BIARKAN KAMI BAHAGIA

BIARKAN KAMI BAHAGIA
Bertemu Lagi


__ADS_3

Setelah membersihkan diri, Teo bergegas memakai baju kerja dan menyisir rambut basahnya. Sedangkan Anandita masih betah di dalam kamar mandi.


Wajah Teo nampak cerah, senyuman manis terus terukir nyata. Hari penuh kesibukan di awali dengan perasaan baik dan luar biasa.


Aku semakin yakin, Dita,


Masih sibuk menilai penampilan di depan cermin. Mengagumi diri yang begitu sempurna dan tampan. Teo tertawa kecil mengingat itu. Mengingat bagaimana semalam sang junior mencabik-cabik mahkota sang istri. Yang kebetulan baru saja keluar kamar mandi.


Mata Teo melirik kearah Anandita yang masih berjalan dengan tubuh berbalut jubah handuk. Memperlihatkan paha mulusnya dan bagian dada. Leher berstempel merah membuat Teo memalingkan wajah.


Anandita tersenyum ketika melihat Teo memalingkan wajahnya. Dirinya memang berniat melakukan itu. Membuat sebagian tubuhnya terlihat lebih intim agar Teo menatapnya tanpa bisa melupakan.


"Kakak, masih belum selesai?" Tanya Anandita sembari menghampiri. Berdiri di depan Teo. Mengecup bibir basah Teo dan memeluknya sesaat.


"Kakak, harum sekali." Bisik Anandita penuh gairah. Jelas membuat kejantanan Teo menegang mantap di sana.


Anandita berjinjit untuk menggoda nafsu sang suami. Tak apa menjadi wanita murahan di depan suami sendiri, bukan?


Pagi itu Anandita nampak liar dan berani membuat Teo tak kuasa menahan birahinya. Keadaan mendukung. Aroma sabun dari tubuh Anandita menyerbak indera penciuman.


"Jangan salahkan aku, Dita." Bisik Teo sembari menggiring sang istri keatas kasur.


Kembali pergulatan panas mereka lakukan. Membuka pagi bukan dengan sarapan, melaikan dengan bercinta.


"Tuan besar dan Non Dita belum turun?"


Di lantai bawah tepatnya di ruang makan. Mbak Tata dan satu temannya saling tatap merasa heran ketika sang majikan tak kunjung turun, padahal jam sudah menunjukkan pukul 8 lebih.


Sarapan yang di pesan Anandita sudah tersaji dan mulai dingin. Akan menguras tenaga Mbak Tata karena pasti makanan itu akan kembali di hangatkan.


"Mungkin, Tuan besar ga ngantor." Pikir Mbak Tata. Menatap temannya yang mengangkat kedua bahu.


"Entahlah."


"Kak," Anandita terkulai lemas di samping Teo yang memeluknya erat. Pergulatan mereka sudah berakhir rupanya.


"Kamu luar biasa, Dita." Mengangkat kepala dan mengecup kening Anandita lembut. Setelahnya beranjak bangun.


"Kakak terlambat." Teo mendesah berat ketika melihat jam dinding.


10 pagi lebih tepatnya.


"Tak apa kak, itu juga kantormu." Seru Anandita, ikut bangun dan segera memakai jubah handuk yang tergeletak di lantai.


Teo mengangguk pelan.


Anandita menghampiri Teo, menariknya untuk berjalan bersama menuju kamar mandi.


"Dita bantu Kakak mandi lagi ya?" Ucap Anandita, yang mana di jawab anggukan kecil dari Teo.


Ada perasaan bersalah ketika melihat wajah murung Teo. Bagaimanapun keterlambatan sang suami adalah ulahnya.


Kenapa juga aku tidak bisa menahannya.


Batin Anandita bergumam dalam. Sembari membantu Teo bersiap untuk yang kedua kalinya.


Di lantai bawah, Pak Agam sang sekretaris duduk tidak tenang di ruang tengah. Menunggu Teo yang tak kunjung turun.


