BIARKAN KAMI BAHAGIA

BIARKAN KAMI BAHAGIA
Hari Pernikahan


__ADS_3


Jakarta pagi ini nampak cerah. Secerah senyuman gadis cantik yang masih sibuk merapikan koper miliknya yang di bantu satu orang pelayan.


Anandita. Bersiap untuk berangkat ke Bali bersama anggota keluarga esok hari. Mengingat hari bahagia itu akan di langsungkan tiga hari yang akan datang.


Keesokan harinya..


Di ruang bawah Kasih dan Noah dengan sabar menunggu Anandita yang masih belum juga turun.


"Kemana Anandita, kenapa dia lama sekali?" Keluh Noah yang sudah pegal menunggu padahal dirinya anteng duduk dengan memainkan ponselnya.


Kasih menggelengkan kepalanya.


"Sabar, bentar lagi Dita turun."


Tak berselang lama Anandita keluar kamar. Ia berjalan bersama para pelayan yang sibuk membawa barang bawaan miliknya.


Noah dan Kasih saling tatap melihat barang yang di bawa Anandita.


"Kamu mau pindahan?" Ledek Noah tak percaya.


Kasih menutup mulut karena tak kuat menahan tawa.


Anandita menyempitkan kedua mata merasa kesal dengan godaan sang Kakak.


"Bawa ke mobil ya." Titah Anandita kepada si pelayan yang di jawab anggukan kepala darinya.


Setelahnya Anandita menghampiri kedua kakaknya yang masih menatapnya dengan ekspresi yang berbeda.


"Kenapa lama sekali? Kami hampir jamuran menunggu kamu turun." Keluh Noah.


Anandita tidak menggubris komplemen Noah, dirinya bergegas menarik tangan Kasih dan menyeretnya untuk pergi.


"Ayo kak, nanti kita terlambat." Katanya sambil melirik Noah.


"Eh, pelan-pelan Dita." Keluh Kasih yang mana tengah di seret Anandita meninggalkan ruang keluarga.


"Tunggu Kakak, Dita." Noah mengerang marah dan mengejar keduanya.


Pukul 9 pagi, keluarga Aditama meninggalkan Jakarta untuk bertandang ke Bali.


Di dalam pesawat...


Kakek Hendri yang duduk di samping Anandita merasa heran dengan wajah murung sang cucu. Padahal ketika berangkat wajah ceria nampak jelas di perlihatkan.


"Dita?"


Anandita terperanjat ketika tepukan lembut mendarat di pundaknya.


Anandita menoleh dan tersenyum.


"Ada apa, kek?" Tanya Anandita santai.


"Kamu kenapa? kok, melamun saja?" Balik tanya kakek Hendri.


Kepala dengan rambut di gerai itu menggeleng cepat. "Dita ga melamun." Elaknya.


Kali ini kepala Kakek Hendri yang mengangguk sambil mencubit pipi sang cucu.


"Kamu sudah tidak sabar ya ingin jadi istrinya Teo? Sabar, sebentar lagi kalian akan menjadi suami istri."


Anandita menjadi murung, matanya tiba-tiba berkaca-kaca seolah memendam perasaan lain. Yang mana membuat Kakek Hendri terheran.


"Kenapa sayang? Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Kakek Hendri sambil menariknya kedalam pelukan.


Anandita mulai menangis senyap. Merasakan pelukan sang Kakek.


"Dita sedih karena nanti Dita tidak akan bisa selalu menemani Kakek." Ucapnya lirih.


Kakek Hendri tersenyum getir dan mengelus punggung Anandita.


"Jangan khawatirkan Kakek, kakek tidak sendiri. Ada kakakmu yang siap merawat kakek."


"Nanti, Dita akan membujuk Kak Teo untuk tinggal bersama di rumah Kakek, Dita ga mau jauh dari kalian." Rengek si calon pengantin.


Pelukan haru itu berakhir. Kakek Hendri menggelengkan kepala sambil mengusap pipi Anandita.


"Dengar Dita, Seorang istri harus patuh kepada suaminya. Kamu harus menuruti apa yang di katakan suamimu nanti. Dengan catatan itu hal yang baik dan benar. Jangan katakan itu kepada Teo. Biarkan dia sendiri yang memutuskan. Lakukan tugasmu nanti sebagai istri dengan benar Nak. Ingat pesan Kakek."


Anandita mengangguk patuh dan kembali memeluk Kakek Hendri.


"Berbahagialah, Dita."


.

__ADS_1


.


Tiga hari terlewati..


Pernikahan yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba.


Gedung dengan ornamen serba biru nampak indah sejauh mata memandang.


