihat sang istri yang mungkin tengah mempersiapkan sarapan.


.


.


Adel menatap jam di rumahnya dengan membawa nampan berisi dua buah piring. Nasi Goreng kornet adalah isian si piring membawanya cepat keluar menuju rumah utama.


"Semoga dia belum bangun." Katanya sambil terus berjalan masuk ke area dapur. berpapasan dengan para pelayan dan juga Bi Muji


Pukul 04 subuh Adel meninggalkan kamar Gavin. memilih kembali ke rumah belakang untuk melaksanakan salat Subuh mengingat ia tidak membawa peralatan ibadahnya.


Bi Muji membantu Adel menata sarapan menambahkan beberapa potongan buah dan susu hangat itu adalah menu wajib keluarga Abrisam. setelahnya Adel mengikuti Bi Muji kedapur ada beberapa menu wajib lainnya kesukaan sang suami yang masih ada disana.


Gavin tersenyum tipis manakala Adel tengah sibuk menata meja makan. ia berdiri di anak tangga memperhatikan tanpa ingin mengedipkan mata.


Seandainya mereka tidak memandangmu rendah. itu akan menjadi hal luar biasa.


Senyum itu menghilang. Gavin merenung dengan keadaan, ingin rasanya pergi dari pengawasan sang ayah dan hidup bahagia berdua membesarkan si buah hati yang masih betah berdiam manja di dalam rahim istrinya.


Tapi itu bukan solusi yang tepat. Kaki panjang berbalut celana bahan berwarna hitam itu kembali melangkah malas. menuruni tangga menuju ruang makan sambil berusaha memasang senyum manis.


"Untuk saat ini nikmati saja."


Gavin duduk tanpa bentuan pelayan seperti biasa yang mana si pelayan panik lalu berlari kedapur mencari Adel.


"Non," Si pelayan bersuara panik.


Adel dan Bi Muji menoleh di ikuti pelayan lain.


"Dia sudah turun?" Tanya Adel.


Sebelum mendapatkan jawaban Adel bergegas meluncur membawa nampan lainnya.


"Sudah bangun?"


Gavin melirik kearah suara tersenyum lebar di buatnya. kepalanya mengangguk pelan.


Adel buru-buru meletakan nampan berisi sup jagung yang masih mengeluarkan asap. lalu duduk di sebelah Gavin yang terus tersenyum menatapnya.


Akhirnya mereka sarapan bersama. Gavin amat lahap menghabiskan nasi goreng buatan Adel pun sup jagung menu wajibnya. Adel mengingat itu ia bahkan menulis semua apa saja yang di sukai dan tidak sukai sang suami, telalu cepat memang untuk membuka hati tapi cepat atau lambat mereka akan melihat indahnya cinta.


"Tunggu Aku Iya, Nanti pulang cepat." Gavin merangkul tubuh Adel berjalan bersama keluar rumah mengingat dirinya harus bekerja.


Semalam Tuan paris menghubungi Gavin. ada Meeting yang tidak bisa di wakilkan mengingatkan si bungsu akan tugasnya di perusahan besar itu.


Adel mengangguk mencakup tangan Gavin dan menciumnya. "Hati-hati." Katanya sambil memejamkan mata ketika Gavin mengecup keningnya tanpa ada rasa malu. setelahnya masuk kedalam mobil.


Gavin membuka kaca mobil melambaikan tangan. Adel membalasnya keduanya saling tatap sambil tersenyum malu.


"Nanti bersiap aku akan cepat pulang." Teriak Gavin disaat mobil mulai melaju meninggalkan Adel di depan teras.

__ADS_1


Adel mengangguk lagi. menurunkan tangannya yang terasa pegal setelah dirasa mobil menghilang di pelupuk mata, kemudian Adel berbalik lalu masuk kedalam rumah.


Adel menghempiri Bi Muji yang tengah membersihkan meja makan membantunya tanpa bersuara.


Bi Muji terkejut. buru-buru meminta Adel untuk diam dan menghalanginya mengakat peralatan makan. "Jangan Non, biar Bbi saja." Katanya tidak enak.


Adel tersenyum lembut menyingkirkan tangan Bi Muji yang siap merebut piring dari tangannya. "Tidak Bi biar saya saja. ini juga piring dari rumah belakang, mau saya bawa sekalian membersihkan rumah belum saya sapu." Katanya. lalu berjalan kedapur meninggalkan Bi Muji yang masih berdiri di tempat.


