
Malam hari itu juga, Teo masuk kedalam kamar Anandita. Tanpa harus memberi ancaman atau memaksa. Ingat, mereka sudah membuat perjanjian satu sama lain.
Ragu-ragu Teo berjalan menghampiri ranjang di ikuti Anandita yang mengekor di belakang. Rasa-rasanya seperti pengantin baru?
Kenapa perasaanku jadi begini?
Batin Teo bergumam bingung. Terasa lama berjalan menghampiri ranjang.
Anandita sendiri begitu gugup dan gelisah, melupakan rasa bahagia setelah Teo mau memberinya izin untuk menjadi seorang model.
"Kamar yang bagus." Memuji area dalam kamar yang baru di injaknya. Padahal dari ukuran dan warna cat nampak sama dengan kamar miliknya.
"Iya," Sahut Anandita singkat.
Teo melirik Anandita lewat ekor mata. "Kakak, akan nyaman tidur di sini."
"Itu bagus." Sahut Anandita lagi singkat, tapi sumpah demi apapun tubuhnya mendadak lemas. Kata-kata Teo membuatnya senang bukan kepalang. Tapi sekali lagi Anandita menyembunyikan perasaan itu.
Aku benar-benar mencintainya, aku begitu luluh hanya karena dia mengatakan itu. Dita, bangun, bangun.
Akhirnya Teo duduk di tepi ranjang, sedangkan Anandita berdiri di samping Teo gugup.
"Apa kamu tidak mau duduk?" Melirik sang istri lembut. "Duduk." Menepuk kasur tepat di sampingnya.
Anandita mengangguk patuh. Menjatuhkan bobot tubuhnya gugup dan duduk berdampingan tanpa kata.
Sunyi...
Ini benar-benar canggung.
Aku merasa tidak nyaman.
Keduanya bergulat dengan perasaan masing-masing, menatap area kamar tanpa tau harus mengatakan apa?
Katakan sesuatu.
Ayo Teo, katakan sesuatu.
"Kak?"
"Dita?"
Ucap keduanya bersamaan.
Anandita tertawa kecil pun Teo.
"Kamu dulu?" Titah Teo. Menatap lain Anandita yang tengah tertawa.
Malam ini kamu terlihat lebih cantik, Dita.
Memuji tanpa sadar lewat gumaman hati.
"Kakak, dulu aja." Masih tertawa kecil.
Teo tersadar dari lamunan. Menggelengkan kepala cepat. Tiba-tiba dirinya merasa kepanasan dan tubuhnya mendadak kaku.
Perasaan apa ini ?
Teo kalut, tidak dapat mengontrol perasaan yang tiba-tiba datang?
Sayang! Cinta! Nyaman!
Secepat itu kah aku menerimamu ?
Dua Minggu tanpa melihat sang istri sudah membuat hatinya berbalik menjadi cinta? Atau ini hanya perasaan yang sama. Terbuai sesaat dan akan kembali menjadi rasa hambar tak ter elak!
"Kak?" Anandita menepuk pundak Teo, menyadarkan si pria yang masih diam membisu sambil menatapnya kosong.
"Iya. Iya."
"Kenapa? Apa kakak tidak-
"Aku ingin tidur!" Seketika Teo naik keatas kasur, menarik selimut lalu berbaring.
Anandita menatap Teo datar. Matanya berkeliaran bingung. Sampai akhirnya Anandita ikut berbaring di samping Teo.
Keduanya kini berbaring tenang. Menatap langit-langit kamar dengan perasaan canggung.
"Kak?" Ucap Anandita tanpa menoleh.
"Apa?" Sahut Teo yang juga masih menatap langit-langit kamar.
"Apa kamu benar-benar mengizinkan aku untuk menjadi model?"
Melirik Anandita sebentar sebelum akhirnya kembali menatap hal yang sama.