Tempat acara pernikahan Anandita adalah gedung yang dulu di gunakan Noah dan Kasih melangsungkan penyatuan mereka sebagai suami istri. Dan sekarang Anandita kembali mengulang masa-masa indah untuk Noah, dan masa pahit bagi Kasih.


Itulah yang terjadi. Maka dari awal Kasih sedikit tidak setuju ketika Anandita memilih tempat itu. yang mana letaknya di tepi pantai. Tapi Kasih tidak punya hak untuk memberi penjelasan.


"Kakak, merasa bosan saja melihat tempat seperti itu." Alasan Kasih beberapa bulan yang lalu. Ketika mereka membicarakan tentang tempat mana yang akan di pilih.


Noah mengerti yang mana dirinya membawa Kasih kedalam kamar untuk menenangkan diri sang istri, dan juga memintanya untuk melupakan masa-masa kelam itu.


Tapi tak ada perselisihan di sana. Kasih dengan sadar mengerti walaupun batinnya masih merasakan trauma. Dan akan di simpannya rapat.


Aku hanya tidak ingin Anandita bernasib tidak baik seperti aku ketika kami menikah. Tapi rasanya itu tidak akan terjadi, Kakakku sangat mencintainya, Anandita tidak akan merasakan apa yang dulu aku rasakan.


Semoga...


Di dalam kamar hotel. Para pendamping sudah cantik dengan gaun berwarna merah. Gaun yang di pilih sang pengantin wanita untuk ke tiga temannya.


Anandita memboyong ketiga temannya yang bersedia datang dari Perancis untuk menemaninya. Sedangkan dua temannya yang ada di tanah air tidak bisa datang. Keduanya masih di tahan di negeri orang karena kuliah mereka tidak dapat di tunda. Anandita mengalah karena itu hal yang penting.


Anandita sendiri sudah nampak cantik dengan gaun putih bertudung panjang yang melekat di tubuhnya tingginya. Riasan di wajah berlipstik merah mudah membuatnya anggun dan berkelas. Beruntung sekali Teo mendapatkan dirinya.


"Kamu memang sudah cantik, Dita," Goda Kasih yang baru saja datang bersama Baby Ayres.


Melihat kedatangan Kasih dan sang keponakan membuat Anandita menoleh sedikit berlari untuk mengimbangi gaunnya.


"Astaga, Keponakanku, kamu tampan sekali." Pipi dan wajah Ayres di ciumnya gemas yang mana tanda lipstik hampir memenuhi wajah tampannya. Ayres tertawa girang merasakan geli.


Tapi Kasih segera mundur membawa Ayres. "Dita, Astaga." Keluhnya sambil mencari tisu basah.


Anandita malah tertawa dan kembali duduk di meja rias untuk memperbaiki bibirnya.


"Kakak Noah, mana Kak,?" Tanya Anandita yang tengah membenarkan dandanan oleh satu Perias.


Sambil membersihkan wajah Ayres Kasih menjawab. "Ada di kamar sebelah,"


"Bersama Kak Teo?" Tanya lagi untuk memastikan.


"Ya, bawel,"


.


.


Benar yang di katakan Kasih, Noah tengah berada didalam kamar yang mana ada Teo di sana seorang diri. Keluarga Tantala sudah bersiap di tempat acara meninggalkan Teo tanpa di temani siapapun.


Gavin sendiri masih dalam perjalanan setelah penerbangannya di tunda karena ada kesalahan yang tidak bisa di jelaskan. entahlah. Teo tidak perduli.


Itu bagus, dirinya tidak ingin mendapatkan ledekan atau candaan yang tidak penting dari suami Adel. wanita yang masih di cintainya!


Kedua sahabat yang sekarang menjadi keluarga itu duduk berhadapan dengan wajah datar. Tidak ada canda tawa atau gurauan seperti kamar sebelah. Keduanya nampak serius.


Sunyi sesaat. Teo dan Noah sama-sama diam tanpa ada yang ingin memulai percakapan.


Tak bisa terus seperti ini Noah bersuara.


"Pemberkatan beberapa menit lagi Teo! aku akan memberimu pesan sebagai Kakak dari calon istrimu bukan sahabatmu."


Teo melirik Noah sekilas sebelum ia kembali menatap asal.


"Apa itu?" Tanya Teo datar. Wajahnya dingin dan lesu tidak ada semangat di sana.


Noah menarik napas panjang dan kembali bersuara.


"Cintai adikku seperti kamu mencintai ibumu, perlakuan dia seperti seorang putri. Dia adalah adikku dari keluarga Aditama. Jangan kamu perlakukan buruk, ingat itu." Noah menatap Teo lekat dengan napas yang memburu. Noah tau siapa Teo. Jejak hidup dirinya sudah di saksikan dan di lihat tanpa mengenal waktu. Baik buruknya pria di depan matanya Noah ingat selalu.


