
Gina menangis kejer ketika pekikan suara Gavin terdengar.
Adel bergegas bangun pun dengan Gavin. Keduanya menghampiri ranjang Gina.
"Sayang, ini mama," Adel mengangkat Gina lalu di dekapnya erat sambil menimangnya.
Gavin menampakan wajah bersalah. Karena suaranya membuat sang putri terbangun dengan tangisan..
"Aku minta maaf." Ucap Gavin kepada Adel.
"Sayang ini Papa, Maafin Papa ya," Gavin mengelus pipi Gina yang mana masih menangis. Dan anehnya elusan lembut Gavin membuat Gina mulai tenang.
Gavin terus mengelus pipi Gina sambil menciumnya sesekali. Dan semua itu tidak luput dari pandangan Adel yang dengan jelas melihat wajah Gavin yang terus mengajak Gina berbicara.
Kamu tau itu ayahmu Gina, mama tidak bisa memisahkan kamu dengannya.
Adel terus memperhatikan Gavin yang ada di dekat tubuhnya. Memperhatikan senyuman dan wajah tampan sang suami. Jujur Adel merasakan jantungnya berdetak kencang. Ingin membuang rasa itu tapi. Dirinya tidak dapat berbohong kalau Gavin tetap ada dalam hatinya. Tanpa sadar Adel tersenyum yang mana membuat Gavin menoleh.
Keduanya saling tatap mengirimkan pesan yang sama. Binar mata dari keduanya tidak dapat berbohong kalau benih dan aroma cinta jelas terasa.
"Adelia, kamu mau kan Maafin aku? Beri aku satu kesempatan lagi?" Gavin kembali bertanya dengan raut wajah memelas.
Adel merenung sebentar dengan terus menatap Gavin yang juga menatapnya. Sampai akhirnya kepala Adel mengangguk pelan.
Sontak bibir Gavin merekah bersamaan dengan pelukan erat yang dirinya berikan kepada Adel dan Gina.
"Terimakasih, terimakasih banyak sayang, Aku tidak akan pernah lagi meninggalkan kamu dan Gina."
Adel terisak dalam dekapan hangat Gavin yang terus mengecup kening dan membelainya.
Dalam benaknya Adel bergumam.
Mungkin tidak salah bagiku memberikan kesempatan untuk Mas Gavin. Lagipula, aku tidak ingin jauh dari mu Mas.
Dan Adel membalas pelukan erat itu.
"Janji ya, kamu akan menjaga aku dan Gina?"
Gavin mengangguk cepat.
"Aku berjanji."
Hari itu semua berjalan seperti yang di harapkan Gavin. Di perjalanan menuju Surabaya dirinya terus membayangkan Adel akan memberinya pelukan dan juga memberikan kesempatan kedua. Dan itu benar-benar terjadi.
Terimakasih Tuhan. Engkau mengabulkan doamu. Terimakasih.
Setelah drama berbaikan itu selesai, Gavin membawa Adel dan Gina keluar kamar.
Di ruang tengah ketiganya di sambut oleh Pak Alam dan istrinya. Tak lupa juga Bi Muji yang tengah berdiri dengan wajah tanpa ekspresi.
Gavin menggandeng Adel mesra, sedangkan Gina di dekapannya erat. Berjalan bersama menghampiri ketiga orang tua itu.
Pak Alam dan Bu Puji saling tatap dengan debaran jantung. Merasakan bimbang dan gelisah takut Adel dan Gavin berpisah.
Dulu memang keduanya tidak merestui pernikahan Adel dan Gavin, tapi setelah melihat apa yang sudah terjadi membuat pasangan suami istri itu luluh, terlebih sekarang ada Gina, cucu cantiknya yang butuh kasih sayang dari kedua orangtuanya.
Adel dan Gavin saling tatap sebelum akhirnya Adel bersuara.
"Adel sudah memaafkan, Mas Gavin."
Mendengar itu, membuat Bu Puji dan Pak Alam menghampiri keduanya membawa perasaan bahagia.
"Berbahagialah Kalian." Seru Pak Alam sambil memeluk Adel dan Gavin.
Di susul Bu Puji yang juga memeluk keduanya dengan tangis yang nyata.
"Gavin, jaga putri Mama dan Cucu Mama." pesan Bu Puji yang mana di jawab anggukan kepala dari Gavin.
"Akan Gavin lakukan. Mama, Papa tenang saja."
Semua menangis haru karena penderitaan dan kesengsaraan seakan sirna bergantian bahagia.
Di tengah kebahagiaan itu, Adel melirik Bi Muji yang tengah menangis haru dari kejauhan. Yang mana Adel menggerakkan tangannya. Meminta Bi Muji untuk mendekat.
"Kemari Bi." Pinta Adel yang mana di jawab gelengan kepala dari Bi Muji.
