BIARKAN KAMI BAHAGIA

BIARKAN KAMI BAHAGIA
Meminta Izin


__ADS_3

Matahari menyembul datang menerangi semua alam semesta Indonesia, membentangkan gumpalan awan biru muda yang nampak indah sejauh mata memandang. Semua orang memulai hari ketika itu, Beraktivitas seperti biasa.


Seperti yang di lakukan Adel. Ia baru saja memandikan Gina lalu menjemurnya. Rutinitas setiap hari ketika sinar mentari pagi datang.


Gina menggeliat dengan mata tertutup. Merasakan sentuhan hangat dan lembut yang menerjang seluruh tubuh mungilnya.


Adel menyungsingkan senyuman manis ketika Gina menggeliat dan menyembunyikan wajah merahnya ke bagian ketiak. Seolah sinar hangat tidak di izinkan menyapa wajahnya.


"Kenapa Sayang,? Kok sembunyi?" Adel membalikan tubuh yang mana kepala Gina bersembunyi.


Gina kembali menggeliat dengan memalingkan wajah. Sontak Adel tertawa terbahak-bahak karena sudah mengerjai Putrinya.


"Ok baiklah kita masuk, sudah cukup berjemurnya."


Adel melangkah meninggalkan halaman depan dan masuk kedalam. Gina sepertinya sudah merasa bosan untuk melakukan itu. Yang jelas-jelas baik untuk kesehatan dan perkembangan tumbuh kembang bayi yang baru lahir.


Di dalam, Adel dan Gina di sambut Bu Puji dan Bi Muji yang tengah menyiapkan sarapan. Sedangkan Pak Alam masih membersihkan diri. Pria paruh baya itu terlalu lelah untuk bangun lebih awal. Mengingat kemarin acara aqiqahan Gina berlangsung meriah jadi tenaganya lumayan terkuras.


"Sarapan dulu, Non." Kata Bi Muji yang masih menata meja makan.


Bu Puji menambahkan. "Ya, sayang."


Adel menjawab. "Adel mau boboin Gina dulu."


Bi Muji dan Bu Puji tersenyum sambil mengangguk ketika wajah terlelap Gina Adel perlihatkan.


Setelah menidurkan Gina, Adel keluar kamar tanpa menutup pintu. Ia takut Gina akan terbangun. Kakinya melangkah pelan kearah meja makan. Menebarkan senyuman datar ketika matanya melihat Sang ayah beserta kedua wanita yang di cintainya. Sudah menunggu sambil bercengkrama membahas tentang acara Aqiqahan Gina kemarin.


"Gina tadi bangun, jadi harus di kelon dulu" Kata Adel tidak enak sambil menggeser kursi di dekat sang ayah.


"Tidak apa-apa." Jawab Pak Alam. "Ayo sarapan dulu" Lanjut Pak Alam yang di jawab anggukan kepala dari ketiganya.


Sarapan seperti biasa pun mereka lakukan, sambil di selingi candaan dan obrolan ringan sampai Bu Puji melemparkan pertanyaan.


"Oh iya, Teo dari kemarin tidak terlihat? Mama heran! Kemarin pun Dia ga datang. Apa dia baik-baik saja?" Mata Bu Puji menatap Adel lekat yang tengah lahap menyantap hidangan di piring.


Pak Alam dan Bi Muji mengangguk setuju. Memang ketidak beradaan Teo membuat ketiganya bertanya-tanya.


Adel mengangkat kepala dan terdiam bingung. Ketika mata ketiga orang yang ada di hadapan menatapnya penuh tanya.


"Ah.. Teo, Adel juga tidak tau kenapa dia tidak datang." Adel menjawab singkat. Seolah dirinya enggan membahas Teo. hatinya merasakan ketidak pastian dan rasa bersalah.


Aku tau kamu tidak datang karena kamu mungkin marah padaku, tapi aku bisa apa? Aku tidak mau membuat kamu selalu berharap, Teo.

__ADS_1


Adel terdiam dan kembali memasukan nasi goreng kedalam mulutnya yang sekarang terasa hambar. Mengabaikan tatapan mata ketiga orang yang juga kembali menyantap sarapan dengan pikiran melayang.


Mereka tidak tau kalau Teo sudah kembali ke Jakarta, dan juga sudah memberi tahu tentang keberadaan Adel yang bersembunyi di Surabaya tepatnya rumah Bi Muji.


Meja makan kini terlihat kosong, tak ada lagi suara dentuman alat makan yang tadi pagi terdengar.


Sekarang ke empatnya tengah duduk tenang di ruang tengah dengan wajah serius.


Tadi..


Adel meneguk gelas berisi air putih, menandakan sarapannya Sudah selesai di ikuti ketiganya.


Ragu-ragu Adel bersuara setelah menimbang sedari malam.


"Ma, Pa, dan Bibi." Adel menatap ketiganya bergantian. "Ada yang ingin Adel katakan!"


Dan disini lah mereka, berkumpul bersama di tengah ke sunyi di pagi cerah itu.


Wajah ketiganya nampak terheran ketika Adel meminta mereka untuk berkumpul tanpa tau apa yang akan di sampaikan oleh ibu Gina itu.


"Ada apa sayang? Apa ada hal penting yang mau kamu katakan?" Tanya Pak Alam.