Meeting penting dengan klien tidak bisa di tunda. Jadwal yang sudah di susun baik berantakan sudah, membuat Pak Agam memasang wajah lemas.


Jadwal meeting jam 9 pagi harus di geser dan itu sudah membuang banyak waktu untuk pekerjaan yang lain. Kepala pak Agam menggeleng lagi. Kembali mendangah untuk melihat apakah Teo sudah nampak.


"Ini sudah jam 11 lebih! Tuan Teo kemana?" Keluhnya, kembali bangun dan berjalan untuk mencari para pelayan.


Kebetulan Mbak Tata tengah lewat.


"Bi, tolong katakan saya sudah menunggu." Pinta Pak Agam menatap Mbak Tata seolah memohon.


Ini Meeting amat berharga. Astaga, tuan Teo.


"Baik Pak, tunggu sebentar." Mbak Tata naik kembali ke lantai atas untuk memberi tahukan kalau Pak Agam sudah menunggu.


Yang ke dua kali tepatnya, Mbak Tata naik dan akan mengetuk kamar sang majikan.


Akan tetapi langkah Mbak Tata terhenti ketika Pintu kamar di buka.


Teo keluar dengan tergesa-gesa di ikuti Anandita dari belakang. Masih menggunakan jubah handuk. Lupakan itu, Meeting berharga mahal lebih penting ketimbang itu.


"Minggir, Bi." Pinta Anandita, Otomatis Mbak Tata menyingkir. Tidak ingin menghalangi langkah Teo dan Anandita yang datang bak kereta api.


"Tuan," Sapa Pak Agam tak lupa juga membungkuk.


"Maaf, saya terlambat." Ucap Teo tak enak.


Pak Agam mengangguk. "Mari, Tuan." Ajak Pak Agam.


Teo mengangguk juga. berbalik kearah Anandita yang mana menampakan wajah bersalah.


"Kakak pergi dulu. Ini bukan salah kamu sayang." Bisik Teo sembari mengecup kening Anandita lembut.


Anandita menjadi sumringah tersenyum setelahnya. lalu mencium tangan Teo.


"Hati-hati, Kak."


"Kakak pergi dulu. Kalau kamu mau datanglah ke kantor. Bawakan makanan yang enak." Mengusap kepala Anandita lalu pergi.


Anandita mengangguk semangat. Wajahnya kini nampak berbunga-bunga karena Teo tidak marah atau membencinya.


"Non, makanannya mau di hangatkan?" Tanya Mbak Tata di belakang Anandita.


Anandita berbalik menatap Mbak Tata. "Kita sarapan bareng Bi. ajak yang lain."


Pukul setengah 12 siang, Teo dan Pak Agam sampai di kantor..


Keduanya bergegas menuju ruang kerja untuk mengecek semua keperluan Meeting yang sebentar lagi akan di langsungkan.

__ADS_1


"Pak Agam. Untuk Meeting sudah siap?" Tanya Teo yang baru saja menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi kebesaran.


Pak Agam mengangguk. " Sudah, Tuan." Menyodorkan Map kearah Teo.


Map yang sedari tadi memang sudah ada di meja kerja Teo. Pak Agam membawanya dari ruang Meeting. Mengingat Meeting di tunda jadi berkas itu harus kembali di simpan di ruang kerja sang Presdir.


"Terimakasih."


Syukurlah, Tuan Mahendra tidak membatalkan kerja sama ini. Dita. Kamu benar-benar masalah untuk hidupku.


Gumam Teo sambil mempelajari berkas-berkas kerja sama dengan klien baru itu berteman senyuman. Yang mana membuat Pak Agam melirik bingung.


Pasangan muda.


Jam 1 siang tepatnya. Meeting penting di gelar.


Meja panjang yang di kelilingi kursi lebih dari 10 itu nampak penuh. Para petinggi perusahaan GiantTara ikut andil di sana tak ketinggalan sang pemilik perusahaan.


