BIARKAN KAMI BAHAGIA

BIARKAN KAMI BAHAGIA
Gavin Yang Kebingungan!


__ADS_3

Pukul 6 pagi Gavin tiba di apartemen Teo. Ia segera keluar dari mobil. melangkah lebar atau tepatnya Gavin berlari ingin segera menemui sang sahabat.


Gavin menekan bel beberapa kali.. Tapi Teo tak kunjung membuka pintu yang mana Gavin mendesah hebat disana.


"Anak itu benar-benar menyebalkan." Gavin menggrutu sambil menghidupkan ponselnya mencari kontak Teo.


Dapat. Ia segera menghubungi Teo.


Tut...tut...tut...


"Hallo." Teo bersuara parau khas orang baru bangun tidur.


"Buka pintu. Aku ada di depan." Kata Gavin ketus.


"Aku sedang ada di bandung."


"Apa!" Tanpa menunggu Teo bersuara, Gavin memutus panggilan itu lalu melangkah pergi.


"Noah, hanya dia harapanku."


Akhirnya Gavin meninggalkan apartemen Teo dan pergi kerumah Noah.


Sepanjang jalan ponselnya bergetar dengan nama kontak sang mama disana. Bukan Gavin namanya kalau ia mengangkat panggilan itu. Gavin memilih pokus menatap jalan tanpa berniat mengangat telepon itu.


"Adelia..apa benar kamu adalah istriku?" Gavin bergumam lirih sambil terus mengingat Adel wanita si pemberi surat.


Kenapa aku seolah melupakan dirimu! Berengsek! Kenapa juga aku harus mengalami hilang ingatan!


Gavin bergulat hebat dengan batinnya sampai ia tiba di rumah Noah.


.


.


Di sisi lain semua keluarga panik mendapati Gavin tidak ada didalam kamarnya.


Nyonya Tari keluar kamar setelah Gavin meninggalkan rumah 20 menit lamanya. Ia bergegas kekamar sang putra untuk membangunnya. Tapi pintu bercat hitam itu nampak terbuka dan Nyonya Tari berteriak memanggil semua pelayan.


"Apa kalian melihat, Gavin?" Tanya Nyonya Tari kepada para pelayan. 15 orang jumlahnya.


"Tidak Nyonya." Jawab serentak para pelayan. Yang pada waktu Gavin keluar tengah sibuk dengan banyaknya pekerjaan.


Tiba para penjaga datang yang mana bertugas di depan gerbang.


"Mana Gavin?" Tuan Paris bergantian bertanya.


"Tuan Gavin pergi untuk menemui Nona Maya, Tuan Besar!" Jawab si penjaga yang memang pada pagi itu Gavin mengatakan akan pergi ke rumah Maya.


Nyonya Tari melirik sang suami pun sebaliknya. Sedangkan Anggel yang masih mengenakan piama menghela napas lega.


"Anggel rasa Gavin baik-baik saja." Setelah itu Anggel memilih pergi kerumahnya untuk membangunkan Aji.


"Kalian kembali bekerja.?" titah Tuan Paris.


Semua pelayan dan penjaga mengangguk patuh dan bubar barisan.


"Anak itu. Hampir saja jantung Mama copot." Kata Nyonya Tari berhias senyuman.


Tuan Paris melakukan hal yang sama. Keduanya membual tentang Maya sambil berpindah tempat untuk sarapan. meninggalkan Kakek Damar dan Nenek Dayanti.


"Apa itu benar?" Lirih Nenek Dayanti dengan wajah sendu.


Kakek Damar menggela napas sambil menggelengkan kepala sebagai jawaban kalau dirinya pun tidak tau kenapa sang cucu bisa berubah.


Diam-diam. Nyonya Tari mengidupkan ponselnya membiarkan sang suami sarapan seorang diri. Dirinya berniat menghubungi Maya untuk memastikan.


.


.


Kebetulan Maya baru selesai mandi. Model cantik itu mulai merias diri untuk mempercantik tubuh. Dres abu ia kenakan dengan rambut yang sengaja di gerai. Rencananya Maya akan menemui Gavin untuk melihat keadaan si pria tampan itu.


Memikirkan Gavin membuat Maya tersenyum menatap pantulan wajah mulusnya.


