
Dua minggu setelah penangkapan Aji. kehidupan keluarga Abrisam kembali membaik.
Beberapa hari yang lalu, Aji baru selesai pendapatkan vonis atas perbuatannya.
Tindak pidana pembunuhan berencana yang dirinya lakukan atau dengan sengaja ingin melenyapkan nyawa Gavin di atur dalam pasal 340 KUHP. Singkatnya Aji akan mendapatkan hukuman mati! Kurungan penjara seumur hidup! Atau selama waktu tertentu. Paling lama 20 tahun. Ganjaran yang sepadan dan membuat keluarga Abrisam bersorak terutama Tuan Paris. Dirinya mengikuti jalannya proses persidangan sang menantu. Semua saksi yang di hadirkan dan barang bukti membuat keluarga Aji menunduk tak berdaya. Tuan Paris sampai menggandeng pengacara handal di kota itu untuk memberi pelajaran kepada Aji. Yang satu minggu ini pun sudah tidak lagi menjadi anggota keluarga Abrisam.
Anggel sudah melayangkan surat cerai yang lagi-lagi harus di iyakan Aji. Dalam sekejam mata semua berubah total. Sang menantu yang amat sangat di elu-elukan ternyata manusia serakah yang tidak punya hati. Tuan Paris menutup dan membuang nama Aji dalam hidup keluarganya. Sekarang ada hal yang lebih penting. Keterpurukan Anggel atas perceraian dan kejelakan Aji suaminya membuat Tuan Paris merenung! Dan lagi keadaan Gavin yang masih belum membaik menambah daftar kesedihan hati si pria tua itu..
Tak terasa waktu berlalu membawa suasana yang sama. Rumah besar itu terlihat baik-baik saja. Tapi tidak dengan anggota keluarga yang tinggal di dalamnya.
Tuan Paris mengerahkan semua orang untuk mencari keberadaan Adel sang menantu. Penjuru kota sudah di telusuri tapi tak ada hasil. mumetnya pikirkan membuat Tuan Paris jatuh sakit. Sampai harus terbaring di ruang inap. Sudah tiga hari lamanya Tuan Paris berada disana.
"Mah. Ini karma untuk Papa!" Tuan Paris berbicara lirih. Menatap sang istri yang tengah menyuapinya makan. pukul 10 pagi tepatnya.
Nyonya Tari terdiam.
"Kita sudah berdosa." Kata Tuan Paris lagi.
Nyonya Tari menghela napas berat. Setelahnya duduk di tepi ranjang. Mengelus tangan sang suami dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa Adel bisa pergi dan tidak kembali! Setidaknya dia harus menanyakan kabar Gavin!"
.
.
Gavin tengah duduk di bangku taman seorang diri. Menutup mata merasakan panasnya sinar mentari. Wajahnya terlihat lebih segar walaupun tubuhnya masih nampak kurus.
Dua minggu ini Gavin masih sering mengamuk. Mencari keberadaan sang isteri didalam ingatannya. Selama ini Gavin tidak bisa mencari Adel atau sekedar meminta bantuan Teo atau Noah, karena dirinya masih bingung dengan pikirannya sendiri. Terlebih kabar kalau Aji kakak iparnya di tangkap karena sudah terbukti berniat mencelakainya. Gavin mendengar semua penjelasan dari semua keluarga. Kakek Damar dan Nenek Dayanti amat sangat sabar membimbing Gavin untuk lebih tenang. Pun dengan Nathan dan Anggel. Sedangkan Kedua orang tuanya seolah malu melihat Gavin.. Merasa bersalah karena sudah membuatnya menderita.
Gavin menjadi irit bicara. Semenjak pulang dari rumah Noah, Gavin amat tertutup. Beruntung dirinya tidak pernah berniat mengakhiri hidup.
"Suasananya tenang bukan?"
Gavin membuka mata, melirik kearah suara. Menatap kedua pria dengan tatapan kosong.
Keduanya melangkah bersama menghampiri Gavin yang masih mematung di tempat. Duduk dengan lancang. Mengamati Gavin sebagai bentuk godaan.
"Ahhh....Panas sekali!" Keluh satu dari dua pria itu.
"Benar sekali." pria lain mengangguk membenarkan sambil menyodorkan satu botol minuman kaleng kesukaan Gavin.
__ADS_1
Gavin menerimanya dengan masih menatap kosong.
Keduanya saling tatap berteman senyuman.
Ketiganya membuka minuman kaleng itu bersama-sama lalu meminumnya.
Gavin menutup mata menikmati minuman itu penuh suka cita. Sudah lama dirinya berkutat dengan perasaan marah. Dan melupakan rasa bersenang-senang.
Dalam diam keduanya menatap Gavin dengan mata berkaca-kaca. Melihat bagaimana sang sahabat amat sangat memprihatinkan! Tubuh kurusnya membuat Teo memalingkan wajah.
Noah yang melihat itu menggelengkan kepala.
Minuman di teguknya habis tak tersisa. Ketiganya menghela napas sambil meremas si kaleng. Yang mana membuat Gavin menyungsingkan senyum. Kegiatan yang selalu mereka lakukan sedari remaja.
"Sudah lama sekali."
