
Isakan tangis mengiringi pemakaman Kakek Hendri. Pria tua yang selalu tersenyum dan penuh kebaikan itu di makamkan di dekat Kedua orang tua Noah dan Anandita.
Pemakaman mahal yang terletak di daerah Karawang Jawa barat, sandiego hills namanya. Di sanalah Kak Hendri berbaring tenang membawa kesedihan untuk semua orang yang mencintainya.
Tidak ada yang menyangka akan pergi secepat itu. Di hari bahagia atas pernikahan Sang cucu dirinya pergi dengan mendadak tanpa memberi pesan atau pertanda..
Rahasia dalam kehidupan ini ada tiga..
Jodoh, Rezeki, Maut.
Ketiganya senantiasa mengiringi kehidupan kita sampai ajal datang..
Anandita yang di dekap Noah sang kakak tak hentinya menangis. Semua pelayat yang datang begitu terpukul ketika kabar buruk itu datang. Semua keluarga sanak saudara dan para kolega, dengan berat hati mengantarkan Kakek Hendri ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Langit mulai gelap. Pada pukul 1 siang. Peti jenazah di timbun tanah yang masih merah dan basah. Sampai gundukan tanah yang kini nampak terlihat.
Orang-orang bergantian menabur bunga di atas pusara kakek Hendri. Menyalami keluarga inti yang tengah berduka. Lalu satu persatu pergi meninggalkan hamparan tempat sunyi itu.
Noah dengan gontai berjalan bersama dengan sang adik yang hanya diam bak mayat hidup, mendekati gundukan tanah yang kini berhias taburan bunga. Wajah dan mata Anandita memerah dan kacau. Penampakan yang sama 8 tahun yang lalu. Ketika dirinya di tinggal Kedua orang tuanya.
Noah sendiri nampak tegar Walaupun kemarin ketika berada di rumah duka. Air matanya tumpah tak terkendali.
Setelah di nyatakan meninggal, Kakek Hendri segera di terbangkan ke Jakarta bersama semua keluarga. Proses keagamaan dan penutupan peti jenazah menjadi pertanda kalau mereka harus berpisah dengan Kakek Hendri.
Kasih dan Teo mengikuti kakak beradik itu dari belakang di saksikan keluarga yang setia menemani.
Tak ada kata dari mereka. semua diam membisu sedari kemarin. Kesedihan yang mendalam begitu terasa. Kebahagiaan yang kemarin tercipta kini tak ada lagi. Menyisakan tangis dan kesedihan di wajah mereka.
Mulai saat ini mungkin ke adaan akan terasa lebih berat. Rumah besar yang menjadi kebanggaan Kakek Hendri sunyi sepi. Sekali lagi meninggalkan kehampaan dan kesedihan. Butuh waktu untuk meramaikan suasana hati yang kini porak-poranda.
Penaburan bunga kini di lakukan Noah dan Anandita. Di susul Teo dan Kasih. Cucuran air mata kini tak terlihat lagi. Seolah habis terkuras.
Anandita termenung di dekat pusara kakek Hendri dengan wajah kosong. Noah yang tegar kembali merangkul sang adik membawanya dalam pelukan.
"Sekarang kita hanya berdua Kak," Ucap Anandita lirih.
Noah menjawab pelan. "Kita tidak sendiri, Dita."
Teo dan Kasih perlahan mendekat. Mendatangi pasangan mereka untuk memberi kekuatan.
"Hidup, Mati ada di tangan sang pemilik kehidupan, kita hanya menunggu kapan waktu kita datang."
Kasih bersandar setelahnya ke pundak Noah yang kini terasa lemah. Menatap gundukan tanah yang ada di hadapan.
Teo memberanikan diri untuk merangkul sang istri yang ada dalam pelukan Noah.
Anandita menarik napas panjang ketika tubuhnya perpindahan kedalam pelukan sang suami yang sedari kemarin seakan jauh. Dirinya sibuk menangis dan terus menangis.
Ke empatnya menatap pusara kakek Hendri dengan tatapan kosong. Rasa ketidak percayaan masih menyelimuti.
Dalam benak batin Teo, ia kembali mengingat hari di mana Kakek Hendri tergeletak dengan bisikan yang terus terngiang. Membuatnya tidak dapat tertidur nyenyak. Ia menunduk sedikit untuk melirik Anandita yang tengah bersandar nyaman.