Teo yang ada di kursi paling depan. Duduk dengan penuh wibawa. Mendengar kalimat demi kalimat dari orang yang tengah berdiri itu hikmat. Kata demi kata yang terucap membuat senyuman Teo merekah di susul anggukan darinya.


Para petinggi saling tatap membawa wajah berbunga. Seperti Teo layaknya.


Sepertinya kerja sama di antara dua perusahaan besar akan terjalin.


"Saya merasa senang bisa bekerja sama dengan Anda, Tuan Teo."


Seorang pria matang seusia sang ayah, dengan percaya diri menyodorkan tangan kearah Teo sembari berdiri.


Jelas Teo menjadi sumringah. Ikut berdiri dan menerima jaba tangan dari si pria tua itu. Yang tidak lain adalah Tuan Mahendra si pemilik perusahaan Achille Grup. Salah satu perusahaan terbesar di Surabaya. Akan sangat menguntungkan bisa bekerja sama dengan perusahaan sebesar perusahaan Achille Grup.


"Terimakasih. Tuan," Balas Teo tak kalah semangat.


"Saya minta maaf, karena Meeting kita harus di undur." Tambahnya tidak enak.


"Tidak apa-apa, Saya tau anda sibuk Tuan Teo." Goda Tuan Mahendra. Membuat Teo tersenyum malu.


Meeting selesai dan berakhir dengan kerja sama antara kedua Perusahaan.


Teo mengantarkan Tuan Mahendra ke luar gedung GiantTara Group. Mengingat pria tua itu harus kembali ke perusahaannya.


"Saya senang bisa bekerja sama dengan Anda, anak dari seorang Tuan Rizal. Memilik perusahaan besar GiantTara Group." Memuji Teo dengan tepukan di pundaknya.


"Anda bisa saja, Tuan. Saya juga sangat senang bisa bekerja sama dengan Anda." Balas Teo tak kalah memuji.


"Oh iya, Tuan Teo. jarang sekali saya mengundang kolega ke rumah untuk makan malam. Kalau anda bersedia, anda adalah orang pertama. Bagaimana Tuan Teo?" Menatap Teo lekat. Keduanya berada di depan mobil mewah milik Tuan Mahendra.


Tidak ada alasan untuk menolak tawaran itu.


"Baik Tuan. Tidak ada alasan bagi saya untuk tidak menerima tawaran anda." Ucap Teo semangat.


Tawa dari Tuan Mahendra menggema merasa senang karena Teo mau menerima undangannya.


"Baik, nanti malam saya tunggu. Anda." Setelahnya Tuan Mahendra masuk kedalam mobil. Tapi sebelum kaca mobil tertutup. Tuan Mahendra kembali bersuara.


"Saya akan memperkenalkan seseorang kepada Anda Tuan Teo. Dia adalah putra saya. Ah. Nanti malam saja Anda akan melihatnya."


Teo mengangguk bingung. Dan membungkuk ketika Mobil Tuan Mahendra melenggang pergi.


"Ada-ada saja."


Sore harinya, Anandita menunggu kedatangan Teo yang katanya masih terjebak di perjalanan.


Seharusnya Anandita ke kantor Teo dan membawakan makanan tapi niatnya di urungkan. Anandita sibuk menelepon Kasih dan Noah yang katanya akan datang ke Surabaya bersama kedua mertuanya dua Minggu lagi lamanya. Tak apa, setidaknya sekarang tidak akan ada lagi drama atau rasa canggung di antara dirinya dan Teo.. Sekarang keadaan sudah mulai membaik jadi ketika keluarga dari Jakarta datang, Anandita dengan bahagia akan merangkul dan memperlihatkan kemesraan.


Di tambah Anandita akan memberi kejutan berupa kabar kalau dirinya di minta untuk menghadiri salah satu acara peragaan busana. Di sana Anandita juga akan menjadi salah satu modelnya. Dirinya baru menerima undangan sekaligus tawaran langkah itu tadi siang.


