
Suasana damai dan tentram menyelimuti hunian sederhana yang mana menjadi tempat tinggal Adel. Jauh dari kata mencekam dan kehampaan. Setiap hari Adel terus mengucap rasa syukur kepada sang kuasa. Pasalnya hidup di kota orang amat sangat menyenangkan. Tidak ada lagi air mata kesedihan. Sekarang Adel menangis karena rasa bahagia dan haru.
Sang pencipta seolah mengobati rasa sakit batin dan jiwanya ketika bertemu Bi Muji. wanita paruh baya yang dirinya anggap sebagai ibu.
4 bulan Adel menghabiskan hari-hari di rumah itu. Awalnya sulit tapi seiring berjalannya waktu kebahagiaan dan kebebasan mulai terasa. Para tetangga dan sodara Bi Muji menyanjungnya tinggi. Bukan karena statusnya sebagai Nona muda yang terbuang! Tapi karena Adel dapat menarik semua perhatian orang dengan kebaikan, Kesopanan. Dan kesederhanaan. Ya walupun di lingkungannya lebih mendominasi beragama lain dengan agamanya. Tapi Adel dan semua tetangga dapat beriringan dalam satu perbedaan.
Setiap malam Adel merenung dalam diam dan keheningan malam. Membuang pikiran tentang Gavin sang suami yang sampai 4 bulan lamanya tidak ia tau kabar dan hidup si pria tampan itu. Adel dan Gavin bak dua manusia yang terasingi waktu dan jarak. Semua seakan menjadi masa-masa dalam sebuah kenangan. Adel mengubur nama Gavin dan membuka lembaran baru bersama Bi Muji pengganti Ibunya di Kota Besar itu.
Terdengar menyedihkan dan penuh derita. Tapi Adel selalu mengatakan dalam doa.
"Jika harus seperti ini aku bisa apa! Rencana sang kuasa lebih baik dari pada rencana hambanya." Kata-kata itu selalu ia ucapkan dalam doa selepas bersujud kepada Tuhannya.
Adel bertekad untuk maju tanpa bayang-bayang Gavin pria yang masih ada dalam hatinya.. Tapi satu hal yang selalu Adel katakan dalam hatinya.
Hidupku sekarang bukan karena kamu Mas. Karena aku sadar kalau kamu bukan untukku.
.
.
Pagi lain datang.
Adel bergegas memasak untuk Bi Muji yang akan pergi ke pasar!
Bi Muji sekarang membuka lapak di pasar yang mana dekat dengan rumah mereka. Sebelum merantau ke kota Jakarta dan menjadi pelayan di manion Tuan Paris. Dulunya Bi Muji dan mantan suami membuka lapak. Menjual daging ayam tepatnya. Tapi semenjak berpisah Bi Muji memilih merantau dan sekarang setelah modal tercukupi Bi muji kembali berjualan. Sudah berlangsung 3 bulan lamanya.
Pukul 5 pagi sarapan berupa nasi goreng sederhana tersaji di meja makan. Adel menarik napas sebentar. Napasnya tersengkal hebat setiap kali memasak. Perut buncinya seolah meminta untuk diam tapi tidak dengan tubuhnya.
Bi Muji awalnya menolak. Merasa tidak pantas si Nona muda memasak untuknya tapi Adel berkata.
'Saya di sini numpang! apa Bibi mau menampung saya sedangakan Bibi pergi kepasar. Dan ketika Bibi pulang rumah berantakan pun tidak ada makanan! Tidak akan Bi?'
Ucapan Adel ketika awal datang ada benarnya. Sekarang di antara mereka tidak ikatan Nona dan Pelayan.
"Biarkan saya menjadi keluarga Bibi! jangan panggil saya Non lagi. Panggil Adel saja"
Waktu itu Bi Muji mencoba memanggil Adel tanpa ada embel-embel Nona, tapi itu tidak berlangsung lama. Bi Muji merasa tidak pantas menyebut Nama sang Nona muda.
Jadi predikat Non masih tersemat dalam ucapnya.
Seperti sekarang.
"Non." Bi Muji bergegas keluar kamar, mendapati Adel berdiri di sudut kursi makan dengan tarikan napas membawa wajah yang masih sama setiap pagi.
Wajah khawatir.
Adel menoleh membawa senyuman manis sambil mengusap keringat di dahi.
"Adel. sudah menyiapkan sarapan, Bi?" serunya.
Bi Muji mengangguk paham dan menggeser kursi agar Adel bisa duduk. Adel patuh.
"Bibi sudah katakan jangan masak lagi. Biar Bibi saja." Keluh bi Muji sambil menuangkan air kedalam gelas dan menyodorkannya kepada Adel.
Adel menerima dengan senyuman manisnya.
