
Adel menunduk sambil terisak. dirinya mengabaikan cacian dan umpatan kasar sang Ayah. dalam kondisi seperti ini dirinya seakan hidup sebatang kara, tidak ada yang membela atau memberi ketenangan cobaan yang diberikan benar-benar tidak bisa dihentikan.
Ketika tuhan berkehendak manusia bisa apa.
Bu Puji yang masih berada dibelakang tubuh suaminya perlahan mendekat dan mengusap pundak bergetar itu. meminta untuknya berhenti berbicara buruk tentang sang putri.
"Pah, jangan mengusirnya biarkan Adel tetap disini bersama kita. ini sudah malam! bagimana Papa membiarkan Adel pergi hiks...hiks..Mama tau Papa sangat marah tapi Gavin sudah mau ber-
Kalimat Bu Puji terhenti ketika tubuh Pak Alam berbalik membawa wajah bingung.
"Apa, Biarkan saja? Mah, Gavin berbeda dengan Adel apa Mama mau putri kita menikah dengan pria yang berbeda keyakinan begitu, tidak... Papa tidak ingin itu terjadi, lebih baik-
"Baiklah kalau itu mau Papa. sekarang mama tanya? siapa yang akan menikahinya siapa? Teo! bukankah sama saja. diluar sana tidak akan ada yang mau menikahi putri kita Pah, Adel hamil Pah Adel hamil! bagaimana bisa Papa berkata seperti itu, Mama setuju Adel menikah dengan Gavin! bagaimana pun Gavin harus bertanggung jawab." papar Bu Puji tegas. walupan hatinya sakit mengatakan hal itu.
Pak Alam mematung ternyata sang istri tidak sepemikiran dengannya. sejenak Pak Alam diam untuk merenung perkataan istrinya ada benarnya juga! siapa yang mau menikahi gadis dengan keadaan hamil, seketika mata lelah Pak Alam terpejam. "Ya Alloh, maafkan aku dan istriku..Baik, Papa setuju." tuturnya pasrah.
Alih-alih tersenyum mendengar jawaban sang suami. Bu Puji malah berjalan menghampiri Adel yang masih terisak diatas Sofa.
Merasa ada yang datang. Adel mendangah dengan wajah menyedihkan. "Mah." Adel menatap lekat wajah Bu Puji. ingin rasanya ia memeluk tubuh mungil itu tapi dirinya tidak berani.
Bu puji meringsek didepan Adel. lalu ia mengusap lembut pipi putrinya yang basah dan memerah. wajah wanita paruh baya itu nampak kacau mata sembabnya terlihat lebih mendominasi.
Sedangkan Pak Alam melihat dari kejauhan bagaimana putri tunggalnya dalam kondisi menyedihkan. tapi rasa kecewa mengubur rasa simpati untuk sang putri, marah! dirinya masih diselimuti perasaan itu. seakan muak Pak Alam melenggang pergi dan masuk kedalam kamar membiarkan kedua wanita yang amat sangat berarti didalam hidupnya untuk mencari solusi atau saling menguatkan.
"Bagaimana bisa aku membiarkan anakku, darah dagingku dinikahi pria yang tidak se-Iman? Ya Alloh, maafkan aku. karena tidak bisa membimbing keluarga, maafkan aku Ya alloh." Pak Alam merintih disetiap langkahnya. merasakan betapa sang pemilik kehidupan memberinya pilih yang amat sangat besar.
"Mah, maafkan Adel, Mah." Ucapnya lirih sambil mengecup tangan Bu Puji. "Hiks...hiks...Adel, minta maaf." Tambahnya.
Ingin rasanya Bu Puji menarik tangannya yang tengah digenggam Adel. tapi hatinya tidak memberinya izin, jujur saja dirinya merasa kasian dan tidak tega melihat penderita putri cantiknya itu. tapi melihat keadaan membuatnya sulit untuk menerima.
"Masuklah ke kamarmu." Pinta Bu Puji berusaha lembut.
"Mama, maukan maafin Adel?" Mata sembabnya menatap sang Mama seolah memohon.
