
Semalaman mata Anandita terus terjaga. Otaknya bekerja dan tubuhnya berguling-guling dengan perasaan berkecamuk.
Kenapa dia berani membuka dompetku dan mengambil kartu namaku? tidak sopan! Sekarang dia terus mengirim pesan yang tidak aku inginkan. Pria menyebalkan.
Terus bergumam kesal lalu berguling tak jelas. Sesekali menghidupkan ponselnya untuk melihat apa pesan yang di kirim Daniel kembali datang.
📱Satu pesan masuk..
Ini sudah tiga hari, dia masih meneror ku.
Anandita menutup mata akan hal itu. Untuk membuang rasa marah ia mematikan ponsel dan menyimpannya di laci. Setelahnya berbalik berniat memeluk Teo. Akan tetapi Anandita mematung ketika Teo menatapnya dengan mata setengah mengantuk.
"Kenapa Dita? Apa kamu sakit?" Bertanya dengan suara serak. Menarik Anandita ke dalam dekapan.
Kepala Anandita menggeleng cepat. "Dita, hanya tidak bisa tidur saja, Kak."
Maaf kak, Dita belum bisa bilang si laki-laki tidak tau diri itu. Biar Dita besok bereskan dia.
"Kamu mau kakak ngapain, huh?" Bertanya dengan mata terpejam.
Lupakan Daniel pria misterius yang menerornya. Sang suami yang di cintai tengah bertanya dengan sadar. Senyum Anandita merekah bersamaan dengan lilitan tangan ke tubuh Teo.
Aku ingin menjadi istrimu yang sebenarnya kak. Menghangatkan ranjang dingin ini dan, dan itu tidak akan terjadi.
Wajahnya tiba-tiba murung dan menguburkannya kedalam ketiak Teo. Mendapati kenyataan lebih menyedihkan ketimbang dunia khayalan.
Bermimpi lah Anandita. Terus lah bermimpi.
Hatinya mencibir keinginan si pemilik tubuh yang mana berusaha menerima kenyataan.
Tiba-tiba Teo mengangkat tubuh Anandita, menindihnya cepat.
Jelas Anandita mematung, mengedipkan mata secepat kilat sambil bergumam.
Apakah aku bermimpi lagi ?
"Dita?" Teo berbisik di saat tidak ada jarak di antara keduanya.
"Iya," Sahut Anandita gugup. Menelan ludahnya kasar karena takut. Takut ini adalah mimpi seperti waktu itu.
"Apa kamu mau Kakak melakukannya sekarang?" Tanya Teo intens. Menggulung kedua tangan Anandita yang dingin dan basah karena keringat.
Apa katanya? Melakukan apa katanya?
"Jawab, Dita?" Teo meminta jawaban dengan tatapan mata lembut.
__ADS_1
Bagaimana bisa aku bertahan selama ini untuk tidak melakukan tugasku sebagai seorang suami. Aku bertahan selama ini karena aku ingin memastikan perasaan ini. Dan setiap harinya semakin kuat. Malam ini aku tidak bisa menahan.
Batin Teo bergemuruh dengan rasa yang selama ini di tahan. Seharusnya Anandita melihat bagaimana setiap malam Teo menahan hasrat seksual yang datang. Anandita cantik, kulit mulusnya tidak datap di tampik. Siapa saja yang melihat pasti akan berimajinasi. Termasuk Teo suaminya sendiri.
Perlahan Anandita membuka tangan Teo yang seolah mengunci. Membelai lembut wajah tegas sang suami lalu menatapnya di kegelapan malam. Sedikit sinar dari lampu luar yang menjadi penerang.
"Dita tidak tau apakah sekarang Dita bermimpi. Tapi yang pasti Dita ingin menjadi istrimu yang seutuhnya, Istrimu yang sebenarnya. Dita tidak bisa lagi mengatakan betapa Dita sangat mencintai Kakak. Karena Kakak sendiri pasti sudah tau jawabannya, Dita tidak ingin memaksa. Dita akan menunggu-
Cup. Seketika Bibir Teo mengunci bibir Anandita yang mana masih bersuara.
Mata Anandita membulat sempurna membiarkan Teo menyerang bibirnya. Setelahnya mata Anandita terpejam dengan gairah cinta.
Saling berpelukan dan saling menginginkan itulah yang tengah menggelayut dalam benak Teo dan Anandita.
"Kakak tidak bisa menahannya, Dita." Seru Teo di saat dirinya menahan sesuatu yang begitu besar. Menatap lekat Anandita yang ada dalam kekuasaan.
