
Gavin mendengarkan dengan seksama semua penjelasan dari Dokter Bagas dan semua keluarga tentang dirinya, yang terbaring koma 4bulan yang lalu. Yang mengakibatkan dirinya hilang ingatan.
"Kamu tidak bisa mengingat orang-orang yang kamu temui dalam waktu dua tahun terakhir, Gavin!" Akhir dari penjelasan Dokter Bagas.
Gavin mengangkat kepala yang terasa berat. Mensejajarkan pandangan kearah Dokter Bagas.
"Itu artinya, aku tidak mengingat Istriku sendiri?" wajah Gavin yang memang pucat semakin memucat ketika Kepala Dokter Bagas mengangguk.
"Astaga!" Gavin mengerang marah dan mengutuk diri. Mengusap wajahnya kasar. Setelahnya menatap semua keluarga termasuk Teo yang ada di samping.
"Apa aku memperlakukan Adel tidak baik?, Katakan?" Tuntut Gavin lantang.
Tak Ada yang menjawab semua diam membisu.
Gavin beralih menatap sang Mama yang tengah terisak di dalam dekapan Tuan Paris.
"Mama, katakan, apa Gavin menyakiti Adel, atau kalian masih menyiksanya?"
Pertanyaan itu membuat tangis Nyonya Tari semakin kencang.
"Tidak Gavin, kami tidak melakukan itu-
"Gavin mohon Kek, Gavin tau mereka semua pasti yang membuat Adel pergi. Dari awal kalian tidak pernah menginginkan keberadaannya di rumah kalian." Sela Gavin penuh amarah. menghakimi semua anggota keluarga Abrisam yang hanya diam dengan kepala menunduk berat.
Nathan yang juga ada di sana bersuara pelan.
"Maafkan Kami Gavin, kamu benar, semua yang kamu katakan benar."
Dokter Bagas yang ada di sana hanya diam dan mendengarkan tanpa bisa bersuara. Karena ini bukan bagiannya.
Anandita meringsek mundur karena takut melihat kemarahan Gavin yang terus mencecar semua anggota keluarga Abrisam.
Teo menolah kearah sang gadis. Dan Anandita berbisik.
"Dita ingin ke keluar Kak, Kak Gavin menyeramkan."
Teo mengangguk setuju.
"Kira-kira, di mana Adel Sekarang? Kasian Kak Gavin, bagaimana pun dia adalah korban. Begitu juga dengan Adel."
Mendengar celotehan Anandita membuat Teo termenung sambil menoleh kearah Gavin secepat kilat.
Aku melupakan itu.
"Gavin," Panggil Teo lantang.
Gavin menolah di ikuti semua keluarga termasuk Anandita dan Dokter Bagas.
Teo menatap satu persatu wajah semua orang terlebih Gavin yang masih menunggu dirinya bersuara.
"Aku tau dimana, Adel!"
Semua Mata melirik Teo curiga sekaligus bingung. Termasuk Anandita dan Gavin.
Anandita yang tadinya terdiam di belakang punggung Teo, kini melangkah maju melirik sang pacar penuh tanya.
__ADS_1
Gavin bersuara. "Katakan. Di mana istriku?"
Teo menelan ludahnya kasar. Keringat seakan mengalir bak air terjun, apalagi tatapan Anandita menambah ketakutan. Jiwanya seakan pergi, sudah tamat dan berakhir.
Bagaimana kalau mereka tidak menerima penjelasan ku? Tapi biarlah, ini sudah menjadi tanggung jawab ku.
Teo memantapkan hati. Kemudian bibirnya terbuka.
"Adel ada di Surabaya. Dia juga sudah melahirkan seorang bayi perempuan! Namanya Gina?" Jelas Teo mantap.
Wajah semua orang melongo dan terdiam membisu.
"Apa? Jadi, jadi selama ini kamu tau dimana keberadaan istriku?" Tanya Gavin lagi lemas.
Kepala Teo mengangguk.
"Waktu dimana aku pergi ke Surabaya, Aku mendapatkan telepon dari seseorang, aku berhasil menemukan Adel, dari seorang suster yang membantu Adel melahirkan."
"Dan kamu tidak memberi tahu, Gavin?" Sergah Nathan yang sudah ingin melayangkan satu pukulan di wajah Teo yang sudah memar itu.
"Waktu itu aku ingin memberi tahu kamu dan Noah. Tapi aku ingin menyakinkan bahwa informasi itu benar adanya." Teo membela diri. Menatap Gavin yang juga menatapnya penuh amarah.
Teo melanjutkan. "Aku hanya takut kalau suster itu berbohong. Tapi ternyata Benar. Adel ada di sana."
Dan Teo terus menceritakan semua kebenaran yang ada sambil melirik Anandita sesekali.
Semua keluarga terdiam lagi, tak bisa memberi pertanyaan ketika penjelasan Teo terdengar masuk akal. Pun dengan Gavin dan Anandita, mereka berdua ikut diam, keduanya hanyut dalam kebimbangan hati dan kegalauan yang seakan menggerogoti jiwa dan akal sehat.