"Bibi adalah keluarga Adel sekarang." Lanjut Adel.
Bi Muji menangis lagi merasa tidak percaya Nona mudanya mengatakan itu.
Bu Puji menghampiri Bi Muji. Menariknya untuk bergabung bersama.
"Tidak Bu, saya-
Kepala Bu Puji menggeleng. "Bibi jangan menolak. Sekarang Bibi adalah keluarga kami."
Dan Bi Muji mengangguk ragu.
Rumah itu nampak sunyi dari luar. Tapi didalam semua orang hanyut dalam kebahagiaan yang nyata.
Gavin kembali mengecup kening Adel mesra mencurahkan segala rasa dan Cinta yang selama ini hilang. Sampai bibir Gavin berbicara.
"Hari ini kita pulang ke Jakarta ya Sayang." Gavin bersuara di tengah suka cita. Menatap Gina yang ada dalam dekapan.
Adel mendadak terdiam pun dengan Pak Alam, Bu Puji dan Bi Muji.
Gavin melirik sang istri dan kedua mertuanya.
"Kenapa?" Tanya Gavin bingung.
Bi Muji bersuara pelan.
"Maaf Den, tapi kan, keluarga-
"Oh itu. Kalian tenang saja." Gavin menyela kalimat Bi Muji dengan mata menatap Adel yang mana terdiam membawa wajah gugup.
Adel melirik Gavin setelah kalimat itu terlontar. kembali Gavin menganggukkan kepala sambil tersenyum memberi tanda kepada Adel bawah semua akan baik-baik saja.
"Kamu mau kan pulang ke Jakarta?" Tanya Gavin lagi.
Sedangkan Pak Alam dan Bu Puji hanya diam tidak ingin membujuk Adel untuk mengiyakan permintaan Gavin.
"Tapi Mas, Bagaimana dengan keluargamu? Apa-
__ADS_1
"Mereka menunggu kamu dan Gina?" Sela Gavin semangat.
Adel mengerutkan kening mendengar kalimat itu.
"Apa kamu bilang?" Tanya Adel tidak percaya.
Gavin mengangguk sambil merangkul Adel.
"Mereka semua menunggu Kamu dan Gina. Papa, Mama, Nenek, Kakek dan Kakakku menunggu kalian berdua! Mereka sudah berubah sayang." Terang Gavin.
Adel menitipkan air mata mendengar penjelasan Gavin, tidak percaya kalau sekarang keluarga Abrisam yang dulu membencinya kini berubah menjadi baik dan mengharapkan kedatangannya dan sang putri.
Pak Alam dan Bu Puji dapat menghela napas lega setelah Gavin selesai berbicara pun dengan Bi Muji.
"Jadi, bisa kita pulang sekarang?" Tanya Gavin lagi. melirik Adel dengan kedua mata yang ia kedip, 'kan cepat.
Semua mata menatap Adel gugup. Menunggu apakah kali ini kepala itu akan kembali mengangguk.
"Iya, aku mau!" Adel menjawab beserta anggukan kepala.
"Yes," Gavin bersorak gembira di ikuti tawa dari semuanya tak terkecuali Adel.
Siang hari itu juga, Gavin memboyong sang istri dan putrinya beserta kedua mertua dan Bi Muji yang awalnya menolah ikut. Tapi karena di Surabaya dirinya sendirian jadi tidak ada alasan untuk menolak paksakan Adel.
Pesawat yang membawa mereka mengudara meninggalkan Surabaya menuju Jakarta.
Di dalam pesawat, Gavin tak hentinya melindungi Adel dan Gina yang sebenarnya belum di perbolehkan naik pesawat. Tubuh ibu dan anak itu pasti masih lemah. Maka dari itu Gavin akan membawa keduanya untuk di periksa Dokter setelah tiba di Jakarta.
Bayi baru lahir itu nampak baik-baik saja, berbeda dengan ibunya yang terlihat gugup. Wajah pucatnya tidak dapat berbohong.
Gavin merasa khawatir melihat wajah pucat Adel yang mana ia bertanya.
"Kamu ga papakan, sayang?" Tanya Gavin. Tangannya mengelus pipi Adel lembut.
Adel menjawab singkat. "Ga papa,"
"Nanti kita ke rumah sakit dulu ya.?"
Adel menggelengkan kepala. "Aku ga papa kok mas. kamu jangan khawatir."
Adel tersenyum untuk meyakinkan Gavin.
Gavin mengangguk.
Tidak. Aku harus membawanya ke rumah sakit.
Adel sendiri memilih bersandar untuk menenangkan diri. Sedangkan Gina anteng bersama Gavin.