"Gavin, I love You!" Gumam maya sumringah membuat pipinya memerah.


Sampai suara ponsel terdengar.

__ADS_1


Maya bergegas mencari ponsel itu yang kebetulan terdampar di samping bantal.


"Tante!" Maya sedikit terkejut mendapati ibu Gavin menghubunginya. Tanpa membuang waktu Maya mengangat panggilan penting itu.


"Hallo. Tante," Sapa Maya sopan.


"Pagi, sayang." sapa balik Nyonya Tari tak kalah ceria.


"Pagi Juga, Tante."


Apa apa mama Gavin telepon pagi-pagi sekali?


Batin Maya bertanya.


"Oh ia. Gavin ada disana? Tante khawatir dia menghilang dan pergi pagi-pagi buta. Penjaga bilang Gavin pergi menemui kamu sayang!" Jelas Nyonya Tari semangat.


Tapi lain dengan Maya, wanita berparas ayu itu mematung setelah mendengar penjelasan Nyonya Tari.


Gavin tidak kesini! Kenapa dia berbohong?


"Sayang apa kamu masih disitu?"


Maya gelagapan dan kembali tersenyum.


"Iya.. Tante. Gavin ada disini!" Sahut Maya dengan raut wajah lemas.


Kemana kamu. Gavin?


.


.


Disinilah Gavin berada. Ia tengah duduk bersama anggota keluarga Noah yang kebetulan sudah berkumpul di meja makan untuk menikmati sarapan.


Kedatangan Gavin mengejutkan keluarga Kakek Hendri yang mana pagi-pagi sudah bertamu dengan keadaan menyedihkan. pakaian yang dikenaakan Gavin membuat Noah mencibir jelas. Tapi Kasih memberi tatapan tajam.


Akhirnya mereka meminta Gavin untuk duduk bersama melupakan sarapan. Karena Gavin mengatakan tidak ada waktu untuk itu. Noah menurut pun Kakek Hendri.


Ruang keluarga menjadi tempat mereka saat ini. bertukar pandangan setelah Gavin selesai bercerita tentang nama Adelia!


Kasih yang kebetulan ada disana hanya bisa menangis meratapi nasib sang sahabat. Jelas itu mengundang Gavin untuk bertanya.


Sambil menenangkan Kasih, Noah bersuara.


"Gavin. Adelia itu benar istrimu! Dia sahabat dari istriku, Kasih." mata Noah melirik Kasih di ikuti Gavin.


"Kamu sudah menikah dengan Adel sekitar 4 atau 5 bulan. Dan sekarang Dia sedang mengandung anakmu."


Deg...deg...deg...


Gavin terdiam. penjelasan itu membuat kepalanya kembali sakit. Tangannya menahan kepalanya yang seakan di hantam benda keras dan ditusuk ribuan jarum.


Kenapa aku sampai tidak mengingat dirimu.


Semua panik melihat Gavin yang siap oleng. Tapi Gavin mencegah Noah dan Kakek Hendri mendekat.


"Mama dan keluargaku mengatakan kalau Maya adalah calon istriku. Di ingatakanku tidak ada nama Adelia. Apa benar dia tengah mengandung anakku?" Tanya Gavin dengan penuh perjuangan.


"Gavin berhenti bersuara. Kamu-


"Jawab aku Noah. Jawab aku...Sialan kenapa aku tidak bisa mengingat Dia."


Noah dan Kakek Hendri panik melihat Gavin nampak kesakitan. Sedangkan Kasih menangis disana.


Di lantai atas Anandita yang tengah menemani Ayres diam-diam memperhatikan dengan ponsel yang ia sisipkan di sisi lain telinga.


"Kak, di rumah ada Kakak Gavin. Dita-


"Kenapa dengan anak itu?" Tanya Teo disana. Mengingat kembali kedatangan sang sahabat ke apartemennya pagi tadi.


"Samar Dita mendengar Nama Adel di sebut!"


"Adel." Tanya Teo bingung.


"Iya."


.

__ADS_1


.


Noah membantu Gavin untuk menengkan diri tapi tenaga Gavin amat kuat yang mana Noah memanggil penjaga.


Penjaga datang dan membantu Noah memegangi tangan dan kaki Gavin.


"Lepaskan aku!" Gavin memberontak.


