BIARKAN KAMI BAHAGIA

BIARKAN KAMI BAHAGIA
Perasaan ini?


__ADS_3

Tok...tok...tok...


Gavin dan Adel saling tatap di saat penyatuan mereka. mendengar jelas suara ketukan pintu kamar.


"Siapa?" Tanya Gavin, ketika suara ketukan pintu amat mengganggu aktifitas intim mereka.


"Saya Bi Muji, Den."


"Bi Muji !!" Gavin dan Adel saling tatap kebingungan sedikit melupakan kegiatan intim itu.


"Ada apa?" Gavin bertanya kesal sembari melanjutkan penyatuan itu berharap segera mendapatkan klimaks.


Bi Muji kembali bersuara. "Nyonya Besar, Den!"


Sontak saja Adel mendorong Gavin. setelahnya menarik selimut menutup tubuh polosnya cepat. sedangkan sang suami terdampar hebat di bawah lantai dengan keadaan tubuh tanpa sehelai benang.


Adel menutupi sekujur tubuhnya mengabaikan Junior sang suami masih tercipta mantap.


Gavin mendesah marah di buatnya. tapi mendengar alasan Bi Muji dirinya bergegas memunguti baju, menghampiri ranjang dimana Adel masih berada disana setelah berpakaian.


"Aku pergi dulu ya, nanti malam kita selesaikan." Bisiknya sambil mengecup selimut yang menutup seluruh tubuh Adelia.


Adel mengangguk pelan di dalam selimut. tertegun ketika terdengar suara pintu kamar yang di buka lalu ditutup. kemudian menyibak selimut yang mana menutupi area wajahnya, Adel menarik napas dalam menatap tubuh polosnya lalu ia berguling asal ketika pergulatan nikmat itu berakhir, sedikit melupakan sang suami yang tengah di rundung bahaya akibat pergulatan hebat itu.


Adel kembali mengingat bagaimana Gavin membuatnya berkeringat nikmat. dengan napas yang masih memburu kedua sudut bibirnya tertarik menandakan suasana hati yang kini berubah senang. lalu ia bergumam.


"Semoga saja hubungan kami kedepannya lebih baik lagi Ya Allah."


Setelah kepergian Gavin. Adel bergegas membersihkan tubuh yang terasa lengket bercampur aroma sang suami, ada perasaan senang ketika membayangkan dirinya sudah menjadi istri yang sesungguhnya. walupun Bi Muji sudah membuat aktifitas itu terganggu, mengingat hal itu senyumannya menghilang sirna, otaknya menerka-nerka keadaan sang suami dengan wajah khwatir.


"Lindungi dia." lirihnya sedih sembari menyelesaikan aktifitas mandinya.


Setelahnya Adel kembali sibuk bebenah seperti biasa dengan kegundahan hati memikirkan Gavin yang masih belum memberi kabar.


.


.


Gavin berlari kedalam rumah utama bersama Bi Muji yang terus memberi penjelasan tentang sambungan Telepon dari kepala pelayan, yang mana Gavin semakin ketakutan.


"Bi, sekarang bagaimana?" Tanya Gavin yang sudah berada di dapur berbaur bersama para pelayan.


Gavin siap meluncur keluar dari area dapur dan berlari menaiki tangga. itu adalah idenya, tapi melihat keberadaan dimana sang Nyonya besar membuatnya kebingungan.


Bi Muji sendiri terus berpikir sambil menghubungi si kepala pelayan yang masih terjebak di lantai atas tepatnya di depan pintu kamar Gavin. sedangkan Nyonya Tari menunggu di ruang keluarga tanpa ingin beranjak pergi.


Pelayan yang lain ikut panik dan berusaha mencari ide guna menyelamatkan si tuan muda. juga pekerjaan mereka.


Sampai seorang pelayan yang tengah menyeka kompor bersuara.


"Buat pengalihan!"


Semua mata menyorti si pelayan termasuk Gavin.


