
Aji melewati para penjaga rumah sang mertua dengan penuh tegad pun dengan kedua orang suruhannya.
"Tuan!" ke tiga penjaga menahan Aji untuk masuk karena tadi Anggel meminta untuk tidak membiarkan Aji melangkah kedalam rumah Tuan Paris.
Aji marah dan melayangkan pukulan. Ketiga penjaga ambruk seketika. Setelahnya Aji masuk dan berlari meninggalkan kedua orang bertubuh besar itu untuk menghadapi para penjaga.
"Sial...Kenapa Anggel bisa ada di sana?" Gumam Aji marah. Mendapati sang isteri bisa turun dan mendengar percakapan penting itu.
Anggel awalnya terlelap di atas kasur empuknya. tapi ketika panggilan alam datang mata Anggel terbuka. Merasa heran ketika sang suami tidak ada di samping.
Setelah urusan di dalam kamar mandi selesai Anggel keluar kamar. Tiba-tiba dirinya ingin meminum anggur pada pukul 2 dini hari. Dan ketika ia berniat kembali ke kamar. Indera pendengannya menangkap samar suara dari arah kolam. Yang kebetulan letaknya berdekatan dengan dapur.
Anggel menangis bingung ketika menaiki tangga menuju kamar kedua orang tuanya. Mengabaikan tatapan para pelayan dan penjaga yang berkerumun di bawah.
Mas Aji...Aku benar-benar tidak menyangka. Kamu tega melakukan ini kepada keluargaku.
Batin Anggel sambil terus menaiki tangga.
Kebetul Aji sudah masuk kedalam rumah Tuan Paris menatap Anggel yang sudah menaiki tangga. "Anggel. tunggu," Teriak Aji sambil berlari.
"Tuan Aji. Tuan," Teguran para penjaga dan pelayan tidak di hiraukannya. Aji terus berlari mengejar Anggel.
"Beri tau Tuan Nathan!" Titah penjaga kepada pelayan.
Pelayan wanita itu mengangguk dan berlari bersama penjaga yang lain.
Kegaduhan di tengah malam itu membuat rumah tuan Paris benar-benar mencekam. Di luar para penjaga sibuk melawan kedua orang suruhan Aji yang begitu kuat. di dalam Aji terus mengejar Anggel agar tidak sampai ke kamar sang mertua. Dan Nathan dengan wajah arogan mendatangi rumah utama bersama para pengawalnya yang mana di antara mereka ada yang membawa senjata api untuk berjaga-jaga.
"Papa...Mama..buka pintu." Anggel memanggil keduanya tepat di depan pintu kamar. Mengetuknya kencang dengan tangis ketakutan.
"Anggel..kamu salah paham." Teriak Aji dari kejauhan.
Anggel semakin mengencangkan ketukan di pintu mendapati Aji tengah berlari menghampirinya. "Buka...Papa..."
Berhasil..Tuan Paris bergegas turun dari ranjang, berlari membuka pintu yang di kunci membuat Nyonya Tari yang tengah tidur terbangun.
"Pah. Ada apa,?" Tanya Nyonya Tari dengan suara serak. Dirinya masih dalam kondisi tidak berenergi. akhir-akhir ini kesehatannya menurun karena memikirkan Gavin.
Tuan Paris menoleh menatap sang isteri sebentar. "Sepertinya itu Anggel!" Katanya sambil membuka pintu.
Cekelk...
Pintu terbuka. Anggel bergegas memeluk sang ayah dengan suara tangis yang nyata.
Tuan Paris mematung merasa bingung mendapati Anggel datang ke rumahnya pada pukul 2 dini hari dengan keadaan menangis. "Ada apa Anggel?" tanya Tuan Paris. Sebelumnya sang putri tidak pernah bertingah demikian.
Nyonya Tari panik dan berlari menghampiri. "Sayang, Ada apa? Kamu betengkar dengan Aji?" Tanya Nyonya Tari yang mana tidak di jawab Anggel.
Aji sendiri memperlambat langkah lebarnya ketika pintu kamar sang mertua terbuka dan Anggel masuk kedalamnya. Tangan Aji mengepal dengan mata memerah menahan emosi.
"Aku tidak bisa maju lagi." Aji berjalan mundur dan berbalik. Setelahnya berlari menuruni tangga. Tapi keberadaan Nathan membuatnya terdiam.