"Kasian kamu Non di perlakukan tidak baik di rumah ini, saya tidak tau apa yang terjadi dengan masa lalu Non Adel dulu sampai terperangkap di rumah ini. tapi yang pasti Den Gavin sangat mencintaimu, Non." Gumam Bi Muji merasa sedih melihat nasib si Nona Muda. ternyata kecantikan fisik seseorang tidak menjamin kehidupnya tenang dan nyaman. mengingat itu Bi Muji semakin merasa pilu.


.


.


Waktu berjalan cepat. pukul 15: 30 sore tepatnya.


Di rumah belakang Adel sudah nampak cantik dengan dres bermotif bunga selutut. Blezer dan rambut panjang yang sengaja di gerainya menambah kecantikan Adel di sore itu, setelah selesai mempoles wajah dengan bedak tipis guna menyamarkan kulit pucatnya. Adel keluar rumah berjalan pelan masuk kedalam dapur untuk menunggu Gavin yang katanya tengah dalam perjalanan pulang.


Adel duduk bersama para pelayan di dapur alih-alih bersantai di kamar sang suami atau menikmati kenyamana di area dalam rumah. terlalu canggung baginya kalau harus melakukan itu, semenjak Gavin pergi bekerja Adel memilih kembali kedunianya. sendirian di rumah belakang tanpa ada yang menemani, itu adalah keinginan Adel. kepergian keluarga sang suami tidak membuat Adel senang. sama sekali tidak ada kebebasan baginya sama saja selama masih berada di lingkungan Gavin.


Para pelayan semua senang bisa mengenal si Nona muda yang ramah dan baik. tidak ada kebencian di wajahnya walupun sudah di perlakukan tidak baik di keluarga kaya itu.


Adel mengangguk-anggukan kepala ketika para pelayan bercerita tentang kehidupan mereka. terasa nyaman bisa bertukar pikiran walupun dengan orang baru.


Bi Muji bersuara yang tengah duduk di sebelah Adel.


"Non, Bibi harap Non Bisa bertahan di sini."


Para pelayan mengangguk setuju.


Adel tertawa hambar mendengar dukungan dari para pelayan. "Saya tidak muluk-muluk Kok. Saya hanya ingin hidup tenang membesarkan dia." Kepalanya menunduk mengikuti insting tangan yang mengusap perutnya. "Hanya itu." Lanjutnya lirih.


"Yang terpenting. Den Gavin menyayangi Non Adel itu lebih dari cukup." Bela Bi Muji sambil mengusap pundak Adel. "Bibi percaya, Non dan Den Gavin pasti bahagia."


"Itu benar, jadi Non jangan khwatir." para pelayan berkata kompak.


Adel mengangguk cepat merasa terharu mendengarnya. percakapan tanpa ada rasa canggung itu terus berlangsung sampai Adel harus mengakhir obrolan ketika Gavin sudah pulang.


Mobil meninggalkan rumah. Melaju santai menyusuri perumahan elit yang ada di sekitar, sampai Gavin memarkirkan si Mobil. bangunan besar yang ada di tengah kota dengan keindahannya menjadi tujuan Gavin dan Adel.


Adel turun tanpa menunggu Gavin membukakan pintu untuknya yang mana Gavin mendesah.


"Kenapa ga tunggu aku buka pintu buat kamu?" Katanya merajuk merasa kesal karena sang istri seakan acuh.


Adel tertawa pelan di buatnya. lalu keduanya berjalan masuk dengan bergandengan tangan.


Toko baju khusus ibu hamil menjadi tujuan keduanya. Gavin membantu Adel memilih Dres dan daster yang nyaman untuk di pakai sang istri, pegawai mengikuti kemana perginya kedua pasangan suami istri itu.


"Sepertinya sudah cukup." Adel bersuara sambil menatap keranjang yang di bawa si pegawai.


Gavin melirik isi keranjang lewat kacamata hitamnya.


"Apa kamu yakin?" Tanya Gavin untuk memastikan.


Adel mengangguk.


"Baiklah, kita bayar."


Keduanya berjalan kearah Kasir. Adel duduk tenang di samping sang suami yang tengah berdiri bak pengawal. melihat itu Adel tersenyum sedikit mengeluarkan suara yang mana membuat Gavin melirik.


