BIARKAN KAMI BAHAGIA

BIARKAN KAMI BAHAGIA
Berdua Saja Seperti Biasa


__ADS_3

Teo bersandar lemas setelah Noah pergi untuk kembali ke kantornya. dirinya merenung dengan wajah kalut bagaimana hatinya seolah berat memberi pendapat tentang calon suami Anandita.


"Entahlah, aku sendiri tidak tau." Gumam Teo lirih. lalu memilih berbaring untuk sejenak mengabaikan pekerjaan yang masih menunggu. mengingat waktu masih menunjukan pukul 2 sore.


Tidak di pungkiri kalau saat ini Teo memikirkan Anandita. wajah cantiknya seolah enggan pergi bahkan berhasil menggantikan rasa rindu terhadap Adelia, Teo melupakannya. entahlah kenapa bisa bayang-bayang si wanita cantik itu mulai memudar berganti dengan wajah Anandita, apalagi adegan ciuman itu kembali datang memutar jelas yang mana Teo mengacak-acak rambutnya sambil bergumam kesal.


"Gila! ini benar-benar gila! aku tidak mungkin mencintai Anandita, dia bagaikan adikku sendiri, tidak...tidak..."


Ketika Teo frustasi dengan kisah cintanya. Noah meninggalkan kantor Teo dengan wajah datar, dirinya merasa tidak puas ketika Teo seolah enggan memberi pendapat tentang si pria tampan yang saat ini tengah ia pandangi di balik layar ponselnya.


"Sebaiknya aku bergegas menjodohkan mereka." Katanya yakin. Noah seolah tau akan ada kejadian tidak terduga apalagi melihat wajah Teo tadi.


Bisa di bilang dirinya ingin berbuat jahat. dengan cara memisahkan Teo dan Anandita walupun di antara keduanya tidak ada hibungan spesial untuk saat ini!


Mencegah itu lebih baik. Noah memegang teguh semboyan itu. yang mana ia mulai mencari sesuatu didalam ponselnya lalu ponsel itu ia letakan di sebelah telinganya.


Noah tengah menghubungi seseorang.


Menunggu...sampai ia bersuara.


"Lee, besok malam datanglah kerumah. Kakek mengundangmu untuk makan malam."


Percakapan antara Noah dan pria bernama Lee itu terus berlanjut, membicarakan banyak hal salah satunya tentang Anandita.


.


.


Anandita baru saja selesai mandi. dirinya sudah nampak cantik dengan baju santainya ia keluar kamar berjalan kearah kamar Noah Kakaknya.


Tuk...tuk....tuk...


"Kak." Suara lembutnya terdengar sambil mengetuk si pintu.


Tak lama pintu terbuka. Ceklek....


Seorang wanita muda berdiri disana dengan telunjuk berada di depan bibirnya.


"Shuuut.."


Anandita mengerti dirinya mengangguk cepat. "Maaf."


Wanita itu mengangguk juga. lalu ia menarik tangan Anandita membawanya masuk kedalam kamar, mereka berjalan kearah ruang santai tepatnya di dekat jendela, disana ada dua buah sofa dengan berbagai pot yang berjejer rapih di dekatnya.


Anandita duduk seorang diri menghirup udara segar, sedangkan wanita yang tidak lain adalah Kasih pergi untuk melihat Ayres sebelum bergabung dengan Adik iparnya itu.


Tak lama Kasih datang duduk di dekat Anandita.


"Ga pergi?" Tanya Kasih sambil membuka toples berisi aneka cemilan.


Anandita menggeleng lemas. "Kak."


"Apa?"


"Dita akan kembali ke Prancis." Anandita bersandar setelahnya.


Kasih mengerutkan kening. meletakan toples kaca itu menatap lekat wajah murung Anandita.


"Apa kamu bilang?" Tanya Kasih lagi untuk memastikan.


Anandita menghela napas berat. "Dita akan kembali ke Prancis."


Kasih menggelengkan kepala menolak rencana sang adik ipar. "Kenapa tiba-tiba? apa Kakek dan Kakakmu sudah tau.?"