Teo dan Noah melirik ke arah Gavin dengan kepala mengangguk.
"Bisakah kita bersenang-senang?" Tanya Gavin lagi.
Kepala kedua pria itu mengangguk lagi tanpa bisa berkata. Tidak percaya Gavin mau bersuara. Setelah apa yang di katakan Nathan kalau sang adik seperti orang bisu!
Noah dan Teo sudah mengetahui semua tentang pemberitaan keluarga Gavin Tapi mereka bisa apa? Gavin sendiri sulit untuk di ajak berkomunikasi. Bahkan dalam waktu dua minggu keduanya selalu datang menyempatkan waktu untuk melihat keadaan Gavin. Tapi Gavin tidak ingin di temui siapapun termasuk anggota keluarga.
"Kapan ingatanku akan kembali? Aku sudah lelah!" ucap Gavin lirih dengan masih tertawa.
"Adelia! Aku ingin bertemu dengannya! Tapi kata mereka dia pergi dan entah ada di mana?" Lanjut Gavin kali ini tawanya mulai pudar.
Noah mengusap pundak Gavin dan Teo melakukan hal yang sama.
"Bersabarlah sebentar lagi. Kamu pasti akan bertemu dengannya," kata Teo menenangkan.
Noah mengangguk. "Kami semua tengah mencari Adel. Gavin, tugasmu sekarang adalah tetap sadar dan berhenti mempersulit keadaan. Tidakah kamu melihat di sekelilingmu? Maksudku. Orang tuamu sakit karena memikirmu dan kakakmu. Jadi kami harap kamu bisa sedikit bersabar dan berdoa. Berdoa semoga Adel segera kembali." jelas Noah tanpa ingin memojokan Gavin.
Tapi Gavin malah menyungsingkan tawa.
"Apa semua ini salahku? Katakan! Apa ke kacawan yang sedang menimpa keluargaku karena aku? Katakan Noah!" Gavin melirik Noah dengan tatapan sendu.
"Tidak...ini semua bukan karenamu. Aji mantan Kakak iparmu lah yang bertanggung jawab atas semua ini." Noah menjadi berapi-api.. Mendapati kalau semua biang dari masalah adalah Aji. Noah dan Teo tau itu dari Nathan.
Gavin mengangguk dan kembli menatap lurus. Di ikuti Noah dan Teo. Ketiganya mengarahkan pandangan kedepan di mana awan cerah melayang di sana.
__ADS_1
Tiba-tiba Gavin kembali bersuara.
"Ini sudah 4 bulan. Bukan,? Itu artinya Adelia akan melahirkan anakku." Kata Gavin yang mana membuat Teo dan Noah menoleh.
"Dan aku tidak bersamanya!" Lanjut Gavin.
.
.
Gavin benar! Adel tengah berada di rumah sakit yang tidak jauh dari rumah Bi Muji.
Subuh tadi Adel terbangun. Merasakan perutnya mulas. Yang mana Adel keluar kamar mengundang kedua orang tuanya membuka mata. Suara pintu kamar Adel terdengar bising bila di buka.
Bu Puji dan Pak Alam memutuskan menyusul Adel tiga hari yang lalu. Keduanya pergi pagi-pagi buta guna mengelabui orang-orang kepercayaan Noah.
Adel bergegas dibawa ke rumah sakit dengan di bantu tetangga Bi Muji yang siap di rumahnya. Bi Muji sudah meminta tetangganya itu untuk bersiap-siap ketika di butuhkan. Dan sekaranglah waktunya.
Dokter kandungan telaten memeriksa Adel yang tengah merasakan kontraksi. Sedangkan kedua orang tuanya bersama Bi Muji menunggu di luar.
Ruang persalinan telihat sibuk setelah tau Adel akan melahirkan. Suster menyuntikan jarum infus kepunggung tangan Adel yang masih mendapatkan pemeriksaan.
"Ibu Adelia, Sepertinya kami harus melakukan operasi Cesar segera." ungkap Dokter Ratih.
Dokter yang satu bulan terakhir menjadi Dokter kandungan Adel.
Dengan rasa sakit Adel berkata. " Apa saya tidak bisa melahirkan normal? Saya tidak ingin merepotkan keluarga saya Dokter,"
"Ibu, Kondisi tubuh ibu tidak memungkinkan untuk melahirkan normal." Jawab Dokter Ratih tegas.
Adel menggeleng dengan wajah bermandikan keringat. "Bukankah dokter pernah mengatakan. kalau saya bisa melahirkan normal...Aaaa.."
Adel mulai berteriak. Ketika rasa sakit semakin terasa.
"Tapi kondisi anda dan bayi anda benar-benar tidak stabil! Saya tidak bisa lagi berdebat." Kata Dokter Ratih memperingatkan Adel. "Siapkan ruang operasi?" Titah Dokter Ratih kepada suster.
Suster mengangguk dan berlari keluar ruang persalinan.
Adel pasrah dan kembali merintih sakit. "Sakit...Huu..huuuh..."
Dokter Ratih dan suster yang lain membawa Adel untuk melakukan operasi. Tapi tiba-tiba tubuh Adel kejang. Dokter Ratih segera melakukan pemeriksaan.
__ADS_1
"Ibu Adelia...ibu Adelia...!"