
Pukul 4 subuh mata Adel mengerjab menguceknya sesekali menguap manja ketika rasa kantuk masih tersisa. ia memiringkan badan lalu bangun sedikit menoleh kearah samping dimana ada satu sosok manusia yang tengah berkulai di dalam hangatnya selimut...
Adel menyungsingkan senyuman manakala sebuah tangan melingkar diatas perutnya memintanya untuk tidak beranjak pergi. awalnya mungkin terasa canggung tapi sekarang dirinya sudah terbiasa.
Lantunan sholawat menggema jelas menyentak kalbu. hingga suara kumandang Azan terdengar menandakan shalat subuh sudah tiba, Adel menyingkirkan tangan Gavin lalu membungkuk di tempatnya.
Tangan dengan baju tidur panjang itu mulai mengusap-usap pipi Gavin.
"Bangun sudah subuh, kamu harus segera kembali." Bisiknya sedikit menarik lembut anak rambut yang menutupi telinga Gavin.
Gavin mulai menggerakan badan menggeliat malas yang mana Adel bergebas beranjak meninggalkan ranjang berniat keluar untuk membersihkan diri. tapi suara Gavin berhasil membuatnya berhenti membuka pegangan pintu.
"Bisakah aku tinggal lebih lama?" Ujar Gavin yang masih terlentang bebas di atas ranjang mungil itu. menatap punggung sang istri dengan tatapan kabur.
Adel menggela napas berat ketika permintaan itu terucap lirih. bibirnya menggulum rapat berbarengan dengan debaran jantung yang mana membuat tubuhnya lemas seketika.
Kenapa tiba-tiba. kenapa dia ingin tinggal lebih lama.
Tanyanya dalam hati. sedikit meremas pegangan pintu tanpa tau harus menjawab apa?
"Bisakah?" Gavin kembali bersuara meminta jawaban di tempatnya.
"Tidak bisa." Adel menjawab yakin menutup mata setelahnya.
Aku masih belum mengerti dengan keadaan ini. Batinnya kembali bergumam.
"Kenapa tidak bisa?" Tanya Gavin kesal, tangannya menyibak selimut lalu berjalan menghampiri sang istri memeluknya dari belakang. menghirup aroma tubuhnya yang amat memabukan hujanan kecupan Adel rasakan di atas kepala dan hangatnya tubuh tinggi itu.
"Ini sudah dua bulan, kamu bahkan tidak membiarkan aku menyentuhmu." Katanya sedih dibalik tubuh mungil itu. menahan hasrat yang memuncah meminta di salurkan.
Ranjang kecil itu sekarang memang sudah menjadi tempat mereka menyatukan kepingan cinta. berusaha menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya. tapi sampai detik ini Gavin tidak bisa masuk lebih dalam! awalnya mungkin ingin mendapatkan maaf menebus kesalahan tapi jiwa lelakinya meminta lebih.
Setiap malam Gavin harus bisa menahan hasrat ketika melihat indahnya dan aroma tubuh sang istri. tersiksa berat dia di buatnya berusaha berpikir jernih tanpa ingin memaksa.
Terhitung dua bulan Gavin bersabar menunggu sang istri merelakan dirinya untuk bercinta bersama. Gavin bisa saja bermain di luar sana seperti bisa tapi dirinya tidak ingin melakukan aktifitas kotor itu lagi. bersama Adel Gavin berusaha untuk tobat walupun Godaan terasa amat berat.
Adel mematung di buatnya ada perasaan takut ketika Gavin mengecup tubuh belakangnya. apalagi ada benjolan mantap di sana! ingin berbalik dan memberi tamparan atas kelancangan sang suami tapi hatinya melarang kuat seolah menyadarkan siapa si pemilik tubuh yang masih betah memeluknya itu.
"Beri aku waktu?" Decit Adel yang tengah menahan terjangan rasa gairah, dirinya tidak munafik ketika Gavin memberinya signal, tapi masa lalu seakan menjadi penghalang.
"Sampai kapan, huh?" Tanya Gavin dengan suara parau, jiwa lelakinya tidak bisa lagi menahan. ingin segera membawa tubuh Adel ke atas ranjang melucuti pakaiannya dan melahapnya puas.
Tubuh Adel bergetar hebat tangan Gavin lihai sekali membuatnya terkulai nikmat. dua gundukan daging tengah di mainkannya sambil mengecup serakah belakang leher sang istri.
"Aku mohon biarkan aku diam lebih lama." Bisik Gavin yang terus membujuk Adel untuk mengangguk agar dirinya bisa beraksi segera.
Batin Adel berbicara banyak, mengalah atau bertahan. memintanya untuk mengiyakan.
