BIARKAN KAMI BAHAGIA

BIARKAN KAMI BAHAGIA
Serangan Berujung Rasa Benci


__ADS_3

Matahari perlahan mulai meredup. Meninggalkan singgah sananya dengan damai.


Pukul Lima sore Pesawat yang membawa Teo dan Anandita tiba di Surabaya. Keduanya berjalan bersama menuju mobil yang sudah di siapkan untuk menyambut kedatangan pasangan suami istri itu. Orang kepercayaan Teo yang di tugaskan untuk mempersiapkan segala sesuatu. Seperti tempat tinggal dan penjemputan seperti sekarang ini.


"Selamat datang Tuan Teo, Nona." Sapa si pria tua dengan senyum ramahnya. Berdiri di samping pintu mobil untuk menyambut Teo dan Anandita.


"Terimakasih, pak." Teo bergegas masuk di ikuti Anandita yang sedari tadi memilih diam.


Setelah keduanya masuk. Mobil mulai berjalan pelan meninggalkan Bandara menuju tempat tinggal baru mereka.


Anandita bersandar untuk mengistirahatkan tubuh yang terasa lelah. Membiarkan Teo yang ada di samping menatapnya.


"Kamu lelah?" Tanya Teo khawatir. Dia tau siapa Anandita. Gadis cantik yang sedari kecil di manjakan dengan segala kemewahan dan kenyamanan. Sekarang dia menjadi seorang istri. Dalam benak Teo, apa Anandita bisa menjadi istri yang baik. Dengan tanggung jawab yang belum pernah dirasakan olehnya.


Anandita mengangguk sebagai jawaban. Matanya masih rapat terpejam tanpa ingin melihat Teo.


"Apa kamu terpaksa ikut aku pindah?" Tanya Teo lagi. merasakan perasaan jengkel ketika melihat wajah tidak semangat dari sang istri.


Mendapatkan pertanyaan itu, Anandita terpaksa membuka mata. Menoleh ke arah Teo yang masih menatapnya datar.


Alih-alih memberi pertanyaan lain. Anandita malah tersenyum berbarengan dengan gelengan kepala.


"Dita senang bisa ikut. Memangnya kenapa aku harus terpaksa. Sekarang, kita sudah menikah."


Teo mengangguk setelahnya. Lalu keduanya kembali diam tanpa ingin berbicara atau sekedar basa-basi membahas hunian yang entah di mana letak dan seperti apa bentuknya. Untuk mengagumi keindahan jalan saja keduanya enggan melakukan itu. Teo dan Anandita memilih diam seperti orang asing yang terpaksa harus satu mobil.


Anandita kembali bersandar malas menatap pemandangan di luar jendela mobil dengan wajah datar. Sedangkan Teo sibuk mengotak-atik ponselnya.


Menarik napas panjang sudah tak lagi terhitung jumlahnya. Keheningan dan rasa jenuh sedari di pesawat sudah menjadi teman kedua pasangan suami istri itu. Terdiam terasa lebih nyaman di bandingkan harus bersuara dengan perasaan tidak bahagia.


Anandita membuka mata di sela tidur lelahnya. Melirik Teo yang ada di samping dengan mata setengah mengantuk.


"Kita makan dulu," Seru Teo, membuka pintu lalu keluar tanpa menunggu Anandita.


Anandita lemas mengangguk lagi. Melepas sabuk pengaman dan keluar mobil menyeret tubuh mengikuti langkah Teo.


Restoran yang ada di sebrang jalan menjadi tujuan keduanya untuk mengisi perut yang sebenarnya tidak terlalu lapar.


Keduanya duduk saling berhadapan. Menunggu kedatangan pelayanan yang akan membawa pesanan mereka.


Langit benar-benar sudah gelap. Beruntung lampu jalan dan riuhnya kendaraan membuat malam tidak terlihat kelabu. Nampak ramai dan menyenangkan.


"Sudah Kakak hubungi orang rumah?" Tanya Anandita.


Teo mengangguk. "Sudah."


Anandita ikut mengangguk.


"Kak, tempat tinggal kita masih jauh?" Kembali Anandita melemparkan pertanyaan yang sedari tadi di tahan. Ia masih belum bisa membuka suara ketika Teo sibuk dengan ponselnya.


"Sekitar 10 atau 15 menit lagi." Sahut Teo singkat.


"Apartemen atau rumah, Kak?"