"Awalnya engga, tapi aku berpikir kamu juga berhak menggapai mimpimu sendiri. Asal ingat saja, kalau sekarang kamu sudah menikah."
Anandita tersenyum dengan wajah kecut.
Mengingatkan aku untuk peran istri, tapi kamu sendiri.
Mencibir Teo dalam hati.
"Dita, minta maaf."
"Kakak juga minta maaf, karena kemarin sudah kurang ajak terhadapmu." Kali ini Teo menoleh menatap wajah sang istri yang di sinari lampu malam itu lama.
Apa rasa cinta ini benar-benar nyata? Rasanya aku siap menerima kamu Dita.
__ADS_1
Anandita menarik tangan Teo lalu menggenggamnya lembut.
"Dita tidak bisa marah, mungkin karena Dita begitu mencintai Kakak." Setelahnya, Anandita menarik tangannya dan berbalik. Menutup diri dengan selimut tebal. Tidak ingin Teo melihat wajahnya yang memerah karena malu.
Teo memasang wajah bengong. Jantungnya benar-benar tidak dapat di kontrol. Kata-kata Anandita membuatnya luluh dan perasaan ingin melindungi tumbuh lebih kuat. Bahkan dirinya ingin menggeser tubuh mendekap erat sang istri lalu mengecupnya, tapi Teo hanya diam seperti patung.
"Selamat malam, Kak." Samar suara Dita terdengar di balik tumpukan selimut.
"Malam," Teo menjawab pelan, dan memilih diam dengan terus menatap Anandita yang membelakanginya.
Aku mencintaimu Anandita, aku benar-benar mencintaimu.
Gumaman penuh keyakinan itu Teo lantunkan hingga ia terlelap di samping Anandita.
Keduanya tidur nyenyak dalam satu ranjang. Dan ini adalah pengalaman pertama setelah kejadian dua Minggu yang lalu.
Rasa kantuk dan nyamanan kasur membuat Kedua pasangan suami istri itu tidur lebih dekat. Sampai Anandita mendekap Teo.
Gayung bersambut Teo dengan nyaman mendekap balik tubuh Anandita, dan keduanya saling berpelukan dalam satu kasur dan satu selimut.
.
.
Semenjak mereka berbaikan, keadaan rumah tangga keduanya terasa lebih indah. Tak ada adu argument atau perselisihan. Rumah dua lantai itu terasa lebih hangat.
Teo seperti biasa, melakoni tugasnya sebagai pemilik perusahaan GiantTara Group.
Meeting penting terus hadir setiap harinya. Mengingat anak perusahaan itu baru beberapa Minggu mengudara.
Setiap harinya hubungan Anandita dan Teo menjadi dekat dan mesra, walaupun Teo masih belum menyadari perasaan cintanya kepada Anandita. Anandita sendiri dengan sadar mengendalikan hati dan akalnya. Tidak ingin membuat Teo kembali menjauh.
Aku senang karena hubungan kami lebih baik. Aku tidak ingin buru-buru untuk kembali mengharapkan cintamu Kak, Mungkin dengan begini kamu akan benar-benar tulus mencintai Dita.
Bukan hanya itu, setiap malam Teo mulai berani memeluk Anandita dengan izin Anandita sendiri pastinya. Berbunga-bungalah perasaan Anandita jika Teo meminta izin untuk mendekapnya.
Aku akan menjagamu Dita, Kakek Lihat, Teo sudah mulai mencintai Cucu cantikmu. Kek.
.
.
Siang datang.
Anandita sudah nampak cantik. Bersiap untuk pergi entah kemana.
Selama tinggal di Surabaya dirinya belum pernah berpergian atau hanya sekedar pergi ke Mall. Tapi siang itu Anandita akan pergi menghabiskan waktu bersama satu pelayan untuk menemaninya.
Semalam sebelum tidur, Anandita meminta izin untuk pergi keluar membeli baju dan menghabiskan waktu di luar. Dan Teo memberi izin, tidak ada hak baginya untuk mengekang kebebasan sang istri. Dengan catatan tidak lupa waktu dan kewajiban.
