
Ade kehilangan kata-kata ketika Suara Maya terdengar, membuatnya terdiam di dekat Gina yang masih terlelap.
Teo sendiri sudah kembali ke apartemennya setelah memberikan nomor Telepon Gavin. Menyisakan Adel di kamar bersama putrinya, yang di pikir Teo, sang wanita akan bahagia karena sudah berhasil menghubungi sahabatnya.
Adel meremas ponselnya sebelum akhirnya ia mengeluarkan kartu SIM dan menangis. Mengutuk keputusan dan tindakannya.
"Sadarlah. Adelia, Mas Gavin bukan lagi milikmu!" Gumamnya lirih sambil menutup mulut yang ingin berteriak dan bibir bergetar berat. Tak ingin membuat Gina terbangun karena suara tangisnya.
Ya Allah. Bisakah aku kuat? Aku tidak sanggup dengan rencana-Mu.
.
.
Bu Puji kebetulan berdiri di ambang pintu kamar Adel, berniat mengetuk untuk meminta sang putri keluar kamar dan melihat semua barang yang baru saja datang. Tapi suara isakan tangis Adel membuatnya termenung dengan wajah sendu. Seakan tau perasaan putrinya tanpa dirinya tau apa yang menyebabkan suara isakan itu terdengar.
Wanita paruh baya itu menghela napas berat dan berbalik. Tapi wujud sang suami membuatnya terperanjat.
"Papa!" Bu Puji mengelus dada dan sedikit memukul pundak Pak Alam.
Jelas Pak Alam mengerutkan kening dengan tawa kecil.
"Kenapa Ma? Kok, kaget begitu liat Papa,?" Tanya Pak Alam.
Bu Puji menjawab lirih." Sepertinya, Putri kita benar-benar merindukan suaminya, Pa!"
Pak Alam terdiam dan menerawang kejadian setelah mereka menemukan Adel.
Adel selalu berusaha tersenyum dan ceria memperlihatkan bahwa dirinya baik-baik saja. Tapi Pak Alam sering mendapati sang putri termenung seorang diri dan juga menangis tanpa sebab.
Kepala Pak Alam mengangguk pelan.
"Papa juga merasakan itu Mah,"
"Haruskah kita-
Kalimat Bu Puji menggantung seakan takut melanjutkan.
"Sepertinya, sudah cukup melihat putri kita menderita! Jika kehadiran Gavin bisa membuat Adel bahagia kita tidak bisa melarang." Terang Pak Alam yakin. Se-Yakin anggukan dan senyum Bu Puji.
Sepertinya kemarahan di hati suami istri itu sudah tamat. Dan berganti dengan harapan Gavin adalah menantu yang baik.
Keduanya pergi untuk mempersiapkan segala keperluan acara. Menyusul Bi Muji membiarkan Adel tenang dan menyusun rencana baru.
.
.
Sementara itu. Maya masih bersemayam di kamar Gavin. Menunggu pria itu keluar dari kamar mandi alih-alih pergi.
Maya melamun kalut memikirkan siapa wanita yang tadi menelepon Gavin?
Bagaimana kalau itu Adel? Astaga.
Maya membatin dengan wajah gelisah. Sampai akhirnya Gavin keluar kamar mandi dengan lilitan handuk.
"Maya! Kamu masih di sini?" Tanya Gavin bingung. Dirinya bergegas berbalik karena malu.
Maya tidak memperdulikan hal itu, ia bergegas meninggalkan sofa. Mendekati Gavin dengan wajah gugup.
Gavin panik dan meminta Maya menjauh. Tapi Maya mengelak.
"Gavin?" Maya terdiam sesaat. Seakan takut memberi tahu kelancangannya sudah mengangkat telepon tadi.
"Apa? Kalau tidak penting, keluar-
"Tadi aku tidak sengaja mengangkat telepon dari seseorang!"
"Itu bukan urusanku!" Gavin berpikir Maya memberi tau siapa yang menelepon ke ponsel milik si gadis.
Maya menggeleng. "Tidak, tidak. Maksudku, aku sudah lancang mengangkat panggilan dari hp kamu!"
Mata Gavin menyoroti Maya dingin. Apa lagi ponsel miliknya berada di tangan Maya.
Gavin merampas ponsel itu kesal. Lalu menarik tangan Maya menyeretnya keluar kamar.
"Gavin tunggu! Aku tidak bermaksud." Bela Maya Disaat tubuhnya terus di seret.
Gavin bergeming dan menghempaskan tubuh Maya, lalu menutup pintu tanpa membiarkan si gadis memberi penjelasan.
"Gavin Buka..Aku rasa itu istrimu!" Teriak Maya sambil menggedor-gedor kamar Gavin.
Gavin sendiri mendengar jelas ucapan Maya yang mana membuat wajahnya berseri. Dan segera mencari nomor yang baru saja menghubunginya.
"Syukurlah, Adelia." Gumam Gavin semangat. Setelahnya ia kembali menghubungi nomor yang memang itu milik Adel.