Apa tubuhku sudah tidak lagi merespon obat itu? Mas, apakah kamu sudah tau kalau aku yang mendonorkan ginjal itu?
batin Adel bergumam dengan terus menarik napas panjang sambil menutup mata. Tidak ingin beradu pandangan dengan Gavin yang mana ada di sampingnya.
.
.
Sementara itu, di kediaman keluarga Abrisam. semua pelayan sibuk dengan perintah yang di intruksikan Nyonya besar. Meminta untuk merapikan kamar Gavin dan juga memindahkan ranjang bayi yang di beli Nathan untuk Gina.
Tak ketinggalan. satu lemari pakaian khusus Gina menemani ranjang cantik itu. Para pelayan tengah merapikan semua perlengkapan Gina. Dari mulai baju dan yang lainnya berjajar rapi didalam lemari, semua di beli Nyonya Tari yang nampak antusias ketika membelinya.
Kamar Gavin kini berubah. Yang dulu nampak maskulin kini berganti sudah. Ranjang bayi dan segala pernak-perniknya membuat Nenek Dayanti menangis haru.
"Kenapa mereka lama sekali?" Seru Nenek Dayanti yang langsung di jawab semangat dari Nathan.
"Pesawatnya baru saja mendarat Nek,"
"Benarkah?"
Dari kejauhan suara Nyonya Tari terdengar membuat Nenek Dayanti dan Nathan yang tengah berada di kamar Gavin menoleh.
"Apa mama tidak salah dengar, Nathan?"
Kepala Nathan menggeleng yakin.
"Baru saja Gavin kirim pesan Ma,"
Sebelum Nyonya Tari kembali bertanya. Nenek Dayanti berkata.
"Tari, Apa kamu bahagia?"
"Ya Ma, Tari bahagia. Karena Gavin berhasil membawa Adel dan cucu Tari." Ada perasaan bingung di wajah sang nyonya besar. Jelas itu membuat Nathan bersuara.
"Tapi Nek, Apa Adel mau memaafkan kami setelah apa yang kami lakukan.?" Wajah Nathan berubah sendu.
Memang di balik kebahagiaan atas kepulangan Adel dan Gina. Terbersit rasa takut dan bersalah. Semua keluarga bertanya-tanya Apakah Adel mau memberi manfaat?
Nenek Dayanti sendiri hanya diam membisu. Tidak mampu memberi jawaban yang belum pasti.
Ketiganya diam termenung dengan perasaan kalut di dalam kamar Gavin yang masih di bersihkan para pelayan.
Di sisi lain. Tuan Paris baru saja memutuskan sambungan telepon dengan seseorang. Ia keluar kamar membawa wajah berseri. menuruni tangga untuk menemui sang ayah.
Kebetulan Kakek Damar tengah duduk di ruang keluarga bersama kedua cicitnya.
Kakek Damar melirik kedatangan Tuan Paris sekilas. Sampai ia kembali fokus menatap Televisi yang tengah memutar serial Kartun kesukaan kedua cicit tampannya.
"Pa," Sapa Tuan Paris.
"Emm.."Jawab singkat Kakek Damar tanpa mengalihkan pandangan.
Tuan Paris duduk di dekat sang ayah sambil menegur kedua cucunya yang juga asik menonton televisi.
"Galih sudah memberi kabar Pa!" Terang Tuan Paris.
Sontak kepala Kakek Damar menoleh cepat membawa wajah gugup.
"Apa yang di katakan, Galih?"
"Semua beres Pa," Jawab singkat Tuan Paris.
"Jadi, maksud kamu. Galih sudah menemukan Ginjal yang cocok dengan Adel?" Mata Kakek Damar melotot tajam.
Kepala Tuan Paris mengangguk cepat.
__ADS_1
"Ini kejutan untuknya."
.
.
Sore harinya, Rombongan dari Surabaya sudah meninggalkan bandara. Tujuan selanjutnya adalah pulang ke mansion Tuan Paris yang mana sudah di tunggu semua keluarga.
Tapi Gavin kekeh ingin membawa Adel ke dokter. Untuk memeriksakan kesehatan dan kondisi dari keduanya. Yang di maksud Adel dan Gina.
Awalnya Adel menolak tapi setelah Gavin memaksa Adel akhirnya mengalah.
Dan di sinilah mereka. Rumah sakit besar di mana Dokter Bagas bertugas.
Adel di bawa ke ruang pemeriksaan di dampingi Gavin untuk menemui Dokter Bagas. Sedangkan Gina di bawa ke dokter anak bersama kedua Nenek kakeknya dan Bi Muji.
Gavin sendiri tidak memberi tahu keluarga yang tengah menunggu dengan cemas di mansion. Entah kenapa batinnya mengatakan ada yang tidak beres.
Adel nampak gugup ketika melihat Dokter Bagas yang tengah duduk di ruangannya.