Teo menghela napas panjang melirik Anandita kesal. "Aku bahkan belum selesai minum, Dita,"


Anandita mengangguk patuh. "Maaf."


Dalam keheningan Makan malam datang.


"Silakan Tuan, Nona." Si pelayan meletakan nampan berisi pesanan berbagai macam yang ada dalam daftar pesanan Teo dan Anandita.


"Terimakasih." Seru Anandita yang mana menatap lapar semua hidangan di atas meja.


"Makanlah." Titah Teo yang langsung di jawab anggukan kecil dari Anandita.

__ADS_1


Keduanya menyantap makanan dengan lahap. Mengkhianati perutnya yang sedari tadi tak kunjung lapar.


Mobil kembali berjalan membelah jalan kota Surabaya yang begitu menawan. Suara lantunan lagu dari pengamen dan kepungan asap dari berbagai makanan mengihasi perjalanan mereka.


Mobil berbelok kearah gerbang dengan tulisan.


PAKUWON CITY...


Sampai akhirnya, mobil masuk ke dalam hunian yang tidak asing. Tidak asing karena begitu tentram dan damai. tanaman berbagai macam berjajar dengan rapi dan tertata baik. Begitu moderen dan minimalis. Bagi Anandita itu bukan sesuatu yang luar biasa. Pemandangan yang lumrah baginya.


Ingat dirinya adalah anak bungsu dari keluarga kaya raya.


Mobil di buka. Anandita dan Teo turun bersama. Menatap lekat bangunan yang ada di depan mata. Menjelajah setiap inci bangunan dengan mata lelah meraka.


"Kamu masuk. Aku akan menghubungi Papa dan Noah." Seru Teo yang langsung berjalan pergi tanpa menunggu Anandita memberi respon anggukan.


"Mari, Nona," Ajak si pria tua yang sedari tadi menemani mereka dari bandara.


Anandita mengangguk patuh. Berjalan mengikuti langkah kaki si pria tua sambil melirik Teo yang sibuk menghubungi keluarga yang ada di Jakarta tanpa melibatkan dirinya.


Diam-diam Teo melirik kepergian sang istri yang masuk kedalam rumah dengan wajah datar.


Aku berharap di sini aku bisa lebih baik memperlakukan kamu.


.


.


"Saya permisi, Nona," Pamit si pria tua itu sambil membungkuk. Setelah mengantarkan Anandita masuk bersama dengan rentetan koper milik dirinya dan Teo.


"Terimakasih. Pak," Sahut Anandita yang masih menjelajahi area dalam rumah berlantai dua itu lekat.


"Nama saya, Agam, Nona."


"Baik, Pak Agam." Katanya sambil tersenyum ramah.


Pria tua bernama Agam itu undur diri dan keluar rumah. Meninggalkan Anandita seorang diri.


"Terlihat nyaman." Gumam Anandita. Merasa puas melihat setiap sudut rumah barunya.


Teo masuk kedalam rumah. Membuat Anandita berbaik dan berlari menghampiri.


Hap.. Anandita melayangkan pelukan.


"Rumahnya bagus kak, Dita suka."


Pelukan semakin erat membuat Teo terpaku bingung. Wajahnya nampak jelas tidak nyaman.


"Dita, lepaskan." pinta Teo pelan.


Anandita mengangkat kepala. Menatap nanar wajah dingin Teo. Dan ia berjinjit untuk meraih bibir sang suami.


Mata Teo terbelalak ketika Anandita mendaratkan ciuman di bibirnya. Terasa nyata dan hangat. Bukannya menolak, Teo membiarkan sang istri melakukan itu. Insting lelakinya terpacu. tangan yang sedari tadi kaku di pinggir. Kini dengan malu-malu ia sisipan di area pinggul ramping Anandita.


Di sana keduanya berciuman. Teo dan Anandita hanyut dalam suasana yang intim. Perlahan-lahan Teo mulai menyusuri leher Anandita. Membuat erangan penuh kenikmatan manggema indah.


Aktivitas yang tidak disangka menjadi sambutan dari keduanya.


Teo mendorong tubuh Anandita ke arah sofa membaringkannya di sana. Kembali menjelajahi tubuh Anandita yang mana di bagian atas sudah berantakan akibat sapuan bibir Teo.


...Ini adalah pengalaman pertama mereka setelah dua bulan lamanya menikah tanpa ada malam pertama, selayaknya pasangan pengantin baru....


..."Ternyata, kamu ingin aku yang memulai. Kak."...