Nomor yang anda tuju tidak dapat di hubungi.
Dan suara itu terus terdengar. Lebih dari dua puluh kali Gavin mencoba suara yang sama terus terulang membuat Gavin terdiam lemas.
Tubuhnya yang masih terlilit handuk ambruk keatas kasur dengan terus mencoba menghubungi nomor Adel. Yang kita tau kartu SIM nya sudah Adel hancurkan karena amarah lagi-lagi menguasai Adel.
__ADS_1
Apa benar ini kamu? Setidaknya biarkan aku mendengar suaramu Adelia, aku ingin melihat anakku.
Batin Gavin putus asa.
.
.
Maya meninggalkan kamar Gavin. Ia baru saja menjelaskan kepada seluruh keluarga Gavin yang masih berkumpul.
Wajah mereka sedikit berbinar merasa ada setitik cahaya ketika Maya bercerita tentang siapa yang menelepon Gavin.
"Itu pertanda baik." Pikir Kakek Damar.
Semua mengangguk setuju.
"Mudah-mudahan, Adel mau kembali." Ucap lirih Tuan Paris. Yang lagi-lagi di jawab anggukan kepala dari semua keluarga termasuk Maya.
Maya mengangguk sambil menahan rasa takut dan bersalah. Dirinya merasa Adel Sudan salah mengartikan.
Aku ingin sekali bertemu dengan mu Adelia, dan mengatakan semuanya.
.
.
Malam datang. Gavin keluar kamar dengan wajah lesu dan lemas. Ia menuruni tangga untuk mengisi perut setelah pelayan membawa undangan seperti biasa. Perlakuan yang tidak asing untuk seorang tuan muda.
Kedua orangtuanya sudah menunggu di ruang makan bersama Kakek dan Nenek Dayanti.
Gavin menebar senyum datar dan berusaha kuat.
"Ayo makan Nak," Panggil Kakek Damar.
Gavin ikut bergabung, dan keluarga Abrisam mulai menyantap hidangan makan malam penuh tanya dari wajah keempat orang itu.
Selepas itu Gavin bersiap melangkah menaiki tangga untuk kembali ke kamar, tapi.
"Gavin, Apa Adel akan kembali?"
Gavin berbaik dan menatap sang ayah pun yang lainnya.
"Apa yang harus Gavin katakan! Maya sudah mengangkat telepon dari Adelia, dan mungkin dia menganggap kalau Gavin masih mencintainya. Itu sudah jelas. Adelia salah paham. Dan semua berkat mama!"
Kepala Nyonya Tari mendangah ketika Gavin mengatakan itu. Ia tau apa yang di maksud Gavin. Yang mana kalimat singkat penuh sesal terdengar pelan.
"Maafkan Mama, Sayang."
Mata keempatnya menatap kepergian Gavin dengan wajah murung. Tanpa bisa berfikir atau sekedar bersuara.
Gavin masuk kedalam kamar dan meraih ponsel. Ia menghidupkannya dan terdapat satu buah pesan dari Teo.
Gavin membukanya.
Hubungi aku sekarang.
Pesan singkat penuh tanya itu baru saja Gavin baca.
"Kenapa tidak dia saja yang menghubungi ku. Menyebalkan." gerutu Gavin ketus. Tapi dirinya mengikuti apa yang di minta Teo.
.
.
Teo sendiri menunggu Gavin menghubunginya dengan wajah yang jelas-jelas tidak bersahabat. Jantungnya berdetak kencang mengumpulkan keberanian dan kekuatan untuk menghadapi Gavin.
Aku harus mengatakan semuanya. Salah jika aku terus diam. Lagi pula, Adel pasti sudah menghubungi Gavin.
Dan Teo terus bergumam dalam hati sampai ponsel yang ada di depan matanya bergetar dengan nama Gavin di sana.
Tangan berkeringat itu meraih ponsel dan menggeser ikon hijau.
"Apa kamu baik-baik saja, Teo?"
Teo menghela napas dalam mendengar suara Gavin yang jelas itu adalah sebuah ejekan.
Setelah ini apa kamu masih mau memanggilku teman? Batin Teo bertanya mengabaikan Gavin yang terus bertanya.
"Gavin," Sapa Teo mantap.
"Ini masih sore. Aku tidak berselera untuk menemani kesedihan mu." ejek Gavin sambil melirik jam. Pukul 19 tepatnya.
"Kamu mungkin sudah mengetahui semuanya."
Teo terus berbicara yang sama sekali tidak di ketahui Gavin, apalagi menyebut nama sang istri dan juga putrinya. Satu titik keterangan tentang Adel dan sang buah hati sudah Gavin dengar dari Teo yang masih berbicara.
Gavin terdiam dan menatap jendela kamar yang disinari lampu taman membawa wajah dingin.
"Adel dan putrimu ada di Surabaya. Maaf, aku merahasiakan itu."
Tangan Gavin mengepal kuat dengan wajah memerah. Rahangnya mengeras mantap membiarkan otot persendian mengerang hebat.