Adel mengangguk yakin.


Bismillah Ya Allah. Aku tidak akan menyesal.


Batinnya amat yakin. Se-Yakin senyuman yang baru saja Pak Alam, Bu Puji dan Bi Muji lihat.


"Bismillah. Adel sudah memutuskan untuk bercerai dari Mas Gavin!" Setelahnya Adel menunduk menghindari tatapan mata Ayah dan ibunya.


Membulatlah mata ketiga orang tua itu ketika kata cerai terdengar cepat.


"Apa? Bercerai?" Sontak Pak Alam bertanya.


"Adel sayang, apa yang kamu katakan?" Tambah Bu Puji lirih.


"Non, Apa non yakin?" Tanya Bi Muji tidak percaya.


Adel mengangguk cepat sambil menahan tangis.


"Adel yakin, sangat yakin. Adel akan mengajukan cerai kepada Mas Gavin. Adel merasa tidak baik terus menerus bersembunyi dan menghindar. Jangan tanya apakah Adel masih mencintai Mas Gavin? Adel sangat mencintainya, Tapi, Adel merasa itu saja tidak berarti. Dia akan menikah dengan wanita yang di pilihkan orangtuanya. Wanita yang pantas untuk Mas Gavin. Bukan itu saja. Dari awal pernikahan ini sudah salah."


Adel terus mencurahkan keresahan dan kegundahan hatinya tentang rumah tangganya kepada kedua orangtuanya dan Bi Muji. Tanpa menyadari ada mobil yang mulai masuk kedalam gang rumah Bi Muji.

__ADS_1


Gavin tiba di Surabaya pukul 8 pagi setelah melewati kemacetan dan toko bunga!


Ya, Gavin mampir ke toko bunga untuk membeli bunga sebagai hadiah atau ucapan selamat datang kepada sang istri dan putrinya.


Ia sudah tidak sabar untuk melihat wajah Adel yang sedari malam terus menghiasi layar ingatan dan imajinasi. Menerka-nerka seperti apa wajah cantik sang putri yang masih menjadi misteri.


"Kamu pasti akan terkejut, Adel." Gumam Gavin semangat, membayangkan Adel akan berlari dan memeluknya erat. Gavin tersipu malu ketika bayangan itu datang. Membuatnya menambahkan laju mobil hingga ia sampai ke rumah Bi Muji setelah bertanya kepada para tetangga. Dan yang lebih membuat Gavin bahagia adalah. Para tetangga yang di temuinya membenarkan adanya seorang wanita muda bersama seorang bayi tinggal di rumah Bi Muji.


Mesin mobil Gavin matikan. Ia tidak bersama supir yang tadi pagi menjemputnya di bandara. Gavin ingin datang sendiri tanpa di temani siapapun, bahkan Gavin mematikan ponsel miliknya. Karena tidak ingin di ganggu dengan pertanyaan dari semua anggota keluarga dan juga keluarga Noah.


Kakinya melangkah pasti menyusuri jalanan sedang. Dengan membawa satu buket bunga dan beberapa Paper Bag yang di bawanya dari Jakarta.


Di rumah, Adel menangis dalam dekapan Bu Puji yang juga ikut menangis. Sedangkan Pak Alam termenung sambil menunduk pun dengan Bu Muji, yang tidak bisa berkata-kata ketika Adel mencurahkan semua isi hati.


Sambil sesenggukan Adel kembali bersuara.


"Tolong jangan hakimi Adel Pa, Ma, Adel memang ingin mempertahankan rumah tangga ini, tapi dengan status dan perbedaan di antara kami Adel tidak sanggup. Maafkan Adel yang harus melakukan ini." Ucapnya penuh perjuangan. Bayangan wajah Gavin seakan menjadi cambuk baginya.


Pak Alam masih diam membisu. Tidak sanggup berkata. Ia hanya sibuk menarik dan membuang napas yang terus menipis.


Dan saat itu terjadi. Langkah kaki mulai terdengar di barengi dengan suara merdu dan manja darinya.


"Adel! Adel,"


Mendengar suara itu, Adel yang tadinya menenggelamkan wajah kedalam tubuh sang ibu terangkat cepat. Menoleh kearah suara yang tidak asing. Di ikuti yang lainnya.


"Mas Gavin?" Seru Adel tergagap berat, berbarengan dengan dentuman jantung yang siap merobek dadanya.


Gavin tersenyum bersama genangan air mata kebahagiaan. Ia berlari masuk kedalam rumah sekuat tenaga. Ingin segera memeluk dan mencium aroma tubuh istrinya.


Adel bergegas berdiri melihat Gavin berlari bak pangeran yang datang menjemput cintanya.


Hap....Gavin memeluk Adel erat di depan kedua mertuanya.


"Astaga sayang, Aku sangat merindukanmu..Aku sangat mencintaimu. Maafkan aku yang tidak berguna ini."


.


.


Besok di usahkan up lebih awal. maaf ya jarang up. karena tau sendiri namanya perempuan kalau udah datang palang merah. pasti riweh, apalagi ga lancar.


Siapa nih yang dukung mereka balikan?

__ADS_1


Apapun yang terjadi dengan rumah tangga mereka mohon jangan hakimi saya😅


__ADS_2