Kepala Anandita kembali menggeleng. "Belum, nanti malam Dita akan memberi tau mereka."


Kasih diam sejenak. kabar yang di bawa Anandita membuatnya shok, bukan hanya dirinya yang terkejut pasti sang suami dan Kakek Hendri juga merasakan hal yang sama, apalagi mereka merencanakan ingin menjodohkan Anandita dengan pria bernama Lee itu.


"Dita." Kasih menarik lembut tangan Anandita.


Anandita tersenyum. "Dita ingin kembali-


"Kami ingin menjodohkan kamu dengan seseorang." Kata Kasih cepat.


Sontak saja Anandita mematung. detak jantung meningkat tajam ada binar kebahagian di wajahanya dan Kasih melihat itu.


Apa kakak Dan Kakek setuju? apa jangan-jangan kedatangan mereka ke Bandung waktu itu untuk memberi tau om dan tante?Ya tuhan.


"Dia pria baik Dita, aku menjamin itu, Apa kamu mau-


"Ya kak, Dita mau, Terimakasih Kak." Katanya senang kemudian memeluk Kasih erat.


Kasih sendiri merasa kebingungan melihat respon yang di tunjukan Anandita. tidak ada penolakan darinya bahkan tidak menanyakan seperti apa orangnya.


"Kamu tidak menyanyakan siapa orangnya?" Kasih bersuara sedikit menahan napas ketika pelukan erat itu berlangsung.

__ADS_1


"Tidak kak, Dita sudah tau." Jawabnya mantap.


Kasih tersenyum lepas merasa lega melihat respon yang di tunjukan sang adik ipar. keduanya berpelukan erat.


Kakak Teo, mungkin ini alasan kamu tidak pernah datang ke rumah, kami ingin mempersiapkan diri.


Batin Anandita membayangkan Teo datang bersama kedua orang tuanya untuk melamarnya. sungguh hayalan yang tidak bisa di gantikan, itu yang saat ini Anandita rasakan sedangkan Kasih merenung sendirian.


.


.


Disaat Anandita tengah merasakan kebahagiaan yang masih belum terungkap.


Adel sibuk sendiri di dapur.


Seperti yang di katakan Gavin. kalau dirinya ingin makan masakan buatanya dengan bahan yang dirinya bawa, berkat bantuan Bi Muji orang kepercayaan Gavin bahan beraneka ragam itu bisa sampai ke tangan Adel.


Dua potong Cumi berukuran besar terbujur kaku diatas wajan berlapis bumbu-bumbu dengan citarasa nikmat. Adel lihai sekali memasak.


Selama ini dirinya belum pernah memasakan makanan untuk sang suami. bukan karena dirinya tidak mau tapi waktu seolah menjadi penghalang.


Hubungan mereka memang baik-baik saja tanpa terendus anggota keluarga, bisa dibilang mereka main kucing-kucingan sembari mencari celah untuk bisa bersama tanpa ada drama lagi. tapi sampai kapan mereka harus bermain di belakang intaian mata Tuan Paris?


Memikirkan itu Adel terdiam membiarkan si cumi dan hidangan lainnya mendesis matang. hatinya seolah membawanya mundur kembali .


"Sampai kapan seperti ini?" Ucapnya lirih, tangan itu mengaduk-anduk masakan tanpa sadar.


Adel terus merenung kosong bergulat tentang masa depan. apalagi jenis kelamin si janin sudah terungkap walupun itu masih prediksi awal, hingga akhirnya ia mencium aroma gosong sontak ia terkejut segera mematikan si kompor.


Adel mendesah lemah. menutup si wajan lalu pergi kedalam kamar duduk di atas kasur, sedikit membuka gordeng yang mana menampilkan penampakan rumah utama tanpa sadar matanya berkaca-kaca.


"Aku bukan ingin tinggal disana. tapi sampai kapan aku seperti ini." Adel menangis setelahnya mengusap lembut si perut.


