
Adel segera menghempaskan tangan Teo yang melingkar kuat di pergelangan tangannya.
Sontak saja Teo tersadar. ia bergantian menatap Adel dan Gavin yang masih berlari dengan wajah memerah.
Anandita ikut andil. dirinya bergegas berlari untuk menghalau serangan yang tidak terduga.
Tertegun Teo menatap Anandita.
"Dita."
Teo bersuara dengan wajah kebingungan melihat sang dara berada didepan tubuhnya. Adel sendiri tidak terlalu terkejut karena pengakuan tempo hari yang dikatakan Dita.
"Kakak jangan khwatir, ada Dita." Ujarnya sambil menoleh kearah Teo. sesekali matanya melirik Adel tanpa ekspresi.
Kening Teo mengkerut mendengar kata yang di lontarkan Adik dari Noah itu. tapi tidak ada waktu untuk bertanya, pasalnya Gavin sudah berada diantara mereka.
Adel menuduk takut ketika Gavin menarik tangannya seolah memberi tahu siapa dirinya.
Teo mengepalkan kedua tangan melihat adegan itu, tapi dirinya bisa apa.
Gavin menatap Teo dan juga Anandita. lalu pandangan itu mengarah tepat dimana Adel berada. "Kenapa kamu keluar tanpa memberi tau ku?" Tanyanya dengan suara sedikit bising berharap Teo dapat mendengarnya.
"Aku hanya ingin menikmati udara pagi." Jawab Adel cepat, kepalanya masih menunduk takut.
Gavin mengangguk pelan kemudian merangkul tubuh mungil itu yang mana membuat Adel mematung.
"Ada apa, Teo?" Gavin bertanya santai tanpa ingin mempermasalahkan kejadian yang baru saja terjadi.
Sejujurnya Gavin ingin sekali memberi pukulan sebagai hadiah karena Teo sudah berani menyentuh istrinya. tapi bagaimana dengan dirinya yang sudah membuat kedua sejoli itu berpisah! bukankah Teo lebih pantas memberi dirinya hadiah itu?
Teo sedikit menarik tubuh Anandita memintanya untuk menyingkir. Sesaat keduanya saling tatap. Anandita mengalah dan berdiri di belakang tubuh Teo.
"Aku ingin bertemu denganmu." Teo masih betah menatap Adel yang ada didalam dekapan Gavin yang mana membuat Gavin berdehem.
"Baiklah, nanti malam aku akan menemuimu sekarang aku tidak bisa."
Teo mengangguk kikuk. "Ok." Kemudian Teo berbalik dan berjalan kearah mobil tanpa memperdulilkan Anandita.
Anandita menatap Gavin dan Adel berteman senyuman lalu ia juga pergi. "Dita juga permisi kak."
"Hati-hati Dita." Teriak Gavin.
Mobil Teo mulai melaju di susul Mobil milik Anandita. kedua kendaraan itu pergi meninggalkan Gavin yang masih merangkul tubuh Adel.
Teo membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. bukan dirinya kesal karena Gavin datang dan menghancurkan momen langka itu. tapi kedatangan Anandita secara tidak terduga membuatnya kebingungan. apakah ini kebetulan atau sudah direncanakan? mengingat sikap sang dara akhir-akhir ini terasa lain, perhatian yang diberikan begitu mengejutkan. Dan lagi Anandita menatap dirinya lain Teo sibuk dengan pikirannya.
"Maksduku kenapa Dita- Argghhh entahlah."
Kenapa tadi dia bersikap seperti itu ada apa dengannya?
.
.
Anandita sendiri terus menambah laju mobilnya berharap bisa mengejar Teo. tapi sayang dirinya kehilangan jejak.
Didalam mobil gadis berparas cantik itu terus memukul-mukul stir merasa kesal karena tidak mendapati mobil Teo.
"Dari pagi buta aku menunggumu kak, tapi sekarang kamu pergi tanpa bertanya kenapa aku tiba-tiba datang." Ucapnya lirih. sambil memutar balik rekaman memori ketika tadi pagi dirinya keluar rumah mengelabui para penjaga hanya untuk pergi ke Apartemen Teo.
Aku ingin mengatakan kalau aku sangat mencintaimu walupun aku tau kamu pasti menolakku. aku ingin melangkah maju tanpa bayang-bayangmu, aku akan kembali ke Prancis! dengan begitu aku bisa melupakan cintaku, ternyata kamu masih mengharapkan dia kak, aku pikir hatimu sudah terbuka kembali tapi ternyata aku salah.
.
.
Adel bergegas berlari setelah Gavin melepaskan rangkulannya. Gavin tidak tinggal diam dirinya melangkah cepat menghalau lari sang istri.
"Mau kemana?" Tanya Gavin sambil menarik tangan Adel.
"Lepaskan, aku tidak ingin membuat masalah."
Gavin mengerti itu. "Jangan khwatir, penjaga tidak akan memberi tau orang rumah."
Adil tidak bergeming. dirinya terus berusaha melepaskan tangan sang suami.