Entah apa yang merasuki hati Bu Puji dirinya memberi respon dengan anggukan kepala alih-alih memberi ucapan menyakitkan. mungkin saja hatinya sudah mulai berdamai dengan keadaan, mencoba menerima walupan sulit dirasa.
Seketika Adel memeluk tubuh Ibunya penuh penyesalan. walupun saat ini dirinya masih belum mengerti dengan apa yang terjadi dalam hidupnya.
"Terimakasih, Mah. hiks...terimakasih.. Maafkan Adel, Mah.. hiks...hiks...Maaf."
Dalam pelukan Adel Bu Puji menangis pilu meratapi nasib Putrinya. sedari tadi pikirannya terbagi? apakah keluarga Gavin akan menerima Sang putri menjadi menantu didalam keluarganya? dan lagi, apakah keputusan ini adalah yang terbaik? perbedaan diantara keduanya benar-benar membuat Bu Puji dilema, tapi bagaimana dengan si janin yang tidak bersalah! tidak mungkin dirinya meminta Adel untuk menggugurkan kandungannya?
Mengingat hal itu Bu Puji menggelengkan kepala seolah menyingkirkan pikiran laknat itu.
"Mama, hanya ingin kamu tau kalau kami sangat menyayangimu Adel. jadi, Mama mohon ketika kamu menjadi seorang istri kelak ingatlah, siapa tuhanmu dan siapa dirimu."
Adel menganguk cepat. pesan Bu Puji amat sangat bermakna dalam hidupnya. suara tangis dari keduanya menjadi penutup malam menyedihkan itu dan menyongsong hari esok yang masih menjadi misteri.
.
.
Langkit senja yang kelabu kini berganti dengan cerahnya awan. Sayup-sayup suara kendaraan terdengar seperti biasa. ingatlah, seberat apapun masalah dan sekuat apapun kita melawan Kota besar itu tetap sama besar, dan mengagumkan. ya, begitulah kota Jakarta meninggalkan orang-orang yang malas, menjun-jung tinggi mereka yang siap menata masa depan. itulah hidup dimana kita ingin berusaha disitu semua akan terasa lebih mudah.
Di saat orang-orang sibuk dengan urusanya. seorang pria tampan malah asik melamun didekat jendela kamar yang menjadi tempatnya beristirahat.
Matanya seolah enggan terpejam walupun rasa kantuk terus membujuknya untuk bersantai dialam mimpi. memintanya untuk melupakan masalah yang tengah terjadi walupun hanya beberapa detik saja, tapi kenapa dirinya malah senang bergulat dengan kehancuran dan kemalangan? pantas saja, wajah cantik sang pujaan hati terus datang dan memintanya untuk selalu mengingat masa-masa dimana keduanya bertemu.
Semalaman matanya terjaga. bayang-bayang Adel terus menari didalam pikirannya, bahkan ketika pagi datang matanya masih setiap terpejam.
Tanpa sadar senyuman manis ia perlihatkan. bak mentari yang datang mengusir gelapnya dunia melupakan kenyataan kalau sang pujaan hati akan menjadi milik sahabatnya.
Seketik senyuman manis itu menghilang wajahnya memerah. mata panda itu berkeliaran mencari sesuatu? Tak lama ia meraih benda yang tersimpan diatas meja.
Tangan kekar Itu mengotak-atik benda segi empat yang berharga fantastis. disana ia melihat sebuah nama 'Adelia' dengan emoticon Love. secepat kilat tangan-nya bergeser! ada gambar sampah disana.?
Ternyata dirinya ingin membuang semua kenangan sang dara termasuk nomor teleponnya. tapi tangan-nya seakan enggan melakukan itu, tiba-tiba saja jarinya menjadi berat?
"Teo, jangan membuat semua menjadi sulit. apapun yang terjadi Adel bukan lagi milikmu." Dirinya berbicara sendiri sambil menimbang-nimbang apakah perlu membuang beberapa angka itu. Teo mengacak-acak rambutnya kesal, hatinya seakan enggan melakukan hal itu.
Beberapa menit lamanya ia bergulat dengan perasaannya. pada akhirnya Teo melemparkan si hp dan pergi keluar kamar untuk mengisi perutnya, mungkin juga dirinya harus mempersiapkan jawaban atas pertanyaan yang pasti akan dilemparkan kepadanya. terutama dari Sang Adik tercinta.