"Berhenti!" Pinta Adel tegas, sembari mengatur napas yang tersengkal hebat.
Gavin menghentikan aktifitas kedua tangannya. lalu berjalan mundur untuk memberi jarak, tanpa bersuara kepalanya menunduk malu karena sang istri sudah menolak ajakannya.
Kemudian Gavin berbalik berjalan kearah ranjang memungut pakaiannya memakainya gusar. sedangkan Adel masih berdiri kokoh di tempatnya membiarkan bajunya yang sedikit tersingkap akibat ulah sang suami.
Ya Allah apakah aku berdosa? haruskah aku mengalah.
Adel bergulat hebat dengan batinnya merenung dengan segala kejadian yang pernah terjadi. sampai ia tersadar ketika Gavin membuka pegangan pintu kamar.
Adel mematung kaku menyingkirkan tangannya dan menatap Gavin yang siap keluar rumah membawa wajah dingin.
"Ma-
__ADS_1
"Maaf kalau Aku sudah melampui batas." Seru Gavin datar. lalu berjalan cepat memutar kunci.
"Maksudku, Tunggu aku Shalat subuh dulu." Replek Adel bersuara cukup kencang.
Gavin berhenti melangkah berbalik cepat menyoroti manik sang istri.
"Jadi kamu mau?" Tanya Gavin tenang dirinya tidak ingin salah paham dan membuat hatinya sakit lagi.
Adel mengangguk malu. " Tunggu aku Shalat subuh dulu."
Gavin menjawab. "Aku akan menunggu di kamar."
Kakinya melangkah pasti tersenyum bahagia membawa hasrat yang kembali datang. Adel sendiri pergi ke dapur untuk membersihkan diri sembari berdoa atas keputusan yang baru saja di ambil.
Bagaimanapun masa lalunya dia tetap suamiku. Ya Allah semoga aku tidak salah mengambil keputusan ini.
Di saat Adel tertekan dengan keputusannya. Gavin malah bersorak girang, dirinya sibuk sendiri merapihkan kamar sedikit meregangkan otot dan melatih gerakan yang tidak pantas untuk di saksikan.
"Pagi ini akan menjadi sejarah lainnya." Katanya dengan tawa cekikikan, berbaring setelahnya menunggu sang istri yang masih belum terlihat.
Adel menyelesaikan shalat subuhnya dengan bergulatan batin apalagi melihat Gavin yang tengah terlentang diatas kasur sembari memandanginya.
Melihat itu Gavin semakin bersemangat. dirinya menyibak selimut agar Adel segera masuk, sontak saja Adel menjadi gugup ia menelan ludah kasar ketika Gavin memintanya segera mendekat.
"Ayo." Pinta Gavin dengan tatapan mesum.
Adel mengangguk patuh. "Aku matikan dulu lampunya."
"Lakukan kalau itu bisa membuatmu nyaman."
Adel berjalan kearah stopkontak berada. lalu mematikanya dan berjalan kearah ranjang membawa tubuh yang bergetar karena takut.
Kenapa aku jadi takut begini, Adel tenang, ini bahkan bukan hal yang asing. jadi tenang dan biarkan saja.
Aktifitas memadu kasih dimulai.
Adel pasrah ketika Gavin menguasainya decitan suara kenikmatan terdengar. sebelum itu Adel berbisik.
"Pelan-pelan." katanya disaat suara desahan lebih mendominasi.
Gavin menjawab dengan anggukan kepala. dirinya sibuk berwisata menjelajahi tubuh polos Adel yang amat memabukan sampai rintihan dari keduanya terdengar.
Di bawah kungkungan sang suami Adel mendesah hebat. memejamkan mata merasakan sakit bercampur nikmat menjalar seolah mencabik tubuhnya.
Gavin nampak lihai memainkan perannya mengecup bibir dan permukaan kulit putih Adel, dua gundukan daging yang terasa kenyal menjadi sasaran Gavin, tapi tiba-tiba saja otaknya memutar perbuatan bejatnya ketika menggauli sang istri yang mana ia mengurangi ritme laju kenikmatan.
Adel membuka mata menatap wajah Gavin yang tersoroti lampu teras. "Ada apa?"
"Apa kamu tau?" Gavin balik bertanya.
"Tidak, aku tidak tau." Adel mengusap wajah Gavin yang terasa basah akibat peluh.
"Di Surabaya." Ucapnya pelan lalu menghantikan gerakan maju-mundurnya.
Gavin melanjutkan. "Maafkan aku, karena aku kamu menderita."
Keadaan seketika berubah keintiman yang tadi terasa kini berganti cepat, kesedihan Adel kembali menguasi. buliran bening datang siap meluncur bebas.