"Tenangkan dirimu." Perintah Noah.


Gavin mulai tenang. dan para penjaga melepaskan tangan juga kaki Gavin tanpa bisa beranjak pergi.


"Aku tau kamu pasti frustasi dengan keadaanmu sekarang. Tapi cobalah untuk tenang." Kata Noah. Mengingatkan sang sahabat kalau dengan cara panik tidak akan bisa menyelesaikan masalah.


Gavin menarik napas dalam dan minum air yang di sodorkan Noah.


"Aku bahkan memohon kepada Maya untuk tetap tinggal." Lirih Gavin setelah selesai meneguk air.


Noah memejamkan mata.


"Maya! Siapa itu Maya?" Tanya Kasih yang masih terisak.


Gavin dan Noah menoleh.


"Mantan pacar Gavin!" Kata Noah.


Jelas Gavin mengerutkan kening mendengar itu.


"Tunggu! Mantan? Maksudmu apa Noah? Aku dan Maya masih bersama bukan?"


"Tidak Gavin. kalian sudah lama berpisah. Apa kamu lupa Maya memilih karir dari pada dirimu!" Noah bercerita dengan semangat.


Tapi Gavin malah bertingkah egois. dirinya kembali mengamuk dan para penjaga bertugas selayaknya.


"Aaaaaaaa!!!.." Gavin berteriak kesetanan. Mendapati kenyataan lain tentang hubungannya dengan Maya.


Sadarlah....Gavin Sadar...


Gavin oleng. benar-benar oleng, tubuhnya amburuk dan mengejutkan semua orang.


Noah nampak santai melihat sang sahabat yang tergeletak tak berdaya. sedangkan Kasih dan Kakek Hendri sibuk menghubungi Dokter.


Dalam diam Noah bergumam. "Gavin. tidakkah kamu sadar dengan semua ini!"


.


.


Surabaya...Kota indah dengan keaneka ragaman wisata. Kota yang di gadang-adang Kota terbersih seindonesia Luar biasa bukan. Kebudayaan dan kearipan lokalnya membuat Suabaya mendapat berbagai penghargaan berkat kesadaran masyarakat dan pemimpinnya.


Di sanalah Adel sekarang. Kota yang dulu menjadi tempatnya menemani Kasih untuk lepas dari jerat dang suami arogan yang sekarang malah hidup bahagia. Sedangkan dirinya kembali kekota indah itu dengan sejuta cerita dan luka.


Pagi-pagi buta kereta yang membawa keduanya sampai. Bi Muji dengan semangat membawa Adel ketempat tinggalnya yang ada di pinggiran kota.


Adel nampak bahagia bisa tinggal di rumah Bi Muji yang mana bergaya Sederhana Khas rumah pada umumnya.


Rumah bercat putih yang di kelilingi dekor Kayu nampak bersih dan terawat padahal si empunya merantau jauh ke ibu kota Jakarta.


Di perjalanan Bi Muji mengatakan Dirinya sudah berpisah dengan sang suami. Bi Muji dan suaminya berpisah karena Bi Muji di diagnosis mandul...Kenyataan pahit yang harus di terima Bi muji. Dirinya juga tidak ingin di madu jadi dengan terpaksa memilih sendiri.


Dan yang merawat rumah tercintanya ada sang kakak.


Pukul 7 pagi Adel sarapan bersama Bi Muji. kebersamaan yang mereka lakukan di rumah belakang.


Bi Muji membawa Adel berjalan-jalan untuk menikmati pagi dan memperkenalkannya pada lingkungan sekitar. Para tetangga menyambut baik kedatangan Adel disana.


"Saya bahagia bisa berada di lingkungan, Bibi." Kata Adel.


Bi Muji menjawab. "Terlalu dini untuk mengatakan itu. Non."


Adel mengangguk paham tanpa ingin berkata lagi.


"Kita pulang Non. Non harus istirahat."


Adel menggeleng. "Tidak Bi. Saya tidak lelah. saya masih ingin menikmati udara pagi." Tolaknya.


Bi Muji mengangguk dan keduanya kembali berjalan menyusuri jalan berkoral itu.

__ADS_1


Sedangkan di kamar Ponsel Adel berdering nyaring dengan nama kontak Kasih..


__ADS_2