"Nathan!" Gumam Aji menatap sang kakak ipar yang juga menatapnya dari bawah ruang tengah bersama para penjaga.
Aji menelan ludahnya kasar ketika melihat kedua orang suruhannya terkapar di lantai tepat di kaki Nathan.
Kegaduhan di malam itu juga di rasakan semua orang. tapi Nenek Dayanti dan Kakek Damar di larang keluar pun dengan Gavin. Nathan meminta para pelayan dan penjaga untuk berjaga di depan kamar Kakek Damar dan Gavin. Yang kebetulan penjaga kamar Gavin tadi turun ke bawah untuk melihat apa yang terjadi.
"Aji. turunlah!" Titah Nathan.
Aji masih terdiam tidak bisa menggerakan kaki.
Sekarang semua terasa sulit.
__ADS_1
Batin Aji merasa terpojok dan ketakutan.
"Aku bilang turun!" Titah Nathan lagi dengan suara memekik.
Kebetulan Tuan Paris turun bersama Anggel dan Nyonya Tari. Membuat Aji menoleh dengan keringat yang membasahi sekujur tubub kekarnya.
"Penjaga. Seret dia!" Titah Tuan Paris dengan suara yang tak kalah memekik.
Nathan menyungsingkan senyum aneh dan melirik para penjaga yang ada di belakang tubuhnya.
"Apa kalian tidak dengar? Seret dia." Tangan Nathan mengarah ke tempat dimana Aji berdiri.
Para penjaga mengangguk dan berlari menaiki tangga. Sontak Aji mundur sampai ia terjatuh karena tersandung kakinya sendiri.
"Tunggu...tunggu." seru Aji ketika para penjaga menyeret tubuhnya. Tapi para penjaga seolah tuli dan terus menyeret Aji. Setelahnya Anggel turun bersama kedua orang tuanya.
Anggel masih ada dalam dekapan Nyonya Tari dengan masih menangis.
Tuan Paris duduk di sofa tunggal yang di kelilingi para penjaga dan juga Nathan.
Aji tersungkur malu di depan sang mertua bersama kedua orang suruhanya. Kepalanya menunduk tak kuasa menatap keluarga sang isteri. Terutama wajah Tuan Paris.
Dalam diam Aji membatin.
Tamat riwayatku.
Tuan Paris menarik napas. Masih belum dapat bersuara di tengah-tengah kesunyian dan tatapan Nathan yang penasaran.
Apa mungkin Papa sudah tau tentang keinginan Aji untuk menguasai saham Gavin? Tapi aku merasa ada yang tidak aku ketahui. Dan siapa mereka?
Nathan melirik kedua orang asing yang babak belur didekat sang adik ipar.
"Saya tidak menyangka ternyata orang yang selalu saya banggakan di depan orang banyak bisa berbuat sekeji dan sekejam itu!" Jelas Tuan Paris.
Nyonya Tari merasa tubuhnya lemas dan amburuk dalam kedapan sang suami dan Anggel.
Tuan Paris menerawang tentang penjelasan Anggel ketika di kamar tadi. Rencana jahat sang menantu kepada kedua anak laki-lakinya.
"Apa ada yang Nathan lewatkan di sini?" Nathan bersuara pelan sambil menatap sang ayah.
"Adik iparmu meminta mereka." Tangan Tuan Paris menunjuk kedua orang suruhan Aji dengan tangan bergetar. "Untuk melenyapkanmu Nathan. Dan mereka juga yang sudah membuat Gavin kecelakaan. Semua karena Aji menantu hebatku!"
"Apa?" Nathan mengertakan gigi karena tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Sontak Nathan menghampiri Aji membawa tatapan bengis.
Aji pasrah ketika Nathan menarik tubuhnya.
"Bangun!" Aji terpaksa bangun.
"Kak. tunggu dulu kak."
Pukulan hangat Nathan layangkan. Mengarah tepat kewajah Aji.
"Binatang! Kamu benar-benar binatang?" Setiap kata itu pukulan Nathan layangkan.
Aji bak samsak bagi Nathan.
Para penjaga menyaksikan tanpa bisa bertindak. Tangan sang tuan besar terangkat meminta mereka untuk diam. Anggel sendiri meraung mendapati sang suami tengah di adili.