"Sudah siap, Bi?" Tanya Anandita kepada pelayan yang baru saja datang tertatih dari arah dapur.
Anandita berdiri dan keduanya Keluar rumah.
"Non, mau keluar?" Tanya pak securit yang mana berjaga di gerbang.
"Iya pak, tolong buka gerbangnya." Pinta Anandita sembari masuk kedalam mobil bersama si pelayan bernama Tata. Pelayan yang selalu mengantarkan makanan ke kamar Anandita. Tidak terlalu dekat hanya saja Anandita lebih nyaman pergi bersama pelayan itu. Mengingat dua pelayan yang dua sudah lanjut usia.
"Baik. Non."
Gerbang di buka. Mobil hitam sport yang baru di beli Teo untuk Anandita melenggang pergi meninggalkan rumah dan sibuk berkutat dengan jalan raya.
"Mobil yang bagus ya, Non?" Ucap Mbak Tata memuji. Mengelus dasboard yang mulus dan harum.
Anandita melirik si pelayan di sampingnya sesaat, dirinya tengah sibuk mengimbangi jalan yang di penuhi kendaraan berbagai macam.
"Bibi, suka?" Tanya Anandita.
"Oh ya jelas, Bibi suka, wong bagus begini, Non." Jawab lantang Mbak Tata.
"Nanti saya belikan satu buat, Bibi!" Ucapnya tanpa ragu.
Sontak mata mbak Tata melotot tajam membuat Anandita tertawa. "Kenapa, Bi?"
"Non, serius mau kasih saya mobil?" Tanya Mbak Tata antusias.
Anandita mengangguk tanpa ragu. "Iya, tapi nanti kalau saya sudah jadi Model. Saya akan belikan bibi dan bibi di rumah masing-masing satu mobil. Uang dari keringat saya sendiri."
"Amin ya Allah amin. Mudah-mudahan Non Dita jadi Model terkenal, biar Bibi punya mobil." Tangan Mbak Tata terangkat untuk berdoa. Tapi Anandita malah tertawa girang melihat Mbak Tata berdoa.
Tenang aja, Dita akan mengabulkan doa Bibi.
.
.
Mall terbesar di Surabaya menjadi tujuan keduanya. Setelah mobil di parkir. Anandita berjalan masuk bersama Mbak Tata.
Di dalam Anandita langsung masuk ke salah satu Butik yang mana menjual barang branded.
"Non, barang di sini kan mahal-mahal." Kata Mbak Tata gugup. menatap satu persatu barang di depan matanya.
"Saya suka sama bahannya Bi. Dari dulu saya-
Kalimatnya terhenti setelah melihat wajah melongo Mbak Tata.
Mungkin bagi sebagian orang barang seperti ini tidak akan mampu mereka beli, tapi bagiku ini hal yang biasa.
"Bibi,"
__ADS_1
Mbak Tata terperanjat ketika suara Anandita menyentaknya.
"Iya, Non."
"Bibi saya belikan satu baju. Ini rahasia, jangan kasih tau orang rumah." Kata Anandita yang langsung menyeret tubuh Mbak Tata kebagian lain butik, tanpa melihat ekspresi wajah tidak percaya dari Mbak Tata.
"Non, ini mahal." Tolak Mbak Tata di saat Anandita menyodorkan satu buah baju stelan.
"Murah, lihat ini hanya 10 juta." Memperlihatkan harga yang tertera di baju berwarna ungu Lilac itu antusias.
"Astaghfirullah, Ini berapa kali gajih saya, Non?" Tanya Mbak Tata setengah sadar.
Anandita malah cengengesan. "Udah beli aja. sekali-kali Bi. ini juga pakai uang saya sendiri. Bukan uang dari Kak Teo."