"Apa tidak apa-apa Kakak melakukannya sekarang?"
"Apa Kakak sudah membuka hati untuk, Dita?" Bertanya penuh harap. Kalau pun jawabnya Tidak, atau belum. Anandita tetap akan membiarkan Teo melakukan tugasnya malam ini juga.
Setidaknya Dita bisa memilikimu seutuhnya kak.
"Perlahan tapi pasti, Namamu sudah masuk kedalam hatiku," Ucap Teo penuh keyakinan. Masih menatap Anandita yang juga menatapnya intens.
Seketika Anandita berkaca-kaca. "Apa yang kamu katakan benar?"
"Apa sekarang aku tidak bermimpi lagi?" Suara Anandita bergetar dengan air mata ketidak percayaan.
Teo memiringkan kepalanya. Mengusap air mata sang istri.
"Kamu tidak bermimpi. Kakak sudah mulai mencintai Dita."
Terdengar ambigu tapi Anandita dapat tersenyum lega. Menarik Teo untuk di ciumnya gemas.
Teo mengikuti ke inginkan Anandita. Saling memejamkan mata. Gairah dari keduanya tidak bisa lagi di bendung. Apalagi suara ******* nikmat yang di lantunan Anandita membuat Teo semakin menggila.
Baju di tanggalkan. Mengubur diri dalam satu selimut. Saling menempelkan tubuh yang kini nampak polos.
Teo menatap tubuh indah Anandita kini begitu nyata. Mulus dan berkilau bak berlian saja. Terjaga, terawat sangat baik.
Sekali tarikan Teo menguasai tubuh Anandita. Meraung lagi dengan keras. Segera Teo menutup bibir Anandita dengan bibirnya.
"Sakit?" Tanya Teo.
Anandita mengangguk tanpa kata. Matanya berderai air mata karena sakit.
__ADS_1
Seperti inikah rasanya?
"Kakak akan pelan-pelan." Bisik Teo sembari memperlambat ritme permainan.
Anandita masih menutup mata membiarkan Teo bermain di tubuhnya. Tapi perlahan Anandita tersenyum memeluk Teo sambil berkata.
"Jangan tinggalin Dita, Ya. Kak?"
Teo mengangguk lagi. "Tidak akan."
Malam itu ke inginkan Anandita yang tidak pernah terjadi kini dapat di rasakan. Teo begitu gagah merenggut kehormatannya secara lembut dan penuh cinta.
Permainan beberapa kali di tunda. Anandita terus meminta jeda, dan Teo dengan sabar menunggu. Malam semakin larut tapi kedua pasangan suami istri itu masih betah terjaga.
.
.
Mentari datang, Teo bangun terlebih dahulu. Melirik ke arah samping di mana Anandita masih terlelap dalam tumpukan selimut. Hanya kepalanya saja yang menyembul keluar. Melihat itu Teo tersenyum dan dengan sadar membungkuk untuk meraih bibir Anandita.
"Bangun sayang." Bisik Teo setelah mengecup bibir Anandita.
Sontak Anandita membuka mata.
Kata Sayang bak mantra baginya.
Teo terkekeh geli melihat wajah polos Anandita yang melongo menatapnya lekat.
"Sayang? " Ucap Anandita tidak percaya.
Teo mengangguk dan kembali mengecup bibir Anandita. "Bangun, Kakak mau mandi."
Teo berjalan meninggalkan Anandita yang masih terpaku di tempat tidur. Tapi tiba-tiba Teo berhenti berjalan. tubuhnya sedikit miring. Melirik Anandita dengan mata nakalnya.
"Mau ikut mandi?" Mengajak dengan mata menggoda.
Sontak Anandita menutup wajahnya yang memerah dengan selimut.
"Kakak ih, ga mau." Merengek malu dan berguling di dalam hangatnya selimut.
"Hahahaha.." Teo tertawa dan kembali melangkah masuk kedalam kamar mandi, meninggalkan Anandita yang tengah sibuk mengimbangi jantungnya yang siap meledak.
Dalam diam Anandita tersenyum bahagia. Malu-malu menatap tubuh yang kini nampak polos. Aroma tubuh Teo membuat mata Anandita terbelalak nyaman.
"Sekarang, aku sudah menjadi istrimu yang seutuhnya Kak Teo." Gumamnya, Sedikit meringis ketika area sensitifnya terasa nyeri. Tapi dasar Anandita, ia masih sempat-sempatnya tertawa ketika mengingat bagaimana semalam Teo membuatnya kelelahan.
__ADS_1
"Astaga."