Tapi sekarang pria bejat seperti dirinya akan menjadi suami Anandita, orang satu-satunya yang mampu membuat Noah kuat sampai saat ini.


"Kamu camkan itu, Teo." Kembali Noah bersuara dengan nada ancaman.


Teo menyeringai. "Itu bukan pesan Noah, Itu ancaman."


Noah berdiri. "Aku tidak perduli kamu menyebutnya apa. Aku hanya ingin kamu menjaga adikku dan jangan membuatnya terluka."


Setelahnya Noah melangkah pergi. Keluar kamar hotel membawa wajah datar.


Teo merebahkan tubuhnya ke belakang Sofa. Menghela napas berat dengan mata terpejam.


Aku mencintaimu Anandita. Aku akan terus mengatakan itu. agar namamu benar-benar menggantikan namanya di hatiku.

__ADS_1


"Maafkan aku Dita, tapi dirinya masih belum bisa pergi dari hatiku. Mungkin kemarin aku hanya terbuai oleh cintamu!" Gumam Teo lirih.


Teo memperlihatkan wajah murung dan bingung. Menatap jam di tangan yang terus berputar cepat.


Tok...tok...tok..


Mata sayu Teo melirik pintu yang di ketuk. Dan mulai terbuka.


"Maaf, aku terlambat."


Teo menghela napas. kembali menutup mata merasa jengah melihat laki-laki yang tengah berjalan menghampiri.


Untuk apa kamu datang kalau kamu tidak bersamanya.


"Ayo Teo, kamu tidak ingin Anandita yang menyambut mu di altar, bukan?"


Teo membuka mata dan tanpa bersuara ia beranjak bangun. Merapihkan jasnya dan tatanan rambut yang sedikit berantakan.


"Tampan." Goda Gavin sambil menyeret tubuh gagah Teo yang sudah tampan dengan balutan jas berwarna hitam.


.


.


"Kalian sudah sah menjadi pasangan suami istri. Tuan Teo, silakan cium istri Anda."


Titah pak pendeta yang baru saja menyatukan Teo dan Anandita sebagai suami istri itu lantang dan tulus.


Teo dengan berani melangkah maju. Perlahan membuka tudung panjang yang menutupi wajah Anandita pelan.


Anandita tersenyum malu ketika tudung putih Teo singkirkan.


"Kak," Sapa Anandita lembut.


Teo tak memberi jawaban dirinya langsung mengecup bibir Anandita.


Cup..


Anandita menerima mau,


Keluarga dari kedua pengantin tertawa dan sebagian memalingkan wajah ketika adegan itu berlangsung termasuk Noah dan Kasih. Bukan tidak suka. Tapi rasa malu yang lebih besar walaupun itu hal yang biasa. Dulu keduanya melakukan hal yang sama.


Tapi melihat orang lain berciuman di depan mata secara langsung rasanya canggung dan tidak nyaman.


Pun dengan Teo yang baru saja menyudahi ciuman singkat itu.


Wajahnya terlihat dingin dan memerah menahan malu dan marah. Beruntung di sana tidak ada Adel. Jadi Teo dapat tersenyum lega tanpa memikirkan Anandita yang masih malu-malu setelah di ciumnya.


ini sangat memalukan. Batin Teo marah dan terus tersenyum kearah Anandita.


.


.


Malam harinya.


Pasangan pengantin baru itu masuk kedalam kamar yang sudah di siapkan.


Teo merebahkan tubuh di atas kasur yang terasa empuk dengan masih memakai jas hitam itu. Melepaskan lelah yang sedari pagi di rasa.


Sedangkan Anandita nampak baru keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri dan berganti baju.


Teo tidak memperdulikan gerakan kasur yang di sebabkan Anandita. Ia memilih menutup mata merasakan pegal dan kantuk.


Anandita seperti kebanyakan pengantin. Malu-malu ketika mendekati ranjang dimana sang suami berada.


Pelan-pelan Anandita mengelus pipi Teo.


"Kamu capek?" Tanya Anandita lembut.


"Aku lelah Dita, apa tidak apa-apa kalau malam ini kita lewatkan malam pertama kita?" Seru Teo lemas.


"Tidak apa-apa, aku juga lelah kak." Jawab Anandita pasrah.


Sedikit kecupan di kening Teo mendarat hangat.


"Selamat malam, kak."


Setelahnya Anandita merebahkan tubuh. Menarik selimut dengan pelan. Lalu berbalik dan mulai menutup mata.


Hingga buliran bening keluar.


Mudah-mudahan, besok kamu sudah mau menatapku sebagai istri.


Diam-diam Teo berbalik, menatap kosong sang istri yang ada di samping dengan membelakanginya.

__ADS_1


Maafkan aku, Dita.


__ADS_2