
Teo meletakan ponselnya pelan ke atas meja kerja. Wajahnya nampak kaku dan pucat. Tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Jadi selama ini Dia ada di. Surabaya?" Gumam Teo tak percaya. Merenungkan semua ucapan wanita yang meneleponya.
Rumah sakit Tiara Bunda. Orang yang anda cari berada. Dia baru saja melahirkan bayi Perempuan. Saya membantu proses Operasi Cesar Nona Adelia. Tuan Teo,
Teo menggela napas berat. Bersandar lemas untuk mengistirahatkan otaknya ke belakang kursi kerja. Setelahnya menatap langit-langit ruangan kebanggaannya dengan tatapan datar. Tangannya mengepal dan otaknya terus berkerja membuka lembaran memory kejadian beberapa bulan yang lalu tepatnya ketika Gavin kecelakaan.
"Astaga. Tuhan! Kenapa bisa aku tidak mengetahui itu?" Gumam Teo. Memukul-mukul meja karena kesal atas ucapan si penelepon yang lagi-lagi memberinya kabar lain beserta poto Adel ketika terlelap di dalam ruang Operasi.
"Kenapa dia harus di operasi Cesar?" Teo kembali memutar percakapan penting bak Kaset rekaman.
"Dokter kami terpaksa harus melakukan Operasi Cesar. Karena Nona Adelia tidak bisa melakukan lahiran Normal." Jawab orang itu.
"Kenapa memangnya?"
"Sebelumnya, Nona Adelia sudah melakukan Transpantasi Ginjal. Tuan!"
"Astaga." Teo merasakan tubuhnya memanas seolah dirinya tengah berada di dalam wajan yang di bawahnya terdapat api menyala. Terpukul dan tak percaya. Semua prasaan itu tergambar jelas di wajahnya.
Tak ada waktu untuk berpikir. Teo kembali menghidupkan ponselnya mencari kontak Gavin. Akan tetapi niat itu ia urungkan. Seolah batinnya meminta untuk merenung sebentar.
Apa aku harus memberi tahu Gavin? Apa ini keputusan yang baik?
Teo mematung di tempatnya. Sampai Teo mematikan ponselnya dan memilih meraih telepon kantor.
Menunggu sebentar.
"Ya, Tuan Teo?" Kata orang itu sopan.
"Coba periksa kembali berkas proyek dari perusahan Daily. Tidak, tidak. langsung beri mereka jawaban kalau aku menerima kerja sama itu."
"Baik, Tuan."
"Lakukan cepat. Aku akan langsung ke surabaya sekarang." Setelahnya Teo memutus panggilan dan bergegas keluar ruang kerjanya.
Lebih baik aku tidak memberi tau siapapun termasuk dirimu Gavin..
Entah apa yang laki-laki tampan itu fikirkan? Dirinya menghianati Gavin dan Noah. Tidak memberi tau keberadan Adel sudah menjadi bukti bukan?
.
.
Di tempat lain, Gavin tengah menikmati makan siang di ruang makan bersama Nenek Dayanti dan Kakek Damar. Tanpa ada kehadiran Kedua orang tua dan Kakak-kakaknya. Gavin sudah mau berinteraksi kembali bersama anggota keluarga. Itu kemajuan yang luar biasa.
Nathan. Mega dan Anggel memilih untuk tidak datang ke rumah sang ayah. Karena masih belum mau memperlihatkan diri kepada sang Adik setelah apa yang mereka lakukan. Menunggu waktu yang tepat dan sibuk dengan urusan pribadi. Sedangkan Tuan Paris dan Nyonya Tari masih di rumah sakit dan etah kapan akan kembali.
Alat makan beradu mesra memecahkan keheningan di siang cerah itu.
Nenek Dayanti sesekali melirik Gavin yang tengah makan dengan lahap. Seolah ingin mengembalikan bentuk tubuhnya.
"Kenapa. Nek?" Tanya Gavin tanpa menatap Nenek Dayanti.
Nenek Dayanti terkejut. Pasalnya Gavin menegur tanpa mengangkat kepala.