Gelas sudah kosong. Bi Muji mengambilnya.
"Bibi!" Seru Adel ingin protes.
"Sudah kebiasaan!" jawab Bi Muji cekikikan.
Adel menggelengkan kepala. "Saya bukan Nona lagi. Bi!" Adel mengingatkan. Tapi Bi Muji menggeleng.
__ADS_1
"Ayo sarapan dulu." Katanya mengalihkan pembicaraan.
Adel menarik napas pasrah dan mengangguk. Keduanya sarapan bersama seperti biasa.
"Emm..Nasi goreng buatan Non Adel memang selalu enak!" Bi Muji menebar pujian ketika mulutnya terisi. Tapi pandangan mata menangkap wajah kosong Adel.
Adel mengunyah nasi goreng dengan tatapan datar. Pikiranya tiba-tiba kosong. Melupakan Bi Muji yang sedari tadi bersua tentang nasi Goreng buatannya.
Sudah 4 bulan. Waktu melahirkan sudah di depan mata! tapi aku harus bagaimana?
"Non!" Bi Muji mengelus tangan Adel.
Sontak Adel terkejut. "Iya. Bi?"
"Apa yang Non Adel. pikirkan?" Tanya Bi Muji penasaran.
Adel menggelengkan kepala. "Tidak Bi. Saya tidak memikirkan-
"Tentang operasi Cesar?" Sangka Bi Muji.
Adel terdiam yang mana Bi Muji berkata.
"Dari awal Bibi sudah katakan. Non jangan khwatir. Tabungan Bibi cukup untuk-
"Tidak Bi. Saya tidak ingin merepotkan." Adel menolak. Penolakan yang selalu dirinya katakan ketika membahas tentang rencana oprasi Cesar.
Waktu itu. 2 bulan tepatnya Adel dan Bi Muji pergi ke klinik untuk memeriksa kandungan yang sudah menginjak usia 7 bulan.
Bidan klinik itu terkejut bukan main ketika memeriksa kandungan Adel. Bukan karena kandungannya bermasalah. Tapi Adel memberitahukan tentang rahasia yang selama ini dirinya rahasiakan dari semua orang termasuk bi Muji.
Pengangkatan Ginjal membuat proses persalinan akan berjalan lambat dan penuh resiko. Bi Muji terdiam di ruang pemeriksaan ketika mengetahui hal itu. Sedangkan Adel mendengarkan semua penjelasan dari bu Bidan.
"Apa saya bisa melahirkan Normal?" Tanya Adel pada waktu itu.
Adel menutup mata ketika penjesalan Bu Bidan kembali terngiang. Meluncurkan buliran bening penuh kebingungan.
Bi Muji menengankan dengan memberi pelukan. "Non. Jangan pikirkan yang lain. Non harus tenang. Semua akan baik-baik saja. Bibi Juga ingin memberi tau. Kemarin Kedua orang tua Non Adel telepon. Bibi."
Adel bergerak dan keduanya saling tatap. "Kenapa mereka bi?" Tanya Adel khwatir.
"Mereka Ga papa, Sebelumnya Bibi mau minta maaf karena Kemarin Bibi sudah lancang mengatakan semua kebenaran tentang Operasi Cesar. Ibu Non siap mengirim uang untuk biaya tambahan, Takutnya uang bibi ga cukup." jelas Bi Muji.
Adel terdiam dengan mata berbalut air asin. Dan perlahan pipi itu kembali basah.
"Hiks...hiks...Maafkan saya Bi! Saya sudah merepotkan.. Hiks...hiks....Saya malu...Hiks...hiks..."
Bi Muji menitikan ari mata dan kembali memeluk Adel.
"Bibi akan selalu ada Non...Kami semua sayang sama Non Adel. walupun keluarga Non jauh. Tapi mereka akan selalu mendukung."
Pagi itu suasana kembali suram. tangisan Adel bak bencana yang tidak seharusnya datang. Sampai siang hari Adel masih menangis sedangkan Bi Muji terpaksa pamit untuk berjualan.
Dalam kamar Adel terisak seorang diri sambil terus mengelus perut buncitnya.
"Maafkan saya. Maaf...hiks...hiks...Tolong lahirlah dengan selamat. itu harapan saya..Hiks...hiks...Tolong lahirlah dengan selamat.." Ucap Adel penuh perjuangan.
Dalam tangis yang membabi buta itu, Adel teringat akan satu sosok manusia yang tidak pernah hilang dalam ingatan dan hatinya.
"Mas..hiks...hiks...seandainya kamu ada disini. Mungkin aku tidak akan seburuk ini. hiks..hiks...hiks...Aku sudah mencoba untuk membuang cintaku tapi aku gagal! aku gagal! hiks...hiks...Kenapa kamu tidak kunjung datang! Aku rindu kamu mas..."
