BIARKAN KAMI BAHAGIA

BIARKAN KAMI BAHAGIA
Akhir Yang bahagia Untuk Kita


__ADS_3

Dalam kurun waktu tiga Minggu semua kembali berjalan seperti seharusnya.


Adel sudah menjalankan operasi Transplantasi Ginjal yang mana membuat harinya semakin indah.


Keluarga Abrisam dengan suka cita menyambut kedatangan Adel dan Gina kala itu. Tepatnya tiga Minggu yang lalu. Semua sudah termaafkan. Adel dengan sadar memberi maaf kepada keluarga Gavin yang sudah memberinya luka dan air mata. Bayang-bayang kepedihan tempo hari sudah di buangnya jauh. Adel ingin menyongsong masa depan bersama Gavin dan Gina.


Lembaran hari berganti. Keluarga Abrisam tengah mengadakan acara syukuran berupa makan malam bersama keluarga untuk menyambut kedatangan Adel dan Gina. Dan lagi untuk mengucap syukur atas kelancaran operasi pemasangan Ginjal yang di jalankan Adel..


Malam itu semua orang yang di undang nampak hayut dalam kemeriahan dan suka cita di Mansion Tuan Paris, tak terkecuali si pemilik acara.


Gavin dengan gagah menimang Gina yang juga terlihat cantik dengan gaun malamnya. Hanya saja mata si bayi cantik itu enggan untuk terbuka. Sedangkan Adel memilih duduk bersama Kasih yang juga ada dalam daftar undangan. Tubuhnya masih belum benar-benar stabil pasca operasi.


"Adel, aku bahagia melihat kamu yang sekarang." Ucap Kasih dengan tangisnya.


Adel menyingkirkan senyuman sambil menggelengkan kepala dengan tepukan di tangan Kasih.


"Untuk menjadi seperti ini, aku harus berjuang, Kasih." Adel melirik Gavin yang mana tengah berbincang dengan Noah yang juga membawa baby Ayres.


Kasih mengikuti kemana mata sayu Adel. Kedua sahabat itu menatap kedua pria tampan yang sekarang sudah menjadi bapak-bapak dengan wajah penuh cinta.


"Aku pun, aku harus berjuang untuk mendapatkan kehidupanku." Gumam Kasih. Otaknya mengingat bagaimana dulu Noah berlaga bak pria jahat yang sudah merenggut kebahagiaannya.


Kasih melanjutkan. "Tapi sekarang, Bukankah kita sudah bahagia?"


Kasih memalingkan wajah kearah Adel yang mana masih menatap Gavin dan Gina.


"Apa aku benar?"


Adel menarik napas sebelum menjawab.


"Aku selalu berharap begitu. Tapi bagiku ini adalah sebuah awal," Dan keduanya kembali menatap suami masing-masing yang mana tengah berbincang sambil tertawa kecil.


"Kita temui mereka."


Kasih merentangkan tangan. Menarik Adel setelahnya. Adel dengan senang hati menerima. Kedua ibu muda itu berjalan bersama menghampiri Gavin dan Noah.


Noah mengedipkan mata kearah Gavin. Gavin mengikuti kemana mata Noah mengarah.


"Lihat, Mama kalian datang." Kata Gavin kepada Gina dan Ayres.


"Jangan lagi buat aku pusing dengan rumah tangga kalian!" Bisik Noah yang mana membuat Gavin menyeringai.


"Perkataan itu lebih pantas untukmu, Noah." Ledek Gavin puas.


Mata Noah menyempit marah.


"Diam kau."


Gavin tertawa kecil ketika Noah kembali merajuk seperti anak kecil.


Tapi sebelum ledekan dan umpatan kembali berlanjut, Adel dan Kasih datang.


"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Kasih sambil mencubit pipi Ayres dan Gina gemas.


"Tidak ada." Sangkal keduanya kikuk.


"Bisakah kalian duduk, rasanya aku lelah." Sela Adel disaat ketiganya berbincang.


Gavin mengangguk di ikuti Noah dan Kasih.


Akhirnya mereka duduk.

__ADS_1


Gavin yang masih menggendong Gina bersuara.


"Oh iya, Noah? Bagaimana dengan acara pernikahan Teo dan Anandita? Aku ingin bertanya langsung kepada Teo. Tapi dia tidak bisa datang."


Teo pergi ke Bali untuk menghadiri pertemuan penting dengan koleganya. Apakah itu benar adanya, atau hanya sebuah alasan untuk menghindari Adel?


Entahlah, hanya dia yang tau.


Teo sudah mengetahui kepulangan Adel dari Kasih dan Noah. Dirinya pernah datang berkunjung ketika Adel akan di operasi. Tapi setelah itu Teo menghilang entah kemana.


Gavin sendiri sudah memberi maaf. Keduanya kembali berteman seperti dulu. Memang benar kebohongan Teo tidak dapat di benarkan karena sudah merahasiakan tentang keberadaan Adel kala itu. Tapi di sisi lain. Teo menjadi penolong, karena bantuan darinya membuat Adel dan Gina bisa tenang tanpa memikirkan apapun. Keperluan Adel dan Gina Teo yang tanggung. Dan untuk itu, Gavin mengucapkan terimakasih kepada Teo.


Adel sendiri nampak santai ketika Gavin bertanya. Dalam benaknya tidak ada lagi Nama Teo. Gavin Abrisam sudah menggantikan posisinya.