Penyesalan Gavin membuatnya malu kejadian yang saat ini berlangsung seolah menjadi cambuk baginya. yang mana Gavin mendekati wajah Adel lalu mengecup kening basah itu.
"Maaf, aku tidak akan melakukan ini lagi. aku akan menunggu sampai kamu siap." Lalu Gavin menatap Adel yang tengah menangis tenang, dirinya mundur siap melepaskan penyatuan tetapi Adel mencegah. "Aku sudah siap, Mas Gavin."
__ADS_1
Mas.
kata itu kembali terucap setelah sekian lama. Gavin diam untuk beberapa saat merasa terharu dengan panggilan itu.
Adel melanjutkan sambil menahan isak tangis. "Aku ingin melupakan kejadian itu sungguh, aku siap hidup bersamamu walupun aku tau ini juga tidak mudah bagimu. aku juga minta maaf karena tidak memberimu kesempatan."
Senyum Gavin merekah lalu memeluk Adel erat melanjutkan aktifiasnya perlahan.
" Terimakasih, aku berjanji akan menjaga kalian berdua." katanya seraya mengusap pipi Adel yang basah karena air mata.
Adel mengangguk dan membiarkan Gavin kembali berkuasa. keduanya melanjutkan olahraga pagi itu dengan perasaan bahagia melupakan waktu yang terus berjalan.
Di luar rumah kecil itu. Bi Muji mengendap-ngendap melihat sekitar wajahnya nampak ketakutan ketika sang tuan muda tak kunjung masuk kerumah utama.
"Apa mereka kesiangan? astaga Den Gavin, bagaimana kalau ketahuan Nyonya besar." Gumam Bi Muji yang siap membuka pegangan pintu. tidak ada waktu untuk mengetuk ketika sang surya siap menyapa.
Ajaib pintu itu tidak di kunci yang mana Bi Muji segera masuk dan berjalan cepat tepatnya berlari kearah kamar milik Adelia.
Mengetuknya pelan untuk menjaga kesopanan padahal lihat dimana dirinya berdiri?
Ketukan sebanyak tiga kali menghentak pelan. dengan raut wajah ketakutan Bi Muji si pelayan.
"Den Gavin, Non Adel, ini Bbi. Bangun Den."
Tidak ada jawaban. Bi Muji memberanikan diri mendekatkan telinganya ke depan permukaan pintu yang mana terdengar suara.
Ah...ah...
"Astaga, Tuhan." Seru Bi Muji panik. ia bergegas keluar rumah menutupnya perlahan. lalu wanita tua itu bergumam dengan napas memburu.
"Bagaimana ini. kegiatan mereka tidak akan cepat berakhir, sementara waktu terus berjalan. Den Gavin kenapa Den menyiksa bibi."
Penderitaan Bi Buji di mulai. menunggu mereka selesai berlayar di pagi hari dan mengukur waktu yang semakin mencekik.
Mudah-mudahan Nyonya besar tidak bangun.
Doa Bi Muji seakan tidak berarti ketika langkah kaki sang Nyonya besar terdengar menuruni anak tangga.
Nyonya Tari yang masih mengenakan piamanya duduk anggun di ruang keluarga bersama seorang pria yang tidak lain kepala pelayan.
Pria berusia lanjut itu tidak merasa kebingungan ketika pagi-pagi buta dirinya di minta menghadap, pasti akan ada pembicaraan penting.
"Nyonya memanggil saya?" Tanya si kepala pelayan sopan.
"Iya Pak, Ada hal penting yang ingin saya sampaikan." ucap Nyonya Tari.
"Baik Nyonya." Jawab si pelayan sopan.
"Saya dan keluarga akan pergi ke Singapura selama satu minggu. jadi saya ingin keamanan di perketat. mengerti?" Mata tajam Nyonya Tari menyoroti si pelayan.
"Baik Nyonya, saya akan mengingat itu."
Nyonya Tari melanjutkan. "Dan lagi, awasi wanita itu jangan sampai dia berbuat macam-macam."
Kepala si pelayan mengangguk patuh berusaha tenang ketika rupiah menyumbat kejujurannya.
Saya merasa apa yang saya lakukan dan teman-teman yang lain adalah hal yang benar.
"Sekarang panggil Gavin." Pintanya tegas, menatap si pelayan yang masih berdiri dengan tatapan Kosong.
Sontak suara Nyonya Tari memekik jatam.
__ADS_1
"Panggil Gavin sekarang!" Teriakan itu menyadarkan si pelayan.
"Baik Nyonya Baik." Si pelayan berjalan tertatih menaiki tangga untuk melaksanakan tugas pertamanya.