Anandita yang tadinya ingin memarahi Teo bahkan dirinya ingin melayangkan satu tamparan, kini dirinya malah memeluk sang calon suami sambil berkata.
"Dita bangga sama kakak, Dita semakin mencintaimu kak."
Gavin sendiri masih diam membisu seakan sulit berpikir atau menatap Teo, walaupun hati dan akalnya meminta ia untuk memaafkan Teo.
semua keluarga dapat tersenyum lega karena penjelasan Teo sudah membuat kesalahpahaman berakhir.
Tuan Paris yang ada di sana mendekati Gavin, mengelus pundak Sang putra yang mana membuat Gavin menoleh ke arah sang ayah membawa wajah sendu.
"Bagaimana Gavin? apa sekarang Kamu masih membenci Teo? Sepertinya, apa yang dilakukan Teo adalah hal yang baik, setidaknya istrimu dan putrimu baik-baik saja." Jelas Tuan Paris.
Tuan Paris melanjutkan. "Yang bersalah atas semua ini adalah kami. Kami sudah membuat rumah tangga kamu dan istrimu hancur. Maafkan Papa, Mama dan Kakak-kakakmu Gavin."
Gavin terdiam lagi.
Nathan yang juga ada disana berjalan pelan mendekati Gavin. Tangannya mengelus pundak yang satunya sambil berkata.
"Gavin, mungkin berat untukmu menerima semua ini, kami disini tidak akan membuat kamu tertekan dan bimbang. lebih baik kamu istirahat besok pagi jemputlah istrimu dan juga putrimu, oke!"
Kevin hanya mengangguk pasrah. setelahnya dokter Bagas melangkah keluar ruangan meninggalkan Gavin dan semua keluarga Abrisam. kini giliran Teo dan Anandita yang maju mendekat.
Teo diam sejenak seakan sulit untuknya membuka mulut, tapi Anandita menatap sang calon suami sambil menganggukkan kepala seolah memberinya kekuatan. akhirnya Teo ikut mengangguk lalu ia berkata.
"Gavin, asal kamu tahu. Awalnya aku tidak ingin memberi tahu di mana Adel kepadamu dan semua orang, karena aku takut dia akan merasakan sakit dan terluka. Ditambah Kamu masih belum bisa mengingat dirinya, tapi dia dengan lantang meminta nomor telepon mu! awalnya aku menolak dan tidak ingin memberikan nomor telepon mu, tapi dia memaksa. Dia mengatakan ingin memperbaiki segalanya, dan aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi sampai kamu datang ke rumahku dan sekarang kita di rumah sakit." Jelas Teo.
"aku tidak ingin mendengar penjelasanmu lagi Teo, aku ingin istirahat. Tapi aku minta kepadamu beritahu aku alamat di mana Adel dan putriku berada, aku akan datang sendiri tanpa ditemani siapapun." setelahnya Gavin berbaring menutup mata yang tidak mengantuk itu. Jelas dirinya ingin menghindari Teo dan semua kenyataan pahit yang baru saja dirinya sadari.
__ADS_1
Teo dan Anandita mengerti. Keduanya berpamitan kepada Gavin dan semua keluarga membawa perasaan sedih yang berkelanjutan, karena sepertinya Gavin masih tidak menyukai apa yang telah dirinya lakukan. Rahasia di mana Adel berada membuat persahabatan keduanya semakin buruk.
.
.
Di perjalanan. Anandita terdiam pun dengan Teo, keduanya sama-sama memilih sibuk dengan kebimbangan hati sampai akhirnya mereka sampai di rumah Kakek Hendri.
Anandita keluar dari dalam mobil setelah mengecup bibir Teo, tapi sebelum kakinya menyentuh tanah tangannya ditarik oleh Teo. Anandita menoleh.
"maafkan aku!" kata Teo lemas. menatap nanar wajah Anandita yang nampak lemas dan sedikit pucat.
Anandita tersenyum datar dan mengangguk pelan, ia menyingkirkan tangan Teo yang tadi melingkar di tangannya.
"Sebenarnya, Dita juga merasa kecewa karena dalam 1 minggu terakhir Kakak pergi ke Surabaya dengan alasan pekerjaan yang sebenarnya hanya ingin menemui Adel. Tapi Dita tidak bisa egois kak, apapun yang terjadi apapun yang kakak lakukan Dita akan selalu mencintaimu kak, itu terserah Kakak. Kakak ingin menyebut Dita apa, Dita juga tidak tahu kenapa Dita seperti ini. Kenapa Dita seakan menutup mata setelah apa yang sudah Kakak lakukan terhadap Dita dan kak Gavin. mungkin Dita ini bodoh yang sudah buta akan cinta, tapi sekali lagi Dita katakan. Dita mencintai kakak, rasa cinta Dita terhadap kakak mungkin lebih besar daripada rasa cinta kakak terhadap Dita. Dan kembali lagi Dita katakan, Dita tidak peduli. ketahuilah Kak, seseorang yang saat ini bersama kamu adalah orang yang benar-benar menginginkan dirimu. Berhenti mengejar seorang yang bukan lagi milikmu, cintai Dita sayangi Dita seperti Dita mencintai dan menyayangi kakak, Dita tidak ingin ada penyesalan nantinya. Dita ingin kakak benar-benar mencintai Dita, Dan sebelum pernikahan kita langsungkan. lebih baik kita memperbaiki diri, dan menurut Dita. Kakak butuh Waktu, butuh waktu untuk mencintai Dita."