Anandita mempunyai tabungan sendiri dengan nominal yang begitu besar. Ini tanpa sepengetahuan Teo. Uang tabungan miliknya bahkan bisa membeli satu buah rumah dan satu buah mobil. Begitu fantastis bukan.
📲 Ponselnya tiba-tiba bergetar.
"Kak Teo, telepon!" Pikir Anandita. Nama Teo tertera jelas di depan layar.
"Bibi. Pilih mana yang Bibi suka. Saya mau angkat telepon dulu." Segera pergi meninggalkan Mbak Tata yang diam seperti orang kebingungan.
Ikon hijau di geser Anandita.
📞 "Halo, Kak,"
📞 " Kamu di mana?" Tanya Teo di balik Telepon.
📞 "Dita, masih di Mall. bareng Bi Tata." Jawab Anandita. Dirinya berada di pojokan butik.
📞 "Jangan keluyuran, Kakak pulang lambat Dita. Banyak pekerjaan di kantor." Terdengar Teo bersuara malas. Sesekali mendesah berat.
Anandita menjadi murung karena kasihan mendengar keluh kesah Teo.
📞 "Nanti pulang Dita pijitin, Kakak ya?" Ucap Anandita tanpa ada niat menggoda.
Tapi bagi Teo itu adalah sebuah ajakan untuk berhubungan intim. Jelas Teo mengerutkan kening.
Apa dia ingin aku melakukan itu? Bukannya dia tidak masalah untuk menunggu ?
Batin Teo meracau.
📞 "Kak, Halo."
📞 "Iya," jawab Teo salah tingkah.
📞 "Dita, Kakak mau sambung kerja lagi. Kamu cepat pulang."
📞 "Ya udah kak, nanti pulang hati-hati ya."
📞 "Kamu juga hati-hati pulangnya."
Panggilan terputus. Anandita termenung sejenak tanpa sadar berjalan dengan tatapan kosong.
Kasian kamu kak, ternyata beban kamu sudah banyak. Sekarang aku menambah beban di hidup kamu. Dita janji, Dita akan jadi istri yang baik dan merawat kamu. Sepertinya jadi model bakal aku hapus dari daftar perjanjian.
"Astaga!" Pekik Anandita ketika tubuhnya tiba-tiba menabrak tubuh seseorang. dan hampir mendarat di lantai butik. Akan tetapi orang yang di tabrakannya dengan sigap menangkap tubuhnya.
Hap...
Seorang pria tampan menatap Anandita yang ada di dalam genggaman, Mata lembutnya seolah mengagumi kecantikan Anandita.
Cantik..
Batin si pria.
Sedangkan Anandita sibuk memejamkan mata tanpa tau siapa yang sudah menangkap tubuhnya.
"Kamu, ga papa?"
Mata Anandita terbuka ketika suara lembut itu masuk kedalam gendang telinga.
Sadar akan posisi yang terlihat canggung, Anandita bergegas menjauh dari rangkulan si pria yang sudah di tabrakannya.
Sedikit merapihkan baju dan rambut yang terlihat kusut.
"Maaf, Saya minta maaf." Ucap Anandita tidak enak.
Tapi laki-laki tampan itu malah menyodorkan tangan kearah Anandita.
"Daniel."
Anandita mengerutkan kening, lalu menatap Daniel tidak suka.
"Jangan mengajak aku berkenalan, aku sudah menikah. Permisi."
Anandita melenggang pergi atau lebih tepatnya berlari. tanpa memperdulikan si pria bernama Daniel itu.
Daniel sendiri bergantian menatap tangannya dan kepergian Anandita, si gadis cantik yang mampu membuat bibirnya tertarik mengukir senyuman penuh makna.
"Semoga kita bisa bertemu lagi,"
Daniel melangkah kearah lain, tapi sebuah benda yang tergeletak di lantai mengundangnya untuk membungkuk.
"Ini pasti milik gadis itu. Begitu banyak cara untuk aku bertemu dengannya."
__ADS_1