Teo berjanji akan menjaga Anandita Kek, tapi sulit bagi Teo untuk mencintainya! Bantu Teo untuk mencintai Dita.
Kelopak mata Teo terpejam yang tertutup kaca mata hitam. Yang mana di kenakan semua keluarga yang datang.
.
.
Ceklek...
Teo membuka kamar membawa langkah kaki pelan kedalamnya. Melirik satu sosok wanita yang masih duduk di sofa tunggal dengan tubuh menghadap ke depan jendela.
Tas hitam yang di bawanya ia letakan di atas meja. Kembali berjalan menghampiri sang wanita yang di yakini Anandita.
Sudah satu Minggu kamu seperti ini.
__ADS_1
Satu Minggu berlalu. Semenjak kepergian Kakek Hendri semua menjadi terasa berbeda. Rumah besar yang kini menjadi tempat tinggal Teo terasa kosong. Banyaknya pelayan tidak dapat menghangatkan suasana seperti dulu.
Hampa terasa.
Anandita selalu mengurung diri dikamar. Mengabaikan Kedua kakaknya yang begitu khawatir, begitu juga dengan Teo. Anandita melupakan sosok sang suami yang dalam satu Minggu berperan lebih lembut dan perhatian. Atau lebih tepatnya rasa kasihan.
Kasihan karena Anandita lebih senang menyendiri tanpa ingin melihat dunia luar yang masih sama.
Tap...tap...tap...
Suara sepatu yang beradu dengan lantai marmer memudarkan lamunan Anandita. Ia menoleh dengan wajah sendu seperti biasa. Wajah yang sama yang di lihat Teo dalam satu Minggu ini.
Keceriaan dan tawa sang istri tak lagi terlihat. Sedikit membuat Teo terganggu dengannya. walaupun perasaan itu kembali di tepis jauh.
Noah sudah berpesan kepada Teo untuk sabar menghadapi Anandita yang kini menjadi tertutup. Kejadian yang sama ketika kedua orangtuanya meninggal 8 Tahun silam.
Melihat Teo sesaat. Anandita kembali menatap objek yang sama. pohon besar di luar jendela menjadi temannya.
Teo menyeringai melihat sikap yang di perlihatkan sang istri.. Ternyata di abaikan itu tidak enak. Pikir Teo.
Kursi di gesernya. Menjatuhkan bobot tubuh di sana dengan menghela napas berat.
Sunyi...Diam...Hampa....
"Kamu belum makan, Dita?"
'Non Dita belum makan sedari pagi, Den Teo.'
Kata pelayan ketika Teo masuk ke dalam rumah yang nampak sepi di sore itu.
Noah dan Kasih pergi ke Bandung untuk menemui keluarga Tantala. Kesehatan Tuan Rizal sedang tidak baik.
Kemarin lusa Teo pergi ke Bandung seorang diri tanpa Anandita. Keluarga Tantala mengerti.
Tak ada jawaban. Anandita tetap diam membisu. Mengabaikan Teo untuk yang kesekian kalinya.
Dengan ragu Teo mengusap punggung mulus berlapis Dress bertali itu canggung.
"Makan ya, nanti kamu sakit!" Ajaknya dengan masih mengelus punggung Anandita.
Tubuh Anandita menegang. Sentuhan yang selama ini di rindukan akhirnya ia rasakan.
"Aku ga lapar." Jawab Anandita dingin.
"Mau sampai kapan kamu seperti ini, Dita?"
Berusaha membalikan tubuh Anandita yang terus membelakangi dirinya.
Anandita menurut, Tak ada tenaga membuatnya diam.
Teo menatap wajah pucat Anandita penuh rasa bersalah. Bersalah karena dalam satu Minggu ini dia seolah membiarkan sang istri sendiri tanpa ingin mengganggu. Yang pada kenyataannya Anandita butuh teman untuk bersandar.
Kepala dengan rambut di gerai sedikit berantakan itu menggeleng pelan.
"Kakek akan sangat marah melihat kamu yang sekarang, apa kamu mau membuatnya sedih?"
Tiba-tiba mata sayu itu mulai berkaca-kaca dan mengeluarkan air mata tanpa tangisan.
