BIARKAN KAMI BAHAGIA

BIARKAN KAMI BAHAGIA
Sepucuk Surat


__ADS_3

Setelah berpikir cukup lama Adel mengangguk menyetujui ajakan Bi Muji untuk ikut ke Kota Surabaya.


Bi Muji tersenyum senang melihat anggukan itu.


Mereka akan menyesal karena sudah menyia-nyiakan dirimu, Non.


Batin Bi Muji.


"Biar Bibi bantu. Non."


"Terimakasih. Bi."


Keduanya berkutat di dalam kamar sederhana itu, sampai selesai berkemas dan keluar bersama-sama. Tapi di depan pintu langkah mereka terhenti.


"Kalian sudah siap pergi rupanya?" Tanya Seorang pelayan yang tadi mengemban amanat dari Tuan Paris.


Bi Muji mengangguk sedangkan Adel terdiam.


Selembar cek si palayan sodorkan kearah keduanya. Yang mana membuat Adel terkejut pun Bi Muji.


"Dari Tuan besar untukmu!" mata si pelayan menatap Adel sebagai telunjuk.


"Tidak. Terimakasih." Jelas Adel menolak. "Katakan saya tidak membutuhkan itu. Permisi." kata Adel. Lalu keduanya melangkah lebar meninggalkan si pelayan.


Bi Muji tersenyum dan Adel membalasnya. Keduanya bergandengan tangan seperti ibu dan anak, keluar gerbang mansion tuan paris tanpa menoleh kebelakang. Berjalan mendekati satu buah mobil yang sebelumnya sudah dipesan.


Adel masuk kedalam Mobil sedangkan Bi Muji sibuk di bagasi bersama Supir taksi.


Diam-diam adel termenung berusaha untuk tidak menoleh ke arah di mana mansion sang mertua. Tapi Adel menyerah! kepala tegak itu menoleh juga! Menatap nanar bangunan mewah itu kosong.


"Semoga kamu bahagia. Aku bukan tidak ingin berjuang dan bertahan disana. tapi diriku tidak kuat untuk itu. Segeralah sadar dan temukan aku. Mungkin aku akan memberi maaf." Gumam Adel sambil terus menaham tangis.

__ADS_1


Tidak..tidak...aku harus kuat...


Bi Muji masuk dan duduk bersama Adel di susul pak supir.


Adel merubah raut wajah tersenyum melihat Bi Muji.


"Kita jalan, Pak." perintah Bi Muji kepada si Supir.


"Non, sudah siap?" Tanya Bi Muji.


"Sudah, Bi." Adel menjawab mantap.


Perlahan Mobil berwarna Merah itu mulai melaju meninggalkan mansion.


Semoga kamu selalu sehat Mas. Aku pergi dulu.


Adel manusia biasa yang punya hati dan pikiran Bi Muji melihat itu. Yang mana Bi Muji mengusap tangan dingin Adel sambil berkata. "Jangan di tahan. Non!"


"Saya kuat Bi," Kata Adel tapi tidak dengan air matanya.


Bi Muji menarik Adel kedalam depannya dan membiarkan Adel menangis. "Mereka akan menyesal. Non."


.


.


Gavin terbangun setelah merasakan haus. Sedari tadi sore pria itu hanya tidur menghabiskan waktu di dalam kamar seorang diri. Alih-alih segera meraih gelas di samping ranjang Gavin malah melamun.


Siapa wanita itu. Kenapa dia datang dalam mimpiku?


"Wanita hamil itu!" Gavin bergumam mengingat Adel yang ternyata datang kedalam mimpinya.

__ADS_1


"Ini hanya bunga tidur! Sejak kapan aku memikirkan hal yang aku rasakan dalam mimpiku. Cih..." Gavin melupakan itu. Dirinya meraih gelas dan meneguknya sampai habis dan disaat itu. Matanya menangkap hal yang cukup aneh.


"Apa itu?" Gavin bertanya kepada dirinya sendiri. Mendapati ada kertas di bawah pintu.


Ia tertarik dan berjalan mendekati pintu. Tidak membuang waktu Gavin menunduk untuk mengambil kertas itu.


Gavin bergegas membuka lipatan Kertas dan membacanya.


*Aku senang melihat kamu sudah sehat dan baik-baik saja. Jaga kesehatan dan hiduplah seperti Gavin yang aku kenal. Mas, mungkin ketika kamu membaca surat ini kamu akan mengatakan kalau aku sudah gila! Kamu benar aku sudah gila. Karena begitu cepatnya aku mencintai kamu. Jangan pikirkan aku. Di mana pun aku. Aku akan baik-baik saja. Semoga kamu cepat sadar dan ingat siapa aku. Jangan beritahu siapapun tentang surat ini Simpan dan baca lagi ketika nanti kamu sadar. Kamu mungkin tidak mengingat siapa aku. Tapi aku percaya aku ada dalam hatimu. Aku akan menunggu Mas walupun waktu akan membunuhku nantinya. Aku Adelia istrimu. Sekali lagi tolong jangan beritahu kedua orang tuamu atau siapapun dalam rumahmu. Datangi Mas Teo atau Mas Noah, Kamu akan tau jawabnya.


Love You mas*..


.


.


Membaca surat itu membuat kepala Gavin kembali merasakan sakit. otaknya dipenuhi wajah adel dan Maya beserta senyum keduanya. "Adelia dia istriku! Tapi aku tidak ingat!" Kata Gavin terbata.


Teo...Noah..Aku harus menemui mereka.


Gavin berjalan kearah lemari. Menyimpan kertas itu dan tak lupa menguncinya. Kata-kata Adel seakan mencabik otaknya yang mana Gavin ambruk yang kebetulan keatas ranjang.


Adelia...Nama yang indah. Batin Gavin dan setelahnya ia terlelap. Otaknya memksa untuk beristirahat.


.


.


Pagi datang. Gavin terbangun dan merasakan kepalanya tidak sakit lagi. Ia bergegas mandi dengan kecepatan penuh. Keluar kamar setelahnya, dan pergi tanpa memberi tahu sang ibu yang kebetulan masih sibuk bersolek didalam kamar.


Gavin masuk kedalam mobil dan keluar gerbang.

__ADS_1


"Teo, aku akan menemuimu!"


__ADS_2