__ADS_1
Setelah Sarapan, semua keluarga berkumpul untuk menghabiskan waktu bersama. pasalnya, Tuan Rizal dan Nyonya Sekar akan kembali ke kota Bandung. hanya Teo yang masih di Jakarta ya karena sebagian kegiatannya di habiskan disana.
Teo melewati setiap obrolan yang tengah berlangsung. dirinya lebih memilih melamun dan melamun mengabaikan tatapan Anandita yang sedari tadi mencuri pandangan kearahnya.
Noah yang melihat itu langsung memberi kode lewat tatapan tajam. meminta kepada sang Adik untuk menghentikan sikap konyolnya. Anandita memalingkan wajah merasa kesal dengan tatapan Noah.
Kebetulan, Kasih baru saja turun dengan membawa Baby Ayres di ikuti satu Baby sister.
Semua mengalihkan perhatian kearah Baby Ayres yang ada didalam gendong ibunya. tak terkecuali Teo, seketika ia bangun dari lamunannya dan tersenyum ceria.
Kasih duduk diantara semua keluarga. kemudian obrolan kembali dilanjutkan, Nyonya Sekar dengan semangat mengambil alih Baby Ayres. Pria kecil itu benar-benar mengantuk sampai enggan beranjak bangun.
"Cucu Mama sangat tampan." Nyonya Sekar memberi pujian sambil mengecup kening Ayres.
Noah tersenyum ceria setelah mendengar pujian dari sang ibu Mertua. "Jelas, karena Daddy-nya Adalah Noah." Serunya bangga. kedua bahunya sampai terangkat.
Yang lain hanya bisa tertawa mendengar ucapan Noah tanpa ingin meledek. karena mereka terlalu sibuk memperhatikan Baby Ayres termasuk Teo.
Di tengah kesenangan itu. tiba-tiba saja Kasih bersuara. "Kakak, Bagaimana Adel? apa dia baik-baik saja? dari semalam dia tidak bisa dihubungi?" tanya Kasih dengan wajah sendu. dari semalam dirinya uring-uringan! tidak adanya informasi tentang kabar Adel membuat malamnya dipenuhi kesedihan.
Sedari semalam bahkan pagi datang Kasih tidak sempat menanyakan prihal itu. dan ketika dirinya bertanya kepada Noah! pria tampan itu hanya mengangguk datar seolah menyembunyikan sesuatu?
Nyonya Sekar dan yang lain menanyakan hal yang sama. hanya Anandita yang diam mendengarkan tanpa ingin terlibat, bukan dirinya tidak perduli tapi perasaannya sedang tidak baik.
Teo dan Noah saling tatap. yang mana membuat semua keluarga semakin penasaran apalagi Kasih, tatapan mata mengisyaratkan salah satu mereka untuk bersuara. "Ada apa?" Tanya Kasih curiga.
Sebenarnya baik Teo atau Noah enggan memberi tahu kabar kehamilan Adel! tapi salah jika mereka terus bungkam.
Teo menarik napas dalam dan menatap satu persatu anggota keluarga. lalu, berhenti tepat dimana Kasih berada.
"Dia baik-baik saja. Dengar semuanya? termasuk Kamu Luna, adel, dia hamil! dan Gavin akan menikahi-nya." Ucap Teo penuh perjuangan. ingin rasanya ia berteriak jika mengingat kejadian yang menimpa sang pujaan hati.
Hening. seketika ruangan itu berubah menjadi kelabu, Kasih mematung begitu juga dengan yang lainnya. bahkan Anandita ikut terhanyut dalam suasana, Kasih bersandar lemas bayang-bayang kejadian di Surabaya kembali menyapanya.
Astaga. berarti benar kalau Mas Gavin sudah...Ya Tuhan, kenapa nasib Adel bisa sepertiku! kenapa Tuhan.. Lirih Kasih dalam hatinya. raut wajahnya nampak sedih membanyangkan betapa Adel pasti dalam keadaan hancur.
