
Adel mematung, sedikit memundurkan tubuhnya dengan wajah penuh tanya! Apa yang di pikirkan laki-laki di depan matanya.
"Teo!" seru Adel dengan mata menyempit.
Teo mengangguk sambil menatap Adel penuh harap. "Kamu akan selalu ada dalam hatiku. Adel!"
Adel menyeringai lebar yang mana membuat Teo terdiam.
"Aku pun! Aku selalu berusaha untuk melupakan dirimu walaupun aku tidak bisa!"
Senyum Teo merekah indah merasa cintanya kembali terbalas.
Adel terdiam sesaat, sebelum kalimatnya ia lanjutkan. "Tapi itu dulu! Sebelum aku menyadari perasaan cintaku kepada Mas Gavin, Ayah dari putriku. Gina."
Bak di terjang ombak besar atau lebih tepatnya di tusuk ribuan belati tajam. Teo merasa tubuhnya terlindas hantaman meteor. Terasa sakit dan amat menyakitkan. Kata-kata yang didengarnya membuat Teo mengangguk pasrah dengan kepala menunduk berat.
Teo menghela napas panjang sambil tersenyum ketir.
"Teo, maafkan aku. Aku tidak ingin membuat kamu selalu berharap! Aku bukan lagi Adel yang dulu, sekarang, hidup aku dan kamu sudah berbeda! Jangan kecewakan Anandita dan Mas Gavin hanya karena aku," Ucap Adel lirih berteman tangis kesedihan, karena dirinya tau Teo pasti merasakan sakit hati dan bingung.
Teo masih diam. Bibirnya tidak mampu terbuka atau sekedar menjawab.
Kenapa aku masih berharap dengan orang yang sama. Lihatlah, aku kembali merasakan sakit.
Teo membatin hingga keduanya sama-sama terdiam untuk waktu yang cukup lama.
Suasana di siang itu terasa lebih sunyi. Pak Alam berada di dalam kamar menemani Gina yang masih terlelap. Sedangkan Bi Muji dan Bu Puji pergi ke pasar untuk membeli keperluan acara.
Acara aqiqahan Gina yang akan di langsung Besok pagi. Semua biaya dan susunan acara Teo yang mengajukan diri untuk mengurus semuanya. Adel jelas menolak dan tidak ingin Teo bertindak lebih jauh. Tapi Teo kembali menyakinkan Adel dan keluarganya.
"Anggap saja ini perintah Gavin,"
Hal itulah yang membuat Adel mengangguk mau. Tapi Teo sedikit terusik jika mengingat itu. Seolah nama sahabatnya sudah terpatri dalam hati Adel, wanita yang masih dirinya cintai.
Adel menatap sekitar ruangan dengan mata bergetar tanpa ada lagi air mata. Dirinya ingin mencairkan suasana yang cukup canggung.
"Aku tidak menyangka bisa menjadi seorang ibu." Katanya. Sedikit menyungsingkan senyuman manis.
Teo mengangguk saja.
"Apakah, keberadaan ku membuatmu tidak nyaman?" Teo balik bertanya. masih dalam kepala menunduk berat.
Adel menggelengkan kepala berteman senyuman manisnya.
"Awalnya iya. Tapi aku merasa bersyukur, Setidaknya aku mempunyai seorang teman.."
Teo mengangguk lagi. Setelahnya berdiri.
Adel mendangah tanpa beranjak bangun.
"Aku pergi dulu. lupakan apa yang tadi aku katakan." Teo mulai berjalan tanpa menatap Adel atau sekedar tersenyum seperti biasa.
Adel terdiam sesaat sebelum akhirnya ia bersuara. "Tunggu?"
Langkah kaki Teo terhenti tanpa berbalik. Wajahnya masih terlihat sama, murung dan dingin.
Adel perlahan mendekati Teo dan berdiri tempat di belakang punggung tinggi itu.
"Kenapa?" Tanya Teo datar.
Katakan kalau kamu masih mencintai ku.
"Aku ingin meminta nomor Mas Gavin! Aku ingin menghubunginya. Dan, dan aku juga ingin memberi tau keberadaan kami." Kata Adel terbata. Karena dirinya tau bagaimana perasaan Teo.
Adel melanjutkan. "Besok Aqiqahan Gina, Jadi aku rasa itu waktu yang tepat."
Aku rasa, sudah cukup pergi dari mas Gavin. Ini saatnya aku kembali. Aku memang merasa kecewa karena Mas Gavin tidak datang menjemput aku dan Gina. Tapi itu tidak penting. Sekarang, aku tidak lagi perduli dengan keluarga Mas Gavin. Ini hidup ku dan rumah tanggaku. Aku harus merebut semua kebahagiaanku sendiri.
Adel sibuk dengan batinnya yang secara tidak sadar tersenyum bahagia. Membayangkan Gavin datang menjemput dan mengubur semua kesedihan selama 4 bulan terakhir ini. Melupakan kalau suaminya mengalami hilang ingatan!
Teo memejamkan kedua matanya sejenak, menarik napas dalam sebelum akhirnya ia berbalik menatap Adel sendu.