"Dan Anandita, dia juga tidak datang?" Kali ini Adel yang bertanya. Menambah daftar jawaban yang harus Noah dan Kasih katakan.


"Anandita tidak enak badan, Mungkin dia merasa lelah karena satu Minggu lagi pernikahannya akan di langsungkan" Terang Kasih sambil memberi Baby Ayres cemilan kesukaannya.


Gavin dan Adel mengangguk paham.


"Satu Minggu lagi mereka akan menikah, aku bahkan tidak menyangka itu akan terjadi" Celetuk Gavin yang mana melirik ke arah Noah dan Kasih.


"Hey. Jaga matamu!" Ucap Noah kesal.


Kasih dan Adel menggelengkan kepala sambil tersenyum pelan melihat suami mereka kembali bertengkar.


"Adel, kamu akan datang, 'kan?" Tanya Kasih yang tidak ingin mendengarkan ocehan kedua bapak-bapak muda itu.


"Mungkin hanya Mas Gavin saja yang akan datang, Aku tidak biasa datang. Tubuhku masih harus banyak istirahat, Kasih." Adel memperlihatkan wajah sendu dan tidak enak. mengingat hari bahagia Teo dan Anandita.


Kasih mengangguk pasrah. "Lain kali saja kamu dan aku liburan ke Bali."


Malam semakin larut dan pesta meriah itu selesai sudah.


Semua keluarga dan kerabat beristirahat di mansion Tuan Paris. Setelah para tamu bubar barisan.


Gavin dan Adel masih terjaga di tempat tidur dengan saling berpelukan. Gina sendiri sudah terlelap sedari tadi di dalam ranjang mungilnya.


"Apa yang kamu pikirkan, sayang?" Tanya Gavin sambil mengecup kening Adel cukup lama.


Adel menutup mata merasakan kecupan hangat itu berteman senyuman kebahagiaan.


"Aku memikirkan kita yang sekarang."


Gavin mengerutkan kening sambil berkata.


"Maksudnya, aku yang tampan ini?"


"Ih.. Geer." Ucap Adel cengengesan.


"Ya, terus apa dong?" Tanya Gavin penasaran.


"Intinya aku bahagia, udah itu aja." Setelahnya Adel mengubur kepalanya kedalam dada Gavin.


Gavin menyingsingkan senyuman penuh arti.


"Yang?" Suara manja Gavin yang mana membuat Adel mendangah membawa wajah setengah mengantuk.


"Apa, Mas?"


"Itu loh?" Mata Gavin mengedip cepat sambil memajukan bibirnya.

__ADS_1


Adel mengerti. Ia menggelengkan kepalanya cukup cepat sambil berkata.


"Denger ya suamiku yang genit." Adel menarik hidung Gavin.


"Aww.. sakit." Pekik Gavin.


Adel tertawa girang karena sudah berhasil mengerjai Gavin.


"Mas, Kamu harus puasa dulu untuk waktu yang cukup lama!"


Gavin menghentikan aktivitas tangannya yang terus memijat hidungnya. Melirik Adel bingung.


"Jangan katakan kita ga boleh bercinta?" Wajah Gavin pucat seketika.


Kepala Adel mengangguk cepat. " Satu tahun. Kamu harus puasa...Hahaha..."


"Apa!" Gavin terkejut bukan main dan dengan spontan menyerang Adel.


Mengecup bibir dan anggota tubuh lainnya.


"Mas jangan Mas..Geli Mas." Adel menggeliat dengan terus tertawa.


"Tidak di bawah, yang atas saja.." Jawab Gavin di sela kesibukannya.


Adel tertawa mendengar kalimat itu dan juga rasa geli dari tangan Gavin yang berkeliaran di atas tubuhnya.


Pada Akhirnya Adel membiarkan Gavin melakukan apa yang dirinya inginkan dengan catatan yang sudah jelas.


Hari itu semua orang menutup malam dengan perasaan bahagia. Itu yang di rasakan Gavin dan Adel. Kisah cinta mereka terasa rumit dan melelahkan. Tapi sekarang sang kuasa kembali mempersatukan keduanya dalam indahnya mahligai pernikahan.


.....Tamat......


Terimakasih kepada para pembaca yang Sudi mampir dan menunggu setiap episodenya dengan jadwal update yang sering molor. Maafkan aku ya semuanya...


Ada sedikit informasi...


Teman-teman yang aku cintai. Rasanya ada yang kurang kalau tidak membahas tentang kisah cinta Teo dan Anandita. Ada yang setuju?


Maka dari itu aku ingin membuat cerita mereka dengan judul yang berbeda. Tapi akan aku publish di sini. Anggap saja. S2 Dari Novel BIARKAN KAMI BAHAGIA.


Besok eps perdana akan aku tulis. mudah-mudahan bisa crazy up. Lapak ini tidak akan ada logo tamat ya. kita lanjut kisah Teo dan Anandita...


Ini dia judulnya...



Sinopsis....


Pernikahan yang manis dan indah harus di telan mentah-mentah olehku Setelah kenyataan tentang perasaanmu kepadaku. Kak!


"Kenapa rasanya aku jijik melihat wajahmu?" Ucap Teo dengan mata merah menyala.


"Jijik?" Aku terdiam dengan mata berkaca-kaca.


"Aku jijik karena kamu menjadi istriku bukan dirinya!"


..


.


Stop ah buat besok 😅

__ADS_1


__ADS_2