__ADS_1
"Aku dan Noah beserta orang-orang kami sibuk mencari Adelia, dan kamu dengan sadar merahasiakan itu!"
Teo terdiam. Tidak sanggup memberi jawaban yang sudah pasti akan membuat Gavin semakin murka.
"Katakan, dimana dirimu sekarang?" Tanya Gavin datar.
"Aku ada di Jakarta."
Itu benar. Teo memutuskan untuk kembali ke Jakarta untuk menghindari Adel yang jelas-jelas, besok acara Aqiqahan Gina akan di langsungkan. Dirinya bahkan tidak berpamitan. Teo bahkan tidak memberi tahu Anandita kalau dirinya sudah di Jakarta. Rasa bersalah terlalu mendominasi jiwanya.
Ada dua orang yang harus Teo hadapi. Sang sahabat dan Sang calon istri.
Tanpa berpikir panjang Gavin berlari keluar kamar dan melewati semua keluarga yang tengah bersantai.
Dia ingin mati rupanya. Tidak ada alasan dirimu merahasiakan keberadaan istriku.
Mobil Gavin jalankan dengan kecepatan tinggi menerobos jalan yang masih ramai.
Sedangkan Teo bersandar lemas setelah sambungan itu terputus.
"Biarkan saja. Aku akan menghadapi mu.." Gumam Teo pasrah.
Di tengah kesendirian yang nyata, ponsel Teo kembali bergetar. Teo melirik.
Anandita rupanya.
Tak ingin membuang waktu Teo mengangkat panggilan itu.
"Kak." Suara manja Anandita mampu membuat Teo tersenyum ketir.
"Aku sudah kembali ke Jakarta!" Kata Teo, yang mana Anandita tidak mengajukan pertanyaan itu.
Aku sudah muak membohongi dirinya. Batin Teo penuh sesal.
"Apa?" Anandita nampak terkejut terdengar dari suaranya.
Teo mengangguk yang jelas-jelas tidak akan di lihat Anandita.
"Kemari-lah!"
"Tunggu aku Kak. Aku akan memberimu pelajaran." Goda Anandita sambil bersiap mempercantik diri.
.
.
Gavin sendiri bergegas keluar dari dalam mobil setelah ia sampai di Apartemen Teo. Kakinya berlari cepat dengan wajah murka.
Teo masih duduk di pantry berteman minuman enak kesukaannya. Menunggu kedatangan Gavin dengan resah gelisah.
Ting...tong....Ting... tong....
Teo menoleh cepat kearah suara Bel dan gedoran di pintu.
"Dia sudah sampai rupanya." Teo bergumam sambil berjalan gontai. Alkohol sudah membuatnya demikian.
Pintu Teo buka, dan seketika itu juga satu pukulan keras mengenai wajahnya.
Teo ambruk dan masih tetap diam di sana.
Gavin menginjak dada Teo penuh kemarahan.
"Kau bukan temanku lagi. Teo Tantala." Teriak Gavin. Lalu menarik baju Teo.
Teo tidak bisa melawan dan membiarkan Gavin memukul perut dan anggota tubuh lainnya.
"Brengsek. Kau menginginkan istriku rupanya!" Gavin berteriak lagi. sambil memukul Teo bak samsak saja.
Mendengar kalimat itu. Teo menjadi bertenaga. Ia membalas pukulan Gavin.
BUG...BUG...
"Merebut kamu Bilang! Gavin sadarlah. Kamu yang sudah merebut Dia dariku. Kamu tau itu?"
Dan Teo kembali memberi pukulan. Pukulan keras yang mengenai pelipis Gavin.
Gavin oleng. Lalu ia ambruk persisi seperti Teo ketika di hajarnya.
Dalam keadaan sedikit tidak sadar. Gavin menggeleng-geleng, 'kan kepala. Bayangannya menjadi kabur dan gelap. Otaknya memutar semua kejadian yang ada. Senyum wanita cantik dan rengekan ketika meminta di belikan buah lengkeng tiba-tiba saja datang.
"Adel, Adel." Gumam Gavin lemas.
Sedangkan Teo masih berdiri dengan menginjak dada sang sahabat, yang lagi-lagi persisi ketika Gavin menginjak tubuhnya.
Teo juga merasakan sakit dan pikirannya tidak baik. wajah keduanya lebam dan memar. Hingga ada darah segar dari keduanya.
Teo menarik napas dan menatap Gavin kosong.
"Aku mencintainya. Aku bahkan tidak sanggup memanggilnya istrimu. Aku memang sudah gila karena merahasiakan keberadaan Adel darimu dan Noah. Dia sudah menderita karena mu, Dia bahkan kehilangan satu Ginjalnya demi dirimu. Gavin Abrisam." Teriak Teo yang mana membuat Gavin terdiam disaat kesadarannya mulai kembali.
"Adel...Adel.." Gavin tidak bergeming, dirinya masih memanggil nama sang istri yang mana tengah termenung di kamar bersama putrinya Gina.
__ADS_1