"Apa kamu yakin ingin menghubunginya sekarang?" Teo bertanya dengan nada suara pelan.
Adel mengangguk yakin.
Teo melanjutkan. "Tidak bisakah dia menunggu sebentar saja!"
Adel mengerutkan keningnya. "Apa yang kamu katakan?" Tanya Adel bingung.
"Apa kamu tidak ingin Teo datang sendiri dan membawa kalian kembali bersama! Maksudku, Dia masih belum mengingat baik siapa kamu dan Gina! Bersabarlah sebentar saja. Aku-
"Tidak Teo! Aku tidak ingin membuat Mas Gavin semakin jauh. Bukankah kamu sendiri yang mengatakan kalau Mas Gavin terus mencari ku dan-
"Dan kamu menolak untuk kembali padanya" Sangka nya.
Adel terdiam untuk sesaat. Merenung dengan tindakannya waktu Teo datang ke rumah sakit.
Teo pernah membujuk Adel untuk menghubungi Gavin tapi Adel menolak tegas dengan alasan yang cukup menggetarkan hati Teo.
__ADS_1
Aku memilih untuk tidak lagi hadir di dalam hidup mas Gavin.
Adel menutup mata ketika mengingat kata-katanya pada waktu itu. pikirannya labil dan tidak terarah. Tapi sekarang hatinya sudah bertekad untuk kembali berdamai dengan keadaan yang ada.
"Waktu di rumah sakit. Aku tidak bisa berfikir baik. Aku terlalu terbawa emosi dan marah. Tapi sekarang aku sadar, Mas Gavin tidak salah. Di sini aku yang salah. Aku terlalu Egois."
Mendengar ocehan Adel tentang penyesalannya membuat Teo lemas. Ingin rasanya menjatuhkan diri dan meminta Adel untuk diam.
Tangannya mengepal kuat dan Teo bersuara.
"Baik. Kalau itu mau mu!"
Adel menatap Teo lekat. "Kamu-"
"Iya. Aku akan memberikan nomor Telepon Gavin." Katanya pasrah dan mulai menghidupkan ponselnya.
Mungkin, ini waktunya aku berhenti mencintaimu, Lagi!
.
.
Gavin sendiri baru saja kembali ke rumah setelah pergi bersama anak buahnya untuk mencari keberadaan Adel yang masih menjadi misteri. Jejaknya seakan menghilang di telan bumi. Yang mana membuat Gavin frustasi di setiap harinya. Di tambah sekarang dirinya mengetahui kalau sang istri sudah melahirkan.
Tau dari mana Gavin? Dari perhitungan awal Adel hamil.
Tuan Paris juga sudah kembali ke rumah setelah kondisinya mulai membaik. Begitu juga dengan kedua kakaknya. Mereka sudah berani datang dan berusaha mencari celah untuk meminta ampun kepada Gavin pun kedua orang tuanya.
Penyesalan memang selalu datang di akhir dan itu benar adanya. Keluarga kaya itu mulai membuka hati untuk Adel yang sekarang entah ada di mana.
Keluarga Abrisam seperti biasa berkumpul bersama di ruang tengah. Membicarakan tentang kesehatan Sang kepala keluarga. Tuan Paris rencananya akan di bawa ke luar negeri untuk mendapatkan pengobatan yang lebih baik. Bukan di negara sendiri tidak baik. Tapi Nyonya Tari menginginkan sang suami di bawa sekalian liburan. Guna menghilangkan stres karena penyesalan yang tiada akhir.
Gavin berjalan masuk berniat menaiki tangga. Tapi ia terpaksa berjalan kerah kerumunan.
Keluarga menoleh dan tersenyum datar ketika Gavin datang.
"Bagaimana. Nak?"
Seperti biasa. Nenek Dayanti bertanya yang mana jawabnya akan sama.
Gavin duduk di dekat Nenek Dayanti. "Tidak ada hasil." Jawab Gavin lirih dengan wajah murung.
Semua menghela napas berat dan memperlihatkan wajah murung. Menampakan penyesalan yang mendalam.
"Gavin, Apa kamu masih membenci kami?" Tanya Nyonya Tari. Menatap orang yang di maksud. Angel, Mega, dan Nathan menjadi sasaran mata wanita paruh baya itu.
Gavin menggelengkan kepalanya. "Kalaupun Gavin membenci kalian, Apa itu akan membuat Adelia kembali pun dengan ingatan Gavin? Tidak bukan, Jadi, berhenti memberi pertanyaan itu." Setelahnya. Gavin bergegas bangun dan berlari menaiki tangga.
"Jangan menambah beban berat di pundak cucuku. Melihat dia seperti sekarang sudah lebih dari cukup." Kata Kakek Damar sambil melirik semua anggota keluarga.
Di waktu yang bersamaan pelayan datang.
"Nyonya, Ada Nona Maya." Kata si Pelayan.
"Maya?" Ulang semua keluarga.
"Ada apa dia datang kesini?" Tanya Mega bingung.
"Apapun itu, biarkan dia masuk." Titah Kakek Damar.