"Kita harus kuat, Aku bersyukur kamu perempuan itu artinya kita tidak akan berpisah."


Apapun yang terjadi kita akan bersama.


Adel terus mengajak si janin berbicara menceritakan tentang indahnya dunia. sampai ia terlelap melupakan penderitaan walaupun hanya sementara.


.


.


Di rumah utama Sang Nyonya besar tengah menikmati udara sore bersama Mega menantu kesayangannya di area gazebo. sembari mengajak cucunya belajar berenang bersama pelatih profesional, tidak main- main seorang pelatih dari luar Negeri di sewanya. Mega selalu memberikan fasilitas terbaik untuk putra sulungnya berkat dukungan semua anggota keluarga pastinya.


"Udaranya seger ya Mah." Kata Mega.


"Kamu benar sayang," Sahut si Mama mertua.


Mega melirik ibu mertuanya yang ada di samping duduk di kursi kayu seorang diri.


"Tadi malam Angel telpon."


Angel sudah satu bulan pergi untuk urusan bisnis butiknya, Mega mengingat itu.


Mata Nyonya besar terbelakak lebar. "Apa dia baik-baik saja?" Wajahnya nampak pucat takut terjadi sesuatu dengan si anak.


"Dia Ok Mah, malah dia minta kita menyusul kesana." Ungkap Mega sembari memberikan teh untuk menenangkan keterkejutan ibu mertuanya.


Nyonya Tari menghela napas lega. "Mama pikir anggel kenapa-kenapa."


Mega menggelengkan kepala tersenyum senang melihat wajah panik ibu mertuanya itu.


"Gimana Mah, kita pergi?" Tanya Mega untuk memastikan menyusul Angel ke Singapura jauhnya.


Nyonya Tari menjawab. "Mama mau tanya Papa dulu, kalau boleh kita pergi."


Mega mengangguk patuh. lalu mereka kembali berbincang sampai Mega mengatakan sebuah kalimat.


"Mah, Apa Mama dan Papa tidak ingin menjodohkan Gavin?"


Mega menatap Nyonya Tari lekat. dan melanjutkan kalimatnya. "Kalau Mama setuju Mega ada teman, dia anak-


"Tidak Mega!" Katanya lemas memangkas kalimat Mega.


Kening Mega mengkerut kaget. "Kenapa Mah? oh.. wanita itu." Ucapnya seolah tahu.


Kepala Nyonya Tari mengangguk lagi.


"Papamu memang tidak ingin Gavin dan dia bersatu. alasanya sudah jelas, tapi Papamu ingin menjaga keluarga kita Sayang. sejauh ini hidup kita berjalan seperti biasa, wanita itu bahkan tidak berani menampakan batang hidungnya. dia mendengarkan perkataan Mama itu bagus, Mama bisa mencarikan Gavin istri lagi setelah wanita itu melahirkan. kita harus sabar, sampai waktunya tiba kita hanya bisa diam dan mengawasi Gavin."


Mengawasi katanya? tapi dirinya tidak tau kalau si bungsu tengah berjalan menyusuri sudut rumah yang nampak gelap.


Pukul 12 malam. waktunya Gavin beraksi keluar kamar dengan hati-hati menuju rumah kecil sang istri.

__ADS_1


Pintu belakang adalah jalan tikusnya. disana ada Bi Muji yang siap siaga menjaga keadaan sampai Gavin masuk kedalam rumah Adelia.


Kondisi aman Gavin terus berjalan dengan hati-hati. matanya berkeliaran melihat keadaan, akhirnya Gavin tiba di depan pintu rumah mungil itu.


Tak payah mengetuk, Gavin masuk menutup pintu dengan pelannya berjalan kearah kamar sang istri yang tertutup rapat.


"Apa dia sudah tidur?" Gavin bertanya kepada pintu yang tertutup. kemudian ia memutar pegangan pintu.


"Del,"


Di ambang pintu Gavin terpaku manakala melihat Adelia tengah melipat peralatan solat seperti biasa.