"Pengalihan?" Tanya Gavin sambil berpikir keras.

__ADS_1


Pelayan wanita dengan kisaran usia 30tahun itu mengangguk ragu. "Saya ada ide." Katanya.


"Apa? Cepat katakan?" Pinta Gavin tidak sabaran.


Si pelayan menghampiri Gavin yakin sambil bersuara.


"Buat Pak Atmo."


Pak Atmo adalah kepala pelayan di rumah Tuan Paris.


.


.


Nyonya Tari yang tengah duduk tenang menoleh kearah tangga ketika suara teriakan si kepala pelayan terdengar menggema.


"Nyonya..Nyonya..!!."


"Kenapa harus berteriak? Mana Gavin?" Tanyanya kesal apalagi si bungsu tidak terlihat.


Pak Atmo berdiri sopan lalu ia bersuara. "Sepertinya Tuan besar memanggil anda Nyonya."


Kening Nyonya Tari mengkerut bingung.


"Benarkah?" Heran Si Nyonya besar. tapi dirinya beranjak berdiri setelahnya berjalan menaiki tangga tanpa menaruh curiga.


Pak Atmo menggela napas lega lalu berlari menuju dapur.


Gavin menatap Pak Atmo. ia segera berlari ketika jempol si pria tua itu terangkat menandakan rencana itu berhasil.


Kedua sudut bibir Gavin tertarik lebar. berlari kencang setelahnya takut ketahuan sang mama yang bak monster baginya, tapi sebelum itu ia mengatakan kepada si pelayan yang sudah memberinya ide.


Dan benar saja. rencana receh itu berhasil menyelamatkan dirinya dan semua pelayan.


Dengan hati-hati Gavin membuka pintu kamar bergebas masuk lalu ia meringsek duduk di ambang pintu. "Selamat... aku selamat." Katanya lega berusaha mengatur napas yang tersengkal berat.


Keadaan kembali tenang. para pelayan dapat tersenyum lega, apalagi mendengar kabar yang di bawa Pak Atmo tentang rencana kepergian semua keluarga Tantala menyusul Angel ke Singapura. bisa bersantai tanpa ada si tuan rumah yang amat menyiksa dengan sikap dan prilaku mereka walupun itu hanya satu minggu lamanya.


Setelah memberi kabar bahagia itu. Pak Atmo berlari menaiki tangga untuk memanggil Gavin, bisa di bilang dirinya bersandiwara. dan di waktu bersamaan Nyonya Tari baru saja keluar kamar membawa wajah ketus apalagi melihat Pak Atmo.


"Mana Gavin?" Tanya Nyonya Tari.


"Akan saya panggilkan." Sahut Pak Atmo tenang.


Nyonya Tari mengangguk pelan lalu kakinya kembali menuruni tangga sambil bergumam.


"Sebelum pergi. lebih baik aku ke dokter ! pendengaranku sepertinya bermasalah."


.


.


Di tempat lain. tepatnya di kediaman Kakek Hendri. para pelayan sibuk bebenah mempersiapkan hidangan dan masih banyak lagi.


Seperti yang di katakan Noah kalau nanti malam akan di adakan acara makan malam dengan calon suami adik tercintanya.

__ADS_1


Rona bahagia terpancar jelas di wajah Anandita. dirinya tak henti tersenyum dan berjingkrak ketika mendengar kabar perjodohannya dengan Teo!


Apalagi yang membawa kabar itu adalah Kakak iparnya sendiri. semenjak kemarin gadis cantik itu sibuk mempersiapkan diri berbelanja gaun yang akan di kenakannya ketika bertemu Teo! malam nanti.


Waktu sore...


Kakek Hendri duduk seorang diri di ruang tamu menatap para pelayan yang masih sibuk bekerja. akan tetapi tidak ada senyuman di sana wajah keriputnya nampak menyedihkan seolah menggambarkan beban yang amat berat.