Nyonya Tari dan Tuan Paris yang biasanya semangat ketika Maya datang kini terdiam, tak berselera untuk melakukan itu.
Maya datang dengan membawa paper bag.
"Selamat sore." Sapa Maya sopan dan mulai menyalami semua keluarga Abrisam.
"Duduk May," Titah Nenek Dayanti.
Maya duduk dengan anggun dan mereka berbincang menanyakan kabar masing-masing.
"Sudah lama ya kamu ga datang?" Angel bertanya.
Maya tersenyum malu. "Maya datang ke sini untuk mengundang keluarga Om Paris ke acara pernikahan Maya," Terangnya sambil membuka isi Paper bag yang di bawahnya.
Semua saling tatap dengan senyuman. Menatap Maya yang asik membuka paper Bag.
"Oh iya, Gavin ada?"
.
.
Gavin berbaring lemas di ranjang. Dirinya merasakan sakit kepala ketika berusaha mencari wajah sang istri dan kenangan yang masih samar. Beberapa potongan kejadian bersama Adel mulai terlihat walaupun sulit baginya untuk menyusun potongan itu. Tapi Gavin tidak perduli. Dirinya terus menggali Kenangan itu. Biarpun menyakiti tubuhnya.
"Argh... Argh....Astaga. Adelia.." Gavin berteriak dan merintih sakit. Berusaha tenang dan mencoba menjadi waras.
"Tenang, Tenang..Jangan jadikan dirimu lemah. Ingat Istrimu Gavin," Teriak Gavin lagi dengan wajah memerah dan rambut berantakan.
Tok...tok...tok..
__ADS_1
Ketukan di pintu kamar membuat Gavin terdiam dan menatap lekat si pintu.
"Siapa?" Teriak Gavin.
"Ini aku?" Jawab orang itu dari balik pintu.
"Iya, siapa?" Teriak Gavin lagi.
"Maya. Gavin,"
"Maya." Gavin berjalan dan membuka pintu.
Ceklek....
Maya tersenyum manis ketika Gavin membuka pintu. "Hai." Maya mengangkat satu tangan lentiknya ke arah Gavin.
Gavin mengangguk datar sebagai jawaban.
Tidak ada lagi wajah semangat ketika Maya datang. Kalian pasti ingat ketika Maya datang dan Gavin langsung mengecup bibir Maya. Tapi sekarang dirinya bertingkah dingin terhadap wanita cantik yang tengah berdiri di depan matanya.
"Bisakah aku masuk?" Pinta Maya tanpa ada rasa malu.
Gavin mengerutkan kening dan kepalanya siap menggeleng. Tapi Maya bertindak cepat.
"Hey, Ayolah." Maya mendorong Gavin masuk kedalam kamar dan Gavin tidak memberi perlawanan. walaupun wajahnya nampak tidak suka.
Di kamar keduanya duduk di sofa.
"Cepat katakan apa mau mu?" Kata Gavin ketus.
Maya malah tertawa kecil melihat tingkah Gavin.
"Kenapa sih Gavin. Kamu kok jadi galak, Waktu itu aku datang, kamu langsung menci-
"Jangan katakan omong kosong." Sangkalnya malu.
Maya mengangguk sambil menahan tawa.
"Ok baiklah. Aku datang untuk mengundangmu dan keluargamu ke acara pernikahanku."
"Pernikahan?" Kata Gavin dengan wajah bengong yang mana membuat Maya kembali tertawa kecil.
"Iya. Aku akan menikah, Kamu datang ya?"
Gavin mengangguk pelan dan menatap lekat undangan yang di sodorkan Maya.
Tapi bukannya mengambil undangan itu, Gavin malah beranjak berdiri dan berjalan menuju kamar mandi sambil berkata.
"Aku akan datang. Sekarang pergilah. Aku mau mandi."
Maya mengangguk patuh dan menatap kepergian Gavin sampai tubuhnya menghilang.
"Dia tetap saja sama." Gumam Maya sambil berdiri dan siap melangkah keluar.
Akan tetapi ponsel milik Gavin mengundangnya untuk mendekati benda itu.
Maya melirik ponsel Gavin dan menatap lekat.
"Siapa ya? Haruskah aku angkat? Siapa tau ini penting." Maya berfikir sebentar.
"Tapi tidak ada namanya? Ah? Jangan-jangan! ini dari orang yang menemukan istri Gavin!"
Dan tanpa berpikir lagi Maya meraih ponsel Gavin.
"Iya Hallo," Suara Maya menggema di ponsel Gavin.
.
.
Adel terdiam ketika suara lembut Maya terdengar.
Untuk memastikan Adel bertanya. "Ini de-dengan siapa?"
"Ini Maya, Ini dengan siapa?" Maya Balik bertanya.
Jadi Mas Gavin masih mencintainya. Adelia, sadarlah.
Sontak kalimat Nyonya Tari kembali terngiang.
Gavin akan saya nikahkan dengan Maya. Wanita yang tepat untuk Gavin.
Adel termenung melupakan Maya.
"Halo...Halo..Siapa ini?" Maya terus bertanya.
Tut...Tut....Tut....
.
__ADS_1
.