Kakek Damar menoleh ke arah sang isteri.
"Kenapa. Ma?" Tanya Kakek Damar yang mana masih mengayunkan alat makan.
Nenek Dayanti menjawab. "Nenek senang kamu bisa kembali seperti dulu. Gavin, Kami berharap kamu bisa kuat dan terus seperti ini." Ada buliran bening yang lolos dan meluncur bebas membasahi pipi Nenek Dayanti.
__ADS_1
Kakek Damar meletakan alat makan dan menggenggam tangan Nenek Dayanti lembut. Setelahnya menatap Gavin yang sekarang diam memperhatikan.
"Kami semua menyanyangi kamu Nak, Teruslah menjadi Gavin yang kami kenal." Kata-kata Kakek Damar seolah memohon dan Gavin mengangguk pelan berteman senyuman datar.
"Gavin akan berusaha. Masalahnya. Keberadaan Adelia membuat Gavin tidak bisa mengontrol emosi. Gavin ingin mencari Adelia bersama Teo dan Noah." Jelas Gavin.
Nenek Dayanti mengusap pipi dan keduanya mengangguk setuju.
"Pergi dan bawa isterimu kembali. Buktikan kalau kamu adalah suaminya," Kata Nenek Dayanti semangat..
Gavin mengangguk cepat. Setelahnya beranjak bangun. Dan pergi kekamar.
Di kamar Gavin bergegas mandi. Wajahnya terlihat segar dan terus tersenyum seakan siap menata kehidupan bersama sang isteri yang masih belum hadir dalam ingatannya. Tapi Gavin tidak mempermasalahkan hal itu. Bukti kalau dirinya sudah menikah dengan Adelia lebih dari cukup.
"Tunggulah. Aku akan mencarimu." Gumam Gavin dengan wajah berseri-seri. Setelahnya ia menghidupkan hpnya dan mencari kontak Teo.
.
.
Teo sendiri baru saja menghubungi Anandita sang kekasih. Memberi taukan kalau dirinya akan terbang ke Surabaya dengan alasan yang jelas. Kerja sama dengan perusahan Daily menjadi jawabnya. Tanpa menyertakan kalau dirinya akan bertemu dengan Adel..
Di kamar Teo mengemasi baju kedalam koper dan keluar Apartemen. Dirinya benar-benar bersiap cepat tanpa ingin membuang waktu. Takut-takut Adel akan pergi. Padahal Adel akan masih berada di rumah sakit 3 hari kedepan. Itu kata Dokter Ratih. Mengingat tubuh Adel masih lemah paska Operasi Cesar.
Pintu Apartemen di buka tapi suara ponselnya membuat Teo kembali menutup pintu.
Ponsel ia raih. Matanya membulat mendapati nama Gavin terlihat di sana.
Teo menelan ludah kasar. Ragu-ragu ia menggeser ikon hijau.
"Gavin!" Tegur Teo dengan suara terkejut.
"Aku siap mencari Adelia isteriku Teo!" ungap Gavin semangat yang mana membuat Teo kebingungan untuk sesaat.
Teo menjawab dengan semangat yang kita tau itu adalah kebohongan.
"Itu bagus Gavin. Lakukan dengan orang-orangmu dan hubungi Noah, katakan juga padanya. Aku nanti akan menghungimu kembali. Sekarang aku harus pergi." Katanya sambil berjalan meninggalkan apartemen.
"Kau ingin pergi kemana?" Tanya Gavin penasaran.
"Aku harus ke Surabaya. Ada urusan pekerjaan yang tidak bisa aku tinggal. Ok baik Gavin, sudah dulu."
"Teo. Tunggu-
Teo memutus panggilan berbahaya itu dan mulai menjalankan mobil untuk ke Bandara.
"Ini keputusan yang baik! Tidak baik kalau aku memberi tau keberadaan Adel sekarang. Maafkan aku Gavin. Aku akan memastikan keberadaan Adel dulu." gumam Teo dengan prasaan bersalah. Tapi hatinya seakan mengatakan kalau keputusan ini adalah benar.
.
.