"Ayo sayang," Gavin meminta Adel masuk kedalam ruangan besar itu.
"Gavin, kamu sudah kembali?" Dokter Bagas terkejut jelas ketika Gavin datang bersama Adel.
Gavin tidak menanggapi pertanyaan itu, dirinya terus menuntun Adel masuk.
Gavin menggeser kursi untuk Adel duduk. Sedangkan Dokter Bagas menelan ludah melihat wajah pucat Adel yang terus menggelengkan kepala.
Astaga, Kenapa Adel menggelengkan kepala? Apa Gavin belum mengetahui semuanya?
Batin Dokter Bagas takut. Tapi tidak ada waktu untuk ikut hanyut dalam ketakutan. Mata tajam Gavin membuatnya tenang.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Dokter Bagas kikuk. Tidak sempat menanyakan kepulangan Adel yang kemarin membuat semua keluarga Abrisam kelabakan akan apa yang sudah terjadi.
Kepala Dokter Bagas menggeleng-geleng cepat.
"Periksa dia sekarang, lihat wajahnya pucat." Pinta Gavin sambil melirik Adel yang tengah tersenyum datar ke arah dokter Bagas.
"Silakan." Dokter Bagas beranjak berdiri dan menuntun Adel untuk berbaring.
Adel berbaring di bantu satu suster.
Dokter Bagas mulai mengarahkan stetoskop kearah dada Adel. Semua di perhatikan Gavin yang juga ada di sana.
Dokter Bagas melirik Gavin dan Adel dengan wajah datar.
Kondisinya semakin buruk.
"Apa ada yang salah?" Tanya Gavin cepat.
Dokter Bagas merenung sejenak, tak hentinya menatap Adel yang masih kekeh dengan gelengan kepala.
"Dokter?" Sentak Gavin.
"Ah..Iya." Terkejutnya si Dokter Bagas.
Gavin menuntut jawaban dengan bola matanya yang seakan mengintimidasi Dokter Bagas.
Dokter Bagas mengangguk sambil mengalungkan stetoskop ke leher.
"Saya ingin meminta maaf terlebih dahulu kepada Anda, Nona." Mata bergetar Dokter Bagas melirik Adel sejenak sebelum akhirnya mata itu menatap Gavin mantap.
Adel menutup mata dengan menghela napas panjang.
"Jangan membuat lelucon, Dokter Bagas?" Gavin memberi peringatan kepada laki-laki di depan matanya. Wajah Dokter Bagas membuatnya berpikir tidak karuan.
"Gavin, kamu melewatkan satu kebenaran yang seharusnya kamu ketahui!" Dokter Bagas terdiam sesaat untuk mengatur napas.
"Apa yang aku lewatkan?" Tanya Gavin. Bergantian menatap Adel dan Dokter Bagas dengan wajah bingung.
"Istrimu sudah-
"Dokter, saya mohon hentikan?" Sela Adel sambil bangkit. Bergegas menghampiri Gavin dan memeluknya erat.
Jelas Gavin terdiam heran.
"Adelia, rahasia apa yang kamu sembunyikan dariku selama aku-
"Dia sudah memberikan satu ginjalnya untukmu, Gavin!"
Gavin mati kutu. tubuhnya mendadak lemas. Matanya berkedip cepat dengan napas yang memburu tajam. Sedangkan Adel menangis dalam pelukannya.
"Itu kebenaran yang harus kamu ketahui." Lanjut Dokter Bagas. Setelahnya berjalan mundur untuk kembali ke meja kebesaran. Mendapati ponselnya berdering.
"Kenapa kamu ga bilang dari awal sayang?" tanya Gavin lirih bersamaan dengan pelukan yang di balas.
"Aku, aku takut Mas. Kamu hampir pergi dan aku tidak mempunyai pilihan lain." Adel menjawab berteman tangisan.
"Aku harus mengembalikan ginjalmu."
Adel mendangah dengan mata sembab.
Kepalanya menggeleng cepat.
"Tidak, jangan lakukan itu. Setidaknya kamu akan tetap hidup."
"Tapi kamu? tidak, Adel."
"Ada kabar baik." Tiba-tiba Dokter Bagas kembali datang dan mengejutkan keduanya.
Adel dan Gavin menoleh kearah Dokter Bagas.
"Kalian jangan khawatir, Gavin, kamu akan tetap hidup dengan ginjal istrimu. Dan Kamu Nona. Kamu juga akan hidup. Ada pendonor ginjal yang cocok dengan ginjalmu."
"Benarkah itu?" Tanya keduanya tidak percaya.
Dokter Bagas mengangguk cepat.
"Operasi akan di lakukan satu atau dua minggu dari sekarang. Bersiaplah."
.
.
__ADS_1
Tiga Minggu kemudian....