Ternyata perjuangannya sia-sia. Adel membohongi hatinya. Rasa cintanya kepada Gavin amat sangat besar. 4 bulan masa itu semakin membuat rasa cinta dan rindu semakin kuat. Meminta sang kuasa mendengar.
"Cepat datang Mas...hiks....hiks...cepatlah datang,..." lirih Adel dengan bibir bergetar.
__ADS_1
Kenapa kamu tidak datang Mas. Apa kamu benar-benar sudah melupakanku.
.
.
Gavin membuka mata. Mimpi buruk berhasil membuatnya terbangun. Dengan malas Gavin melirik jam.
2 dini hari jarum jam mengarah sempurna.
Ia menggela napas. Setelahnya mengangkat bingai berisi surat dari Adel. Senyuman ketir terlahir disana dengan mata berkaca-kaca.
"Maaf. aku masih belum bisa mengingatmu, Adelia." Gumam Gavin Lirih. Berusaha menguasi diri tapi Gagal. Gavin kembali meremas rambut panjangnya sambil berteriak.
"Aaaaa...Aku benci ini. Aku benci..."
Sekali lagi Gavin mengamuk dengan masih mengobrak-abrik isi kamar.
Di luar pintu kamar. dua penjaga saling tatap ketika suara erangan dan teriakan si tuan Muda terdengar jelas. Tapi mereka tidak di izinkan masuk. Tuan Paris hanya meminta keduanya untuk berjaga di depan kamar Gavin sebagai alaram takut-takut Gavin keluar kamar.
Tidak jauh dari rumah Tuan Paris. Hunian yang sama mewahnya nampak tenang dan sunyi. Sebagian lampu ruangan di matikan seperti biasanya.
Tapi di dekat kolam. Ada dua manusia dengan pakaian serba hitam duduk menghadap satu sosok pria. Keduanya berbicara pelan. sambil memperhatikan sekitar.
"Baik Tuan. Kami mengerti!" Jawab sigap kedua orang itu. Setelah mendapat perintah dari si pria berpiama hitam.
"Bagus. Aku tidak ingin ini Gagal. Nathan sudah membuatku Muak!" Aji menatap Kolam yang tersinari lampu taman dengan wajah penuh emosi.
"Dia sudah menolak berbagi saham denganku.!"
Dua hari yang lalu. Aji mengajak Nathan untuk berbincang di ke diamannya. Dan di sanalah semua berawal.
Nathan menghela napas dengan gertakan gigi ketika Adik iparnya selesai berbicara.
"Kau sudah gila!" Seru Nathan sambil beranjak berdiri. Menatap suami dari adiknya murka.
"Sampai kapanpun, saham milik Gavin tidak akan jatuh ke tangan siapapun termasuk dirimu. Manusia serakah yang tidak tau diri!" Lantang Nathan berucap kasar membuat Aji ikut berdiri. Bersejajar dengan kakak iparnya.
"Bukankah ini juga menguntungkan untuk kita. Gavin tidak akan becus memimpin perusahaan. Kamu dan aku lebih berhak." Kata Aji kepalang pede.
Nathan menyeringai. "Berpimpilah."
Dalam kurun dua hari itu Aji dan Nathan tak saling sapa. Bahkan ketika berkumpul di kediaman Tuan Paris mereka saling membuang pandangan.
Nathan sendiri belum memberi tahu prihal itu. Dirinya memilih bungkam. Karena takut akan memperburuk keadaan.
Aji mengepalkan tangan jika mengingat itu. Yang mana dirinya meminta kedua orang bertubuh besar itu datang untuk menyingkirkan Nathan.
"Gavin sudah aku singkirkan! Sekarang tinggal Kakak bodohnya itu." Kata Aji penuh emosi..
Preng!
Suara gelas pecah mencairkan suasana. Aji dan kedua orang suruhannya menoleh dengan cepat. Menatap satu sosok wanita yang mana berbaju sama dengan Aji.
Anggel mematung di tempatnya. Menatap ketiganya penuh tanya. Sampai ia berlari masuk kedalam penuh perjuangan.
"Penjaga...Penjaga.." Anggel berteriak. memanggil semua orang yang ada di dalam rumahnya.
Aji mengendus kesal sekaligus terkejut. Dirinya buru-buru mengejar sang isteri beserta kedua orang suruhannya.
"Anggel tunggu...Anggel." Teriak Aji. mengabaikan malam yang semakin larut.
Anggel berlari keluar rumah. melewati para penjaga yang bersiap di samping mansion Tuan paris. Gerbang penghubung antara rumahnya dan sang ayah.
__ADS_1
"Papa...Kak Nathan..."