Aku ingin bertanya banyak kepadamu. salah satunya pekerjaan kotormu itu! tapi di sisi lain aku beryukur karena dengan pekerjaan itu, kita bisa bertemu. lihat sekarang, kamu taat dengan agamamu.


Adel menoleh kebelakang dimana ada sang suami di sana berdiri seperti biasa.


"Sudah datang?" Tanya Adel sembari berjalan kearah lemari untuk menyimpan kembali peralatan solatnya agar tidak terkena debu.


Gavin mengangguk pelan. "Habis solat?"


Adel mengangguk di saat ia berjalan meraih tangan Gavin seperti bisa.


"Aku lapar." Kata Gavin yang ingin sekali mencium pipi putih itu.


"Aku hangatkan dulu ya." Adel melangkah keluar kamar di ikuti Gavin.


Setelah menghangatkan masakan yang tadi siang dirinya buat. Adel dan Gavin duduk bersebelahan di dapur pasalnya meja makan ada disana.


Gavin menatap makanan yang ada di atas meja dengan senyuman bahagia pastinya.


"Ini kamu yang buat?" Tanya Gavin sambil menyantap si cumi.


"Iya."


Keduanya makan bersama Gavin nampak lahap layaknya orang kelaparan. pujian dirinya lontarkan di saat mulutnya penuh.


Adel tertawa melihat tingkah Gavin. walaupun hatinya masih terbayang akan kegalauan tentang masa depan.


"Aku kenyang sekali." Seru Gavin setelah menyantap habis hidangan di atas meja.


"Alhamdulilah kalau begitu." Adel menjawab di saat tubuhnya bangun untuk membawa piring.


Gavin tidak diam saja. ia langsung menghalau. "Berikan padaku, biar aku saja yang mencuci."


Gavin menarik paksa piring dari tangan Adel.


"Jangan, biar aku saja." Adel tahu Gavin pasti belum pernah melakukan tugas dapur.


Gavin menjawab santai. "Kamu tenang saja. aku bisa kok piring ini tidak akan pecah."


Adel mengalah membiarkan Gavin mencuci bekas piring beserta wajannya, sedangkan dirinya meninggalkan dapur setelah merapihkan meja makan.


Di atas sofa Adel duduk menunggu Gavin sambil mengupas lihai apel menjadi potongan siap makan.


"Apa tidak apa-apa dia mencuci piring?"


Adel sedikit menghawatirkan sang suami yang saat ini tengah sibuk sendiri dengan tumpukan piring.


Bajunya terciprat hebat ketika piring di bersihkan. Gavin memang tidak pernah mencuci piring tapi ia bukan orang bodoh. iklan dan kiat lainnya banyak tergambar bukan?


"Kenapa aku tidak membawa wartawan untuk meliput! pasti mereka akan memujiku."


Gavin tertawa geli mengingat itu. karena ini adalah pengalaman perdananya terlintas sebuah adegan dimana sang mama memergokinya tengah mencuci piring kotor. dirinya bukan malah takut tapi tawa itu semakin menjadi sampai tugasnya selesai.


"Uu...uhh...selesai juga." Lalu Gavin keluar dapur dengan tangan sedikit basah.


"Sudah selesai?" Tanya Adel berteman senyuman apalagi melihat sebagian baju sang suami basah.


Gavin mengangguk sebagi jawaban duduk lemas di dekat Adel.


"Ternyata mencuci piring itu tidaklah mudah." Celotehnya sambil mengusap-usap tangan ke baju Adel untuk menggodanya.


Adel mengendus kesal. "Ihh....bajuku jadi kotor."


Gavin tertawa lalu melahap potongan apel hasil istrinya.


Adel bersuara. "Besok cuci lagi piring nyah."


Mata Gavin melirik tajam. "Ngelunjak yah."


Satu tangan ia angkat sembari tersenyum jahil. "Mau di tampar?"


Adel menjawab. " Memangnya berani?"


__ADS_1


Gavin menggeleng cepat seraya tertawa. "Bobo Yuk?"


__ADS_2