Maafkan Kakek Dita, Kakakmu berpikir ini adalah jalan terbaik. Kakek tidak bisa berbuat apa-apa. Lee adalah pria baik Kami mengenal keluarga mereka, jadi Kakakmu dan Kakek tidak akan khawatir. Kamu pasti bahagia hidup bersama Lee.


Batin Kakek Hendri, ada perasaan bersalah ketika dirinya tidak memberi tahu siapa pria itu. Noah sudah memintanya untuk diam dan akan melihat nanti malam.


Di saat itu. Anandita menuruni tangga yang mana membuat Kakek Hendri menatap sang cucu tercinta berteman senyuman kikuk.


"Wah sayang, kamu sangat cantik." Puji Kakek Hendri sambil berusaha tersenyum ceria.


Anandita tersipu malu di buatnya. " Terimakasih, Kek."


Kenapa kamu terlihat bahagia? Apakah kamu benar-benar sudah melupakan Teo dan menerima Lee?


Gaun malam berwarna Navy tanpa lengan itu benar-benar membuat Anandita bak putri raja. parasnya yang cantik serta kulit putih bersih menambah nilai keanggunannya di sore itu. rambut yang sengaja di gerai semakin mengguncang jiwa siapa saja yang melihatnya, ini ia lakukan demi Teo si pria idaman yang masih belum terlihat.


Anandita terus berjalan anggun guna menghampiri Kakek Hendir. senyuman kebahagian tidak bisa ia sembunyikan, apalagi melihat para pelayan yang sibuk bebenah untuk menyambut tamu istimewa.


Kak Teo, apakah kamu merasakan apa yang aku rasakan? cepatlah datang Kak dan lihat aku saat ini.


.


.


Kamar dengan minim penerangan terasa sunyi dan kelabu. tidak ada kecerian atau suara musik Jaz yang terlalu terdengar. terasa lain ketika di pojokan kamar terdapat satu sosok pria tengah duduk di atas sofa tunggal menyendiri tepatnya. menatap langit senja lewat celah jendela yang tertutup sehelai gordeng abu.


Ia mendesah penat sedikit melonggarkan dasi yang masih melingar di lehernya. kemeja yang tadi ia kenakan ketika bekerja juga seakan menjadi saksi kesedihannya di sore itu.


Jangan bertanya kenapa sikapnya terlihat lain. jangan berkomentar tentang prilakunya saat ini. hatinya tengah gundah gulana carut marut tak menentu memikirkan gadis yang dia anggap sebagai adik kecilnya itu. itulah yang tengah Teo pikirkan.


Teo menarik tambutnya meremasnya kesal. sedikit menghentak kaki yang masih berbalut sepatu hitam. ia gusar dengan keadaan bingung harus melakukakan apa. sekarang bukan nama Adelia yang sibuk bergentayangan menghantui setiap harinya. melainkan ada nama baru?


Anandita ! tepatnya.


"Arghhh....berhenti tersenyum kepadaku berhenti!" Teo berteriak frustasi. lalu beranjak berdiri mengatur napas. melirik jam di atas dinding. 19:12 wib tepatnya.


"Aku mungkin sudah gila! tapi aku benar-benar tidak bisa diam saja..."


Teo berlari keluar kamar mengikuti seruan hatinya, yang mana memintanya untuk pergi ke kediaman Kakek Hendri tanpa ada alasan yang pasti.


"Dita tunggu, aku akan datang."


Entahlah.. Teo ini tipe pria seperti apa?


Kita saksikan esok lagi.


..


Di sini saya tidak akan menjelaskan panjang lebar kenapa saya seolah menghilang...

__ADS_1


SAYA JUGA MANUSIA. Ada kalanya sehat pun sebaliknya. ada kalanya santai pun sebaliknya...yang masih mau setia alhamdulilah, ada yang mungkin merasa bosan menunggu monggo mundur pelan-pelan tanpa meinggalkan jejak persedihan jiwa si penulis ❤


Semoga kita selalu sehat...love you Raider...


__ADS_2