Gavin melepaskan tarikan tangannya. lalu ia bersuara lembut "Tunggu disini, aku akan mengambil mobil." Katanya.
__ADS_1
Adel menggelengkan kepala." Tidak perlu, aku bisa jalan sendiri." Jelas itu sebuah penolakan yang mana membuat Gavin berdecak kesal. sifat kasarnya hampir saja keluar tapi Gavin berusaha menahan.
"Dengar, aku tau kamu masih-
Tubuh itu berbalik cepat. "Aku bukan hanya masih marah. tapi aku juga sangat...sangat membencimu Gavin, berhenti perduli padaku bahkan aku jijik ketika melihat wajahmu. aku tidak pernah mengharapkan ini tidak pernah, aku bahkan berharap bayi ini perempuan agar kamu dan keluargamu tidak lagi mengganguku." Terang Adel dengan suara serak. menahan tangis yang siap menyapa dirinya berusaha kuat tidak ingin terlihat lemah walupun itu terasa sulit.
Gavin diam seketika menatap Adel kosong. kata-kata itu seolah menusuk jiwa dan raganya, sakit amat sangat sakit. lidahnya kelu seolah sulit untuk berbicara.
"Benarkah itu?" tanya Gavin datar selaras dengan wajah tampannya.
Adel mengangguk cepat. "Aku tidak ingin melihat wajahmu. tinggal disini membuat napasku sesak, kalau bukan karena kedua orang tua ku. aku tidak ingin tinggal ditempat ini."
'Ingat Adel, jangan kecewakan Mama dan Papa. sudah cukup kamu membuat kami malu jadi lupakan tentang harga diri dan egomu, Mama harap kamu bisa bertahan seburuk apapun kondisinya. setidaknya sampai bayi itu lahir.'
Adel menutup mata mengingat pesan dari Bu Puji. wanita paruh baya itu sama sekali tidak memperdulikan bagaimana dirinya yang rapuh butuh pelukan dan kekuatan dari seorang ibu, rasa kecewa sudah membuat kedua orang tua itu ingin menguburnya. sekarang Adel harus menanggung semuanya memikulnya seorang diri tanpa bantuan siapapun, bahkan Adel merasa cintanya kepada Teo hilang seketika. mungkin Anandita sudah menutup perasaan itu? entahlah, hanya Adel yang tahu.
" Aku akan bertahan sampai bayi ini lahir ke dunia. Jadi hiduplah seperti biasa, jangan lakukan apapun untukku. karena sampai kapanpun aku akan tetap membencimu."
Setelahnya Adel kembali melangkah meninggalkan Gavin membawa hati yang hancur. derayan ari mata ikut menemani langkahnya.
"Kuatkan aku ya Allah." lirih Adel sambil terisak. menahan rasa sakit di dadanya.
Gavin menghela napas berat berusaha menahan tubuhnya yang seakan tidak bertenaga. kata-kata itu membuatnya lemah ia hanya bisa menatap sang istri yang terus berjalan melanjutkan niatnya. yakni membeli selai jeruk atau mungkin ingin menghindar alih-alih masuk kedalam rumah.
Apakah ini benar Gavin? pria yang masih bersembunyi dibalik nama Abrisam. kenapa aku bisa menjadi pria pengecut? mau sampai kapan kamu diam seperti orang bodoh? sudah cukup.
Gavin menyakinkan diri mulai membuka bibir rapatnya. "Tunggu."
Adel berhenti melangkah tanpa membalikkan tubuhnya.
Gavin berjalan pelan terus menatap punggung bergetar itu. "Setidaknya,..setidakanya biarkan aku mencoba, Aku tidak perduli dia laki-laki atau perempuan aku tidak mempermasalahkan itu. Kamu boleh membenciku atau jijik melihat wajahku, tapi biarkan aku menebus semuanya."
Gavin menarik napas lalu ia melanjutkan. "Adel, beri aku kesempatan satu kali lagi, jangan buat aku seperti pecundang aku mohon."
Pria tampan itu mendekat cepat berdiri dibelakang tubuh Adel yang masih bergetar karena tangis tak bisa lagi di bendung. Gavin memberanikan diri membalik si pemilik tubuh dan Adel tidak memberi penolakan.
Ia menatap wajah cantik itu lekat sambil berusaha menahan kewarasannya. sekali lagi, Gavin ingin mengecup bibir bergetar itu.
Aku baru sadar, kalau kamu sangat cantik. Katanya dalam hati. deburan jantung seolah menari sayang Adel tidak dapat mendengar.
Gavin kembali memberanikan diri meraih tangan Adel mengusapnya sesekali. "Aku mohon, beri aku kesempatan sekali lagi." Ucapnya dengan wajah memohon.
Haruskah?
Haruskah dirinya menjadi wanita egois? mengikuti amarah tanpa memberi kesempatan?
.
.
Anandita keluar dari dalam mobil setelah ia memarkirkannya digarasi rumah Kakek Hendri. ia berjalan dengan wajah murung terlihat kalau hatinya tengah kacau.