Penjelasan itu membuat Teo termenung bingung. Kata-kata yang di keluarkan oleh Anandita mengguncang batinnya.
"Kakak tidak tahu apa yang harus Kakak katakan, tapi yang jelas Kakak minta maaf, maaf karena sudah berbohong dan tidak jujur. Kakak akan memperbaiki segalanya dan-
"Dan Dita juga ingin mengatakan, lebih baik pernikahan ini kita tunda saja! Dita tidak ingin membuat Kakak semakin bingung dengan perasaan Kakak sendiri. Dita tidak ingin Kakak menyesal karena menikahi Dita, Dita tahu sampai saat ini ini Kakak masih mencintai Adel! walaupun Kakak berbohong tapi Dita tahu hati kakak tidak bisa melakukan itu. Kakak jangan khawatir Dita akan menjelaskan semuanya kepada kakek dan kakak Noah pun dengan semua anggota keluarga, bukan salah Kakak ini salah Dita, Dita yang memaksakan kehendak tanpa memikirkan perasaan orang lain, di sini Dita sudah memaksa kakak. Dita rasa inilah keputusan yang baik, kak."
mendengar semua kalimat yang lagi-lagi tidak berujung dari Anandita membuat tubuh Teo lemas tak berdaya, semua yang dikatakan Anandita benar adanya. Dirinya mungkin mencintai Anandita tapi perasaan cintanya lebih besar kepada Adel.
Tapi entah kenapa hatinya merasakan sakit ketika Anandita mengatakan itu, mengatakan bahwa pernikahan yang sudah di depan mata akan ditunda tanpa alasan yang jelas! Apa yang akan di katakan Noah dan semua keluarganya tentang dirinya, begitupun apa yang akan dikatakan oleh keluarganya sendiri tentang kabar pernikahan yang akan dibatalkan! tidak, tidak. Ini tidak boleh terjadi. pikir Teo.
Teo dengan mantap memeluk Anandita, mendekapnya erat. Sesekali mendaratkan kecupan di leher sang darah berharap Anandita akan luluh.
"Jangan lakukan itu. Aku tidak ingin pernikahan kita di batalkan." Bisik Teo sambil terus mengecup pundak Anandita penuh gairah.
Anandita menggeliat. Sedikit mendesah ketika kecupan mesra itu semakin dalam. Tak ingin terbuai Anandita mendorong tubuh Teo dengan napas yang memburu dari keduanya.
"Dua Minggu lagi. Pernikahan kita akan dilangsungkan, Dita harap Kakak sudah mencintai Dita." Setelahnya Anandita mengecup pipi Teo dan keluar mobil. Berlari masuk kedalam rumah tanpa menoleh kearah mobil Teo.
Teo bersandar lemas setelah Anandita pergi, dirinya memukul-mukul stir mobil.
"Bodoh, bodoh.. Kamu bodoh Teo, kamu bodoh." Erangan kemarahan Teo keluarkan, mengutuk perbuatannya yang sudah membuat Anandita dan Gavin menjadi sakit hati.
Maafkan aku. Aku sama sekali tidak bermaksud menyakiti kalian berdua, tapi bagaimana dengan hatiku? Aku yang tersakiti disini.
Anandita berlari masuk ke dalam kamar setelah melewati ruang tengah yang nampak kosong. Kesempatan baginya untuk melarikan diri.
Di kamar Anandita menjatuhkan diri keatas kasur, ia menangis di sana penuh kesedihan meratapi nasib cintanya bersama Teo laki-laki yang di anggapnya pria terbaik.
"Dita mencintaimu kak, Dita mencintaimu."
Malam itu, baik Teo, Anandita, Gavin dan Adel mendapatkan serangan cinta yang tidak pasti. Seolah mengatakan kalau mereka harus siap dikala kerapuhan datang.
Hujan pun datang. menemani malam mereka yang kelabu dan terhina. Terhina karena nasib si Panah cinta seakan tidak terarah pasti, membuat kegalauan melanda mereka.
Sungguh malang bukan kisah cinta mereka yang tragis itu!
Ke esoknya, Gavin sudah di perbolehkan pulang. Dirinya buru-buru naik pesawat untuk pergi ke Surabaya berniat menjemput Adel dan Putrinya setelah mendapatkan alamat yang di kirim Teo. Seperti keinginannya Gavin akan menjemput Adel dan Gina tanpa di temani siapapun termasuk keluarga.
"Tunggulah Adel, aku akan datang." Gumam Gavin semangat.
__ADS_1
Tuhan, persatuan kami kembali. Adel, tunggu aku."
Dan pesawat mulai mengudara, meninggalkan Bandara menuju kota Surabaya.