Nyonya Sekar dan Tuan Rizal bungkam seolah sulit untuk bersuara. tidak menyangka kalau Gavin bisa berbuat sekotor itu, Kakek Hendri pun bersikap demikian, semua orang yang duduk diruangan itu memilih diam dan sibuk berpikir. hanya satu kata yang mereka pikirkan.
Akan tetapi. diantara mereka ada yang diam-diam tersenyum ceria, siapa lagi kalau bukan Anandita.
Itu artinya, tidak akan ada lagi penghalang aku dan Kakak Teo untuk bersama? Tuhan, kabulkan do'aku. batin Anandita semangat. terdengar jahat memang tapi ketika cinta sudah bertahta semua seolah tidak berarti.
.
.
Kediaman Pak Alam.
Adel terlihat sudah cantik. padahal dirinya hanya mengenakan baju santai. entah kenapa sekarang dirinya lebih sering bersolek, tidak seperti biasanya acuh akan penampilan. ketika pergi ke Kampus saja polesan Make-up menari diatas kulit mulusnya.
Karena ini hari minggu. jadi ketiga penghuni rumah sederhana itu berkumpul, tapi lain dengan pagi ini semua seakan hampa tidak ada tawa atau gurauan yang selalu tercipta. warung yang selalu buka saja masih tutup yang mana membuat para pelanggan memilih berbelanja di tempat lain.
Adel berdiam didalam kamar seolah takut keluar. bahkan dirinya mandi sedari subuh untuk menghindari cacian dari sang ayah yang entah ada dimana.
Tiba-tiba saja bayang-bayang Teo datang. dirinya ampai melupakan pria tampan itu! seketika wajahnya berubah tegang. "Apakah Teo tau? Dan, kenapa dia belum menghubungiku?" Adel bertanya kepada angin yang datang melewati jendela yang terbuka.
Memang sedari semalam Teo tidak meneleponnya. entahlah, Adel tidak menemukan jawaban atas pertanyaan batinya.
Pak Alam dan Bu Puji melamun didalam kamar tanpa bisa melakukan sesuatu. otak keduanya tidak membiarkan mereka untuk melakukan kegiatan seperti biasa, kalut, itu yang tengah mereka rasakan.
Beberapa menit kemudian..
Tok... tok..
Adel tersentak mendengar ketukan pintu, lalu ia berjalan mendekati pintu kamarnya mengintip apa Ibunya membukan pintu?
"Apa ibu masih tidur?" Tanya Adel pada diri sendiri. setelah menunggu cukup lama dan pintu masih diketuk, Adel memberanikan diri untuk melihat siapa gerangan tamu itu.
Secara bersamaan pintu kamar orang tuanya terbuka. dan Adel seketika mendundukan kepalanya tatapan sang Ayah benar-benar menakutkan.
"Diam disitu! " Seru Pak Alam dingin.
__ADS_1
Adel hanya mampu mengangguk tanpa berani menjawab. kembali mata sembabnya berkaca-kaca dan mengeluarkan air mata, perubahan sikap sang ayah yang selalu perhatian kini tidak ada lagi.
Pak Alam dan Bu Puji mendekati pintu utama.
Ceklek... pintu terbuka.
Di ambang pintu. berdirilah satu sosok pria paruh baya dengan Stelan jasnya. terlihat resmi seperti akan pergi bekerja, tapi ini hari minggu? lantas siapa pria itu? kaca mata yang melingkar menambah kesan kalau dirinya bukan orang sembarangan.
"Maaf, Anda siapa?" Pak Alam melirik Bu Puji gugup. tatapannya mengisyaratkan 'Apa pria ini Mama kenal'
Bu Puji menggeleng dan kembali menatap si pria asing.
Sosok itu mengayunkan tangan kearah Pak Alam. dengan gugup Ayah Adel menyambut tangan si pria begitu juga Bu Puji.
"Nama Saya Galih, Saya utusan dari tuan paris. ayah dari tuan Gavin." Kata orang itu sopan.
Mendengar nama Gavin membuat Pak Alam mengangguk datar. tidak menyangka kalau Gavin meminta orang lain untuk menemuinya? apakah seperti ini perlakukan orang kaya! memerintah bawahanya untuk menuntaskan urusan sepenting ini. tidak, mungkin bagi mereka ini bukanlah masalah besar, Pak Alam mengendus kesal jika mengingat hal itu.