"Kak. Cukup." Teriak Anggel meminta Nathan untuk tidak memberi pukulan kepada Aji suaminya.
"Tidak..Dia sudah membuat Gavin seperti orang gila. Dan karena dia. Kita semua menyalahkan orang yang tidak bersalah! Semua karena dia."
"Tarik Nathan." Titah Tuan Paris.
__ADS_1
Penjaga menarik Nathan.
"Lepaskan aku!" Nathan memberontak tapi Para penjaga lebih bertenaga.
Aji tersungkur hebat dengan wajah lebam hasil karya Nathan.
"Apa polisi sudah kalian hubungi?" Tuan Paris bertanya kepada penjaga yang ada di sampingnya.
"Sudah Tuan. Sebentar lagi mereka datang." jawab tegas di penjaga.
Tuan Paris mengangguk dan berdiri. Berjalan menghampiri Aji yang tengah terkapar. Kaki Tuan Paris dengan sengaja menginjak Aji menekannya sesaat.
"Mulai saat ini kamu bukan lagi anggota keluargaku. Selama ini aku sudah mempercayai orang sepertimu masuk kedalam keluargaku dan menjadi suami dari putriku. Perbuatan kotormu sudah membuat aku sadar. Ternyata orang dekat yang paling aku percayai bisa berbuat sekeji ini. Hanya demi uang dan jabatan rela melakukan apa saja! Manusia serakah sepertimu tidak pantas aku jadikan menantu. Enyahlah dan pergi dari hidup kami. Aku juga akan pastikan kalau kamu akan membayar mahal atas rasa sakit dan penderitaan putraku. Kamu dan keluargamu akan menanggungnya." Jelas Tuan Paris yang mana membuat Aji mematung melupakan rasa sakit..
Aji tau bagaimana Papa mertuanya! julukan kejam bukan isapan jempol belaka. Dan sekarang semua terlibat pun dengan keluarganya.
"Jangan bawa-bawa mereka." Kata Aji dengan momohon.
Tuan Paris menyeringai. "Kamu sudah salah bermain dengan keluarga Abrisam." Jawabnya sambil memberi tekanan lebih di dada Aji.
Aji terbatuk...
Sampai Polisi datang.
"Akhirnya." Gumam Tuan Paris.
"Tuan," Ke empat pria berseragam menyapa tuan Paris.
"Tangap mereka. Dan pastikan kalau dia membusuk didalam penjara!" Tangannya menunjuk Aji.
Pak Polisi mengangguk dan membawa Aji beserta orang kepercayaannya untuk di periksa dan pasti akan mendekap di dalam penjara.
Setelah Aji di bawa. suasana mulai mencair. Para pelayan dan penjaga kembali beristirahat dan sebagian penjaga bertugas malam.
Nathan duduk lemas di samping sang ayah yang diam dengan pandangan kosong. Sedangakn Anggel sudah mulai tenang yang masih dalam dekapan Nyonya Tari.
"Nathan sama sekali tidak mempercayai ini! Selama ini Dia ingin menguasai harta. Papa." ucap Nathan sambil menggelengkan kepala.
"Papa juga tidak menyangka." Balas tuan Paris.
Suasana kembali sunyi sampai Nyonya Tari bersuara.
"Pah, Mama ingin meminta Adel untuk kembali dan memperbaiki semuanya! Mama malu..hiks...hiks..."
Anggel menengkan sang Mama dengan memberi pelukan. "Apa Adel mau memberi maaf! Setelah apa yang kita lakukan padanya? hiks...hiks...Anggel sudah jahat dan sekarang, Anggel juga harus menerima kebenaran. Mas Aji benar-benar binatang...Dia biang dari kehancuran keluarga kita Bukan. Adel.."
Tuan Paris dan Nathan terdiam merenungi semua perbuatan mereka kepada isteri Gavin yang tidak bersalah.
"Nathan," Panggil Tuan Paris.
Nathan menoleh. "Ya. Pah?"
"Telepon Adel. minta dia untuk kembali?"
Nathan terdiam tidak mengiyakan titah sang ayah. Yang mana membuat Tuan Paris bertanya.
"Kenapa?"
"Satu minggu yang lalu, Nathan sudah mencoba menghubungi Adel. tanpa sepengetahuan kalian semua. Tapi nomornya sudah tidak aktif lagi."
.
.
__ADS_1
Dua minggu berlalu....