Ketika membuka akun Instagram miliknya. Ada sebuah pesan masuk yang mana meminta Anandita untuk menjadi salah satu model rumah mode milik perancang busana terkenal di Surabaya. Sontak Anandita berjingkrak riang. Seolah semua keinginan nampak mudah di dapat.


Gerbang di buka.


Mobil yang membawa Teo masuk kedalam.


Pak Agam keluar terlebih dahulu. Segera membuka pintu mobil belakang.


"Silakan, Tuan."


Teo turun. "Terimakasih, Pak."


"Pak Agam?" Panggilan Teo.


Pak Agam yang siap masuk kedalam mobil menoleh. "Saya, Tuan."


"Barang saya tolong, pak."


"Oh iya, Tuan. " Pak Agam segera membuka pintu mobil belakang. Tubuhnya setengah masuk kedalam. Menyambar paper bag cukup besar milik Teo.


"Ini. Tuan," Memberikan Paper bag ke arah Teo yang ada di depan mata.


Teo terlambat pulang karena harus pergi ke salah satu butik untuk memberi sesuatu yang entah apa isinya. Yang pasti ini adalah kejutan untuk sang istri. Kemacetan menjadi dalih Teo untuk membuat Anandita percaya.


"Terimakasih. Pak, Hati-hati pulangnya." Teo pamit dan masuk kedalam rumah sesegera mungkin.


"Dita." Teo memanggil Anandita yang memang sudah menunggu di ruang keluarga.


"Kakak," Anandita berlari menghampiri Teo yang mana merentangkan tangannya untuk menyambut kedatangan Anandita.


Keduanya berpelukan dan saling mengecup bibir. Cinta Teo untuk Anandita memang mulai tumbuh. Membuat dirinya juga merasa heran. Apalagi setelah Anandita mau memberikan kehormatannya. Semakin yakin dan besar cinta di antara mereka.


"Bagaimana, kak? Apa semua berjalan lancar?" Tanya Anandita gugup, Sembari menuntun Teo ke ruang keluarga.


Tak ada waktu untuk mengerjai sang istri dengan drama orang bersedih seperti rencana awal. Makan makan dengan keluarga Tuan Mahendra mengingatkan Teo.


"Semua berjalan lancar. Dan untuk menyempurnakan itu, Tuan Mahendra mengajak kita untuk makan malam di rumahnya."


Anandita antusias mendengarkan.

__ADS_1


"Itu bagus, Dita lega mendengarnya kak. Tapi Dita-


"Jangan pikirkan itu. Ini untukmu." Melahap ketakutan Anandita dengan menyodorkan paper bag.


"Kakak sudah membelinya."


Anandita berjingkrak seperti anak kecil. Dengan semangat menerima Paper bag.


"Terimakasih Kak." Keduanya menaiki tangga.


"Oh iya Kak. Dita juga punya kejutan?" Seru Anandita. Menggandeng Teo naik ke lantai atas .


"Apa itu?" Bertanya penuh penasaran.


"Dita di undang untuk menjadi model, kak."


"Wah, itu bagus Dita." Teo mendekap tubuh Anandita lalu mengangkatnya dan itu membuat Anandita ketakutan.


" Kak ingat, jangan buat Dita kelelahan. Kita kan mau-


Bibirnya di kunci Teo.


Pasrah. Anandita membiarkan Teo menyerang bibirnya dan masuk kedalam kamar dengan masih berciuman.


"Bagaimana kak, Cantik tidak?" Tanya Anandita yang baru saja selesai dengan semua urusan merias diri. Baju yang di beli Teo begitu pas dan nyaman di tubuhnya.



Teo mengangguk pelan dengan wajah melongo. Mengagumi bagaimana sang istri begitu cantik dan mempesona.


"Cantik, sayang."


Anandita tersipu malu. mendengar kalimat Sayang yang lagi di ucapkan Teo.


Pelan-pelan Anandita menghampiri Teo yang tengah menatapnya lekat.


"Bisa kita pergi sekarang?" Tanya Anandita, Mengulurkan tangan meminta Teo untuk menerima.