"Terus, dimana mereka?" Tanya Pak Alam santai.
"Tuan paris sedang ada urusan begitu juga dengan tuan Gavin." Sahut orang itu.
Mendengar jawaban pria itu membuat harga diri Pak Alam terluka. berbesan dengan orang kaya seperti inikah rasanya? pikir Pak Alam.
Bu Puji mengmbil alih. "Mari Pak, Silahkan masuk." Ajaknya sopan.
Pria dengan usia kisaran 40 tahunan itu mengangguk dan mengikuti langkah memilik rumah. Adel sendiri memilih masuk kedalam kamar tanpa ingin tahu siapa tamu asing Itu.
Kini ketiganya duduk.
Bu Puji dan Pak Alam menatap canggung si pria yang tengah duduk di depannya.
"Begini Pak, kedatangan Saya kesini ingin menyampaikan pesan dari Tuan Paris, calon besan Anda." Kata Pak Galih utusan keluarga Abrisam.
Kedua orang tua Adel senantiasa mendengarkan.
"Pernikahan antara Putri Bapak dan Tuan Gavin akan di langsungkan empat hari dari sekarang. dan seperti yang Bapak tau kalau Tuan Gavin dan putri Bapak berbeda keyakinan! maka dari itu akan diadakan dengan dua kali pernikahan sesuai agama dari kedua mempelai, bapak mengerti?" Ucap Tuan Galih penuh kewibawaan.
Bu Puji dan Pak Alam saling tatap dan dengan pelan mengangguk setuju.
Tuan Galih ikut mengangguk lalu ia berdiri. "Kalau begitu saya permisi. Dan Saya juga ingin memberi tahukan, kalau Tuan Paris meminta untuk merahasiakan Pernihakan ini."
.
.
Hari Pernikahan
Adel melirik pria yang hampir satu minggu ini tidak ia lihat. kemana gerangan pria itu? kenapa dirinya menghilang dan sekarang tiba-tiba saja duduk disampingnya.
Gavin seperti mayat hidup. matanya menatap lurus tanpa ingin melihat kesamping dimana Adel duduk. entahlah ada apa dengannya? kenapa dirinya mendadak berubah! mana Gavin yang lima hari terakhir datang untuk menyuarakan kalau dirinya Ayah si Janin? hanya dirinya dan Tuhanlah yang tahu kenapa dirinya bisa berubah?
Seperti yang kita tahu. Gavin dan Adel harus melangsungkan dua kali prosesi pernikahan untuk menjadi sepasang suami istri.
Setelah proses pengingat mereka selesai. Gavin Dan Adil secara hukum dan Agama sudah sah menjadi sepangan suami istri dengan cara yang sudah anjurkan dari kedua belah pihak, tanpa ada satupun kerabat. sodara, keduanya menyandang predikat pasangan hidup hanya dihadiri orang tua masing-masing.
Jangan berharap ada pesta meriah karena itu hanya mimpi saja. acara yang saat ini berlangsung pun diadakan ditempat yang dipilihkan Tuan Paris. tematnya di Kota Bekasi, pria kaya itu benar-benar ingin pernikahan Gavin tidak tercium media atau halayak ramai.
Kini Gavin dan Adel saling tatap setelah sah menjadi suami istri. rasa canggung terlihat dari wajah keduanya, kemudian didepan para saksi dan orang tua. Gavin memeluk Adel yang mana membuat Adel terkejut. kebaya pengantin yang melekat di tubuhnya seakan tidak bisa menutup hangatnya tubuh sang suami.
"Kamu gugup?" Bisik Gavin.
Repleks Adel mengangguk. "Sedikit."
Gavin menyeringai mendengar jawaban istri barunya itu. kembali Gavin berbisik. "Adel, ingatlah. sekarang kamu adalah istriku dan aku meminta kepadamu tidak.. tidak... maksudku, aku berharap Janin itu benar-benar anakku? dia harus menjadi penerus keluargaku, Bedoa saja kalau dia laki-laki. maksudku, dia harus laki-laki!"
.
.
Besok eps penutup ya guys... infonya nyusul..
__ADS_1