Gavin tidak menaruh curiga. Dirinya bergegas menghubungi Noah.
Tidak menunggu waktu lama Noah mengangkat panggilan darinya. Dan kedua sahabat itu berbicara intes tentang Strategi guna mencari Adel.
.
.
Adel sendiri sudah mulai tenang. Dirinya baru saja menggendong bayi cantiknya yang belum di beri nama.
__ADS_1
Perkataan kedua orang tuanya dan Bi Muji membuat Adel sadar. Kalau lahirnya sang buah hati adalah anugrah terindah. Bahkan Adel menangis haru ketika Dokter Ratih menceritakan jalanya proses persalinan yang seakan di beri kemudahan.
Adel mendekap dan mengecup bayi mungil itu penuh cinta. Menatapnya lekat berteman cucuran air mata bahagia.
"Aku mama mu, Maaf. Tadi aku sudah bersikap tidak baik."
Bi Muji dan kedua orang tua Adel hanya bisa memperhatikan ibu baru itu seksama. Senyum dari ketiganya tak pernah pudar seolah dunia akan berumur panjang.
"Sayang, istirahat dulu, sini biar mama dan Bi Muji yang gendong." Kata Bu Muji.
Kepala Adel menggeleng. "Tidak Mah. Biar dia bersama Adel."
Bu Puji mengangguk di ikuti ketiganya.
Kalau Ayahmu ada di sini, dia pasti senang.
Batin Adel berucap ketir. Membayangkan Gavin ada dan menggendong bayi cantiknya. Tapi keadaan masih belum mendukung.
Adel berusaha kuat dan tidak lagi menangis. Dirinya tidak mau membuat khwatir ketiga orang yang saat ini tengah menikmati makan siang. Satu persatu Adel menatap wajah ketiganya sendu.
Alhamdulilah Ya Allah. Mama dan Papa mau menerimaku kembali. Dan Bi Muji, Engkau telah mengirimkan manusia berhati suci kepada ku...Terimakasih.
Pukul 8 malam tepatnya. Adel baru selesai makan malam dan mendapatkan pemeriksaan dari Dokter Ratih. Kondisinya baik-baik saja pun dengan bayinya.
Bi Muji terlelap bersama Bu Puji di atas sofa, Kedua ibu-ibu itu merasa lelah teramat ketika tadi pagi. Pak Alam memutuskan berjaga sebentar sambil menikmati sajian dari Tv.
Adel dengan bahagia mengendong sang buah hati yang mana masih terjaga..
"Anak cantik..Mama..Ini Mama."
Pak Alam yang mendengar itu melirik dan tertawa renyah yang mana membuat Adel menoleh. "Papa. Ngetawin apa?" tanya Adel penasaran.
"Kamu lucu? Negorin anak kok kaku begitu." goda sang ayah.
Adel mengerutkan bibir dan hidung merasa kesal dengan ledekan itu. Tapi Adel tidak memberi tanggapan. Dirinya kembali mengajak sang anak berbicara.
"Kakekmu suka begitu. Nak." bisik Adel sambil cekikikan.
15 menit berlalu. Adel yang masih mengajak bayinya berbicara sedikit terkejut ketika pintu ruang inap di ketuk.
Tok...tok...tok...
Pak Alam otomatis berjalan bernait membuka pintu.
"Mungkin itu Suster. Pah?" kata Adel.
"Sepertinya. Iya. " jawab Pak Alam sambil memutar pegangan pintu.
Ceklek...pintu terbuka.
Senyum Pak Alam pudar berganti dengan wajah kaku melihat siapa orang yang tengah berdiri di depan matanya.
"Om!" Sapa orang itu sopan.
"Siapa. Pah?" tanya Adel tanpa melirik ke arah sang ayah. Wajah bayinya lebih menarik.
Mendengar suara lembut Adel membuat orang itu melirik dan bersuara.
"Adel!"
Adel mengangkat kepala. Men-sejajarkan pandangan ke arah pintu dimana berdiri satu sosok pria. Jantungnya berdebar cepat membuat tubuhnya bergeter.
__ADS_1
"Teo?"