"Ayo,"


Keduanya bersama-sama berjalan menuruni tangga dengan Teo yang terus melirik Anandita takjub.


"Kak, nanti kamu jatuh bagaimana?" Melirik Teo sambil menahan tawa.


"Kakak tidak rela kalau kamu di lihat orang lain." Ucap Teo tak sadar.


Ingin rasanya Anandita menjatuhkan diri dan berguling di lantai. Tapi sepertinya itu akan sangat memalukan dan mungkin juga akan membuat Teo ilfil.


"Ada-ada saja." Gumam Anandita malu.


Mobil melaju membelah jalan kota Surabaya. Teo dan Anandita saling bergandengan tangan seakan tidak ingin di pisahkan. Apalagi Teo, dirinya amat posesif terhadap Anandita. Yang mana hanya di respon anggukan dan senyum merekah darinya.


"Tuan, kita sudah sampai." Pak Agam melirik Teo yang masih sibuk tertawa bersama Anandita. Tanpa sadar mobil sudah masuk dalam teras rumah Tuan Mahendra.


"Ah, baik pak." Ucap Teo. Lalu keluar bersama Anandita dengan masih bergandengan tangan.


"Tuan Teo." Dari kejauhan. Suara Tuan Mahendra terdengar membuat Teo dan Anandita menoleh dari kejauhan.


Tuan Mahendra bersama sang istri menyambut kedatangan Teo dan Anandita. Tak ada kecanggungan. Semua terasa nyaman. Mungkin pengaruh baik yang di bawa keduanya membuat suasana terasa lebih hangat.


Hunian yang jangan lagi di tanya berdiri kokoh di sana. Para pelayan berseliweran seperti di kediaman mereka di Jakarta. Tidak asing bagi keduanya.


Anandita dengan malu-malu mengikuti langkah Nyonya besar yang begitu hangat memperlakukannya. Menggandeng tangannya untuk duduk bersanding di ruang tamu.


"Nak Anandita ini masih kuliah?" Tanya Nyonya Mahendra ramah.


Sontak Anandita melirik Teo.


"Tidak Nyonya, kuliah saya sudah selesai."


Nyonya Mahendra mengangguk. Senyuman manis terus menghiasi wajahnya.


"Nak Teo? Nak Anandita ini Adik atau Istri Nak Teo?" Nyonya Mahendra melemparkan pertanyaan yang membuat Teo tersedak.


"Mama, apa yang kamu katakan, Anandita Aditama adalah istrinya, Dia adik dari Tuan Noah anaknya mendiang Tuan Erik." Jelas Tuan Mahendra menjelaskan


Sang istri mengangguk sambil tersenyum malu.


"Astaga, Maaf-


"Ma, Pa?"


Tiba-tiba suara laki-laki terdengar. Sontak ke empatnya menoleh kearah belakang.


"Daniel? Kemari." Pinta Tuan Mahendra.


Anandita memasang wajah bengong lagi pucat. Melihat siapa laki-laki tampan yang datang menghampiri.


Dia?


Bukan hanya Anandita yang terkejut. Daniel sendiri merasakan hal yang sama. Terkejut ketika melihat Anandita berada di rumahnya dengan penampilan bak putri raja. Mendadak Daniel menjadi lebih semangat. Padahal tadi sore dirinya bersiap pergi. Tapi sang ayah mengatakan untuk tidak kemana-mana. Ada tamu penting akan datang.


Ternyata kamu tamu penting itu, Anandita.


"Perkenalkan Ini putra saya, Daniel. Dia yang akan menggantikan saya nanti." ucap Tuan Mahendra bangga.


Teo mengarahkan tangannya. "Teo."


Akan tetapi tangan Daniel malah mengarah kepada Anandita yang diam dengan wajah gugup.


"Kamu pasti Anandita?"


Teo melirik intens Daniel yang saat ini menatap sang istri lain.


"Kalian sudah saling kenal?" Tanya Teo datar. Menatap Anandita yang diam membisu.

__ADS_1


Kenapa jadi begini?


__ADS_2