Didalam rumah besar itu nampak sepi hanya ada beberapa pelayan yang masih sibuk bekerja. Anandita sampai melupakan keadaan rumah, dirinya terus berjalan menaiki tangga dengan tatapan kosong.
Sampai lamunan itu terhenti ketika seorang pelayan menuruni tangga.
"Eh.. Non Dita sudah pulang?"
Kepala Anandita mengangguk lemas. setelahnya ia memperhatikan sekitar tidak ada suara bising ulah tuan muda Ayres seperti biasa, yang mana membuat Anandita menatap si pelayan.
"Orang rumah kemana, Bi?"
"Oh itu, Kakek, Tuan Noah dan Non Kasih pergi bawa Den Ayres ke Bandung, Non." Jawab si pelayan.
Anandita mengerutkan kening, lalu ia berdecak kesal melupakan kalau semalam selepas makan malam. Kakak iparnya itu memberi tau kalau besok akan pergi ke Bandung, mengajak serta sang Kakek karena hari minggu jadwalnya pergi ke kota kembang.
"Baik Non, saya permisi." Si pelayan berpamitan Anandita membalas dengan anggukan.
"Astaga aku melupakan itu." Ucapnya gusar. lalu kakinya berlari menuju kamar menikmati kesendirian.
Anandita menutup pintu kamar tanpa menguncinya ia bergegas mendekati ranjang menjatuhkan tubuhnya cepat.
"Nyaman sekali." Gumamnya sambil memejamkan mata menikmati kekosongan tanpa ingin mengingat Teo.
"Baiklah, aku akan melupakanmu Kak."
.
__ADS_1
.
Lima belas menit kemudian Anandita tertidur. dirinya tidak menyadari ada sebuah mobil yang masuk dan berhenti didepan pekarangan .
Mesin mobil dimatikan. si pemilik bergegas keluar lalu berjalan cepat setelah menutup pintu mobil.
Kebetulan pelayan yang tadi tengah berada di ruang utama. dirinya berlari menghampri si pemilik mobil.
"Tuan Teo." Sapa si pelayan.
"Dita sudah pulang?" Tanya Teo alih-alih menanyakan penghuni rumah. sebelumnya dirinya sudah tau kalau Noah dan Kasih pergi ke Bandung membawa Kakek Hendri dan keponakan tampannnya.
Si Pelayan mengangguk yang mana membuat Teo melenggang menaiki tangga.
Banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepadamu Dita.
Teo menarik napas sebelum mengetuk pintu yang ada di depannya. ia seakan enggan bertemu dengan Anandita, tapi kejadian tadi membuat tekadnya bulat.
Seketika Teo mengetuk pintu berwarna pink itu.
Tok...tok....tok...
Mata Anandita terbuka cepat. ketukan itu membuat tubuhnya otomatis bangun berjalan pelan kearah pintu.
"Sabar sedikit." Anandita menggrutu jengkel ketika ketukan itu semakin menjadi.
Ceklek...
"Kenapa-
Anandita tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. ketika Teo berada tepat di depannya membawa wajah tampan yang nampak datar.
"Kak," Sapa Anandita gugup.
Dia datang! haruskah aku mengatakannya sekarang?
"Apa maksudnya tadi? jelaskan?" Ucap Teo datar.
"Ta-tadi?"
Teo mengangguk. "Kenapa kamu tiba-tiba datang dan-
Teo berhenti bersuara. ketika Anandita menyerang bibirnya! sontak matanya membulat sempurnya.
Dita mencintaimu Kak.
.
.
Sementar itu Gavin bergegas menuruni tangga setelah ia mengambil dompet. wajahnya nampak berbinar ketika mengingat momen langka dimana.
Dia memberiku kesempatan, aku tidak akan menyia-nyiakan ini. aku akan membuat mereka menyukaimu Adel lihat saja.
Angel yang baru saja masuk menatap sang adik bingung apalagi melihat wajah cerita itu.
"Dia terlihat bahagia?" Tanya Angel pada dirinya sendiri.
Gavin terus berlari melewati sang kakak. jelas Angel kebingungan.
"Gavin, kamu mau kemana?" Tanya Angel santai.
Gavin berhenti berlari tanpa berbalik. "Aku ada urusan dengan seseorang." Sahutnya ketus.
Angel mengangguk pelan. "Bukan dengan wanita itu, 'kan?"
Gavin berbalik menatap Angel tajam seolah itu adalah tuduhan.
Anggel mengerti dirinya mengangguk lagi. lalu pergi untuk kembali bergabung dengan yang lain setelah menemukan barang yang di carinya.
Gavin memasang senyuman kemudian kakinya kembali berlari tidak ingin membuat Adel menunggu.
"Maafkan aku karena sudah berbohong. aku tetap berharap bayi itu laki-laki." Gumam Gavin disetiap langkahnya.
.
.
__ADS_1
Besok up lagi ya gusy...