...Decit Anandita di sela aktivitas panas mereka....

__ADS_1


Mendengar itu, Teo mengangkat kepala. Menjauh dari tubuh setengah telanjang Anandita.


Teo mengusap wajahnya yang memerah. Seolah sudah membuat kesalahan.


"Maaf, Kakak minta maaf." Ucap Teo pelan.


Anandita yang masih di posisi itu berkaca-kaca. Setelahnya menutup wajah dengan kedua tangan. Menangis di sana penuh kesedihan.


Melihat itu Teo sedikit membungkuk. Dengan berani membetulkan baju Anandita yang sedikit berantakan akibat ulahnya.


Anandita menepis tangan Teo.


"Kamu jahat kak, kamu jahat."


Anandita mendorong Teo. Lalu ia menaiki tangga tanpa tau kamar mana yang akan menjadi tempat dirinya beristirahat.


Teo sendiri menatap kepergian Anandita dengan wajah sendu.


"Astaga Teo. Apa yang kamu pikirkan, huh." Teo mengutuk dirinya dengan remasan di rambut tanpa ingin mengejar Anandita.


Malam itu semua kacau. Apa yang di inginkan Anandita seakan menjadi momok menakutkan. Sang suami masih belum bisa membuka hati untuknya. Yang tersisa hanya rasa malu. Tautan keduanya seperti luka yang kembali tercipta.


.


.


Pagi datang...


Anandita dan Teo tidur terpisah.


Setelah kejadian itu Teo memilih tidur di lantai bawah, di sofa ia menutup mata. Sebenarnya semalam Teo tidak dapat menutup mata. Ia masih merasa bingung dan bersalah setelah apa yang terjadi.


Mata terjaganya terus melirik tangga. berharap Anandita akan keluar sekedar untuk minum misalnya. Tapi semalaman Teo menunggu Anandita tak kunjung keluar kamar. Sampai pagi datang dan Teo membuka mata.


Pukul 6 pagi Teo terjaga. Ia perlahan bangun dan meregangkan otot-otot tubuh yang terasa kaku. Semalaman tubuh tingginya harus di tekuk mengikuti lebarnya sofa. Jelas pagi datang rasa pegal menyambut. Padahal di rumah baru itu ada tiga kamar yang letaknya ada di lantai atas. Tapi Teo enggan menaiki tangga takut akan Anandita.


Hari ini tidak ada kegiatan. Besok lusa Teo akan menyambangi kantor barunya dan mungkin nanti akan ada peresmian untuk memperlancar pekerjaan. Berupa Syukuran untuk mengucap syukur atas pembukaan kantor barunya.


Langkah Teo nampak pelan. Menatap lekat setiap sudut rumah yang sepi. Anandita mungkin masih tidur atau enggan keluar kamar. Entahlah Teo tidak tau.


Kakinya membawa Teo ke arah lain rumah bergaya modern itu. Alat olahraga menjadi tujuan. Teo membuka pintu kaca lalu masukan kedalam. Menyalakan Ace dan berdiri sesaat memindai setiap alat kebugaran yang memang sudah di siapkan pengurus rumah. Yang tidak lain adalah permintaan Teo sendiri.


Teo suka Gym, salah satu olahraga kegemaran laki-laki tampan yang sebentar lagi menginjak usia 32 tahun. Bersama kedua sahabatnya Teo suka melakukan olahraga berat itu. Selain pergi ke Club pastinya.


Body Weight Traning Station


Menjadi pilihan Teo. Salah satu alat yang dapat membantu mengecilkan perut salah satunya badan sixpack yang saat ini Teo miliki.


Alat baru itu Teo duduki. Mulai menggerakkan alat berat itu tanpa pemanasan. Tatapan menjadi lebih serius. Tajam dan sangar itu yang Teo tunjukkan.



Dalam benaknya Teo bergumam.


Lupakan Adel, Lupakan Adel. Aku mencintaimu Anandita aku mencintaimu..


Anandita sendiri masih betah terlelap di dalam kamar tanpa berniat membuka mata.


Semalam ketika ia menangis Anandita bergumam lirih.


"Kalau terus seperti ini. Apa yang akan terjadi? Haruskan aku melupakan cintaku dan membuangnya? Terlalu sakit untuk terus melihat kamu yang sekarang, Anandita, haruskah cinta ini kamu lepaskan?"


.


.

__ADS_1


__ADS_2