"Ada apa? kenapa tertawa?" Tanya Gavin sambil menatap sekitar. "Tidak ada hal yang lucu didalam toko."Sambung Gavin.

__ADS_1


Adel menjawab santai. "Memang tidak ada yang lucu, aku hanya ingin tersenyum saja."


"Sudah, Tuan." Suara wanita di depan kasir menghentikan perdebatan mereka. Gavin otomatis mengelurakan dompetnya dan lekas membayar.


Setelah berbelanja Gavin mengajak Adel untuk mengisi perut. menghabiskan waktu didalam Mall ternyata bisa membuat perut keduanya keroncongan.


Restoran yang ada di luar Mall menjadi pilihan mereka. Gavin membantu Adel menggeser kusir lalu ia duduk.


"Terimaksih."


Gavin mengangguk pelan dan ikut duduk kemudian melepas macamata, masker dan topi.


Pelayan restoran datang untuk mencatat pesanan keduanya...tidak buruh waktu lama keduanya mulai mengisi perut.


Adel menarik napas mengusap bibirnya dengan tisu setelah dirasa perutnya tidak lapar lagi. hanya saja di piring tersisa nasi yang tertinggal.


"Kamu makan banyak." Adel memberi ledekan kepada Gavin yang masih sibuk dengan piringnya.


"Kamu juga makan banyak." Gavin balik memberi ledekan.


Adel tersenyum. "Aku harus makan banyak." Katanya malu.


"Aku bercanda, kamu memang harus makan banyak."


Mereka mengobrol ringan untuk sesaat. Adel tak hentinya menatap sang suami takjub sore itu Gavin nampak keren dan maco, jaket Jeans membuatnya luar bisa saja.


Tanpa sadar Adel mengangkat satu tangan menunjang berat kepalanya. melihat itu Gavin melakukan hal yang sama. keduanya bertatapan dengan debaran jantung yang sulit di kontrol.


"Bisa kita pulang?" Tanya Adel yang masih menatap Gavin.


"Tunggulah sebentar lagi, aku sedang menikmati pemandangan di depanku."



Kedua sudut bibir Adel tertarik merasa malu mendengar ucap sang suami.


Obrolan keduanya berlanjut sampai Gavin memberi tahukan sesuatu. "Aku ingin mengatakan kepadamu tentang, Teo!"


Wajah Adel berubah murung. kepalanya menunduk untuk sesaat lalu. "Kenapa dengan Dia?"


Kenapa dia memberi tau kabar Teo! aku bahkan ingin melupakan namanya.


Gavin meraih tangan Adel mengusapnya pelan menatap manik sang istri. " Tadi kami bertemu. dia terlihat menyedihkan dia memberi tau kalau dirinya mencintai Anandita." Gavin diam sejenak Seolah tidak percaya dengan apa yang di dengarnya siang tadi.


Teo menghubungi Gavin memintanya datang ke Cafe biasa. mereka mengobrol menanyakan kabar masing-masing. berusaha merajut kembali persahabatan yang sempat meregang. Gavin masih merasa tidak enak ketika bertemu Teo, sedangkan Teo seolah menutup mata dan berusaha menerima kenyataan. Sampai mata Gavin terbelalak lebar ketika Teo mengatakan mencintai Anandita! Adik Noah yang mana Adik iparnya.


Kepala Gavin menggeleng tidak percaya jika mengingat hal itu. lalu menatap wajah Adel yang nampak tidak bersemangat.


"Lihat wajah murung ini. membuatku terluka saja."


Adel mengerutkan kening. "Kalau kamu tidak ingin terluka. sebaiknya jangan mengatakan apapun kepadaku tentangnya. "


"Maaf, aku hanya ingin kamu tau itu."


Aku hanya ingin melihat apakah kamu masih memikirkan dirinya, dan ternyata kamu memang masih belum bisa melupakan Teo, Adel.


.


.


Saran saja kalau bisa bacanya nanti sudah ada label END ya. karena saya akan slow up melihat sekarang saya mulai di sibukan dengan pekerjaan sebagai karyawan..jadi ga bisa terlalu pokus menulis...itu saja...tenang cerita ini pasti akan saya selesaikan tanpa hiatus...

__ADS_1


__ADS_2