Teo menarik tangan Anandita dan menggenggamnya erat.
"Bagaimana kalau kita liburan? Anggap saja bulan madu kita?" Ucap Teo penuh semangat.
Mata berair itu menatap Teo membawa senyuman samar. "Apakah kamu sudah membuka hatimu, Kak?"
Tatapan keduanya beradu. Teo seketika memalingkan wajah.
"Makan ya, aku juga lapar." Teo jelas mengalihkan pembicaraan yang mana membuat Anandita melepaskan tangan Teo.
__ADS_1
"Maaf Dita, aku masih-
"Iya, Dita tau. Kakak masih butuh waktu untuk mencintai Dita, tapi sampai kapan? Sampai kapan Dita harus menunggu?" Ada Kilauan kemarahan dan rasa kecewa di mata berair itu.
Terluka jangan lagi di tanya.
Teo menarik napas. Ini adalah situs yang selalu dihindarinya. Pertanyaan yang tidak bisa di Jawab kembali terulang.
"Katakan kak, sampai kapan Dita harus menunggu? Selama kita menikah Kakak belum pernah menyentuh Dita,"
Setiap malam hanya guling dan selimut yang menemani. Keberadaan Teo di sampingnya tak berarti apa-apa. Setiap malam Anandita melewati kekosongan dan kehampaan. Tapi setelah Kakek Hendri Pergi. Anandita mengesampingkan perasaan sakit itu. Kehilangan akan sang Kakek sudah mengalihkan hatinya.
Teo tidak memberi jawaban. Ia masih betah menunduk menatap sepatu kerja yang masih ia pakai.
"Baik, kalau Kakak tidak bisa menentukan biar Dita saja?" Katanya tanpa ragu.
Sontak Teo mengangkat kepala. Dengan kening mengkerut menghasilkan dua alis yang beradu.
"Satu tahun sepertinya cukup, untuk kakak mencintai Dita."
"Apa maksudmu, Dita?" Tanya Teo bingung.
Satu tahun harus sudah mempunyai perasaan cinta. Kemarin hanya terbuai saja. Perasaan sayang kepada Anandita tidak lebih seperti Kakak menyayangi Adiknya sendiri.
Aku dulu menggendong dan membawamu bermain Dita. Tapi sekarang aku bahkan masih tidak percaya, kalau kamu dan aku akan bersama dalam satu ikrar sumpah sebagai suami istri.
"Apa yang akan terjadi kalau-
Ragu-ragu Teo mengatakan itu. Anandita menyeringai samar.
"Jangan kakak lanjutkan. Dita tidak ingin mendengar."
"Apa kamu akan merelakan aku pergi, kalau masa satu tahun itu berlalu?"
Anandita mengangguk berat.
"Tapi Dita akan berusaha untuk membuat Kakak mencintai Dita."
Apakah seperti ini rasanya tidak di inginkan? Sekuat apapun aku berusaha tetap tak ada harganya, tapi aku akan tetap berusaha walupun itu akan menyakitiku nantinya.
Teo melenggang pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun, setalah selesai berdiskusi tentang kepastian rumah tangga yang belum genap satu bulan itu.
Anandita kembali menatap luar jendela dengan derai air mata.
Diskusi itu berakhir. Menghasilkan perasaan tidak nyaman untuk kedua pengantin baru itu.
Kenapa dia tidak mengerti juga. Cinta itu tidak dapat di paksakan. Bagaimana mungkin aku mencintaimu dalam kurun waktu satu tahun?
.
.
Malam harinya, Teo dengan sadar membawa nampan Makanan kedalam kamar.
Kebetulan Anandita tengah bersantai di atas kasur. Terlihat wajahnya lebih baik. Ada sedikit semangat di perlihatkan.
Anandita menoleh. Menatap kedatangan Teo yang nampak sibuk dengan nampan.
"Makan, Dita." Tegur Teo sambil berjalan menghampiri.
Ponsel di letakkan samping Guling. Anandita terlihat menerima perlakuan Teo yang nampak berusaha.
Mata yang masih berbalut kaca mata baca itu menatap lapar makanan yang di bawa.
Melihat itu Teo tersenyum samar.
"Mau makan di kasur apa di situ?" Menunjuknya dengan ekor mata.
__ADS_1
"Di hatimu, kak."